
"Hoaam"
Aku merentangkan tanganku keatas sekuat-kuatnya. Lalu mengacak acak rambutku yang berantakan dengan mata setengah bangun.
Rasanya ringan sekali, tidak seperti sebelumnya saat sering aku kurang tidur. Aku kemudian menggeret tirai kamar, membiarkan cahaya putih bintang menyinari seluruh isi kamar.
Menyeduh minuman hangat di kota awan nan dingin ini benar-benar nikmat. Tak heran minuman seperti kopi adalah minuman andalannya disini.
Ngomong-ngomong, syalku tidak bisa dilepas dari tubuhku. Syal ini seperti sebuah benalu yang selalu terikat olehku. Benda ini bisa bersih dengan sendirinya, bebas dibentuk, dan mampu beregenerasi bila tersobek.
Untuk penyamaran, syal ini aku pindahkan ke bagian perut seperti sabuk lalu di pecah menjadi empat bagian. Setiap bagian menjalar pada setiap tangan dan kakiku.
Oleh karena itu, tangan dan kakiku terlihat sangat kuat dan memiliki tenaga yang tak habis-habis. Apalagi tangan robot palsu dan hobiku yang selalu memakai baju lengan panjang adalah tempat persembunyian yang terbaik.
BLIP BLIP
Teleponku berdering mendapat pesan. Bukan gelang lagi, melainkan mirip sebuah layar yang dipegang untuk memakainya. Perlu disentuh dan bukan diraba.
Bentuknya kecil seperti batang pensil. Ketika dihidupkan, akan muncul layar kaca yang bisa ditekan-tekan.
_'Yo Ken, buka toko yok! Pelanggan sudah pada nunggu didepan!'_
"O-ke, ka-mu bu-ka to-ko du-lu sa-ja!", dikteku sembari menulis pesan.
_'Siap Ken'_
Logat orang-orang di kota Rowl memang sedikit aneh dengan akhiran itu. Namun, kata-kata mereka masih bisa dipahami.
Aku melempar teleponku ke kasur dan segera mandi. Selanjutnya, aku menyalin baju dan langsung menuju ruang kantor di lantai bawah.
Toko ramai seperti biasanya. Banyak dari mereka yang meminta upgrade senjata atau memperbaiki tangan robotnik mereka.
Para pegawai terlihat sibuk, lalu lalang disana sini. Menerima pelanggan hingga membawa barang ke ruang reparasi.
Aku menghitung, menulis, juga mencatat penjualan dan pengeluaran toko. Mungkin karena toko baru jadi masih mendapat kenaikan.
......\=......
Beberapa minggu kemudian, siangnya ketika semua pekerja sedang berganti shift. Datanglah seorang pria bertaring panjang seperti ular, dengan tubuh yang kecil mendatangi ruanganku sambil membawa beberapa gambar.
"Tuan boleh saya masuk?", tanyanya sambil mengetuk pintu kaca.
"Silahkan masuk, pak", "Ada perlu apa?"
"Saya Rezzi, asisten jendral angkatan perang kota Rowl yang masih termasuk satu dengan Kota Inaba".
"Baiklah", "Ada apa gerangan kemari?", aku berhenti menulis dan mulai serius.
"Begini, ada kabar kalau kota Lubina sudah di hancurkan oleh mahkluk X".
"Tunggu! Kota Lubina?", aku terkejut karena teringat pak tua yang pertama kali aku temui.
"Iya", "Tak ada satupun orang yang selamat",
"Tapi, tapi", "Ada ditemukan luka bakar pada beberapa mayat mahkluk X".
"Langsung ke intinya!", emosiku tersulut karena teringat Shina dan Ramko.
"Bagaimana jika saya bekerja sama dengan anda untuk mengirimkan beberapa senjata terbaru anda", "Untuk para tentara mengusut dan mencari tahu apa yang terjadi disana".
"Begini, kami bukanlah pembuat senjata",
"Kami hanya meningkatkan, mereparasi dan terkadang membuat inovasi dari barang yang sudah ada",
"Sebenarnya senjata bukanlah tanganan kami".
"Tapi tuan muda, salah satu senjatamu dikagumi oleh raja",
"Kau pasti bisa membuat satu lagi yang lebih kuat".
"Siapa yang kamu panggil tuan muda?!", bentakku sambil mengerutkan alis.
Aku mendorong orang itu keluar dari ruanganku sambil memanggil salah satu pegawaiku yang bekerja. Pegawaiku itu lalu menariknya hingga ke pintu keluar.
"FD70Z!!",
"Iya itu senjatanya".
"Maaf, tapi aku tidak ingin kehilangan uang hanya karena itu bodohmu itu".
"Tunggu dulu pak!", ia melepaskan tarikan dari pegawaiku.
"Apa lagi?"
"Kota Rowl sudah menyiapkan uang lima milyar untuk anda jika berminat".
