The Last Era

The Last Era
Act 64 [Penghianat]


__ADS_3

Cakram-cakram air beterbangan kearah mereka. Shina melemparkan bola api bertubi-tubi untuk menguapkannya. Donny memecah syalnya menjadi empat dan membelah setiap cakram yang mendekatinya. Sementara Arina menciptakan tameng es yang terus ia regen.


Setelah bertahan dari semua serangan. Ombak besar tiba-tiba muncul untuk menelan mereka semua. Arina melemparkan tamengnya ke ombak besar itu. Seketika ombak besar itu membeku tepat sebelum menyentuh tubuh mereka.


Donny dan Shina menggabungkan kekuatan mereka untuk memecah dinding es tebal itu. Selanjutnya Donny tiba-tiba membawa Arina dan Shina kelangit. Disaat yang sama mulut paus air menelan bongkahan es pijakan mereka tadi. Paus itu hampir saja menjangkau kaki Donny.


Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap dan hujan deras. Donny segera merapatkan Arina dan Shina lalu terbang secara zig zag. Langit menjatuhkan kilat berulang kali menyambar Donny yang terus-terusan berhasil mengelak.


"Donny! Naiklah kelangit!!", teriak Arina.


"Kau gila?!"


"Naik saja!! Tidak waktu untuk menjelaskan!!"


Donny sontak menuruti permintaan Arina untuk menembus awan hitam itu. Awan itu sangat tebal dan mengeluarkan sambaran petir dari berbagai arah. Namun, setelahnya cahaya terang mengganti semua suasana yang mencekam tadi. Keputusan Arina untuk bergerak keatas benar. Tidak ada awan yang terbang pada ketinggian itu.


Bayang-bayang gelap tiba-tiba menutupi cahaya. Dari balik sinar yang terang terlihat Kreza yang berdiri diatas punggung Arza. Kreza melepaskan sambaran petir kearah Shina. Shina yang masih terikat tidak mampu bergerak sehingga ia tersambar petir sangat kuat. Serangan itu juga mengalir kepada Donny dan Arina dengan efek lebih rendah.


Mereka bertiga kembali terjun bebas menembus awan. Donny dan Shina tak sadarkan diri, sementara Arina tersadar berkat listrik yang menjalar lebih lemah.


Air laut menciptakan duri duri yang menancap ke atas. Sementara dari atas langit jutaan tanduk dan anak panah petir siap menghimpit mereka. Dengan tubuh yang masih tersendat-sendat, Arina mencoba mengeluarkan embun beku untuk menciptakan alas tanah es.


Karena terus gagal, Arina akhirnya membuat naga es yang muncul dari bawah laut. Naga itu menelan mereka bertiga kemudian masuk kembali ke laut. Serangan dari langit itu berhasil dilewati.


Di dalam perut naga es yang menyelami lautan Arina memandang kearah ke dua temannya. Terutama Donny. Dari sana ia melihat dirinya yang selalu menjadi beban bagi yang lainnya. Puluhan kali ia ditolong oleh yang Donny dan Shina.


Sebuah semangat tiba-tiba bangkit dari dalam dirinya. Dari tangan kanannya terbentuk kusari gama es lengkat dengan rantai yang terikat pada pergelangan tangannya. Salju tebal muncul dari tanah. Terbang memutari leher Arina. Kemudian salju itu menumpuk dan memanjang membentuk syal yang mirip dengan milik Donny.


Tubuhnya dengan ditutupi oleh es padat yang segera membentuk zirah mengkilap. Dengan perpaduan ide ini, Ia akhirnya siap untuk bertarung.


Arina mengurung kedua temannya di penjara bola es yang keras. Dengan kekuatannya Arina mendobrak tubuh naga es lalu menyembuhkan naga itu lagi. Naga es itu terus berenang dibawah air untuk menghindari serangan Kreza dan Arza.


Kreza yang menaiki Arza. Terbang memutari laut Arza juga menggunakan mata ular untuk mencari suhu panas lawannya. Sebuah pisau es berbentuk seperti boomerang menancap pada zirah batu Kreza. Seketika itu juga Arina keluar dari bawah laut tepat didepan mereka.


