
Shina tak menjawab apapun. Ia hanya menundukkan kepalanya sembari mencopot jaketnya.
"Apa itu kamu, Shin!? Jawab!!", bentak Arina.
"Ya, dan aku benci mendengar nama itu lagi".
"Kenapa kamu kemari? Dunia kita hancur karena kamu tidak hadir disana!!", ucap Arina dengan nada tinggi.
"Kamu tidak mendengarkanku rupanya..."
Shina meremas jaketnya dengan kedua tangannya. Rahangnya menegas bersamaan dengan nafasnya yang semakin cepat. Ia kemudian menatap Arina setajam elang lalu berkata,
"Kita tidak lain hanyalah anak-anak tidak berdosa yang dipaksa untuk menjadi mesin pembunuh berdarah dingin",
"Seorang pahlawan huh?", "Itulah ucapan manis dari mereka".
Shina membalikkan tubuhnya seolah tak peduli dengannya. Sebelum pergi, ia melirik kearah Arina yang tampak kesal dengan sudut matanya.
"Tidurlah, ini sudah malam!", ucapnya.
Arina kesal dan hendak mencegahnya pergi. Ia hampir saja jatuh karena tubuhnya masih belum seimbang.
"Dia ini.."
"Sudahlah ibu, kita bicaranya besok saja", ucap Yuki menenangkannya.
Okta menarik nafas panjang. Ia menunggu sebentar hingga langkah pria itu menjauh dan menutup pintu kamarnya. Diliriknya sebentar Arina sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Baru kemudian ia keluar dari kamar Arina.
Yuki menepuk-nepuk pundak Arina. Wajah wanita itu berubah lesu dan putus asa. Melihat perubahan sifat ibunya itu, Yuki tak kuasa meninggalkan Arina. Sepanjang malam Yuki tidur bersama Arina untuk menemaninya.
......*......
Kristal es yang mengandung tubuh seorang pria berbaju hitam legam dilelehkan didalam sebuah kapal besar. Orang itu tak lain dan tidak bukan adalah Donny. Ia membeku diluar angkasa setelah terlempar akibat ledakan dahsyat tadi.
Tempat itu gelap dan berdebu. Di sekelilingnya terdapat banyak sekali peralatan canggih yang bercahaya. Tanpa es yang menahannya, tubuh orang itu terjatuh lantai cukup keras.
Didepannya berdiri sebuah mahkluk seperti manusia yang tinggi tubuhnya mencapai 3 meter. Tubuhnya penuh dengan luka jahit dan bajunya penuh dengan robekan. Kulitnya berwarna sedikit kehijauan, dengan wajah yang berantakan.
Mahkluk itu menyentuh tubuh Donny dengan kejutan listrik. Seketika ia itu terbangun sambil berteriak kesakitan akibat sengatan listrik. Pria itu kemudian bangkit dengan tubuh yang masih sempoyongan. Nafasnya masih tidak karuan dan pandangannya masih rabun.
Nmaun tiba-tiba sebuah tangan besar muncul dari balik kegelapan. Tangan itu menerjang leher Donny lalu mengangkatnya ke langit. Dibawah remang remang lampu, tampaklah sebuah sosok yang mencekiknya.
Bentuk tubuhnya sama dengan mahkluk tadi, hanya saja tubuhnya lebih besar dan sedikit berantakan seperti zombie. Rahangnya menegas dan meneteskan air liur. Juga punggungnya dipenuhi duri duri yang tumbuh dari balik kulitnya.
Tangan kanan Donny berubah menjadi lava panas. Ia langsung mencengkram dan membakar tangan mahkluk bengis tadi hingga tangannya hangus dan melepaskannya. Mahkluk itu kemudian meninju Donny dengan tangan kirinya hingga Donny membentur dinding sangat keras. Saking kerasnya sampai-sampai kapal itu berguncang sangat kuat.
"Lava... kuperkenalkan padamu, Arza!", ucap mahkluk tadi.
Donny memegang kepalanya sambil menatap tajam kearahnya. Donny sebenarnya muak dengan tingkah laku Kreza yang terlalu mengekangnya. Meski begitu ia berhutang budi karena telah diselamatkan dulu.
"Apa mahkluk jelek itu kreasimu?! Ajari dia tata krama!!", tanya Donny kasar.
Mendengar itu, mahkluk tadi marah dan meraung sangat keras. Ia kemudian menumbuhkan kembali tangannya dengan cepat dan bersiap menyerang Donny.
"Tenanglah saudaraku, tenanglah", ucap Kreza sambil menurunkan tangan Arza dengan tangan kirinya.
Kreza kemudian memberitahu jika manusia elem yang tersisa berada di sebuah planet yang sangat jauh dari sini. Hal itu dapat diketahuinya lewat alat pelacak yang ditempelkannya pada syal milik Arina.
Namun, sebelum menuju kesana. Pesawat ini memerlukan energi yang besar supaya mampu sampai kesana dengan cepat. Sebab itu Arza kemudian diturunkan di sebuah planet kuning untuk mengambil sumber energi disana. Sekaligus untuk menunjukkan kepada Donny seberapa kuat Arza sebenarnya.
