The Last Era

The Last Era
Act 56 [Es yang Bangkit]


__ADS_3

Monster es Arina mengantamkan tinjunya ke tubuh Kreza. Lantas porak porandalah tubuhnya seperti pecahan kaca. Kreza membentuk lagi tubuhnya menggunakan elemen kayu. Lalu menciptakan angin yang membuat Arina terpelanting kelangit.


Jurang-jurang tiba-tiba kembali rapat. Diikuti oleh tiga pohon raksasa yang tumbuh dan mencepit arina. Arina mencoba menebas batang kayu yang besar itu. Namun usahanya sia-sia, ia tetap saja terkurung. Selanjutnya ia pohon pohon itu menjatuhkan Arina dengan sangat kuat keatas batu-batu yang runcing.


Pukulan itu sangat keras hingga menciptakan kawah disana. Ketiga pohon itu tiba-tiba membeku sampai ke akar-akarnya. Sesaat kemudian terjadilah ledakan yang menghasilkan embun dingin pekat. Dari embun yang pekat itu, jutaan anak panas es melayang kearah Kreza.


Kreza sontak menghindar atau menangkisnya dengan pedangnya. Tapi saat Kreza menangkisnya, panah itu meledak dan menciptakan es padat yang membuat Kreza tidak dapat menggerakkan tangannya. Pada akhirnya kreza terpaksa mengklona tubuh barunya dari elemen kayu karena tubuhnya membeku sepenuhnya.


Tubuh baru itu tak bertahan lama. Dari tanah mencul dinding es kecil yang meluncur menghantam dagu Kreza. Selanjutnya muncul dua tangan es dari tanah yang menepuk Kreza seperti seekor nyamuk.


"ARRGH!"


Kreza mengancurkan tangan itu dengan hantaman dari dalam. Arina muncul dan menendang kepala Kreza. Dengan cepat ia menangkap kaki itu lalu membanting-bantingkan Arina ke tanah berulang kali. Serangan itu kemudian berhenti ketika Arina berhasil menusuk leher Kreza dengan pedangnya.


Untuk kesekian kalinya Kreza meregenerasi tubuhnya. Tubuh lamanya yang rusak akan berubah menjadi patung kayu. Semenatara tubuh kayunya yang baru akan berubah menjadi dirinya yang normal bersama busananya.


Kreza yang baru tahap pemulihan segera ditepas oleh Arina dari atas kepalanya. Serangan Arina yang brutal itu sempat ditahan oleh Donny menggunakan syalnya. Donny berhasil meloloskan diri dengan merubah tubuhnya menjadi lava.


Arina yang mulai benci dengan Donny, berbail arah, menarik kembali pedangnya dan menebaskannya ke syal milik Donny. Ia juga meninju wajah Donny dengan keras hingga tubuhnya terpental jauh.


Donny menghantam dinding es yang sudah disiapkan oleh Arina. Dinding itu tiba-tiba tumbuh dan berubah menjadi monster es. Ia mengapit tubuh Donny dengan kuat hingga Arina muncul dan menusukkan tongkatnya ke dada Donny.


Tubuh Donny tiba-tiba berubah menjadi lava yang kemudian berpencar menjadi dua. Perubahan itu menghasilkan ledakan yang bahkan mampu mendorong Arina. Donny yang asli mengikat Arina dengan syalnya lalu mengisi senapan kanonnya.


Arina membekukan syal itu dengan berhasil menghindar dari tembakan itu. Tiba-tiba dari belakang muncul Donny yang berubah menjadi lava memegang tekuk Arina lalu membantingnya ke tanah. Ia meningkatkan suhu panas dari tubuhnya yang membuat zirah Arina menguap dan merasa kesakitan.


Arina memunculkan es runcing dari bawah tanah yang menusuk tangan kiri Donny lava itu. Namun, Ia tetap kukuh mempertahankan posisinya hingga Arina tampak tak berdaya. Arina memunculkan monster es yang menarik Donny lava dari belakang lalu melemparkannya jauh dari sana.


Monster itu kemudian memegang tubuh Arina. Ia juga menghindari serangan jarak jauh dari Donny yang satunya. Donny terbang dan menyeret golem itu ketanah. Selanjutnya ia menembaknya dengan kekuatan penuh hingga benda itu hancur berkeping-keping. Untunglah Arina sempat melompat sebelum monster itu meledak.


