The Last Era

The Last Era
Act 28 [Harapan Lain]


__ADS_3

"Apa kalian menemukannya?"


"Belum tuan".


"Lanjutkan mencari!"


Dokter Jassen berbincang-bincang dengan asisten dan para staf di ruangan penyelidikan. Ia berputar putar sambil sesekali bertanya pertanyaan yang sama.


Kami menunggu di ruang tengah sambil melihat bintang-bintang diruang angkasa. Aku dan Ramko masih dipenuhi rasa bersalah yang sangat besar.


Sampai aku mulai kehilangan cahaya untuk menjalani kehidupan. Namun, Linda selalu menghiburku dan memberiku semangat.


Dua setelahnya hasil yang kami dapat masih nihil. Sehingga Dokter Jassen mengantar ketiga teman perempuanku kembali ke Aquopora.


Penduduk disana meminta maaf karena insiden sebelumnya merupakan salah paham. Kabarnya ada sebuah robot logam cair yang membunuh petinggi negara itu.


Robot itu berhasil dilumpuhkan beberapa bulan setelahnya ketika ia ketahuan menyamar menjadi wakil presiden dan mencoba membunuhnya. Asal usul robot itu masih belum diketahui.


Sebab, komposisi logam yang dikandung robot itu berbeda dengan robot milik planet C40-Res atau nama planet yang barusan kami kunjungi.


Kami berdua mengikuti Dokter Jassen mencari Donny di planet C40-Res. Setelah sekian lama mencari, akhirnya kami mendapat kontak dari salah satu robot di planet itu.


Dokter Jassen segera memanggil berlari ke arah kami lalu memanggilku dan Ramko. Aku dan Ramko segera mengikuti Dokter Jassen ke ruang penyelidikan.


Kami segera memproses data kiriman itu dan menampilkan gambarnya di hologram. Disana terlihat sebuah laut dalam yang berwarna kehijauan.


Pada gambar lain terlihat sebuah robekan kain berwarna merah yang terapung diatas air. Gambar kedua ditemukan 2 km dari lokasi gambar pertama. Kami bertiga tercengang melihat gambar itu.


"Asisten, suruh robot-robot itu menyelam ke laut!"


"Baik, Dok".


"Apa itu milik, Donny?", tanya Ramko.


"Diamlah, Ram!", balasku.


"Data masih diproses", "Kalian berdua duduklah diluar!"


"Ya dok".


Beberapa menit kemudian kami mendapat kiriman gambar baru. Pada gambar itu terdapat sebuah mobil yang karam di dasar laut, juga beberapa jasad cyborg dan robot.


"Asisten, tampilkan data sensor suhu!"


"Negatif pak".


"Cek ulang, berapa kemungkinan menemukan kehidupan?"


"0,1% pak", "Kemungkinan semakin diperkecil seiring suhu laut yang berkurang dan waktu ditemukan".


Dengan berat hati Dokter Jassen berjalan keluar.


"Dokter, apa kau tak apa?"


Dokter Jassen berhenti, seketika dari tangan Dokter Jassen muncul sebuah lidah api. Seluruh staf di ruangan itu melihat kearah kami dan berhenti bekerja.


"Kirimkan personil manusia ke kota di dekat situ".


"Tapi pak", "Kota terdekat masih belum diketahuk dan kita akan mengurangi jumlah tentara dan presiden bis-"


"Cari dan lakukan saja!", putusnya kesal.


"Kita harus menghubungi presiden dulu".


"Cepat!"


Asisten itu langsung menyuruh staf yang lain untuk menghubungi presiden. Tak lama kemudian video tatap muka diadakan. Terlihat presiden sangat geram dengan Dokter Jassen.


"Apa yang kau pikirkan!?"


"Pak, kita harus menemukannya, tak peduli manusia atau robot atau sejenisnya yang penting kit-"


"Penting apa bagiku?"


"Kita memerlukannya untuk kedamaian!"


"Kedamaian apa!? Kami damai untuk beberapa tahun belakangan ini, sampai kalian datang merusaknya".


"Kita juga perlu mempelajari lebih dalam jika saja mereka menyerang kita", "Kita tahu kelemahan mereka", Dokter Jassen mulai marah-marah.


"Mereka bisa saja angkat senjata dan menghancurkan kita!!"


"Apa kau pernah mendengar tentang masa depan!", "Mereka menyerang kita beberapa bulan lepas", "Artinya mereka sudha tahu kelemahan kita",


"Kalau kita tidak tahu kelemahan mereka", "Kita akan lebih sulit melakukan serangan balasan!"