Beberapa jam kemudian, Arza kembali sambil membawa sebuah bola cahaya berwarna kuning menyala sambil berlumuran banyak darah. Meski begitu ditubuhnya tak terdapat luka sedikitpun. Tampaknya Arza memang mampu meregenerasi tubuhnya sendiri dengan cepat.
Arza segera memberikan bola itu kepada Kreza untuk dipasang pada sumber energi kapal. Selanjutnya kapal itu bergerak secepat cahaya.
Selama perjalanan Donny berfikir. Apakah jalannya salah ataukah benar. Ia ingin menciptakan dunia yang baru tanpa ada sifat buruk manusia. Namun, disisi lain ia sedikit menyalahkan dirinya karena menghabisi rasnya sendiri. Dalam kebimbangan Donny mengunci diri di sebuah bilik, lalu mematikan lampunya.
Ia merasakan adanya anomali ketika mengikuti Kreza. Donny mulai merasakan adanya sisi lain Kreza yang memanfaatkannya sebagai alat pemusnah.
Sebelum ia berfikir lebih dalam, Donny memaksakan matanya untuk terpejam. Dengan posisi tertidur ia pun tertidur.
......*......
__ADS_1
Selama tiga minggu, Okta dilatih oleh Shina untuk mengendalikan apinya. Berbagai luka ia terima selama latihan, namun Okta tak pernah menyerah hingga mencapai api hijau. Bersarkan suhunya api berwarna merah mempunyai suhu paling rendah. Lebih tinggi ada oranye, kuning, hijau, biru, cyan, hingga akhirnya putih di suhu tertinggi.
Setelah Arina pulih, ia langsung mengasah keterampilannya bersama Yuki. Hanya saja mereka berlatih ditempat yang berbeda, Yuki dan Arina di tengah hutan. Sementara Okta dan Shina di gunung atai tepi pantai. Tak jarang juga mereka berlatih bersama di padang hijau.
Meskipun berbeda beda elemen. Tujuan mereka tetap satu, yaitu menghapus keberadaan musuh mereka. Mengingat manusia yang tersisa hanya mereka berempat ditambah satu lagi Donny yang sudah menjadi musuh.
Hari ke empat puluh satu, di sore hari...
BRUKK
Punggung Okta menerjang pasir pantai sangat keras akibat terkena pukulan tongkat Shina. Okta seketika bangkit dan melemparkan bola apinya kearah Shina. Dalam satu kedipan mata, Shina tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Shina kemudian muncul dengan tongkat yang dilikit lidah api merah. Tongkat itu tepat mengarah ke leher Okta yang membuatnya tidak bisa bergeming.
"Baiklah, sampai di sini saja latihan kita", ucap Shina sembari menarik tongkatnya.
"Ayo kita pulang".
Shina berjalan menjauhi Okta untuk mengambil barang-barang yang menjadi bekal mereka. Okta yang kesal karena kalah untuk yang kesekian kalinya menjatuhkan tubuhnya ke gumuh pasir dengan posisi telentang. Ia menatap langit sore yang berwarna keungungan, berbeda dengan bumi yang berwarna oranye.
Okta menggaruk wajahnya dengan kesal. Dia berfikir, jika aku tidak bisa menjadi kuat. Maka aku gagal melindungi keluargaku. Shina berjalan kearah Okta, selanjutnya ia menarik tangan Okta dan memaksanya untuk berdiri.
"Kamu jangan lemah hanya karena kalah dari seseorang",
"Ayo bangun! Ini sudah malam".
Okta sontak menepis tangan Shina.
"Ayah juga begitu, kalau ayah tidak lemah, maka ibu seharusnya tidak akan mati",
"Ayah itu sama saja!!"
"Kamu adalah kamu, dan aku adalah aku",
"Ayah memang lemah, sebab itu kamu tidak boleh selemah aku", ucap Shina tegas.
"Cih, aya-"
Ucapan Okta terhenti ketika Shina menempelkan tangannya kekepala Okta. Seketika hatinya terasa tenang dan aman. Semua gejolak dan dendam dihatinya yang siap dikeluarkan tiba-tiba saja menghilang. Ini adalah sesuatu yang dibutuhkan Okta sela ini sebagai anak.
"Oh kamu sudah tenang, baiklah waktunya pulang".
Shina berhasil meredam emosi Okta. Ia tahu jika anaknya hanya kelelahan dan putus asa. Sebab itu ia tidak marah meskipun dilawan seperti itu. Selama perjalanan Okta terdiam dan merenung. Selama ini ia mengira ayahnya membencinya hingga menitipkannya kepada orang lain.
Namun, kini ia menyadari bahwa Shina melakukan itu untuk melindunginya. Shina tak mampu merawat seorang anak sendirian. Meski ia seorang ayah yang bsia melindungi keluarganya, jiwa seorang lelaki bukan diciptakan untuk merawat seperti wanita. Tanpa Mabel ia tidak bisa merawat seorang anak sendirian.
"Okta, paman, selamat datang", panggil Yuki yang duduk di teras rumah.
"Oh, halo", jawab Shina.
