
Raksasa lava terombang ambing diatas lautan. Seluruh zirah batunya lepas serta tubuhnya berasap dan mulai membatu. Lautan itu lambat laun semakin surut hingga kemudian menghilang.
Semuanya rata tak bersisa. Pepohonan dan padang rumput yang hijau berganti dengan tanah lumpur kecoklatan. Mabel melompat dari bawah tanah, menembus kepala monster itu. Ia mencengkram leher Donny lalu menghantamkan kepalanya ke tanah.
Hantaman itu menciptakan lubang yang masif. Kepala Donny hancur seperti batu lava yang terbakar, selanjutnya hilang menjadi debu. Dari belakangnya muncul Donny yang tiba-tiba menebas mabel dari belakang. Mabel mengeraskan tangan kanannya lalu mengadukannya dengan pedang milik Donny.
Selanjutnya mereka beradu pedang satu sama lain hingga Donny berhasil memutus tangan air milik Mabel. Mabel terjatuh kebelakang sementara Donny mengarahkan ujung pedangnya kekepala Mabel.
"Kenapa kamu diam saja?!", "Cepat tebas aku!!", bentak Mabel.
"Kalau aku melakukannya, kamu bisa mati", ucap Donny sambil menggelengkan kepalanya.
Mabel terkejut mendengar jawaban itu.
"Ya, memang itu bukan yang kamu mau?", "Bunuh aku dan ambil kekuatanku!", bentaknya lagi.
"Aku tidak bisa..."
Tiba-tiba dari belakangnya muncul orang yang tadi dilihat Mabel. Disaat yang sama raksasa lava meleleh seperti lilin panas berwarna kemerahan. Orang itu berkata,
"Kalau begitu biar, aku saja!"
Orang itu terbang kelangit diikuti oleh hembusan angin yang kuat. Tak lama kemudian muncul meteor raksasa yang terbang kearah mereka. Meteor itu mungkin itu mempan kepada Donny, namun panasnya mampu membunuh Mabel.
Donny mengeluarkan tangan-tangan lava dari tanah untuk menghancurkan meteor besar itu. Namun, kepingannya yang terbesar masuh terbang kearah mereka. Donny membentuk perisai lava berlapis untuk memayungi mereka berdua.
Kepingan itu kemudian menghilang dan hancur seperti debu. Langit kala itu penuh dengan cahaya-cahaya pijar yang beterbangan ke bumi.
"Ke-kenapa kamu menolongku?", tanya Mabel.
"Kamu akan tahu", ucapnya.
Tiba-tiba dari tanah muncul sebuah pedang yang menembus dada Mabel. Pedang itu kemudian hilang, dan Mabel beregenerasi untuk yang terakhir kalinya. Sebab dia elemen yang bisa meregenerasi, setiap kali ia akan mati maka energinya akan dipakai untuk memperbaiki sel-sel yang rusak itu. Alias, setiap kali Mabel hampir mati, tenaganya akan terkuras habis.
Tubuh Mabel teregenerasi utuh lalu mulai hancur menjadi debu. Tiba-tiba petir besar menyambar Donny tepat diatas kepalanya. Membuat Mabel terpental ke udara. Tubuh Mabel yang melayang langsung ditangkap oleh Ramko yang sudah siaga sejak awal.
Ramko melihat Mabel yang semakin samar. Separuh mukanya beterbangan seperti debu serta tubuh bagian bawahnya mulai hancur. Kemarahan Ramko meledak-ledak, ia menyambarkan petir berulang kali kepada Donny hingga tubuhnya semakin samar. Ramko mengumpulkan tenaga untuk petirnya yang terbesar.
__ADS_1
"MATI KAU MONSTER!!", pekik Ramko.
Mabel menahan Ramko yang hendak menyambarkan petirnya. Mabek menggelengkan kepala kearah Ramko. Ramko sontak melihat ke arah mata istrinya dalam-dalam.
"Kenapa?", ucap Ramko sambil berlinang air mata.
Mabel manyentuh wajah Ramko dengan lembut. Ia lalu tersenyum puas sembari berkata,
"Kembalikan dia..."
Mabelpun hancur menjadi debu, menyisakan bajunya yang dipeluk erat oleh Ramko. Donny memulihkan tubuhnya, ia kemudian berdiri menghadap Ramko yang berlutut sambil terus menangisi kepergian Mabel.