Arina menarik tubuhnya kearah mereka berdua. Tangan kirinya siap dengan palu es bergerigi. Kreza sontak melemparkan bebatuan dan kayu untuk menangkap Arina. Tubuhnya yang langsing mengelabui semua serangan Kreza. Hingga Arina berhasil menjejakkan palunya kebawah rahang Kreza.


Arza langsung menghindar sembari menghunuskan pedang dari tulangnya. Arina yang berhasil mengambil kembali kusarigamanya yang terlepas dari Kreza. Langsung menangkis tebasan Arza. Arina meniupkan embun es yang membekukan separo tubuh dari Arza.


Karena terlalu sibuk dengan Arza, Arina tidak sempat memperhatikan Kreza dibelakangnya. Pedang petir yang menyala bergerak menebas leher Arina dari samping. Syal putih yang tadinya terlihat seperti aksesoris pakaian berubah menjadi kepala hiu. Kedua kepala hiu menggigit pedang petir hingga hancur seperti kaca.


Kepala hiu itu menggigit sedua tangan Kreza. Seluruh tubuhnya seketika kaku karena ditutupi es tebal. Dengan palunya Arina menghancurkan Kreza berkeping-keping seperti pedang miliknya tadi. Tak terima saudaranya dipijokkan. Arza melompat seperti dia lalu melilit tubuh Arina dengan ularnya hingga zirahnya satu persatu tanggal.


Pecahan zirah miliknya juga ikut menggores tubuhnya. Arina memutar kusarigamanya. Memotong badan ular yang melilitnya. Dengan kusarigamanya juga ia menarik turun Arza dengan cara melilitnya. Arina menarik Arza jatuh kembali kelaut. Kreza mengangkat mereka berdua dengan ombak besar. Lalu menyengatnya dengan listrik bertegangan tinggi. Kreza tidak mengidahkan Arza karena ia yakin


Donny segera menarik Arina dari sana sebelum listrik Kreza mengenainya.


"Syal yang bagus", ucap Donny.


Syal milik Donny menyentuh darah Arina. Seketika syal itu berubah warna menjadi putih salju. Sementara mereka terus dilempari panas air yang muncul dari bawah air.


"Syalmu..", Arina terkejut melihat syal Donny berubah warna.


"Aku pinjam kekuatanmu".

__ADS_1


Donny mengepalkan tangannya lalu meninju permukaan air dengan keras.


"BEKUAN MAKSIMAL!!"


Air laut seketika berubah menjadi batu es. Kekuatan bekuan itu terus menjalar hingga membuat seisi planet masuk kembali ke zaman es. Kekuatan sebesar itu langsung menghabiskan semua kekuatan es yang baru saja Donny dapatkan.


Arina memanggil naga es nya yang kemudian merombak lautan beku itu. Naga es itu menyelam melompat menembus batuan es yang sangat padat. Mulutnya yang begigi tajam siap menelan Kreza yang tersangkut di air beku.


Sementara itu, berbekal pedang dan bola api. Shina secara habis-habisan menyerang Arza. Bahkan saat kedua sayapnya habis terbakar dan terpotong-potong Shina masih terus menyerangnya. Kekuatan regenerasi Arza terhambat akibat luka bakar secara terus-menerus.


Untuk menangkal serangan naga milik Arina. Kreza mengeluarkan naga tanahnya. Kedua naga itu bertarung seperti ular berebut mangsa. Kreza segera memakai kesempatan itu untuk melarikan diri dengan memotong kakinya. Namun, belum sempat ia menggerakkan tangannya.


Donny segera turun dan langsung melilitkan syalnya ke tubuh Kreza. Belum mau kalah Kreza membentuk tubuh barunya di sampingnya dengan elemen air. Arina turun dari syal Donny. Ia meniupkan angin beku yang membekukan air berbentuk humanoid itu.