Semua pegawai dan pelanggan terkejut mendengar tawaran itu. Aku jadi tertarik dengan tawaran itu dan langsung mempertimbangkannya.
"Pak?", tanya pegawaiku.
"Bagaimana Tuan Ken?", tanya asisten jendral itu.
__ADS_1
"Hmm", "Yasudahlah, aku setuju".
Para pegawaiku terlihat gembira begitu juga asisten itu.
"Senjata apa yang kamu mau?", tanyaku balik.
"Senjata kuat dan robot yang kokok untuk menahan serangan manusia mutan".
"Manusia mutan?", "Mahkluk X?".
"Manusia yang memiliki kekuatan alam", "Yang paling spesial saya mau untuk membunuh si pengguna kain merah terbang",
"Katanya si pengguna kain terbang itu sudah membunuh robot purba yang ada di danau dekat situ".
Aku seketika teringat kejadian saat aku di kejar naga logam itu dan meyakinkan diriku kalau manusia yang dimaksud adalah aku. Tapi, aku berpura-pura tertarik dan tidak mengingat hal itu.
"Senjata yang kokoh", "Mungkin bisa".
"Benarkah?!", pekiknya senang.
"Tapi aku perlu menghubungi pusat untuk membuatnya".
Aku mengambil telepon dari sakuku dan segera menelepon pemilik asli toko ini. Tak lain dan tak bukan adalah orang yang pertama kali aku temui saat di Inaba dan memberikanku pekerjaan.
"Halo pak?", "Ini ada-"
"Saya setuju!"
"Eh, tapi saya belum sem-"
"Saya berangkat kesana sekarang ini sedang di jalan".
"Tok-"
"Tokonya tutup saja, saya juga menutupnya",
"Kita harus memberikan pelajaran kepada manusia".
"Baik p-", "Yah ditutup", ucapku kecewa.
"Bagaimana pak?"
"Bisa", "Tapi, kenapa harus toko ini?",
"Bukannya toko ini masih baru?"
"Iya, tapi toko senjata tidak mau sangkut pait dengan masalah perang", "Dan toko lain lebih memilih berdagang seperti biasanya",
"Alasan yang aneh", "Kalau begitu deskripsikan tiap manusia mutan yang ada",
"Setiap orangnya pasti berbeda kekuatan dan berbeda senjatanya".
Dengan cekat, asisten itu mengambil teleponnya dan mulai mengetik.
"Sebentar, permintaan data sudah saya kirim ke pusat", katanya sembari mengirimkan email ke kantor lewat teleponnya.
Tak lama kemudian, ia menerima data dan langsung dikirimnya ke teleponku. Setelah menerima itu aku bersalaman sebagai tanda menyetujui kerjasama, lalu kembali ke kantorku.
Asisten jendral itu kembali ke kantornya dijemput oleh sopirnya. Para pegawaiku terlihat senang dan menunggu kabar dariku.
"Malam ini akan ada pengumuman penting",
"Jadi kalian jangan pulang dulu!"
"Baik pak!", jawab para pegawaiku dengan tegas
Malamnya, para pegawaiku berkumpul di ruangan temu. Tak lama kemudian datanglah pemilik asli kedua cabang toko ini.
Mataku melihat tanda nama bertulisan Sin Wyan. Saat itulah aku baru mengetahui nama aslinya, orang yang pertama kali memberiku pekerjaan.
Ia datang didampingin oleh keponakannya yang tampak lebih muda dariku. Perawakannya seperti manusia hanya saja ia mempunyai ekor seperti kucing dan telinga seperti rubah.
Ia terlihat mirip dengan Arina, hanya saja lebih tinggi dariku dan punya beberapa aksesoris lain. Paman Wyan belum pernah bercerita soal saudaranya, sebab itu aku mengira beliau orang yang kesepian.
Ia datang dari belakang, tiba-tiba langsung mengelus kepalaku dengan tangan besarnya sambil tersenyum. Aku terkagum karena belum pernah ada seorangpun yang melakuakan itu kepadaku.
"Oh hey, kamu ras yadewa bukan?"
"Iya, nama saya Ken", jawabku sambil membungkukkan badan.
"Wow kamu sangat sopan", "Ternyata paman benar, manusia itu ada yang baik juga".
"Paman anda adalah orang terbaik yang pernah aku temui".
"Tak perlu begitu", "Kita sekarang satu keluarga", "Ngomong ngomong namaku Fin Wyan", ucapnya sambil mengangkat ibu jarinya kepadaku.
"Salam kenal", aku membungkukkan tubuhku lagi.
"Salam kenal juga", "Ngomong-ngomong dari mana kamu berasal?"
Spontan kujawab.
__ADS_1
"Dari kota Lubina".
"Aku dengar kota itu diratakan sama mahkluk X", "Maaf menanyakan itu", jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Tak apa", "Aku sudah melepaskannya".
Paman Wyan berhenti berbicara kepada para pegawaiku dan melihat kami berdua yang terdiam. Ia lalu menyuruhku mengajak Fin untuk berkeliling toko.
