The Last Era

The Last Era
Act 70 [Good Bye]


__ADS_3

"Siapa.. Kalian..?"


Aku mencoba bertanya kepada mereka berdua. Mataku belum mampu melihat dengan jelas. Tapi mereka memahami suaraku yang lemah.


"Ini aku, Okta", jawab pria itu.


Aku mencoba mengingat-ingat nama itu. Terlintaslah sebuah nama yang mengingatkanku pada seorang remaja yang memainkan api ditangannya.


"Kalian.. Sudah besar?",


"Tapi.. Bagaimana bisa?"


"Mudahnya lubang hitam membuat perbedaan waktu yang jauh",


"Ditambah lagi sel-selmu membeku di luar angkasa, sehingga menghentikan pertumbuhanmu".


Aku menganggukkan kepalaku sedikit lalu melirik ke sampingnya. Terlihat disampingnya seorang wanita yang memiliki potongan rambut seperti Arina. Sontak aku memanggil namanya,


"Arina?"


Lantangnya suaraku membuat mereka bertiga terkejut. Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Dia? Dia adalah Yuki", pria itu memiringkan telapak tangannya ke wanita di samping kanannya.


"Hai...", wanita itu menyapaku dengan suara lembut.


Aku mengoyangkan tangan kananku yang masih terperban di samping badanku. Tiba-tiba aku merasakan sebuah kejanggalan. Aku tidak merasakan tangan kiriku. Ketika kulihat, tangan kiriku hanya tersisa hingga lengannya saja.


"Aku hanya bisa memperbaiki tubuhmu ke bawah", "Maaf soal tanganmu", ucap pria itu.


"Tenang saja, ini bukan yang pertama kali".


Singkat cerita, Aku dituntun oleh Yuki untuk berjalan keluar dari ruangan itu dan diberikan pakaian. Kaus dan celana panjang putih, seperti dulu.


Rumput-rumput hijau ditanah dan puing-puing bangunan menyambutku di depan pintu. Dinding yang terbuat dari besi agak berkarat memberikan estetik. Beragam penyokan menjadi dan ilalang merambat menciptakan sebuah mural abstrak. Atapnya... Ya jelas sudah runtuh, hanya tersisa satu tersangga satu tongkat di ruangan tengah.


Yuki mengajak anaknya untuk tidur siang. Sementara aku digiring oleh Okta bercerita satu sama lain menuju ke belakang bangunan. Di bawah pinus yang tinggi terlihat gumukan tanah dengan batu nisan berwarna biru transparan seperti es bertuliskan "Arina". Aku terkejut bukan kepalang. Kulihat wajahnya sambil berkata,


"Kamu membuat ini?!"


"Yukilah yang memberikanku ide itu",


"Aku sebenarnya tidak mau mengembalikanmu kalau Yuki tidak memaksaku", balas Okta sambil menggaruk kepalanya.


"Terima kasih banyak kalian", aku melompat memeluknya.


"Sudah ah, itu memalukan".


Aku melepas pelukanku kemudian membuang menghela nafas panjang. Aku berlutut di sebelah kanan makam itu. Tanganku mengais-ngais gulma digumukan pasir itu lalu membuangnya kesebelah kanan. Okta memasukkan tangannya ke saku celananya dan menatapku membersihkan seluruh makam itu.


Setelah menyelesaikan pekerjaanku aku berniat untuk membuang gulma yang sudah kukumpulkan. Saat hendak berjalan aku tersandung dan terjatuh diatas akar-akar pinus. Okta sontak membantuku berdiri. Darah mengalir dari tanganku yang tergores. Luka itu tidak mau sembuh dengan cepat seperti dulu. Disitulah Okta memberikan penjelasan lagi,


"Lain kali berhati-hati, tubuhmu yang dapat diregenerasi dengan kekuatan lava cuma bagian leher, kepala, dan sebagian dada",


"Lenganmu kebawah merupakan sel manusia biasa yang kuekstrak dari tubuhku sendiri".


"Apa tubuhku ini akan menolaknya?"


"Tidak, hasil perhitungan genetikku mengatakan",


"Kau dan ayahku aslinya adalah kakak beradik".


"Bagaimana dengan yang lainnya?",


"Apa kami saudara?".


"Tidak, hanya kalian berdua".


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku menyelidiki ruangan milik Dokter Jassen dan menemukan semuanya yang terkait dengan manusia elemen disana",


"Termasuk keterangan tentang kapan meteor kristal hijau itu jatuh dan buku-buku genetika".


Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa kecil. Okta juga melakukan hal yang serupa. Selanjutnya ia mengajakku memasuki ruangan yang dimaksud.