"Aku tak ingin melakukan ini", "Tapi aku harus!", ucap Donny menyesal.
"Aku terpaksa melakukan ini demi akhir yang bagus", tambahnya.
"Aku nggak peduli.."
Ramko menghilang ia tiba-tiba saja berada di belakang Donny sambil menebas tubuhnya menjadi dua. Tubuh Donny yang baru pulih langsung saja ditusuk oleh Ramko ketanah dengan tongkat petirnya. Tak seperti sebelumnya, tubuh tusukan ini mengeluarkan darah hingga membuat Donny kesakitan.
Ramko merasakan sebuah energi mendekat kerahnya. Ia langsung saja melompat. Disaat yang sama sebuah bongkahan batu terbang dibawahnya. Sosok yang melemparnya tak lain adalah pria tadi yang berdiri tak jauh dari sana.
"Kau pasti biangnya!", ucapnya penuh amarah.
"Haha, bagaimana ya?", "Soalnya kamu tidak lain hanyalah data yang rusak, hasil buatan saudaraku yang gila", balasnya.
"Siapa kau, dan apa maumu?!"
"Kreza".
"Oh.. senang juga bertemu dengamu", Ucap Ramko wajah gelap.
Tiba-tiba Ramko muncul dibelakang Kreza untuk menebas lehernya. Kreza memunculkan tanah yang menghantam Ramko ke langit. Ramko yang terpental dan terbawa emosi sontak menepak angin dengan kakinya. Ia menyerang Kreza lagi dengan posisi yang berbeda.
Sekali lagi serangannya berhasil dipatahkan dengan akar tanaman yang mengekat tubuhnya. Ramko semakin kesal, ia menyambarkan petir besar ketubuhnya sehingga akar yang melilitnya hangus terbakar.
Ramko mengeluarkan kekuatan penuhnya. Tubuhnya dialiri listrik berwarna ungu kebiruan. Ramko melompat dan menyerang Kreza dengan cara menyambarnya secara zig zag. Serangan ini berhadil membuat Kreza lumpuh, namun Ramko tidak mau berhenti.
__ADS_1
Ia mengeluarkan seluruh energinya untuk menyerang Kreza. Seluruh zirah batunya tanggal dan setiap serangannya dipatahkan oleh Ramko. Hal ini membuat Kreza kesal, ia meretakkan tanah hingga ke dasar magma. Retakan itu semakin besar sampai-sampai magma panas menyembur keatas bagaikan geyser.
Ramko tak sengaja melompat ketika magma sedang tersembur. Bajunya yang terlahap api tak membuatnya berhenti menyerang. Justru ia mengeluarkan pedang ditangan kirinya dan menyerang lebih brutal lagi. Setiap sambarannya kepada Krez terdengar suara gemuruh di langit.
Bantuan musuh berdatangan. Mereka berada diposisi menyerang Ramko. Tentu saja, mereka sangat kesulitan untuk menarget Ramko yang secepat kedipan mata. Arina secara sembunyi sembunyi menyelinap ke salah satu pesawat itu.
Ia menumbuhkan pedang kristal es pada tangan kanannya dan menyerang musuh satu persatu. Alhasil tindakan itu mengundang pesawat musuh untuk menembaki pesawat rekannya sendiri. Arina melompat dari satu pesawat ke pesawat lainnya. Ia sekedar hanya mengecoh musuh atau merusak pesawat yang ditempelinya.
Sementara itu Donny memandangi langit yang gelap. Ia melihat kearah Ramko yang sedang bertarung, lalu kearah Arina satu persatu. Donny kemudian bangkit dan melompat dengan bantuan semburan magma kearah Arina. Saat itu Arina sedang mengancurkan pesawat terakhirnya.
Donny tepat menangkap Arina dan langsung menarik syal yang ada di leher Arina. Arina menusuk Donny dengan kristal esnya. Syal itu tiba-tiba berubah menjadi merah tua dan bergerak memukul Arina ke tanah. Arina membuat monster esnya diangkasa lalu mendarat ke tanah dengan selamat.
