The Last Era

The Last Era
Act 62 [Berbalik Arah]


__ADS_3

Donny kemudian terbang keatas langit hingga suhu berubah menjadi sangat dingin. Shina mulai lemas karena kekurangan oksigen. Ditambah suhunya yang dingin membuatnya kesulitan untuk menaikkan suhu apinya. Tanpa Donny sadari, hal itu juga berdampak kepadanya. Belum lagi suhu yang sangat dingin membekukan roket syal milik Donny.


Alhasil, sebelum mereka sampai mencapai atmosfer terluar mereka berdua sudah lemas dan terjun bebas. Mereka berdua jatuh cukup lama sebelum akhirnya tersadar secara bersamaan. Ketika Donny tersadar ia menusukkan empat ujung syal kearah Shina. Kebetulah saat itu Shina terbangun dan menangkisnya dengan tongkat apinya yang kembali membara.


Donny mencoba membentuk roketnya lagi. Namun, tertahan oleh tebalnya es yang yang menutupi lubang roket. Mau tidak mau Donny harus berduel dengan Shina yang memiliki respon lebih cepat dari padanya.


Salah satu tusukan Donny berhasil mematahkan tongkat Shina mengjadi dua. Shina segera membentuk rantai yang menghubungkan keduanta tepat sebelum salah satu tusukan Donny berhasil menggores wajahnya.


Hasil patahan itu membuat Shina semakin lincah. Dengan geram, Donny memunculkan tiga lagi syal tajam yang menyerbu pertahanan Shina. Ditambah dengan dua tembakan dari kanan di kedua tangannya.


Shina tak mau kalah, Ia menaikkan suhunya hingga tongkat dan rantainya berubah menjadi kuning terang. Naiknya suhu itu tidak disadari oleh Donny yang terlalu fokus pada serangan mekaniknya. Pada akhirnya Shina berhasil mendekat dan mengungguli Donny meskipun tangan kirinya harus menikmati panasnya plasma Donny.


Shina berhasil menusukkan salah satu tongkatnya ke dada Donny yang berhasil membuatnya memuntahkan darah. Saking cepatnya pergerakan itu, Donny sampai belum sempat untuk mengaktifkan kekuatan lavanya sehingga ia cukup dalam.


"Kau tidak akan menang dariku!!", Shina menggertak Donny yang tengah terpojok.


Setelah menembus awan tebal, Donny dan Shina dinampakkan dengan sebuah pusaran badai yang mengerikan. Shina yang kaget melihat itu segera menendang Donny untuk mencabut tongkatnya dan bertolak keatas. Namun, Donny tak menyerah begitu saja, ia menjerat kaki Shina dan ikut menarik Shina kedalam pusaran badai. Angin itu mengejutkan mereka berdua karena tiba-tiba saja muncul dan sangat kuat.


Mereka bedua kewalahan mengendalikan posisi didalam pusaran badai itu. Meskipun begitu, mereka belum menyerah. Disaat mereka bertemu, keduanya akan langsung beradu mekanik kaki dan tangan. Hingga saat terakhir mereka bertemu, mereka kelelahan. Keduanya hanya mampu menarik kerah baju satu sama lain dengan tatapan marah. Disaat itu, Donny melihat ingatannya ketika berkelahi dengan Shina. Sama dengan Shina yang teringat ketika berkelahi dengan Donny.


Ingatan itu membuat mereka berdua menjadi lengah dan tidak sempat menghindari ledakan dahsyat yang tiba-tiba muncul. Ledakan itu menerbangkan Shina dan Donny kearah yang sama yaitu sebuah laut. Mereka berdua tercebur kesamudera yang sangat dingin dan dalam


"Cukup bermainnya!!", pekik Donny.


Meski didalam air duel mereka berdua terus berlanjut. Mereka berenang kepermukaan besamaan untuk menarik oksigen. Diatas air dan terombang ambingpun mereka masih saja bertarung habis-habisan.


Donny mengeluarkan kekuatan lavanya yang tersisa untuk memanggil monster lava dari bawah air. Donny melompat masuk kedalamnya untuk bersembunyi sekaligus menyembuhkan dirinya.


Shina yang terombang ambing di air langsung menepakkan kakinya sekuat tenaga. Ia melompat sekiat tenaga hinga menembus kepala monster itu. Shina keluar dari kepala monster itu sambil menyekik leher Donny. Donny terkejut bukan main, ia mengira monster lavanya cukup panas dan keras untuk berlindung dari Shina.


Tak jauh dari sana terdapat sebuah pulau es yang mengapung diatas laut. Shina yang melihatnya langsung saja melemparkan Donny yang sudah tidak berdaya kesana. Shina yang sudah kelelahan dan menerima banyak luka sempoyongan berenang ketempat itu.


Ketika baru berhasil naik keatas sana. Baru beberapa langkah ia berjalan. Shina langsung saja disambut oleh tangan Donny yang lembut tepat diwajah kanannya. Shina tak sanggup lagi untuk berdiri, sama halnya dengan Donny yang berjalan kearah Shina dengan langkah zig zag tak beraturan.


Donny yang kelelahan tak mampu lagi beregenerasi dan menggerakkan syalnya. Ia terpaksa menendang Shina yang sudah tepar di lantai es dengan kakinya yang selambat keong. Dengan mudahnya Shina menahan tendangan Donny dengan tapak kakinya.