Disaat yang bersamaan Okta merasakan suhu tinggi yang lewat di atas langit. Ia berhenti berjalan dan menatap kelangit yang kini sudah gelap.
"Ada apa, Okta?", tanya Shina.
"Nggak, nggak apa-apa", ucap Okta sambil menggelengkan kepalanya dan lanjut berjalan.
Dimeja makan tersajikan banyak makanan yang dibuat oleh Arina dan Yuki. Bau makanan yang menggelora membuat Shina dan Okta buru-buru mandi dan berganti pakaian. Mereka cepat-cepat mengambil piring dan menyantap makanan bersama-sama. Malam itu menjadi malam yang penuh kegembiraan.
"Jadi, Okta apa kamu tadi menang melawan ayahmu?", tanya Arina sambil mengupas buah.
"..."
"Okta...?"
Okta tak menjawah. Ia melipat tangannya diatas meja makan sambil menutup matanya. Ia tertidur pulas.
Lampu kuning menyala dikepala Yuki. Ia mendapat sebuah ide untuk menaruh gelas berisi air diatas kepala Okta. Saat Okta terbangun minuman akan tumpah mengenai wajahnya. Yuki turun dari kursi dan mengisi gelasnya dengan air.
Arina tahu niat jahat Yuki, tapi dia hanya pura-pura tidak melihat dan pergi ke kamarnya. Sambil menggelengkan kepala Shina mengangkat semua piring dari atas meja lalu dibawa ke dapur.
"Hehe...", Yuki tertawa halus.
__ADS_1
Tak disangka ketika Yuki menempatkan ujung gleas ke kepala Okta. Okta sontak terbangun dan mencengkram tangam Yuki. Ia langsung menarik tangan Yuki ke atas dan berpaling menghadap wajahnya.
Mereka berdua saling berhadapan dan bertatapan satu sama lain. Melihat mata Okta yang menatap tajam membuat wajah Yuki berubah seperti merah tomat. Kepalanya mengeluarkan uap panas dan nafasnya tidak stabil.
"Ah, ternyata cuma kamu, Ki", "Tak kira ada apaan", ucap Okta setengah sadar.
"Kenapa? Apa kamu sakit?", tanya Okta lagi.
Yuki menarik tangan kanannya dari cengkraman Okta. Ia kemudian memegang tangan tangan kanannya dengan tangan kiri.
"Mi-minta ma-af....", ucap Yuki lirih.
"Apa?"
"Minta maaf, bodoh!", bentaknya dengan mulut gemetaran.
"Ha?! Kau ini kenapa?",
"Apa kamu sakit?", Okta beranjak dari kursinya dan menempelkan tangannya ke jidat Yuki.
"Suhumu normal, sepertinya kamu kelelahan".
Yuki semakin panas. Mulutnya bergetar tak karuan, tubuhnya terasa kaku tak bergerak, dan wajahnya semakin merah. Yuki memegang tangan kanan Okta yang menempel di jidat Yuki. Selanjutnya ia membanting Okta ke lantai sangat keras. Sambil menutupi wajahnya, Yuki membanting dan mengunci pintu kamarnya.
Arina diam-diam mengintip dari balik celah kayu. Dalam hatinya ia panas dingin karena melihat kejadian seperti di dalam drama. Sementara Shina hanya tersenyum sambil membasuh piring-piring kotor yang ada didepannya.
KRIEET
Jendela tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Disusul dengan lampu dapur yang tiba-tiba mati. Shina tak peduli dan tetap kukuh membersihkan piring-piringnya. Ketika Shina melirik kearah jendela ia melirik seseorang telah duduk di bingkai jendela. Shina mengembalikan pandangannya, ia menarik sudut bibir bagian kiri keatas.
"Jadi, kamu sudah disini?",
"Kapan kamu sampai? Cepat sekali!"
Orang itu kemudian membalas,
"Entahlah... sudah lama sekali bukan?", ucapnya santai.
"Aku kira kau sudah mati, benar-benar mahkluk immortal".
"Diantara dibawah langit bertabur bintang dan krayon violet", "Mana yang kamu pilih?"
Shina menarik nafas panjang, ia berhenti membilas piringnya yang masih menumpuk.
"Bintang-bintang sangat indah, cahaya mereka memberikan kehidupan pada mahkluk di setiap planet yang mengikutinya",
"Namun, aku suka warna violet", "Memiliki dua sisi, bisa berarti baik atapun jahat",
"Lalu untuk tantanganmu, akan kupilih violet".
Mendengar jawaban Shina. Orang itu tersenyum, kemudian berkata,
"Pilihan yang bagus",
"Kutunggu kau di padang rumput saat pagi hari".
KIREET
Setelah mengatakan itu, orang menghilang dari bingkai jendela. Shina kemudian melihat keluar jendela. Dipandanginya langit malam yang penuh dengan kelap-kelip bintang.
"Sudah saat lama ya..."
"Aku yakin dendammu sedang memanas saat ini"
.......
..."Donny..." ''Shina...''...
.......
..."AKU BERSUMPAH AKAN..."...
__ADS_1
.......
..."MEMBUNUHMU!!!"...