The Last Era

The Last Era
Act 20 [Buronan]


__ADS_3

"Aaw!!", teriak karena tak sengaja menyeram air panas ketangannya saat hendak membuat minuman.


"Hati-hati makanya!"


"Jangan kasar, Shin", tegurku.


"Gitu aja marah marah", balas Ramko.


Shina terdiam dan mengalihkan pandangannya. Kakinya diangkat satu, alisnya mengkerut dan matanya manatap tajam. Kami duduk menghadap ke meja kecuali Shina.


Kursi untuk meja ini ada empat, jadi sekarang menyisakan satu bangku kosong. Biasanya kami berempat selalu berbicara antar laki laki disini.


Suasana malam di rumah sunyi dan gelap. Sudah sehari sejak insiden itu. Dokter Jassen juga tidak bisa di hubungi. Kepala masih dibayangi kepada ketiga teman kami, terlebih lagi mereka semua wanita.


"Jadi ... ada ide untuk pergi ke sana?", tanya Ramko sambil menyodorkan gelas ke hadapan kami.


"Pakai kendaraan dokter jassen saja, yang waktu itu", balasku.


"Sebentar coba aku cek di garasi".


Ramko langsung pergi ke garasi sekaligus mencari obat untuk luka bakarnya. Tak berselang lama, ia kembali sambil melemparkan sebuah kunci kepadaku sembari berkata, "Ada yang bisa memakainya?".


"Aku saja", jawab Shina.


"Tapi kamu ka-"


"Biar aku cari tahu sendiri nanti!!".


"Ram, coba putar berita".


Ramko mengambil menghidupkan tv dan mencari channel berita.


Berlajut ke berita selanjutnya.


*Breaking news, hakim ibukota Dr. Benedictus ditemukan tewas dengan luka bakar dan sangatan listrik. Beliau di temukan tak bernyawa di bawah kursi mejanya pada sore dini hari. Dilihat dari luka yang ada di tubuhnya, polisi yakin bahwa ini adalah ulah dari tiga manusia mutan yang datang ke planet ini beberapa waktu lampau.


Sebelumnya para pelaku di nobatkan menjadi pahlawan setelah berhasil menghancurkan pangkalan musuh. Dengan ini status mereka sebagai pahlawan di leburkan dan diubah menjadi buronan negara. Pelaku juga sedang memburu salah seorang buronan yang kabur dengan nama Jassen ... kini polisi telah berada di kediaman pelaku. Kami telah terhubung dengan ... langsung dari lokasi*.


"Apa apaan ini?"


Dari luar terdengar suara mesin mobil berhenti dan lampu sirine memancar melewati jendela. Terdengar juga orang sedang berbicara satu sama lain. Ramko mengintip melalui tirai jendela. Dia langsung berbalik dengan wajah panik.


"Cepat! Kita harus pergi dari sini!".


Kami berdua ikutan mengintip dan terlihat seorang polisi didepan pintu rumah kami. Mereka terlihat siap mendobrak pintu di bantu oleh robot yang membawa kapak di belakangnya.


"Bagi penghuni rumah ini, cepat keluar atau kami rusak pintu ini!"


"Kenapa kami harus keluar, kami tidak melakukan apapun", balas Shina.


"Kami beri peringatan sekali lagi kalau tidak kami akan merusak pintu ini".


"Donny! Ramko! Cepat kemobil!", bisik Shina sambil berlari melewati kami.


Polisi mulai merombak pintu dan memasuki rumah. Sementara kami sudah siap untuk terbang. Pintu bagasi terbuka, cahaya lampu langsung menyorot ke arah kami.


Dengan cepat shina menarik stir kearahnya dan aku langsung mendorong tuas gasnya. Mobil seketika naik dan meluncur kedepan dengan cepat.


Pesawat-pesawat polisi langsung mengejar dan menembaki kami. Mobil kami kurang cepat untuk melarikan diri. Aku melilitkan syalku ke mobil dan membuat roket yang biasa kubuat di kakiku.


Namun, karena aku berada pada mode kuning maka kecepatan kami masih kurang.