Donny membentuk tabung plasmanya. Bersiap menembak kearah Kreza yang sudah terpojok. Sementara Arina terduduk dengan tumitnya sambil menatap kearah Kreza. Shina datang sambil menyeret Arza yang terkapar dengan luka bakar. Kakinya yang sudah lemas membuatnya terduduk bersandarkan pedangnya.


"PENGHIANAT!!", bentak Kreza.


Donny tidak mempedulikan ucapan Kreza. Tapi ketika tabungnya sudah terlanjur bercahaya. Kreza tiba-tiba membentuk tali air dari jari-jarinya. Tali-tali itu menarik Arina dan Shina tepat didepan Donny. Donny sontak membelokkan tembakannya kearah kanan.


Sayangnya disebelah kanan, tiba-tiba muncul bongkahan es besar. Kreza mengangkat balok es dari lautan beku dengan kekuatan listriknya yang mengalir melalui lautan beku. Tembakan Donny membuat es besar tadi hancur dan melemparkan material tajam kesegala arah.


Kreza berhasil terlindung berkat syal Donny yang masih menutupi sebelah kiri Kreza. Ditambah lagi ia masih punya tenaga terakhir untuk merubah tubuhnya menjadi kayu dan bisa beregenerasi. Naas bagi Arina dan Shina, mereka yang tidak sempat menyadari apa yang terjadi harus tertusuk pecahan es yang tajam. Syal merah sempat melindungi Donny. Ditambah karena jaraknya yang paling jauh, ia berhasil selamat.


Donny yang melihat teman-temannya terluka sontak membebaskan Kreza dan berlari menuju teman-temannya. Kreza tiba-tiba muncul menghadang Donny. Ia menebas kedua kaki Donny hingga putus. Tanpa tompangan kedua kakinya Donny terjatuh keras ke tanah. Kreza yang murka menyetrumnya dengan listrik yang sangat kuat.


Disaat itu Donny kembali merasakan rasa sakit yang sering ia terima dulu. Tanpa kekuatan lavanya, ia tidak bisa beregenerasi. Dipikirannya hanya ada satu, yaitu kawan-kawannya.


"Hanya ada.. Satu hukuman untuk... Penghianat... Yaitu.. Penyiksaan!!", ucap Kreza sambil menendang-nedang Donny.


Kreza dengan santainya berjalan melwati Donny dan langsung mengangkat jasad Shina. Ia menampung satu tetes darah Shina yang masih mengalit kedalam kotak kayu buatannya. Begitu mengangkat badan Arina. Ia melihat mata Arina yang masih bisa bergerak gerak.


Tanpa pikir panjang Kreza langsung saja menusuk dada Arina tepat dijantungnya dengan tangan kirinya. Donny hanya bisa menyaksikan tangan Kreza menembus Arina dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Rin.. Rin...", ucapnya berulang kali.


Kreza melirik kearah Donny. Ia berniat untuk menghabisinya, namun terbatalkan karena teringat oleh Arza. Kreza menjatuhkan tubuh Arina dan langsung berjalan menuju Arza. Kreza menggores kaki Arza lalu menampung darahnya dengan cara yang sama.


Selanjutnya ia menusukkan ketika darah itu kedalam tubuhnya. Seketika itu juga tubuhnya menjadi pulih seperti sedia kala.


"Akhirnya!! Aku adalah penguasa di dunia ini!!", ucapnya sambil tertawa puas.


"Donny!! Lihat ini!!"


Kreza mengeluarkan kekuatannya


Langit menjadi gelap dan menyambarkan petir. Lautan yang beku merekah serta mengeluarkan ombak air dari sela-sela retakan. Air dan es berubah menjadi debu yang berputar sangat cepat. Debu itu kemudian memadat dan membentuk sebuah kapal ruang angkasa kecil.


Donny terkejut dengan kekuatan itu. Ia menggelengkan kepalanya.


"Apa itu?"


"Kekuatan multi elemen, semua benda bisa kuciptakan",

__ADS_1


"Tak peduli serumit apapun strukturnya", Kreza menjawab Donny semangat.


Lautan yang beku mulai mencair. Air mulai menggenangi Shina dan Arina.


"Tidak!!", pekik Donny.