Tiba-tiba tembakan beruntun muncul dari langit. Arina yang menaiki monster es berlari menghindari serangan dari langit. Serangan itu berasal dari Donny yang mendapatkan kembali kekuatan lamanya. Donny kemudian memanjangkan dan memecah syalnya.
Pecahan itu membentuk seperti akar yang mengejar Arina kemanapun dia pergi. Disaat itu ide muncul di kepalanya. Disekelilingnya muncul kristal es yang melayang. Kristal es itu kemudian beterbangan satu persatu kearah Donny dengan sangat cepat. Donny menangkis setiap kristal es itu dengan cabang syalnya.
Kristal-kristal yang ditangkisnya menempel pada puing-puing pesawat serta pepohonan. Ketika kristal itu menyentuh sesuatu, kristal itu akan meledak dan membekukan objek yang disentuhnya. Sebab itu benda-benda disana berubah menjadi putih keras.
Kristal itu membekukan syal milik Donny yang membuatnya tidak bisa bergerak. Monster es melompat dan menangkap tubuh Donny. Ia terjun ketanah dengan sangat cepat sambil mehantamkan Donny ketanah. Hantaman itu bersamaan dengan ledakkan suhu dingin yang membekukan Donny didalam kristal es raksasa. Donny tak dapat bergerak dan hanya melihat Arina dengan kesal.
Setelah mengalahkan Donny Arina kembali ketempat Ramko. Disana ia melihat Kreza yang sekarat serta Ramko yang tubuhnya dipenuhi luka sayat berlutut dengan satu kaki di pinggir tebing. Nafasnya tersengal sengal, bajunya hampir habis terlalap api, dan juga badan sempoyongan saat mencoba berdiri. Ia memegang satu pedang petir yang retak di tangan kanannya.
Saat mengetahui kehadiran Arina ia melihat kearahnya lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba tubuh Kreza pulih dengan energi kayu. Ia kemudian memunculkan tanah tajam didepan Ramko dan langsung terbang menembus dadanya. Ramko terangkat keatas jurang yang sangat dalam.
"TIDAK!!"
Arina menciptakan tiga golem es yang kemudian menyerang Kreza sebelum ia pulih. Sementara Arina berlari mengejar Ramko yang tak berdaya. Tanah itu tertarik kembali ke bawah yang membuat Ramko terjatuh ke dalam jurang. Arina yang tak sempat menangkap Ramko hanya bisa menangis ditepi jurang.
Kreza berhasil menghancurkan ketiga-tiga monster itu dan menyerang Arina. Kreza memunculkan akar-akar yang menjulang dari bawah tanah dan bergerak kearah Arina.
Ketika akar-akar itu hampir mendekati Arina. Arina meminculkan tembok es untuk menutupinya. Tembok es ini berbeda dengan yang biasanya, berwarna ungu kehitaman dan sangat runcing. Tembok itu kemudian pecah dan berubah menjadi kepingan kristal es kecil yang beterbangan kearah Kreza. Kreza sontak menutupi serangan itu dengan dinding batu.
Banyaknya kristal es yang menyerang dinding batu, membuatnya hancur sehingga meloloskan sebagian jumlah dari kristal es tadi. Kreza menangkis semua serangan itu dengan tameng kayu yang dilapisi batu. Ia juga mendorong kristal-kristal itu dengan angin topannya.
Arina menghentekkan kakinya ke tanah. Tanah berwarna kecoklatan itu berubah menjadi hamparan es yang licin. Ketika tanah berubah menjadi hamparan es, kaki kreza ikut membeku yang diteruskan hingga keseluruh tubuhnya. Kreza membeku secara instan didalam es hitam ungu yang keras.
Arina muncul dari balik kepulan embun dingin. Rambutnya berubah menjadi hitam legam. Tubuhnya berlapiskan zirah es sambil membawa cakram es di kedua tangannya. Disampingnya berdiri menantang sebuah monster es berwarna hitam keunguan. Tingginya sekitar 7 meter dengan gigi yang runcing seperti stalagmit.
__ADS_1
Arina tak merasakan apapun, melainkan dendam. Sebabnya rambutnya berubah warna menjadi hitam yang membuat seluruh kekuatannya ikut terpengaruh. Kali ini ia akan menunjukkan bahwa dirinya bukanlah beban seperti dulu.
Tapi sebuah es runcing yang siap menusuk siapapun di depannya.