Fin tampak menahan rasa senangnya, tapi aku bisa tahu dari ekornya yang bergerak-gerak. Sebenarnya aku enggan karena capek bekerja seharian.
Aku membawa Fin masuk ke ruang reparasi dan sesekali menunjukkan beberapa alat untuk perbaikan. Fin terpukau dengan ruangan reparasi yang terang, bersih, dan rapi.
Ia berlari kesana kemari sehingga mulai membuatku kesal. Namun, kesalku hilang karena melihat ekor dan kuping rubanya yang menari-nari. Rasanya ingin kucabut dan kupasang ke Arina.
"Ken, benda apa itu", tanyanya sambil menunjuk ke senjata plasma berbentuk tabung bolong yang terpajang di dinding.
Hampir sama dengan kanon plasma syal yang menjadi senjara jarak jauh utamaku.
"Itu Kanon Plasma", "Masih model percobaan dan masih belum stabil".
"Apa senjata itu mirip dengan punya Megaman?"
"Megaman?"
"Game lapuk manusia bumi", "Aku menemukannya di kota Maqili saat ikut dengan paman mencari material".
"Apa dia menembakkan peluru laser dari tangan tabungnya?"
"Ya, persis seperti itu", "Tapi ini lebih ramping", "Boleh kucoba?", tanyanya dengan senyum lebar.
"Jangan".
"Ayolah sekali saja", ia merengek.
"Tidak", jawabku tegas.
"Pelit", "Bagaimana dengan senjata panjang yang punya seperti machinegun di pinggirnya itu?"
"Itu FD70Z, senjata laras panjang laser yan-"
"Apa?! FD70Z, senjata laser laras panjang yang mampu melelehkan apapun yang dilewatinya, dengan tambahan chaingun plasma yang otomatis menembak ketika senjata terlalu banyak menghabiskan peluru laser atau panas berlebih, senjata kuat dan ringan merupakan peningkatan dari senjata umum laras panjang laser, F60!", jelasnya dengan penjelasan rinci.
"Senjata viral ini ternyata kamu yang buat? Boleh kucoba, kumohon, kumohon".
"Hmm", "Yasudahlah, kamu bisa coba itu", "Tapi tiga tembakan saja ya",
"Karena pelurunya cuma sedikit".
"Tidak apa-apa".
"Kalau begitu ikutlah denganku".
Aku mengambil FD70Z itu dan membawanya ke atap bukan ruangan ujicoba peluru, melainkan langit. Aku memasang satu tabung yang berisi tiga peluru ke senjata itu.
Terdengar suara getaran statik dari peluru yang sudah terkunci didalamnya. Aku memegangnya dengan dua tangan dan menembakkannya ke langit.
Suara plasma berdecit dimalam hari dan tak lama kemudian. Peluru itu meledak dan terlihat seperti kembang api berwarna hijau.
"Woops, mungkin aku salah mengambil peluru",
"Aku tidak mengira kalau peluru senjata umum ini bisa luar bisa di dalam FD70Z", ucapku dengan wajah datar.
"Kalau begitu isi lebih banyak peluru", pintanya dengan mata berbinar-binar.
"Hmm baiklah".
Aku segera turun dan mengambil beberapa peluru. Setelah itu menambahkan beberapa peluru kedalam senjata itu.
Aku memberikan FD70Z itu kepada Fin. Tangannya langsung terjatuh ke bawah karena senjata itu sangat berar. Tapi aku merasa ringan karena terbantu oleh syalku.
"Kuat nggak?"
"Kuat", balasnya sambil bersusah payah mengangkat senjata itu.
"Sini aku bantu".
Aku mengangkatnya dengan tangan kananku dan menumpu berat untuk meringankan Fin. Fin bersiap di tombol pelantuk dan tampak sangat bersemangat.
Ia menarik pelantuknya dan menembaknya sampai lima kali. Senjata itu memerlukan jeda dua detik sampai terisi ulang lagi. Setelah lima kali menembak, lampu senjata itu berubah menjadi oranye dan machine gun plasma itu berputar secara otomatis.
Dengan semangat, Fin menarik kembali pelantuknya hingga menembakkan dua puluh peluru laser beruntun. Tembakan peluru beruntun itu hanya laser biasa tanpa menghasilkan efek apapun.
Meskipun begitu, Fin terlihat sangat senang hingga tak mampu berkata-kata. Sementara aku, menjadi tambah kesal karena dorongan senjata itu cukup kuat sehingga aku terpaksa menggunakan dua tangan.
"Kenapa aku disini?", "Seharusnya aku ikut Pak Wany dan berbicara dengan para pegawaiku".
"Ken, pelurunya habis", ucapnya kecewa.
"Yasudah kita turun lagi".
Aku mengambil senjata itu dari tangan Fin dan membawanya turun. Fin mengikutiku di belakang dengan wajah kecewa dan membuang mukanya.
__ADS_1