
Setelah melalui serangkaian pengobatan, aku memutuskan untuk pulang dan menemui ibuku dirumah sakit. Di rumah sakit aku bertanya kepada orang-orang disana tentang kamar ibuku. Namun, namanya tidak ada disana.
Kabar yang kudapat terakhir adalah tentang disemayamkannya beliau dipemakaman umum. Aku terkejut bukan kepalang mendengar kabar itu. Aku berulang kali menanyakan kabar itu kepada para tetanggaku. Jawaban mereka sama, "Beliau sudah tiada".
Dengan wajah murung aku berjalan pulang sesekali memikirkan semuanya yang berlalu. Kehilangan teman, sahabat, keluarga, bahkan masa depan. Diperjalanan kulihat sekolahku yang kembali dibangun.
Di dindingnya tertulis deretan nama-nama anak yang tewas disana, termasuk aku. Tentu saja aku tertulis disana karena aku menghilang saat itu. Kupandangi para robot yang bekerja disana dengan tatapan hampa. Tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari belakang, Tu San.
"Okta!"
Aku hanya melirik sedikit.
"Hey, aku kira kamu sudah mati", "Sudah kuduga kutukanmu menyelamatkanmu", ia menepuk pundakku.
"Hmmh", "Dimana yang lain?"
"...", Tu San tidak menjawab dan hanya membuang wajahnya.
"Kemana saja kamu berbulan bulan ini?", Tu San mengganti topik pembicaraan.
"Bulan?!", aku terkejut.
"Empat bulan sejak insiden itu", "Apa kamu lupa hari?"
"Mungkin".
Keberadaannya membuatku semakin murung. Aku akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Tu San tanpa meninggalkan pesan lagi.
"Okta, Tunggu!", "Aku lupa untuk memberimu surat ini", Tu San berlari menghadangku sambil menyodorkanku sebuah kertas lusuh.
"Surat apa ini?"
"Dari ibumu", "Sebelum wafat".
"Ibu.."
Aku menatapnya dalam dalam. Hingga aku baru sadar karena Tu San memakai tangan robot pada tangan kanannya.
"Tu San", "Dimana tanganmu?"
"Ah hanya sebuah tangan", "Lagi pula dizaman ini tangan mekanik juga sudah banyak", jawabnya santai.
Aku langsung memeluknya erat sambil menangis keras. Untunglah jalan disana cukup sepi karena matahari akan terbenam. Jadi aku bisa meluapkan seluruh emosiku.
.......
.......
2 Tahun lalu sebelum elemenku muncul
Kala itu Tu San hanyalah seorang kutu buku di awal semester. Dia adalah anak yang pendiam sejak sekolah menengah pertama. Ia juga manutan jika disuruh untuk melakukan sesuatu. Sebab itu, teman temannya sering memperlakukannya seperti alat termasuk para pembuli.
Saat itu sedang ada permainan bola disekolah. Salah seorang temannya menendang bola terlalu jauh hingga keluar sekolah. Tentu saja, dia disuruh untuk mengambilnya keluar.
"Dia bodoh atau bagaimana", "Sekali keluar sekolah, itu akan masalah dengan nilai sikap".
"Biarkan saja, dia memang begitu", bual mereka.
Tu San tak mempedulikannya meskipun pembicaraan mereka cukup keras. Ketika hendak keluar ia dihadang oleh satpam sekolah. Satpam itu tidak mengizinkannya keluar karena tidak percaya dengan alasannya.
Berulang kali ia mencoba keluar, mulai dari mengelabui satpam hingga menyamar. Karena terlalu lama tak kunjung kembali. Teman-temannya datang menemuinya.
Bukannya di bantu untuk bernegosiasi. Mereka justu menyudahi bermain dan mengidahkan keberadaan Tu San disana. Beberapa dari mereka bahkan mengolok-ngoloknya dengan ejekan cupu dan lemah.