Dengan satu tangan kanannya, Donny berusaha keras menarik tubuhnya mendekati Arina dan Shina. Kreza sebelumnya berniat untuk menghabisi Donny saat itu juga. Tapi ia kemudian berfikir untuk meninggalkannya tenggelam didasar laut. Toh tidak ada yang bisa Donny perbuat lagi.


Kreza mengangkat Arza menggunakan debunya, lalu melemparnya ke dalam pesawat. Sebelum Kreza memasuki pesawat. Donny menlatakan syalnya seperti ular. Kemudian menyayat kecil kaki Kreza untuk mengambil sampel kekuatannya. Sayatan itu seketika sembuh makanya Kreza tidak merasakan sakitnya. Dengan kekuatan penyembuhan itu Donny berhasil menghentikan pendarahannya.


Di dalam pesawat Kreza mendekati wajah saudaranya. Arza masih bernafas tapi denyut jantungnya saat lemah. Kreza kemudian menyentuh kening Arza sembari mengalirkan kekuatannya. Tubuh Arza seketika pulih dan terbangun dengan wajah ketakutan.


"A-Apa yang terjadi?", tanya Arza.


"Kita pergi sekarang", jawabnya tanpa mempedulikan pertanyaan Arza.


Kreza segera pegi ke ruang kemudi. Arza berdiri melihat keluar jendela. Disana terlihat Donny yang masih bersusah payah untuk mendekati Arina dan Shina. Arza kemudian bertanya,


"Kenapa tidak kamu bunuh saja dia?"


"Tidak perlu, dia akan mati sebentar lagi", jawab Kreza.


Pesawat itu selanjutnya terbang ke langit dan menghilang dari pandangan. Donny memakai semua kekuatan penyembuhan yang dia dapat untuk menumbuhkan semua anggota tubuhnya yang hilang. Donny kemudian berdiri dengan kepalanya terasa berputar-putar akibat kekurangan darah. Es yang diinjaknya juga berguncang-guncang.


Dengan berbagai kesulitan yang Donny derita. Ia berjalan mendekati tubuh Shina terlebih dahulu. Donny segera menjulurkan syalnya untuk menangkap Shina.


Namun sayang, ia terlambat. Tubuh Shina terlanjur tenggelam dan menghilang dari pandangan Donny. Air mata mulai menetes dari mata Donny. Penyesalan mulai menghantui kepalanya.


Donny memalingkan wajahnya kearah Arina. Rupanya posisinya juga sama dengan Shina tadi. Segera dipanjangkan dua sisi syal merahnya untuk menangkap Arina. Hujan semakin deras. Bongkahan es yang tidak mampu lagi menahan air dan Arina diatasnya terbalik. Menceburkan Arina kedalam laut mulai dari kakinya dengan cepat.


Kali ini Donny berhasil menangkap tangan Arina. Langsung ditariknya Arina kecengkramannya dan memeluknya dengan erat. Donny terus mencoba memnyembuhkan luka parah Arina. Namun, selnya tidak tumbuh-tumbuh. Matanya masih terbuka dengan tatapan kosong. Donny mengusap darah di pinggir bibirnya dengan ibu jarinya.


Ia terus mengecek denyut nadi di leher Arina sambil menangis tak henti-henti. Selama ini, meskipun ia dalam posisi membelot. Sesekali tak pernah baginya untuk benar-benar menyerang Arina. Satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya kini telah tiada. Hatinya benar-benar hancur seperti kaca.


Donny terus memanggil-manggil namanya, mengharapkannya untuk kembali.


Meskipun mustahil.


"Rin... Rin..."


"Apa yang sudah ku perbuat..."


"Monster macam apa aku ini!!"


"Seseorang..."


"Seseorang tolong kembalikan dia..."


"Hidupkanlah Arina!!"


.......


.......

__ADS_1


.......


Dari kejauhan Okta menyaksikan kejadian itu diatas langit. Okta memalingkan wajahnya sambil meneteskan air matanya. Sementara Yuki, menyembunyikan wajahnya di dada Okta dan mengis terisak-isak.


__ADS_2