__ADS_1


Mobil polisi itu merusak ketiga dari 4 penggerak roda. Ramko mengepalkan tangannya dan memecahkan kaca jendela belakang. Ramko kemudian menyambarkan listriknya ke mesin penggerak mobil-mobil polisi.


Banyak dari mereka yang menghantam tanah. Untungnya mereka semua robot kendali jauh. Sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Mobil-mobil polisi itu sesekali membentur mobil kami dan memaksaku untuk memakai mode hijau supaya lebih cepat.


Shina terkadang menabrak fasilitas publik dan membuat keributan di tengah kota. Akhirnya dia mengarahkan mobil kearah hutan. Ketika akan melewati gedung terakhir, mobil kami mati mesin dan harus jatuh ke atas kios-kios pinggir kota.


Tanpa pikir panjang, aku segera mengikat mereka dan membawa mereka terbang dengan kekuatanku. Tenagaku yang hampir habis kupakai untuk mode biru cerah. Aku menjauh memasuki hutan yang gelap dan mendarat di sana.


Aku langsung jatuh tersungkur dan di gendong Shina. Ramko kemudian membakar bagian tengah hutan untuk mengecoh sensor panas polisi. Ketika mobil mobil polisi itu menuju sumber kebakaran.


Dengan cepat Ramko kembali dan membawa kami kembali ke kota. Kebetulan sakali kami langsung menemukan pusat pengendali listrik. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, sebuah ide juga muncul di kepala Shina pada waktu yang bersamaan.


"Aku punya ide, kita buat EMP untuk matiin semua alat elektronik terutama lampu", bisik Shina.


"Ram, kamu ambil semua benda dari logam dan alat-alat itu", sambil menunjuk ke beberapa mesin pengendali.


"Oke"


Dengan cepat Ramko langsung memasuki kantor itu dengan menyengat beberapa penjaga dan membuat mereka pingsan. Aku dan Shina menunggu dari dalam hutan.


Tak berselang lama, Ramko mengumpulkan logam-logam besar untuk dilelehkan oleh Shina lalu melelehkannya dan aku membuat cetakan untuk logam-logam itu.


Setelah logam-logam itu dingin. Shina merangkainya dengan cepat lalu Ramko mengecasnya dengan listriknya yang bertegangan sangat kuat.


Shina lalu menembakkan senjata itu ke tengah kota. Lantas, semua kendaraan dan alat elektronik mati termasuk seluruh lampu di kota.


Shina sebelumnya juga membuat tiga kacamata pengelihatan malam model kuno yang tidak terpengaruh EMP.


"Bagus, dengan begini satu kota akan mati selama 1 jam".


"Kita perlu penyamaran, tapi kita juga perlu kendaraan dan obat obatan juga makanan".


"Begini, aku akan mencari pakaian", "Shina kamu mencari kendaraan di toko mobil, dan Ramko mencari obat-obatan dan makanan", "Kita berkumpul lagi di toko mobil", kataku.


"Siap/Oke", balas mereka.


Kami berpencar dan langsung menuju kota, orang-orang disana panik. Disebabkan oleh gelombang elektromagnet yang belum hilang, sehingga lampu dan alat elektronik semuanya mati.


Seperempat jam sebelum keadaan kembali normal, aku sudah sampai di toko mobil. Shina sudah menyiapkan mobil yang disembunyikan di samping toko. Ramko datang dengan dua koper penuh dan langsung di masukkan ke mobil.


Kami langsung masuk ke mobil dan mengganti pakaian kami, sementara aku tiduran di kursi belakang di tutupi oleh koper-koper. Tempat yang di pilih Shina cukup sepi dan jauh dari jalanan. Sehingga aman dari kecurigaan polisi.


Aku tidak tahu bagaimana Shina membawa mobil ini keluar toko. Tapi yang jelas kami sudah cukup aman. Lampu kembali hidup dan Ramko langsung mengecas kendaraan dengan listriknya.


Setelah baterai penuh, kami segera menuju ke stasiun pelontar ke ruang angkasa. Untunglah kami tidak di curigai dan untungnya kami sempat membawa uang kala itu.


Setelah kami di lontarkan ke ruang angkasa. Shina mengarahkan kendaraan ke arah planet yang di tuju dan menggunakan kecepatan cahaya. Aku bertanya kepada Shina sebuah pertanyaan yang mengganjal di kepalaku.


