
"Ada yang inginku tanyakan kepada anda, Bu",
"Mengenai Okta".
"Ya ampun anak itu..."
Didalam sebuah ruangan ada orang wanita tengah bicara satu sama lain. Salah seorang wanita yang tampak sudah berumur, memegang dahinya sembari melepas nafas penat.
"Okta semestinya memperhatikan sikapnya", "Dia anak yang jenius, tapi juga kriminal dikota", "Sungguh saya minta maaf atas sifat anak saya", ia menundukkan kepalanya.
"Eh.. E.. Tidak bu tidak perlu begitu", "Saya yakin dia bisa memperbaiki sifatnya lain waktu", lawan bicaranya menyangati.
"Begini, kemarin ia bertarung dengan bos geng lain di kota", "Lawannya sekarat terkena banyak goresan misterius disekujur tubuhnya",
"Okta tertangkap saat mencoba kabur dengan sihir terbangnya", "Ia sekarang berada di kantor polisi".
Wanita berumur tadi langsung beranjak dari kursinya dan bertanya tepatnya kantor polisi yang mana.
"Di kota ini, blok 20 bu!", jawab lawan bicaranya terkejut.
"Terima kasih, Bu Guru", ia membungkkukkan badannya berulang kali.
"Iya sama-sama".
Wanita itu segera pergi menuju kantor polisi untuk membawa puteranya pulang kembali.
.............
.......
"Jawab aku dengan benar, dari mana luka-luka sayat ini berasal?!
"Sudah kubilang itu dari sihir kutukanku!", balasku dengan suara lantang.
Seorang polisi masuk kedalam ruangan lalu memanggil polisi diluar jeruji besi yang mengurungku.
"Ada seseorang ingin menemui ibu".
"Angkat dia kemari!"
"Baiklah".
Tak lama kemudian munculah sesosok wanita yang keluar dari lubang pintu dengan wajah muram. Langsung saja alisku mengerut dan membuang muka.
"Okta!"
"Hm?", aku melirik sedikit kearahnya.
"Ayo pulang, kamu harus kembali ke sekolah besok".
"Aku tidak mau keluar!", "Sekolah hanyalah tempat penyiksaan untuk kepalaku", "Tidak ada kenyamanan sama sekali disana kecuali gembira palsu".
__ADS_1
"Apakah anda orang tuanya?", seorang polisi bertelinga rubah dengan tubuh tinggi bertnaya kepada ibuku.
"Ya, maafkan perilaku anak saya".
"Kalau begitu ikuti saya sebentar, bu".
Ibuku dan polisi itu berjalan meninggalkan lorong ruji besi. Aku kesal dan duduk bersandar ke dinding. Aku hanya sendiri sebab aku belum dipindahkan ke sel inti. Begini saja sudah menyebalkan bagiku.
Sekitar 2 jam kemudian, dua orang polisi mendatangiku. Aku dikeluarkan dari sel untuk suatu alasan dab bebas dari tahanan penahanan. Meskipun masih terus dipantau oleh kepolisian.
Setelah diluar kantor polisi, akupun bertemu dengan ibuku. Wajahnya merah padam dengan mata yang melotot tajam kearahku. Aku sudah tahu aku pasti akan dimarahi, sebab itu aku santai saja.
"Kita langsung pulang sekarang!", ucapnya sambil menyeret daun telingaku kedalam mobil.
Mobil disetir oleh robot, sehingga kami bisa berbicara empat mata dengan mudah. Selama perjalanan ibuku mengomel tak henti-henti. Entah mengapa kupingku rasanya sudah kebal dengan kata kata pedas yang keluar darinya. Sampai datang suatu pertanyaan terakhir dimana aku hampir tersedak ludahku sendiri.
"Dari mana luka-luka sayatnya datang!?"
"Itu.. kutukan".
"Tidak, ini bukan kutukan", "Kamu pasti mengendalikannya sendiri".
"Memang iya, entah kenapa mereka tiba-tiba tersayat begitu mendekatiku", "Aku bahkan tidak menyentuh mereka", ucapku sambil membuang wajahku ke gedung kota.
"Intinya ibu mau kamu keluar dari geng atau apalah namanya itu...."
Yap, seperti itulah selama perjalanan.
Aku menatapi langit-langit kamar selama 2 menit. Pikiranku terus berputar memikirkan kutukan itu. Aku berfikir tentang bagaimana sayatan itu muncul sementara aku selalu bertarung dengan tangan kosong. Musuh yang mencoba mendekatiku akan terlempar dengan sendirinya dan muncul luka sayat di sekujur tubuhnya.