Lorong masuk tempat itu sekarang menjadi bersih dan rapi. Di pertigaan berisikan generator, lorong yang mengarah ke kiri tertutup runtuhkan tanah. Sehingga kami berbelok ke kanan. Lorong itu juga semakin turun dan semakin terang. Hingga kami memasuki labolatorium perpustakaan berAC, lengkap dengan peralatan lemari berisi tabung-tabung reaksi dan buku-buku yang terususun di rak.


"Dari mana kamu dapat benda itu?", aku menunjuk kearah AC yang menyala.


"Benda itu aku dapat dari tahun 2040", balas Okta sambil melipat tangannya.


"Maksudmu?", tanyaku heran.


Okta berjalan lurus kedepan lalu menekan tombol yang ada dibawah meja. Tak lama kemudian terdengar suara mesin-mesin robot. Terbukalah dinding kosong didepanku dan menyaksikan sebuah kotak besi yang memiliki banyak sekali tombol.


"Aku menemukan mesin ini beberapa tahun lalu",


"Karena tidak rusak sama sekali, aku mencoba untuk memakainya dan aku tanpa sengaja terlempar di tahun 19..4..4 kalau tidak salah", Okta menarik dagunya.


"Baru juga sampai, aku langsung ditodong senjata oleh tentara disana",


"Mereka bicara bahasa yang tidak kumengerti".


"Lalu?", tanyaku.


"Apalagi..? Aku langsung saja kembalikan waktu itu ke semula lalu balik ke sini".


Yuki tiba-tiba turun bersama anak laki-laki itu sambil membawa koper besar. Anak laki-laki itu menyodorkanku sepotong daging besar dan disajikan diatas piring. Langsung saja kupegang daging itu dengan tanganku dan kusantap begitu saja.


"Maaf, aku tadi kelupaan", ucap Yuki dengan sopan.

__ADS_1


"Ah, tenang aja".


Tanpa sengaja mataku melirik anak tadi yang masih polos menatap kearahku.


"Kamu udah bangun nak?", tanyaku.


Anak justru itu takut dan bersembunyi di belakang ibunya. Aku kemudian membuat raut wajah lucu yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya ia berani keluar dan bernyanyi sambil berlari memutariku. Kami bertiga tertawa melihat tingkah lucu bocah itu.


Disela-sela suasana yang hangat itu Okta tiba-tiba mengatakan keinginannya,


"Sebenarnya... Kami ingin kembali ke masa lalu hari ini juga",


"Sebab itu kami ingin kamu juga ikut denganku".


Sontak hal itu mengejutkanku yang membuatku hampir tersedak.


"Kenapa?", tanyaku.


"Kami kepikiran anak ini nanti, hidup sendirian disini", sambung Yuki.


"Kamu benar, ini bukan zamannya".


Yuki tiba-tiba teringat sesuatu dan pergi mengambil sesuatu. Selama Yuki pergi kamu berdua berbincang satu sama lain. Okta menjelaskan mereka berencana untuk pergi ke abad ketika semua negara masih bersatu dan kehidupan manusia masih rukun dengan alien Yadewa. Koper yang dibawanya hanya berisi kristal hijau yang akan digunakan untuk membuat manusia elemen disana. Ia berkeinginan untuk memperbaiki kesalahan leluhurnya.


Sambil menunggu Yuki kembali aku berkeliling perpustakaan kecil itu sambil melihat buku-buku yang ada. Tiba-tiba kakiku tergelincir oleh secarik kertas. Kertas itu kuambil dan kulihat isinya.


Betapa terkejutnya aku ketika melihat sebuah foto yang berisikan fotoku dan semua teman-temanku dulu. Aku tampak masih muda bersama dengan Arina, Ramko, Afton, Nadia, dan lain lain. Mereka berfoto bersama Dokter Jassen di sebuah rumah yang pernah dipakai untuk berkumpul kami dulu. Wajah kami dicoret-coret dengan tinta berwarna hitam.


"Ini dia, paman", Yuki kembali sambil memberikan syal berwarna putih kepadaku.


Tampaknya dia berlari tergesa-gesa, terlihat dari nafasnya yang tidak teratur. Aku segera mengalungkan syal itu keleherku sembari berjalan keluar dari rak-rak buku itu. Perlahan syal putih itu berubah menjadi merah tua yang membuat kagum anak laki-laki tadi. Yuki tanpa sengaja melihat foto yang kupegang.


"Maaf paman, Jassen mencoret-coretnya tadi",


"Maaf sekali paman", ucapnya sambil merundukkan punggungnya berulang kali.


Aku terdiam seketika. Kepalaku menoleh kearah anak yang masih polos itu. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengelus kepalanya dengan lembut.