"Shin, bagaimana kau mengeluarkan mobil ini dari toko tanpa memecahkan dinding toko?"


"Seorang penjaga kios tadi memberikanku kendaraannya", "Sepertinya dia sadar kalau kita tidak salah apapun dan hanya dikambing hitamkan".


"Untungnya dia tengah lewat situ dan aku menjadi pelanggan favoritnya", "Yang jelas kita tidak boleh melupakan jasanya", jelas Shina runtut.


"Baiklah kita sudah sampai".


"Planet ini sepertinya terdapat oksigen dan berada di zona laik huni", jelas Shina lagi.


"Kira kira di mana mereka, planet ini terlihat memiliki gurun, laut, dan bagian bersalju dengan sedikit hutan", gumam Ramko.


"Kita mulai dari hutan dulu sambil melacak bekas sinyal telepon mereka", kata Shina.

__ADS_1


Suara pembicaraan mereka membangunkanku. Tidak sengaja aku melihat sebuah labirin putih raksasa di angkasa yang masih di perbaiki. Sontakpun aku memanggil mereka.


"Ram, Shin lihat itu!"


"Bentuknya kaya nggak asing", balas Shina.


"Itu tempat kalian bangun pertama kali", jawab Ramko santai.


"Benarkah?"


"Ya tentu".


"Mau kesana?", Shina menawari.


"Jangan kita harus cari aman dulu", "Shin, cari tempat mendarat dulu!".


"Oke, coba kita cari mereka di hutan", jawab Shina


"Hutan? Musuh lebih sering mencari tempat luas untuk membuat markas", balasku.


"Nggak, mereka lebih sering mencari hutan, karena hutan lenih tertutup dan dekat dengan sumber daya".


"Mana mungkin! Pikir lagi! mana mungkin tempat sekecil itu jadi markas, mana banyak pohon lagi, pesawat tak akan bisa mendarat", balasku dengan nada tinggi.


"Mana mungkin dari mana, tempat itu malah ja-"


"Diamlah atau aku sambar kalian berdua", putus Ramko


"Kalau kalian memang mau mencari Linda sama Arina", "Kenapa tidak lacak saja telepon mereka?"


Kepala kami tiba-tiba memanas ketika Ramko menyebut nama mereka. Shina kemudian langsung mengutak-atik teleponnya.


Secara tiba-tiba ia mendorong penuh tuas gas sampai membuat kami terhempas ke kursi.


"Shin! Kita mau turun di mana?"


Shina tidak menjawab dan mengarahkan pesawatnya ke arah tempat bersalju. Suhu pesawat menjadi naik karena bergesekan dengan atmosfer planet.


Ditambah Shina yang terpaku pada kemudi dan guncangan yang hebat, sukses membuatku dan Ramko teriak panik. Kami jatuh dengan sangat cepat karena Shina tidak menarik tuas gasnya sama sekali.


"SHIN TARIK!! TARIK TUASNYA SEKARANG!!", teriakku.


"SHINA BANGUN OY!!"


"TANAH SHIN!! TANAH!!"


"AMPUN SHIN!! AKU NGGAK BAKAL NGOMONG GITU LAGI!"


"Oke maafmu kuterima", balas Shina datar. Shina kemudian menarik tuasnya dan pesawat terbang normal diatas kapuk putih nan dingin.


"Kalian bersiaplah, kita akan segera mendarat".


"Nggak salah kamu? Ini masih tempat bersalju", balas Ramko.


"Dari pada kita jatuh ditembak, mending kita mendarat jauh sebelumnya".


Didepan kami terdapat badai salju yang siap melahap pesawat kami. Terlambat berbalik kamipun memutuskan untuk menerjangnya saja.


Didalam kabut badai itu terlihat sesekali kilatan-kilatan cahaya seperti laser. Saat kabutnya sedikit mereda, kami mampu melihat pecahan logam dan jasad-jasad robot yang berceceran di mana-mana.


"Shin, menurutmu apa yang terjadi disini?"

__ADS_1


"Kayaknya ada pertarungan hebat disini"


__ADS_2