Aku mengalihkan pandangan kearah buku di mejaku. Aku mengandai-andai seperti mengeluarkan kekuatan kutukanku sambil mengarahkan telapak tanganku kearahnya. Tidak ada yang terjadi.
"Heh, tentu saja itu tidak mungkin", aku mengembalikan pandanganku.
Tiba-tiba aku melihat robekan kertas-kertas beterbangan keseluruh kamarku. Aku terkejut dan langsung melihat kembali rak bukuku. Ternyata buku yang aku jadikan imajinasi tadi sudah terkoyak habis memenuhi seluruh kamarku.
"Apakah ini kutukan itu?"
Aku mengadahkan tanganku dan mencoba mengeluarkannya. Aku tidak melihat apa-apa hanya saja aku merasakan hembusan angin di tanganku.
"Sepertinya tidak ada apa-apa", gumamku sambil menggelengkan persaanku.
Aku kembali membalikkan tanganku dan tak sengaja memegang vas bunga. Vas bunga yang kupengang langsung pecah dan menghamburkan semua pecahan vas serta tanah ke kasurku.
"Arghh sial, jangan lagi!", aku melempar bantalku dengan emosi.
Bantal yang kupegang seketika hancur lebur menjadi potongan kain. Aku tak tahu kamu apa lagi, meskipun ini masih sore aku akan pergi tidur saja sampai besok.
.............
.......
__ADS_1
.......
"¥%×&@, kamu pergi dengan Okta ke pesawat sekarang!", aku mendengar suara laki-laki yang agak berat.
Aku saat itu digendong oleh seorang wanita yang wahjahnya buram. Di belakangnya, keluar kilatan-kilatan cahaya dan api yang membakar kota. Wanita itu memelukku dan membawaku terbang kelangit.
.......
Tiba-tiba saat aku berkedip, temlat sudah berubah dan wanita yang menggendongku menyandar ketiang sambil mengatur nafasnya yang sesai. Dari belakangnya muncul sebuah lingkaran cahaya, dari dalamnya keluar cakar besar yang menerpa tubuh wanita itu.
Aku langsung terlempar kelangit dan diselamatkan oleh seseorang yang tubuhnya penuh loncatan kilat. Wajah orang itu terlihat jelas, matanya hanya terbuka satu sementara yang sebelahnya terluka.
"Y%×&@!! Y%×&@!! Tidak.. Kumohon.. Kumohon buka matamu!! MEDISS!!"
Aku mengalihkan pandanganku, kulihat seorang pria menangis keras sambil memeluk erat wanita tadi yang telah kaku bersimpah darah. Sebuah dinding es muncuk dari tanah, menutupi mereka dari mahkluk-mahkluk ganas yang mencoba mendekatinya.
Pandanganku tertutupi dinding itu, saat itu juga aku diberikan ke dua orang wanita yang langsung membawaku kepesawat. Mereka berdua menutuo pintu tanpa melihat kebelakang sedikitpun. Wajah mereka basah penuh dengan air mata.
.......
Aku mengedipkan mataku dan suasana berubah damai kembali. Aku digendong oleh orang yang berbeda, pria yang menangis keras tadi. Aku tahu dari potongan rambunya yang tipis, berbeda dengan pria berlistrik tadi yang rambutnya agak panjang dan menyebar menutupi mata kirinya yang terluka.
Pria tampak lemas saat memindah tangankanku ke ibuku. Aku tiba-tiba menangis ketika melihat wajah ibuku sendiri. Pria itu mendekatkan wajahnya, sambil mengelus kepalaku.
"Ayah pergi dulu ya..", "Jangan lupa, ayah selalu melihatmu", ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, saya permisi dulu", "Tolong rawat dia ya".
"Iya, Tuan $};&@", "Aku dengan sabar akan merawatnya seperti anakku sendiri".
Setelah itu, ia pergi melangkah menjauh dari rumahku. Ia langsung masuk kemobil dan langsung tancap gas. Sekeliling tempat berubah gelap gulita. Telingaku mendenging, semakin keras dan keras...
.......
.......
"AYAH!!"
Aku terbangun langsung dengan posisi duduk. Aku membuka tiraiku, langit mendung dan suara rintik hujan mulai terdengar.
"Ayah?"
"Benar juga ya, aku kan tidak punya ayah", "Dasar mimpi aneh".
Aku tutup kembali tiraiku dan kembali ke kasur. Aku mengecek jamku, lima menit sebelum alaram pagi.
"Masih lima menit, balik tidur lagi aja ah",
"Telat sekali-kali juga tidak apa-apa",
"Hujan kok".
__ADS_1
Hari ini aku telat untuk yang ke tujuh kalinya selama bulan ini.