Kebetulan saat itu aku lewat karena membolos pelajaran untuk kekantin. Tak sengaja kulihat Tu San yang bersandar di dinding dan hampir menangis. Aku datang menemuinya secara perlahan supaya tidak dilihat satpam sekolah.
"Hey, siapa namamu?", tanyaku.
"Tu.. San..", jawabnya sedikit ketakutan melihatku.
"Kenapa kamu nangis?", "Aku tidak mengerikan", tanyaku.
__ADS_1
"Ti-tidak", "Aku mau mengambil bola diluar, tapi dicegat oleh satpam", jawabnya.
"Cuma itu?", "Okelah, kamu alihkan perhatiannya", "Sementara aku akan pergi mengambilnya".
"Aku mengerti".
"Tapi ingat, jangan beri tahu posisiku pada wali kelasku".
"B-baik".
Kami melancarkan langsung misi kami. Tu San pergi bertanya kepada satpam sekolah, hingga dia mau diajak bicara. Sementara aku menyelinap keluar mengambil bola.
Begitu bola didapatkan dan membalik badan kearah sekolah. Tak sengaja aku bertemu dengan guru yang berdiri didepan sekolah sambil melipat tangannya. Dan yap, setelah kami keciduk kami berdua disuruh untuk mencabuti rumput di kebun sepulang sekolah.
"M-maaf, Okta", aku bukan bermaksud begini.
"Tenang saja", "Aku sudah biasa begini".
"Lagi pula, San", "Apa kamu tidak sadar kalau kamu dimanfaatin mereka?"
"Hmmh, iya.. aku tahu itu.."
"Lalu kenapa kamu tidak melawan?", "Apa kamu takut?"
"...", ia terdiam.
"Kujawab itu sebagai iya", "Dengar ya, kalau kamu takut untuk sesuatu, kamu tidak akan bisa maju nantinya",
"Sekali-kali berkatalah tidak", "Kamu dan mereka dan aku itu sama, seorang siswa", "Kenapa harus terus mengalah?"
"Okta..".
"Apa? Apa kamu terkejut aku ini baik?"
"Iya, selama ini aku belum pernah menemui saran seperti itu".
"Mengecewakan sekali", "Aku kira kutu buku sepertimu menemukan itu diartikel atau buku".
"Lagipula, Tu San apa kamu mau bergabung denganku?", ajakku sambil menyodorkan tanganku.
"Tidak, aku tetap ingin jadi anak yang sama saja".
"Menjadi penakut?", "Bagaimana jika besok kamu masuk kerja dan bertemu dengan orang-orang yang tukang suruh?"
"Aku pasti akan dimanfaatin terus..."
"Jadi bagaimana? Kamu mungkin akan sedikit bergeser, tapi ini juga untuk masa depanmu".
"Ya.. asal tidak berlebihan, tidak masalah kurasa", Tu San menjabat tanganku.
"Bagus, kepintaranmu akan berguna bagi kami".
Sejak saat itu kepercayaan diri Tu San mulai muncul. Ia teyap menjadi kutu buku, namun tak segan segan melawan jika perlakuan mereka kelewatan kepadanya. Aku berkata sedikit, tapi ia sedikit kelewatan. Meskipun begitu ia tetap menjadi sahabat terbaikku.
.......
.......
"Apa kebencianmu sudah hilang kepada mereka?", tanyaku sambil berjalan pulang bersama Tu San.
"Siapa?"
"Orang-orang yang membulimu dulu?"
"Tidak juga, aku sedikit bersyukur karena jika mereka tidak melakukan itu", "Mereka tidak akan membuatku bertemu denganmu dan kamu tidak akan mengubah sifat lawasku yang lemah itu".
"Hahaha", "Benar juga"
"Jika kamu tidak keberatan kamu bisa tinggal ditempatku untuk beberapa hari", ajak Tu San.
"Tidak apa-apa", "Lagi pula aku senang dirumahku sendiri".
__ADS_1
"Kamu yakin?", "Rumah itu sudah babak belur, ya belum sepenuhnya juga".
