The Last Era

The Last Era
Act 27 [Jatuh dan Bangkit]


__ADS_3

Setelah membaringkan Ramko di kasurnya, aku pergi ke ruang utama untuk melihat keadaan yang lain. Aku menceritakan semuanya kepada Linda dan Mabel.


Mereka enggan untuk percaya denganku. Sampai aku tunjukkan Ramko yang sudah tidur dengan luka gores di di matanya. Saat itulah mereka baru percaya.


"Dimana Donny sekarang?", tanya Mabel.


"Entahlah".


"Ayo kita cari ke lokasi", "Kita perlu penjelasannya", Linda langsung saja bergegas keluar penginapan.


"Tidak bisa", "Polisi pasti sudah berada disana sekarang", jawabku sambil menarik tangannya.


"Tapi-"


"Kembalilah tidur!!", jawabnya tegas.


Melihat Linda yang kecewa denganku, Mabel menggiring Linda masuk ke kamarnya. Setelah mereka pergi, aku pergi ke luar penginapan dan duduk di bangku trotoar.


Aku melihat bintang-bintang yang berkelap-kelip sambil menahan tangis. Kepalaku pening karena memaksa menahan paranoidku. Mataku secara perlahan mulai berat dan akhirnya tertidur di atas bangku.


......*......


"Shina bangun!"


Aku terbangun karena panggilan dari suara yang tak asing bagiku. Suaranya berat dan sudah lama tidak kudengar.


Benar, Dokter Jassen. Ia berdiri menghadapku dengan muka santai dan baju dokternya yang memanjang hingga ke lututnya. Aku melihatnya dengan mata yang masih setengah terpejam.


"Oh, Dokter", "Mau apa kau kesini?", jawabku ketus dan masih berbaring di atas bangku.


"Aku terlambat, ya".


"Kemana saja kau selama ini?", "Pergi nggak ngucap salam, datangnya nggak diundang".


Dokter Jassen mulai berubah muka menjadi serius.


"Oke langsung saja ke intinya".


"Dimana Donny?"


"Yang jelas dia sudah pergi, dia pengkhianat".


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Karena dia memberi kita banyak masalah",


"Juga dia berbohong kalau dia tak mempunyai elemen",


"Tapi, ternyata dia bisa mengambil elemen milik orang lain".


"Lalu kamu mengusirnya?!", tanyanya panik.


"Dia yang menghilang setelah menyerang Ramko".


Dokter Jassen lalu membalik badan membelakangiku. Aku baru sadar kalau Dokter Jassen tidak memakai tangan robot.


"Dok, kenapa kau tidak memakai tangan robot?", jawabku dengan mata yang masih rabun.


"Kenapa harus?"


"Karena orang-orang disini bisa membunuhmu!"


"Orang-orang mana?"


"Yang di sana itu", tunjukku ke sembarang arah.


"Maksudmu reruntuhan bangunan pasca kebakaran itu?"


"Ya itu", "Tunggu! Apa?!", "Bangunan pasca kebakaran?", aku langsung membangunkan tubuhku lalu melihat sekeliling kota yang hanya berupa reruntuhan.


Yang dikatakan Dokter Jassen benar. Tak ada orang satupun, yang ada hanyalah reruntuhan bangunan.

__ADS_1


"Dimana ini?"


"Kota Lubina".


"Kota Lubina?"


"Kamu tidak ingat?", "Aku benar-benar tak paham dengan orang yang punya paranoid dan alter ego sepertimu".


"Alter ego?"


"Manusia yang mempunyai gangguan kejiwaan berupa dua sifat yang berlawanan", "Mungkin bisa kusebut DID saja".


"Kembali ke topik", "Apa yang terjadi disini?"


"Mahkluk itu sudah datang".


"Apa itu?"


"Alien lain yang berasal dari planet Unearth", "Planet yang hampir persis seperti bumi dan mengorbit bintang Rudder",


"Mereka meluluhlantakkan tempat ini".


"Tunggu dulu!", "Bagaimana aku masih hidup?"


"Kamu lupa?", "Kamulah yang menghabisi alien-alien itu".


"Mana mungkin", "Aku tidur baru kemarin".


Dokter Jassen tersenyum, membalikkan badan dan menunjuk bajuku yang terobek-robek. Aku melihat bajuku seakan tak percaya apa yang terjadi.


"Ayo berjalanlah sebentar", "Kita bebincang sambil menuju pesawat".


Sambil berjalan aku mulai merasakan ketakutan mengaliri darahku. Aku hanya mengingat kejadian itu hanyalah sebuah mimpi.


"Bagaimana mungkin?", "Ini semua cuma mimpi!".


"Itulah yang spesial darimu Shina",


"Kau kuciptakan kuat dan berbeda dari yang lain".


"Namun, tak kusangka potensimu yang tinggi itu harus kandas dengan sifat egoismu".


Kepalaku mulai berdenging kuat.


"Siapa kalian?!"


"Belum lagi, kamu mengusir temanmu sendiri"


"Pergi dari kota ini atau kubakar kalian semua?"


Dengingannya semakin keras.


"Membuat ceritamu sendiri".