Arina meluncur diudara dengan cara membentuk es sebegai jalur luncurnya. Ia dikejar oleh Donny yang terbang sambil menembakinya dari segala arah. Arina sesekali membalas serangan dengan mengeluarkan suhu dingin di tangan kirinya atau melemparkan kristal es.


Dibawah Arina muncul naga tanah yang tiba-tiba muncul sambil menggigit jalur yang dipakai Arina. Arina terus mengindari semua serangan yang datang padanya. Termasuk serangan angin dahsyat, serangan elemen kayu, mahkluk lava buatan Donny hingga puing-puing pesawat.


Disaat itu juga, muncul pesawat besar dari balik awan yang langsung mengeluarkan rantai untuk menyelamatkan Arina. Arina segera berpegangan kesana dan pesawat itu kembali naik keluar angkasa. Sebelum berhasil lolos pesawat itu sempat ditarik oleh syal milik Donny.


Arina yang sudah berada dipesawat kembali lagi turun melalui syal itu. Ia terus mendekati Donny dengan cara meluncur diatas syalnya. Berbagai serangan ia hindari hingga ia berhasil sampai ke hadapan Donny. Mereka bertatapan satu sama lain, disana Donny mulai merasa dilema akan keputusannya.


Arina yang terlanjur benci tak mempedulikannya dan langsung menarik paksa kain merah dari leher Donny itu. Donny lava sontak tertarik dan menyatu bersama tubuh aslinya. Arina yang mendapat benda merah itu segera menumbuhkan dinding es tinggi dari bawah kakinya. Dinding es itu mendorong Arina kembali ke pesawat.


Setelah Arina naik, pesawat terbang dengan kecepatan maksimum, meninggalkan planet musuh yang sudah porak poranda. Tak ada yang tersisa disana, hanyalah Donny dan Kreza bersama markas mereka yang hancur di sisi lain planet.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian bom mega yang dipasang di inti planet diledakkan. Planet kecil itu hancur menjadi kepingan kecil bak batu yang dipukul. Hal ini sekaligus menjadi kemenangan pertama Aquopora atas musuh bebuyutannya.


Didalam pesawat Arina melelehkan semua zirah dan senjatanya. Ia meminta maaf kepada seluruh kru pesawat karena gagal kembali bersama kedua orang penting mereka. Seluruh kru menyemangatinya, namun Arina tak sanggup menahan tangisnya. Untuk menghormati wafatnya Ramko dan Mabel.


Para tentara melakukan hormat dengan sepenuh hati kearah Arina yang masih bersedih. Pasukan yang tersisa hanya lima pesawat termasuk satu pesawat besar yang ditumpangi Arina.


......\=......


Dua belas jam kemudian kapal mereka tiba-tiba berhenti karena sabuk asteroid yang menutupi jalan. Para kapten di pusat kendali merasa bingung karena seharusnya asteroid tidak ada pada jalur ini.


"Ini aneh, seharusnya asteroid tidak ada dijalur ini", ucap kapten pertama.


"Kalaupun ada, seharusnya sudah dibersihkan oleh pesawat pengungsi", ucap asistennya.


"Itu benar".


Arina yang berada di kabin pesawat duduk, sambil menatapi asteroid diluar dengan tatapan sayu. Sampai tiba-tiba ia terkejut saat melihat sebuah boneka kelinci yang setengah hangus tterbang didekat jendela. Arina segera berlari ke pusat kendali dengan tergesa gesa.


"Kapten! Asteroid ini bukanlah batu angkasa", "Ini puing-puing pesawat!!", ucapnya.


"Apa?! Semuanya indentifikasi objek-objek yang beterbangan, lalu beri informasinya kepadaku, SEKARANG!!", ucap kapten besar dengan keras.


"Kapten, kami mencoba untuk memanggil kapal-kapal pengungsi".


"B-berdasarkan data, sinyal terakhir sekiat dua jam yang lalu terdeteksi 20 km dari sini",


"Dan sinyal yang lain tidak dapat diidentifikasi", ucapnya salah satu kru ketakutan.


"Bergerak mencari asal sumber sinyal terdekat!"