"Begitu?!", "Tak apa-apa".
"Terserah padamu deh".
Kami berhenti di halte bus yang sudah ada bus keberangkatan terakhir terpakir didepannya. Didalamnya hanya ada sang sopir dan kursi yang song. Sebelum naik ia memberiku sejumlah uang dan telepon lamanya.
"Untuk apa ini?", tanyaku.
"Untukmu, sekaligus ucapan terima kasihku atas yang kamu lakukan padaku", jawabnya santai.
"Bagaimana dengan perawatan tanganmu?"
"Tenang saja", "Aku tahu cara merawatnya sendiri".
"Bahkan setelah aku membawamu ke pertarungan yang telah membuatmu kehilangan tanganmu?"
"Itu belum seberapa bagiku", "Sudahlah, jika butuh bantuan pakai saja benda itu untuk meneleponku".
"Terima kasih banyak Tu San", aku mengajaknya beradu jotos sebagai ucapan selamat tinggal.
"Sama sama teman", balasnya dengan jotosannya.
Tu San terus berdiri menatap busku yang pergi semakin jauh dengan tatapan bahagia. Matanya seperti menunjukkan tatapan bangga dan penuh terima kasih.
Di perjalanan pulang aku membaca isi surat itu.
.......
"Okta anakku, aku tahu kamu masih hidup disana, jauh diantara bintang dan gelapnya semesta. Surat ini kutulis untuk memberi tahumu satu rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Sebenarnya aku, bukanlah ibu aslimu. Saat kamu masih berumur satu tahun, terjadi peristiwa penyerangan besar-besaran oleh para monster. Saat itu ibumu terbunuh dengan keji, lalu ayahmu memberikanmu kepadaku. Ia memintaku untuk menjagamu seperti anakku sendiri.
Bukankah cukup aneh jika ibumu punya kumis kucing sementara kamu tidak? Aku hanya bisa mengingat nama ibumu, Linda. Tapi ayahmu, ia menghilang setelah itu. Hanya itu yang bisa ibu tulis. Nyawaku tidak akan selamat setelah ini.
Okta, jadilah anak yang baik.
Salam dari ibu
Kuryakin "
.......
Setelah membacanya aku menangis tersedu-sedu. Bahkan orang yang bukan ibu asliku, mau merawat dan menjagaku dengan sepenuh hatinya. Setelah semua kejahatan yang kulakukan, beliau tetap sabar melindungku.Aku sangat menyesal setelah semua yang kulakukan. Yang bisa kulalukan sekarang hanyalah meratapi nasib dan kehancuran masa depanku.
Ditengah situasi pilu itu, sang sopir mengajakku berbicara. Ia menyuruhku untuk berpindah ke kursi yang terdepan. Suaranya pernah kudengar sebelumnya, seorang polisi.
"Aku sepertinya mengenalmu?", "Apa kamu polisi yang waktu itu?"
"Benar, bagus sekali ingatanmu".
"Apa kamu kesini mau menangkapku?", "Lakukan saja", ucapku pasrah.
"Tidak juga", "Berhubung rumahmu hancur, kamu sepertinya harus tinggal di komplek mutan".
"Perumahan itu hanya untuk manusia mutan bukan?", jawaku pura-pura tidak tahu.
"Ya, lagipula aku tahu kamu salah satu dari mereka".
"Tunggu dulu, siapa sebenarnya kamu?", "Bagaimana kamu tahu tentangku?"
Ia melepas topinya dan menunjukkan kuping rubah oranye yang menyembul keluar. Rambutnya berderai panjang ke punggungnya. Ia melihatku dengan wajah serius sambil terus mengemudikan bus itu.
"Perkenalkan Okta Kuryakin",
"Namaku adalah Fin Wyan".
"Apa kamu mengenal ibuku?"
"Tentu saja, lebih tepatnya yang lebih dekat dengan ayah dan ibumu dulu", "Syal merah yang sudah tiada".
__ADS_1