Shina kemudian mengerahkan sisa tenaganya untuk mendorong Donny dengan kedua tangannya. Donny yang sama sama lelah terjatuh dengan posisi telentang menghadap langit. Shina selanjutnya menjatuhkan tubuhnya sendiri ke belakang.


Suasana menjadi tenang saat itu juga. Hanya terdengar nafas mereka yang kasar dan deru ombak menghantam gunung es.


"Hey Don", Shina memanggil Donny dengan suara lunak.


"Hm?"


"Langit yang indah untuk mengejar lebah".


"Kepalamu masih saja sama, lecet".

__ADS_1


"Knok knok".


"Tidak!"


"Knok knok".


"Tidak!!", Donny kembali membentak Shina.


"Knok kn-"


Donny seketika melancarkan syalnya untuk menusuk kepala Shina. Dengan cepat Shina mengelak dengan memiringkan kepalanya. Donny segera menariknya lagi kebentuk semula setelah gagal mengenai Shina.


"Kurang cepat, knok knok...", ucap Shina sekali lagi.


"Heh... Siapa disana?"


"Arina!", ucap Arina dari atas kepala Donny.


Arina berdiri diatas kepala Donny sambil melihat kebawah. Wajahnya terlihat garang seperti biasa, sambil menggenggam es runcing di kedua tangannya.


"Rin, kalau kamu mau membunuhku, maka lakukanlah", ucap Donny pasrah.


Donny mengangkat tangan kanannya ke langit. Lalu menggores pergelangan tangannya dengan syal miliknya sendiri. Goresan itu tidak pulih dan terus mengeluarkan darah. Donny memberi tahu Arina jika dia tidak bisa lagi beregenerasi dan dapat mati dengan tusukan Arina.


Hanya saja Arina menggelengkan kepalanya. Sesungguhnya ia ingin sekali menghabisi Donny saat itu. Namun, melihatnya yang meminta sudah pasrah dan menerima takdirnya membuat tangan Arina tidak bisa bergerak.


Fenomena itu secara tersirat memberitahu mereka kalau jiwa mereka sebenarnya terhubung satu sama lain. Makanya mereka membunuh satu sama lain walaupun kesempatan didepan mata.


Donny terus menatap mata Arina yang tanpa kilatan cahaya. Tatapan itu membuat Arina semakin risih lalu melemparkannya es runcing di tangan kanannya ke laut.


"Apa yang kamu lakukan?", tanya Donny.


Arina menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menenangkan pikiran.


"Untuk apa?", "Semua sudah selesai bukan?", "Hanya kita yang tersisa", ujar Arina sambil melayang-layangkan tangan.


"Akhirnya kamu paham".


Arina kemudian duduk di sebelah kanan Donny dan mengajaknya bicara empat mata.


"Bagaimana... Apa kamu sudah puas?"


Donny langsung memutar kepalanya ke kiri seolah enggan menerima pertanyaan itu.


"Aku cuma mau kita hidup seperti manusia biasa",


"Selama ini, aku lihat kalian semakin terpuruk",

__ADS_1


"Ingin merasa bebas dan memiliki kehidupan yang normal",


"Hanya saja kalian tidak bisa berbuat apapun".


"Aku merasa harus mengeluarkan kalian dari siksaan ini meski harus berhutang pada jutaan nyawa",


"Tapi... Lihat apa yang terjadi padaku...",


"Aku merasa seperti sebuah monster dari pada seorang pahlawan".


Mendengar penjelasan dari Donny, membuat Arina juga ikut merasa bersalah. Ia pun ikut mengutarakan isi hatinya.


"Sebenarnya... Aku ingin membunuhmu saat ini",


"Tapi aku tidak bisa", "Tanganku membeku saat ini",


"Seolah dia punya pikiran sendiri".


Arina tiba-tiba mendekatkan es runcing yang ada di tangan kiri ke pelipisnya seraya berkata,


"Bagaimana jika aku sendiri adalah yang ia pilih".


Donny sontak membangunkan badannya lalu mencengkram pergelangan tangan Arina.


"Jangan berfikir yang aneh-aneh!!", "Kamu mau mati hah?!", bentaknya sambil melotot ke Arina.


Arina seketika menjadi ketakutan dan tersadar dari pikiran kosongnya. Ia menyesali perbuatannya sambil menangis di kedua telapak tangannya.


"Aku sebenarnya sudah bisa bertarung dari tadi",


"Tapi aku enggan menganggu dialog kalian", ujar Shina yang tiba-tiba muncul di belakang Donny.


"Maaf menganggu reuni kita, tapi aku perlu bantuan disini!"


Begitu Donny dan Arina melihat sekeliling. Mereka tersadar bahwa mereka sedang di kepung oleh puluhan cakram air yang sudah melayang di atas air. Cakram-carkam itu berputar seperti gasing dan sangat tajam.


Donny dan Arina segera berdiri dan bersiap menangkis setiap serangan. Mereka bertiga saling menjaga dengan menghadap ke posisi yang berlawanan satu sama lain.


"Kekuatan ini, tidak salah lagi",


"Dugaanku benar, Kreza memakaiku untuk alat komunikasinya", Donny bergumam.


"Aku sudah tahu kau hanya diguna-guna, Don", sindir Shina.


"Yah sudahlah, waktunya membunuh kawan yang menjadi lawan, bukan begitu teman-teman", ujar Arina.


Shina dan Donny tersenyum sambil menganggukkan kepala. Pada akhirnya mereka bisa bertemu kembali sebagai sebuah keluarga.

__ADS_1


__ADS_2