"Siap kapten!"


Kapten besar mendekati Arina. Ia berkata,


"Pulihkan dulu tubuhmu Nona Arina, biar kami yang mengurusi ini semua".


"Tidak aku harus melihat ini!"


"Non-"


"Kapten lihat itu!", ucap salah satu kru pesawat.

__ADS_1


Orang orang berdatangan mendekati kaca depan kapal. Disana mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Pesawat-pesawat pengungsi porak-poranda dan melayang tak tentu arah. Arina yang menyaksikan itu serasa ditarik nyawa dari jasadnya karena seramnya pemandangan itu.


Bisa dibayangkan kapal berukuran masif hancur pada bagian tepinya hingga atapnya. Semakin dalam pesawat mendekat, semakin tampak benda benda yang setengah hangus melayang-layang dilangit.


"Tidak mungkin...", "Kita sudah mengalahkan semua musuh, ta-tapi bagaimana mungkin..?", ucap salah satu kapten disana.


"Halo, pesawat pengungsi sembilan! Laporkan keadaan sekarang!!" .


"Disini pesawat militer pusat, jika masih ada dari kalian yang bertahan, kumohon jawab, ganti!"


Para kru mencoba memanggil pesawat pengungsi. Berharap masih ada yang tersisa dan menjawab mereka. Sayangnya tak ada satupun jawaban yang mereka terima. Tangisan mereka tak mampu terbentung lagi. Semua kemenangan yang mereka dapatkan seketika menjadi sia sia.


"Ini akhir dari kita!! ERA TERAKHIR KITA!!", ucap salah seorang kru yang putus asa.


Tiba-tiba ledakkan di salah pesawat rekan memecah kesedihan diseluruh pesawat militer pusat. Ledakan itu memicu amarah semua pesawat yang melakukan serangan balasan secara brutal kepada sumber tembakan.


Tak lama kemudian muncullah ratusan pesawat musuh tak dikenal yang mengepung mereka. Pesawat mereka sangat asing dan teknologi mereka melampaui teknologi persenjataan Aquopora. Musuh baru ini menganggap militer Aquopora sebagai ancaman karena memasuki teritori mereka.


Mereka mengirimkan sebuah pesan dengan bahasa asing kepada pesawat pusat. Para kru yang belum sempat meresponnya langsung saja duhijani tembakan beruntun dari segala sisi. Serasa tak berguna, perisai pesawat mampu ditembus oleh serangan musuh.


Sebaliknya, serangan terhadap musuh serasa tak berguna karena perisai mereka yang super kuat. Sasaran empuk ini setika porak poranda dengan musah. Salah satu serangan meledakkan ruang kendali kapal, membuat lubang yang menarik para kru beserta kapten keruang angkasa.


Arina yang berada disana tak sempat melirikan diri dan ikut tertarik keluar angkasa. Tubuhnya yang masih lemah tak mamlu menciptakan sesuatu untuk membantunya kembali. Ia juga mulai ditutupi kristal es karena dinginnya ruang angkasa.


Oksigen di kepalanya mulai berkurang. Arina hanya mampu menatap pesawat-pesawat kawannya yang meledak satu persatu. Ia juga melihat jasad para kru pesawat yang mebeku dan melayang layang kesana kemari.


Tubuhnya terasa semakin ringan hingga akhirnya matanya tertutup rapat.


Sebuah pesawat kecil datang kearah Arina. Didalamnya muncul dua buah tangan yang menarik Arina kedalamnya. Selanjutnya pesawat itu terbang meloloskan diri dari semua serangan musuh.


"Ibu! Apa ibu baik baik saja?!"


"Bertahanlah bibi!"


Arina mencoba membuka matanya. Disana ia melihat Okta dan Yuki menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sementara di kokpit tampak seseorang berjanggut lebat dan berambut panjang mengendalikan pesawat dengan fokus.


"Tenanglah bibi! Dia orang baik!"


"Aku senang ibu selamat", ucap Yuki sambil memeluk Arina dengan erat.


Arina menyadari bahwa Sami tidak ada disana. Ia menyadari apa yang terjadi dan menutup mulutnya supaya tak tampak sedang bersedih.

__ADS_1


Tak lama kemudian Arina tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga.


__ADS_2