"Nggak apa-apa, bawa saja foto ini", ucapku menyodorkannya keanak kecil itu.


Anak itu bersorak gembira lalu memeluk kakiku dengan erat. Melihat kelucuannya, jadi ingin punya anak.


"Ayo masuk! Sebelum salju turun", ucap Okta.


Okta menggendong anak itu kedalam mesin waktu, sementara Yuki membawa koper tadi. Aku tak menggerakan kakiku sedikitpun. Hanya berdiri menghadap mereka dengan wajah gembira. Yuki yang heran kemudian bertanya,


"Kenapa paman?"


"Tidak, aku tidak ikut", jawabku sambil menggelengkan kepala.


Okta dan Yuki kemudian berjalan kembali kearahku. Mereka kemudian menanyakan kenapa aku tidak mau ikut. Aku menjawabnya dengan tenang,


"Tapi... musim dingin akan datang", ucap Yuki.


"Tenang saja Yuki, aku akan baik-baik saja", jawabku sambil tersenyum.


"Tempat ini tak punya apa-apa lagi",


"Kami janji tinggal bersamamu selamanya", Yuki memohon kepadaku sambil menarik-naik tanganku.


Namun, aku tetap tegas tak bergeming. Aku berjanji untuk merawat makamnya jika kembali dengan selamat. Dan itu terjadi. Sebab itu sekeras apapun mereka berdua mencoba membujukku, aku tetap tak bergerak. Akhirnya mereka mengancam untuk tidak jadi pergi dan tinggal disini bersama selamnya. Disaat itulah aku mendapat siasat suapaya mereka mau berangkat sendiri.


"Baiklah, aku akan ikut", ucapku sambil membuang nafasku.


Aku kemudian berjalan mengikuti mereka memasuki mesin itu. Didalamnya aku mengutak atik sistem itu tanpa sepengetahuan Okta dengan syalku. Mesin itu terkunci di tahun yang sudah ditetapkan dan memblokir waktu saat ini. Ketika mesin menghitung mundur, aku segera melompat keluar sambil menjalarkan syalku melilit mesin itu. Pintu mesin itu terganjal oleh ikatan syalku.


Mereka kalang kabut dan mencoba membatalkan pemberangkatan. Okta menendang-nendang pintu itu hingga sedikit mengeluarkan apinya. Sementara anak laki-laki itu hanya duduk terdiam di kursi belakang.


"Tenanglah!! Ini memang keinginanku!! Kalian pasti menolak jika aku tidak ikut!!"


"Sampai jumpa!!"


"Jaga diri kalian!!", teriakku.


Okta dan Yuki terdiam. Mereka hanya bisa mengintip lewat celah jendela. Okta merangkul Yuki yang matanya berkaca-kaca. Ia menatapku dengan tatapan serius dan melambaikan tangannya. Sambil meneteskan air mataku, aku melambaikan tanganku kearah mereka.


Cahaya putih menyelimuti mesin itu. Aku menciptakan penghalang dengan syalku. Tak lama kemudian terjadilah ledakan yang cukup kuat hingga membakar sedikit syalku. Setelah ledakan itu mereka menghilang dari pandanganku.


Lemari-lemari kaca disana pecah akibat ledakan. Buku-buku berjatuhan dari raknya. Beberapanya ada yang robek dan terbakar. Karena tak ada lagi yang bersisa, aku pergi keluar dari sana sebelum mati keracunan asap.


.......


...^^^.^^^...


.......


.......


.......


Aku membuka mataku yang terasa berat. Kulihat sekeliling, hanya ada selimut salju putih dan tebal. Aku segera berdiri dan memandang sekeliling. Memang benar hanya ada hamparan salju yang di terangi sang rembulan malam.


Aurora berwarna hijau biru menari nari diatas langit. Aku terkagum-kagum oleh kemolekan sang aurora di langit. Aku tersadar kalau salju ini tak terasa dingin. Apa yang terjadi? Apa ini gejala hipotermia?


Pertanyaan itu terhenti tatkala aku dipanggil oleh seseorang dari belakang. Aku menoleh kebelakang dan menemukan Nadia. Rambutnya berwarna hitam yang diikat ponytail ke punggung. Ia tersenyum kepadaku sambil menggandeng Afton di sebelah kanannya.


Wajah mereka membuatku menitikkan air mata penyesalan. Aku langsung merangkul mereka sambil mengucapkan maaf berulang kali. Afton dan Nadia mencoba menangkanku.


"Sudahlah, ayo kita berjumpa yang lain", ucap Nadia.


