
Kami membatalkan rencana ke mencari teman kami ke bangunan itu. Belum lagi kamu mulai muak dengan lorong juga marah karena dianggap budak dan disuruh bersih-bersih.
Aku menceritakan kejadian tadi kepada Ramko. Dia tertawa keras hingga berulang kali menepuk punggungku. Aku tak menghiraukannya dan tetap fokus pada jalan.
Hari mulai gelap, Shina tak kunjung siuman. Aku mengecek Shina yang terbaring di belakang kasur. Tubuhnya terdapat memar di bagian tangan kirinya.
"Ram, berapa banyak listrik yang kau keluarkan sampai membuat Shina pingsan?".
"Tidak banyak, sekitar 5% dari listrik yang aku pakai untuk merusak bangunan tadi?".
Aku langsung melihat dengan tatapan terkejut. Dia menanggapinya dengan menatapku dengan tatapan heran.
"Kenapa?".
"Kau gila, itu bisa membunuhnya".
"Habis aku emosi dia menangkis tanganku terus".
"Intinya jangan diulangi, memukul tepi leher saja berbahaya, apa lagi menyetrumnya sekuat itu".
"Iya maaf", balasnya sambil memutar kepalanya ke jendela.
Aku heran kenapa dia masih bisa bertahan setelah di sambar listrik sebesar itu. Aku saja tersetrum sedikit sudah kebas.
Aku melirik ke arah Ramko. Terlihat dia sedang menutupi lukanya dengan plester luka. Sesekali tangannya memunculkan kilatan yang melompat-lompat karena menahan sakit.
Sayu sayu terdengar suara ketukan. Tapi aku mengabaikannya karena kupikir hanya Ramko. Tapi semakin lama ketukan itu berubah menjadi dentuman berulang.
Aku membuka jendela mobil dan langsung menoleh ke belakang. Terlihat sebuah robot ular raksasa dengan mata merah menyala dan mulut yang berasap, merayap mengejar kami.
Seketika aku menekan tuas penuh, dan membuat mobil terbang dengan cepat. Ramko yang badannya terasa terhentak kebangku bertanya kepadaku.
"Pelan-pelan, Don!", "Kenapa harus secepat ini".
"Lihatlah kebelakang!", perintahku tanpa melihat mukanya.
Dia kemudian menoleh kebelakang, lalu menyuruhku menekan tuas lebih cepat sambil panik ketakutan. Sesekali ular itu melompat dan mencoba menggigit mobil kami.
Kami yang panik ketakutan, memanggil Shina berulang kali, tapi dia masih belum siuman. Hingga kami menemukan sebuah goa dan masuk sedalamnya.
Namun robot itu terus mengejar kami hingga berhasil merombak tanah hingga meruntuhkan atap goa di belakangnya. Goa itu terkadang terhalang oleh stalagmit
Hal itu memaksaku menembakinya dengan kanonku sambil menyetir mobil. Ramko tidak bisa menyetir, belum lagi serangan petirnya tak akan mampu mematahkan batuan mineral yang keras ini.
Ramko menyuruhku menutup telingaku. Langsung kupanjangkan bagian lain syalku, memecahnya dan perbankan ketelingaku dan Shina.
Dari tangan Ramko muncul sebuah trisula berwarna putih bercahaya dengan sesekali listrik meloncat-loncat mengelilinginya. Ia langsung melemparkan trisula itu kearah robot besar itu.
Tak lama kemudian terdengarlah ledakan dasyat dari sambaran petir milik Ramko. Cahayanya sempat membuatku silau hingga kehilangan kemudi untuk beberapa detik.
Robot itu kemudian tersambar begitu kuat hingga membuatnya diam dan mengeluarkan asap untuk beberapa saat sebelum mengejar kami lagi.
__ADS_1
Goa semakin lama semakin rapat dan dalam. Aku tak mampu melihat apa-apa, sehingga aku menembakkan plasma kearah depan tiap kali terisi untuk membuat cahaya.
Tak lama berselang shina tiba-tiba tersadar dan langsung terduduk seperti mendapat mimpi buruk. Ia melihat kami dengan tubuh berkeringat dan ketakutan.
Tapi, kami kurang memperhatikannya karena kami sedang sibuk. Ia kemudian melihat ke belakang menyuruhku untuk mengemudi lebih cepat.
"Diamlah aku juga sedang sibuk".
Aku melirik Ramko, dia terlihat mulai loyo dan lemas. Pandanganku langsung ku arahkan kembali ke depan sekaligus mencari tempat bersembunyi.
Pandanganku mulai kabur, hingga aku tak menyadari sebuah stalagmit besar melintang menutupi jalan. Shina yang melihatnya langsung menurunkan tuas dan membuat mobil kami menghujam kebawah.
Ia langsung menarik tuas sekuat tenaga keatas. Namun, mobil kami terlanjur mengantam tanah dengan sedikit lapisan air diatasnya. Disaat yang bersamaan Ramko juga melemparkan trisula terakhirnya.
Tak sengaja ikatan syal ke salah satu telingaku terlepas, yang membuat kepalaku berdenging karena ledakan trisula milik Ramko.
Mobil kami rusak parah, kulihat Shina terlempar jauh dari mobil, kepalanya mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri.