"Hei!! Tahu batasanmu monster", "Dalam sejarah umat manusia tidak ada yang namanya kekuatan",


"Itu cuma fiksi",


"Tapi kau membuat proyek ini, dan menghancurkan kami alih-alih melindungi".


"Kami bukanlah monster!", "Lagi pula kalianlah yang bertindak seenak sendiri saat itu!"


Aku dan Ramko menunggu di luar mulai resah. Lalu masuk kedalam ruangan, secara diam-diam.


Presiden kemudian menarik nafas dalam lalu berkata,"Baiklah, terserah maumu". Presiden kemudian meminta data serangan terbaru kepada asistennya.

__ADS_1


Setelah ia membacanya, ternyata ada beberapa serangan selama kami pergi. Diantaranya berasal dari planet C40-Res, untunglah mereka tertangani oleh personil keamanan planet Aquopora.


Setelah membaca itu ia melihatku dengan tatapan serius. Ia juga teringat kejadian beberapa bulan lalu, kematian seorang anggota pemerintah.


"Sekarang aku beri kau kesempatan lagi",


"Kau boleh mengirim personil kesana",


"Tapi jika mereka semua terbunuh, kita akan langsung deklarasi perang".


"Tapi kalau perang bukannya itu membahayakan kita?".


"Demi kedamaian selamanya, kita harus",


"Sekarang segera kirimkan beberapa peneliti dan anggota badan keamanan untuk mencari titik lemah planet itu",


"Kali ini kita tidak boleh mengulangi kesalahan manusia bumi!",


"Baik pak",


"Kalian dengar itu?!".


"YA PAK!!", jawab para staf dengan tegas.


"INI UNTUK MASA DEPAN!! LAKUKAN SEKARANG!!"


"SIAP LAKSANAKAN!!"


Ruangan seketika menjadi riuh. Mereka menghubungi satu sama lain dan bekerja cepat.


"Dokter kenapa kita harus perang?", tanya Ramko.


"Bukankah aku bilang menunggu diluar?!"


"Jawab dulu! Kenapa kita harus perang?"


"Kalian anak kecil tidak akan paham".


"Tubuh kami memang seperti anak 16 tahun, tapi jiwa kami sudah seperti orang 21 tahun", balasku dari belakang Ramko.


"Kalau memang kalian dewasa", "Seharusnya kalian tidak akan menyerang Donny hanya karena perkara kecil".


Kami berdua seketika terdiam mendengarnya. Aku mengajak Ramko yang masih mengepalkan tangannya untuk keluar. Sepertinya ia tidak suka di sebut anak kecil, seperti Linda.


......\=......


Besoknya sebuah armada pesawat perang berisi peneliti dan beberapa badan keamanan dilontarkan ke planet C40-Res. Sebelum mencapai atmosfer, pesawat dipecah menjadi beberapa bagian lalu terbang ke arah yang saling berlawanan.


Kami juga di pulangkan kembali kerumah baru. Kami juga mendalami sesi latihan baru yang lebih berbahaya supaya bisa selamat bila terjadi bencana.


Arina awalnya syok mendengarnya dan menjadi lebih tempramen kepadaku. Ramko yang dulunya selalu bahagia dan ceria, berubah menjadi emosian dan pendiam.


Seminggu kemudian aku mulai kasihan kepada Linda yang semakin jarang keluar kamar. Malamnya aku memutuskan untuk pergi menjenguk Linda dikamarnya.


"Lin, kamu didalam?"


"..."


"Aku masuk ya?"


Kamarnya sungguh berantakan, gelap, dengan udara yang sangat dingin. Tampak ia sedang menghadap tv dan bermain game tua yang masih memakai stik.


Ia menutupi tubuh kecilnya dengan selimut dan membuang muka dariku. Rambutnya terurai dan berantakan. Aku mencoba bertanya kepadanya.


"Lin", "Udaranya dingin ya?"


Ia hanya mengangguk.


Disituasi canggung itu, tiba-tiba aku mendengar suara kalah dari game.


"Kayaknya levelnya sulit", "Mau kubantu?"


Ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku duduk disini", "Cuma lihat".


Aku duduk berdampingan bersender ke kasur menghadap langsung ke televisi. Linda terus membuang muka ketika aku menatapnya. Hal itu membuat suasana semakin canggung.


