
Ketika kami tepat berada di atas robot itu, aku menghilangkan gerakan spiral. Sehingga mudah bagi Shina dan Afton untuk menjatuhkan robot itu. Shina berhasil menjatuhkan salah satu robot yang terbelakang dengan rantainya apinya. Tapi 2 robot didepan memiliki kecepatan yang lebih kuat. Saat mengetahui temannya terjatuh, robot yang membawa Arina dan Nadia di depan memutar tubuhnya 180 derajat, dan melakukan perlawanan dengan pedangnya. Aku mulai memuntahkan darah dari mulutku. "Donny bertahanlah sedikit lagi", kata Shina sambil mencoba meraih ekor kuda itu. Sementara
Afton menutupi tubuh Shina dengan zirah batu agar aman dari serangan robot itu. Kecepatan robot itu mulai melambat, dan roketnya berubah menjadi kaki lagi. Robot itu terus menebas tangan Shina yang keras terlindungi oleh batuan. Afton terlihat kehabisan tenaga karena sekaligus menahan rasa sakit di tangannya. Afton terus membuat batuan zirah untuk melindungi tangan Shina. Robot itu semakin melambat, dan sesuai dengan aku yang telah kehabisan tenaga. Dari kejauhan terlihat sesuatu yang terbuka dan membatasi lorong. Ya itu adalah sebuah pintu.
Ketika pintu itu akan menutup, robot itu mempercepat lajunya dan berhasil masuk. Ada celah sedikit bagiku untuk melewatinya. Tanpa pikir panjang, aku menjatuhkan Shina dan Afton kelantai. Untunglah dengan sigap, Shina menangkap Afton dan menggantung dengan rantai yang terikat di retakan pipa lorong. "Don, berhentilah, kau tak akan sampai", teriaknya ke arahku. Pintu itu telah tertutup rapat. Aku tersadar dan mengubah arah roketku. Sudah terlambat, tubuhku membentur benda keras itu dan jatuh pingsan.
Ketika tersadar, aku merasakan tubuhku seperti melayang. Ternyata aku sedang di gendong oleh Shina. Tangan kiriku perban dengan salah satu syalku dan di bandulkan ke leherku. "Sepertinya kamu sudah bangun, apa kamu masih bisa berjalan sendiri", tanya Shina. "Akan kucoba". Shina lalu menurunkanku, dan aku masih bisa berjalan normal namun tangan kiriku terasa sakit ketika di gerakkan.
__ADS_1
"Tangan kirimu sepertinya retak" Kamu harus mendiamkan tangan kirimu itu!" kata Afton. Aku mengangguk sambil melihat kedepan.
"Maaf, aku tadi menjatuhkan kalian", jawabku sambil menunduk menyesal. "Ah, tidak apa, yang penting kita harus mencari Nadia dan Arina dulu. Shina hanya diam dan menyorotkan senyumnya kepadaku. "Terima kasih", balasku.
Lorong itu lambat laun semakin mengecil. Kami kemudian sampai di suatu tempat yang luas dan berbentuk lingkaran dengan cahaya yang terang. Diatasnya terlihat banyak mahkluk yabg memiliki anggota tubuh seperti manusia setengah robot (cyborg) yang menonton kami dan bersorak kegirangan. Mereka juga menggunakan bahaya yang diak kami mengerti. Lalu, pintu kami masuk tadi ditutup dan pintu besar didepan kami terbuka. Datanglah sebuah robot setinggi 50m dengan empat ragam senjata mendekati kami. Tangannya ada empat yang masing masing tangan robot itu memegang pedang, tongkat besi, senjata rudal, dan dan pistol plasma. Robot itu kemudian berhadapan dengan kami.
"Shina kau punya rencana?", tanyaku dari kejauhan. "Aku punya", kata Afton. "Tapi kalian mendekatlah kesini!" Kami kemudian berlari ke arah Afton. Afton mengumpulkan batuan lebih banyak, dan menciptakan monster batu yang seukuran dengan robot itu. Monster itu telah dipersenjatai dengan pedang dan tameng batu.
__ADS_1
"Donny kau lindungi aku dari pecahan robot itu!", "Shina gunakan kekuatanmu untuk membuat pedang batu monster itu menjadi panas dengan apimu!" perintah Afton kepada kami berdua. Mengikuti perintah Afton, aku menghancurkan pecahan besi yang akan membentuk Afton. Shina berfokus pada pemanasan pedang batu milik monster batu. Sementara Afton mengendalikan monster batu itu. Roboth itu langsung menembakkan rudalnya dan pistol plasmanya. Tapi karena regenerasi monster batu itu cepat, roboti itu dengan sigap mampu di potong tangannya. Ia berhasil memotong tangan yang memegang pistol plasma dan rudal pamungkas. Monster itu kemudian menusuk robot itu, mengangkatnya ke atas dan membantingnya ke lantai gladiator.
Mirip seorang pegulan yang membanting lawannya. Melihat tak ada pecahan yang mendekat ke arah kami. Terbang dan mendarat di pundak monster itu itu, dan mengulurkan syalku ke arah monster batu itu. Syal itu melebar dan membentum senjata yang sama dengan senjata milikku di lengannya yang memegang tameng. Tamengnya terjatuh dan Afton paham maksudku. Afton mengangkat robot itu ke langit dan mengarahkan senjata syalku kearahnya. Aku kemudian melepaskan tembakanku yang super kuat itu. Kepala robot itu hancur, termasuk juga langit langit gladiator yang bolong. Udara tertarik ke luar angkasa begitu juga kami dan cyborg penonton. Tapi entah mengapa angin itu seketika hilang dan semuanya menjadi normal.
Monster batu kemudian hancur menjadi tanah dan debu. Afton tergeletak tak sadarkan diri. aku dan Shina berlari menuju Afton yang terbaring kaku. Suara riuh penonton semakin keras, suara terompet berbunyi 5 kali menandakan selesainya ronde pertama. Shina kecapekan dan terduduk sambil menunduk. "Jadi selama ini kami hanyalah pentunjukkan?", geram Shina. Pintu didepan kami terbuka, samar-samar terlihat sebuah es terbang ke arahku. Dengan cepat aku menghindar. "Es ini runcing, mungkinkah?". Terlihat dari kejauhan Arina dan Nadia yang melancarkan serangan ke arah kami. Shina menggendong Afton sambil melompat menghindari akar ikat Nadia.
Mata mereka terlihat mati dan pnadangan mereka terlihat kosong. Aku tahu pasti ada sesuatu yang mengendalikan mereka. "NADIA ARINA SADARLAH!", teriak Shina. Namun mereka tidak menghiraukan kami. Shina menggantung ke langit dengan rantainya. Es-es runcing bermunculan dari lantau dan mengejar Shina. Ketika aku akan bergerak ke arahnya. Nadia mengikat tubuhku dengan akarnya dan akan menusukku dengan ranting tajamnya. 'Sepertinya inilah akhir hidup kami' batiku dan Shina.
__ADS_1