"Tapi... Aku suda-"

__ADS_1


"Diamlah! Kita berangkat sekarang", Afton tiba-tiba mengangkatku ke punggungnya.


Ia langsung berlari di hamparan salju yang luas sambil berteriak dengan semangat. Aku yang sebelumnya bersedih seketika panik ketakutan jikalau jatuh menghantam es di bawah salju. Afton kemudian menurunkanku ke depan rumah yang terbuat dari kayu.


Cahaya lampu kekuningan bersinar terang dari sana. Afton membuka pintu itu sambil menggandeng tanganku. Begitu pintu dibuka, terlihat semuanya tengah berkumpul dimeja makan. Semua temanku berkumpul disana termasuk Okta, Sami, Yuki, Tu San, Erkan, dan Dokter Jassen. Mereka semua duduk dengan rapi di meja panjang. Kami terlihat seumuran semua, seperti ketika masih remaja kecuali Dokter Jassen


"Donny!!"


Arina tiba-tiba turun dan langsung menabrakku dengan keras. Saking kerasnya sampai-sampai aku terlempar lagi ke salju. Kami berdua tersungkur kebelakang dan jatuh menimpa satu sama lain.


"Aku sudah menunggumu sejak lama, Donny"


"Iya, aku juga sudah menunggumu sejak lama", balasku.


Aku berdiri dan menyalurkan tangan kananku ke Arina. Arina langsung memelukku dan tidak mau lepas.


"Sudahlah, mari berkumpul sama yang lain", ucapku.


"Nggak", Arina menyembunyikan wajahnya kedadaku.


"Ayolah", ajakku lagi.


"Nggak", balasnya.


"Kalian ini nempel banget", ejek Erkan dari dalam.


Mereka semua berdiri diluar dan di balik pintu. Kecuali Dokter Jassen yang duduk dengan tenang memandang dari kejauhan. Tiba-tiba Okta berkata,


"Ayo lakukan"


Teman-temanku yang laki laki tersenyum nyengir kearahku. Tubuhku seketika menjadi kaku dan terdiam. Aku menarik nafas panjang dan berkata,


"Emm.. Arina".


"Hm?"


Arina mengangkat kepalanya dan memandangku dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya polos membuat hatiku berdegup kencang. Aku langsung merundukkan badanku dan mencium bibirnya secara tiba-tiba. Beberapa teman-temanku berloncatan kegirangan. Sementara sisanya tersipu malu.


Aku segera berlari masuk ke dalam meninggalkan Arina sambil menutup wajahku. Wajah Arina memerah seperti buah tomat. Tubuhnya kaku tak bergerak saking groginya.


Yuki, Mabel, Nadia, dan Linda menggiring Arina kedalam rumah. Melewati yang lainnya. Begitu sampai didalam aku membuang wajahku sambil menahan bibirku yang terus bergetar. Arina mendekatiku dan mengomeliku tak henti. Aku menoleh kearahnya lalu mencoba menenangkannya. Susah, dia justru semakin marah sampai menutup matanya.


Sifatnya memang malu-malu kucing dari dulu. Kelihatan dari asap yang keluar dari kepalanya. Padahal dia itu berelemen es, tapi malah punya sifat yang berlawanan. Unik banget, Favoritku!


"Kok malah marah", gumam Shina.


"Paling bentar lagi abis baterai", ejek Ramko sambil membuka kedua tangannya.


Ucapan itu terdengar oleh Linda yang langsung meninju perut Ramko. Shina sendiri terkejut melihat itu.


"Aku dengar itu", ucap Linda.


"Tenanglah Linda.. Yang penting dia sudah pulang", Shina menenangkan Linda.


Afton seketika melompat merangkul Shina dan juga Ramko yang masih memegang perutnya.


"Ayo kita masuk semua!!",


"Ayo kita rayakan ini!!", pekik Ramko semangat.


Arina akhirnya tenang juga. Disaat itulah aku teringat bagaimana cara menenangkan seekor kucing. Ya, dengan cara mengelus kepalanya. Arina tidak lagi memberontak. Ia kemudian menarik kursi disampingku dan mendempetkan nya dengan kursiku.


Arina duduk merapat kepadaku. Selanjutnya ia menyanggakan kepalanya ke pundakku. Aku mengalungkan syal di leherku kepadanya.


"Akhirnya kita bisa bersama", kata Arina dengan lirih.


"Ya..."


"Untuk selamanya"


.......


.......


"Last era, ini berakhir disini"


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...KAMU MATI SEBAGAI PAHLAWAN ATAU HIDUP CUKUP LAMA UNTUK MELIHAT DIRIMU MENJADI PENJAHAT...


...~Harvey Dent~...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2