Aku semakin kedinginan dan membakar tanganku untuk membuat kehangatan. Linda menepiskan tangannya, seketika angin berhembus dan memadamkan apiku.


Angin itu bukan hanya memadamkan namun juga menggores tanganku. Linda tak mempedulikan eranganku dan meneruskan permainnya.


"Ehem", "Lin?"


"..."


"Aku dengar ada acara di tengah kota lusa".


Ia langsung menggelengkan kepalanya, padahal aku belum sempat bertanya. Aku menoleh-noleh melihat keadaan. Saat aku melihat kearah pintu, terlihat Mabel dan Ramko mengintip dari celah bukaan pintu.


Mabel menutup matanya dengan kedua tangannya, sementara Ramko tersenyum dan memberikan jempol kepadaku.


Kepalaku seketika memanas karena kuingat aku sedang berada di kamar Linda berdua. Saat itu, aku juga lupa untuk menutup pintu kamar.


Ramko menyuruhku kearahnya dengan melambaikan tangannya.


"Aku pergi sebentar ya"

__ADS_1


"..."


Aku menutup pintu kamarnya dan langaung bertanya kepada Ramko. Mabel menutup mulutnya mencoba menahan tawanya. Kemudian ia mendekati telingaku dan membisikkan sesuatu ke telingaku.


"Hmmm, iy-iya", "Aku jujur"


.


"HAH!!", "YANG KAYA GITU MUNGKIN!!"


"Diamlah dan lakukan", balasnya.


Aku kembali masuk kekamar Linda dengan pintu yang tertutup sedikit. Memberi celah untuk Ramko dan Mabel mengintip. Aku merasa lebih canggung daripada sebelumnya.


"Hmm, Lin?"


"..."


.


.


.


"Aku suka kamu", jawabku sambil melirik kearah lain.


Linda langsung tersentak sampai tak sengaja stiknya ikut terlempar. Ia langsung membuang badan dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Ya! Itu baru anakku", pekik Ramko bangga.


"Jantan sekali".


"Tak apa, Lin", "Shina orang yang baik kok".


"Ehem", "Kalau begitu kami akan menghubungi dokter untuk melihat kemajuannya", mereka berdua langsung mengambil langkah seribu.


"Hey, tunggu kalian berdua!",


"Aku pergi dulu ya, Lin",


"Kembali kalian, main lari saja", teriakku sambil mengejar mereka.


Tak berselang lama, Arina datang membawa makanan ringan dan minuman kotakan untuk menghibur Linda.


"Lin", "Aku bawa makanan ini", "Ayo kita makan bersama".


Linda tidak menjawab dan malah semakin merekatkan selimutnya.


"Apa yang dilakukan pembunuh itu kepadamu?", tanyanya sinis.


Linda menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu sakit?"


Linda melakukannya lagi.


"Kalau begitu aku minum dulu", "Siapa tahu kamu tertarik".


"Rin".


"Hmh?", Arina melirik ke arah Linda.


"Apa Donny pernah menembakmu?"


Arina langsung tersedak dan terbatuk-batuk oleh minumannya. Linda langsung membuka selimutnya dan berterus terang kepada Arina yang masih kesakitan.


"Maksudku sepertinya menyatakan suka",


"Atau semacamnya",


"Mendekatimu gitu",


"Atau mau memberikan rasa aman kepadamu", tanyanya beruntun dan terbata-bata.


"Tunggu dulu, Lin", "Biarkan aku kembali normal dulu!",


"Hampir saja aku mati".


Wajah mereka berdua berwarna merah padam. Seperti tak sengaja terbuka fakta yang sudah lama mereka sembunyikan.


"Be-lum".


"Cara mmbalsnya ba-bgaimana ya?", jawabnya kurang beraturan.


"Tenanglah sedikit", "Jawab saja dengan 'ya aku juga', begitu".


"Apa ini berhasil?"


"Ikuti saja langkah-langkahku", balas Arina semakin membuang mukanya.


Aku, Ramko dan Mabel menghubungi Dokter Jassen sejak lama. Ia tidak kunjung mengangkat panggilan kami.


"Aku pergi minum dulu", kata Ramko.


"Aku juga mau ke kamar mandi sebentar", kata Shina.


Tiba tiba Mabel langsung memanggil kami.

__ADS_1


"Kalian, kemarilah dulu!",


"Lihat ini", Mabel menunjukkan pesan yang dikirim oleh Dokter Jassen berisi, 'Cepatlah kemari'.


__ADS_2