"Kita adalah teman bukan, kita akan selalu bersama".


"Lalu menjadikanmu sebagai tokoh utama"


"Menangislah sampai ini berakhir!!"


"Bermimpilah, Nak"


"DIAMLAHH!!"


Aku langsung memunculkan pedang api dan menebasnya ke leher Dokter Jassen. Dengan tenang ia menangkisnya dengan tangan yang dilapisi kristal biru.


"Afton?"


Dia melayangkan tangannya, seketika angin kuat mencampakkanku dan mendorongku ke dinding.


Dokter Jassen berjalan perlahan kearahku yang . Ia kemudian memunculkan api merah di tangannya.

__ADS_1


Angin itu membuatku menghantam dinding megitu kuat, hingga pedang apiku hancur berkeping-keping. Aku tidak sanggup berdiri dan menerima apa yang akan dilakukannya.


"Siapa kau?"


"Aku adalah mutan hybird".


"Hybird?"


"Ketika seorang mutan punya dua atau lebih elemen", "Dia disebut hybird".


"Jangan-jangan Donny juga-"


"Benar", "Dia bukan mencurinya tapi syalnya mendapat elemen dengan cara melebur DNA darah kalian".


"Lalu kenapa dia menyerang kami?"


"Dia ketakutan dan putus asa", "Sebab itu aku geram denganmu",


"Lagipula itu menandakan, kalau umurnya sudah selesai", Dokter Jassen menghilangakn semua kekuatannya.


"Begitu ya, hahaha", rasa takutku berubah menjadi penyesalan dan putus asa yang besar.


"Tenang saja, kau masih mempunyai satu jalan",


"Meminta maaflah".


Aku menatapnya sebentar dan langsung berdiri.


"Sekarang saja, Dok".


"Baik, kita pergi sekarang", kata Dokter Jassen sambil mengambil teleponnya.


"Halo, jemput kami sekarang".


Tak lama kemudian angin roket menerpa kami dan terlihat Linda didepan pintu pesawat sambil melambaikan tangannya.


"Ayo!"


"Baik dok"


"Satu lagi, lebih sopanlah denganku", "Mengerti?"


"Iya dok".


......\=......


......*......


Aku terbang dengan roketku selama tiga hari dengan sesekali berhenti dan berburu hewan. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah kota. Kota itu berada di hamparan padang rumput nan suburan.


Mahkluk disana berbeda jauh dengan di Kota Lubina. Aku menyamar dengan memakai jubah dari pemanjangan syalku. Ketika masuk ke kota itu aku sempat di curigai, dan sempat dirampok.


Tapi, aku melindungi diri dan berbalik merampoknya. Aku sangat yakin kota ini adalah kota Inaba. Karena ras disini tidak ada yang merupakan campuran.


Mereka hampir pesis seperti hewan di bumi dan aquopora. Berbeda dengan ras yahma yang hampir persis seperti manusia. Mereka bisa dibedakan dari telinga yang runcing dan tubuh yang lebih besar.


Karena hasil dari persilangan, hal itu membuat ras ini memiliki beberapa cacat tubuh. Seperti anggota tubuh lengan dan kaki yang cacat. Hal itu membuat mereka mengganti beberapa anggota tubuh mereka. Sekaligus menjadikannya sebuah ciri khas.


Seminggu aku disini sambil mempelajari tulisan mereka. Namun tiada yang enggan menerimaku kecuali sebagai budak. Aku mencoba menjadi saja budak barang kali aku mendapat jalan disitu.


Setelah lama mencari, akhirnya ada yang menerimaku sebagai tukang angkat barang di toko reparasi robot dan tangan bionik. Meskipun badanku tidak gagah dan lebih terkesan ramping, yang penting aku diterima bekerja.


Aku dianggap budak yang terbaiknya karena menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Sehingga ia mulai mengajariku cara mereparasi robot dan menerimaku sebagai karyawan.


Kota Inaba tidak seperti yang aku pikirkan. Sebelumnya aku mengira kalau kota Inaba sangat mengerikan dan dipenuhi monster jahat. Tapi, orang disana berbicara dengan logat masing-masing.


Ada yang kasar, namun ada juga yang ramah hati. Contohnya paman bos ku ini, awalnya ia sangat kasar. Namun, lama-kelamaan ia semakin halus dan mulai mempercayaiku.


Satu lagi, kota-kota di planet ini sangat besar dan terlihat seperti sebuah kerajaan mandiri. Sebab itu kota-kota lebih kusebut seperti negara dibandingkan kota.


Bisnisnya mulai sukses dan membuka cabang di bagian di kota lain. Ia mempercayaiku untuk menjadi pemimpin cabang itu karena ia belum berkeluarga meskipun cukup berumur.

__ADS_1


Paman itu menyuruhku untuk memegang bisnis di kota Rowl. Usahaku sukses besar, karena selain mereparasi, aku juga mengampu banyak inovasi teknologi dan senjata baru.


Beribu-ribu pesanan datang kepada kami. Sehingga memaksa kami untuk merekrut lebih banyak pegawai. Aku akhirnya memilih melupakan dengan masa laluku dan hidup di kedamaian ini.


__ADS_2