Ramko juga mengalami hal yang serupa, hanya saja ia masih berada di bangku jejerku.
Aku keluar dari mobil sambil memegang kepalaku yang berdenging. Ular itu mulai bangkit dan mengaum keras.
"Kalau kau ingin bermain kasar"
"Maka akulah lawanmu"
Aku langsung menggabungkan kedua lenganku dan membentuk kanon besar. Syal dan kanonku berubah menjadi hijau menyala. Tak lama kemudian meledaklah plasma dari tanganku.
Tembakan itu membuatku terpental ke belakang, secara bersamaan tembakan itu meledak di mulut ular itu. Beberapa logam yang menempel di mulutnya runtuh, namun ia justru semakin agresif.
Aku terus mengalihkan perhatiannya, melompat ke sena kemari, sambil terus menembakkannya dengan kanon tunggal di tanganku.
Ular itu semakin gesit dan mulai menebas-nebaskan ekornya kearahku. Aku melompat keatas kepalanya lalu menusuk dan menembaknya dengan mode naga hijau.
Hanya saja aku terpental keatas dan membentur langit goa. Ular itu lalu menebaskan ekornya kearahku yang jaruh kembali, dan membuatku menghantam dinding goa.
Kepalaku berdenging semakin kuat, gelapnya goa dan buramnya pengelihatanku membuatku mulai kesulitan. Aku melihat Shina dan Ramko yang kaku tak sadarkan diri.
"Mungkin inilah akhirku"
"Selamat tinggal kawan"
.
KAU BELUM MATI
.
Ular itu langsung menusukkan ekornya kearahku. Membuat stalagmit diatasku runtuh menghujaniku. Setelah menyerangku ular itu menarik ekornya dan mengejar Shina dan Ramko.
Tapi kejadian tiba-tiba muncul padaku. Mataku berubah menjadi putih menyala dan langsung berpindah ke depan ular itu. Laluku ikat kepala ular itu dan mengantamkannya ke tanah.
__ADS_1
Ekor ular itu langsung menebaskan ke langit. Namun, aku sudah berpindah terlebih dulu.
Aku membentuk kanon, dan seluruh syaku dialiri listrik biru. Tembakkan kanon itu setara dengan trisula milik Ramko. Hal itu membuat ular itu tepar untuk beberapa saat.
Kesempatan itu tak akan aku sia siakan. Kuku tanganku memanjang dan terbakar api biru. Kedua ujung syalku masing-masing membentuk bulan sabit. Aku melompat kebawah dengan tumpuan stalagmit yang jatuh.
Lalu mencakar leher ular itu dengan kuku panjangku. Aku kemudian memutar tubuhku dengan cepat dan membuat syalku berputar seperti besi pemotong logam yang terbakar.
Kepala ular itu terputus, tapi tubuhnya masih menggeliat di tanah.
"Diamlah", ucapku sambil melilitkan syalku ke tubuhnya.
Aku lalu meremas tubuh ular itu sambil menyetrumnya dengan listrik tegangan tinggi. Tubuh ular itu sekerika meledak dan hancur berkeping-keping.
Goa berguncang hebat, seluruh stalagmit yang diatas jatuh kebawah menghujani kami. Salah satu stalagmit besar menimpa moncong ular itu dan membuatnya tidak bisa bergerak.
Aku memakai ksempatan inj dengan baik-baik. Langsungku gabungkan tanganku, lalu terbentuklah kanon yang besar, berwarna biru, dengan sisik naga.
Terbentuk juga sebuah lingkaran api yang melayang mengitari kanonku dan listrik yang meloncar disana-sini. Aku segera menarik syalku kembali dan syal itu terobek sedikit pada bagian ujungnya.
Robekan syal itu melebar dan membesar membentuk klon diriku. Seluruh tubuhnya berwarna biru keputihan dengan mata yang putih menyala.
Ia langsung melompat dan menuju ke tempat Shina dan Ramko. Ia juga mempunyai syal di lehernya yang kurang jelas, lalu melebar dan menutupi Shin dan Ramko.
Ular itu marah, matanya menyala semakin terang. Hal itu justru membantuku dalam membidiknya.
Seluruh tubuhku mengeluarkan lidah api dan kilatan petir. Tanah yang kupijak bergetar dan angin di goa itu berkumpul membentuk pusaran yang memutari tubuhku.
Kanonku tiba-tiba membentuk kepala naga dan langsung kutembakkan plasma itu kearahnya. Ledakannya begitu kuat hingga membuat tubuh logam ular itu hangus seketika.
Tembakkanku cukup panjang hingga membuatnya terpantul keatas. Langit langit goa runtuh dan membuat lubang besar di langit hingga awan.
Langit yang saat itu mendung dan turun salju, seketika berubah menjadi cerah. Cahayanya membuat langit menjadi gelap seketika. Gemuruh ledakannya bergema ke seluruh planet.
Setelah menghancurkan ular itu, aku kembali ke wujudku semua. Klonku menghilang, dan tubuhku terhempas kebelakang menerpa air goa.
Ular itu berubah menjadi cairan seperti magma panas yang tak jelas lagi bentuknya. Cahaya bintang mulai memasuki goa.
Aku melihat langit dengan tatapan puas bahagia. Cahayanya menyilaukan mata, sampai-sampai menutupi mataku dengan tanganku.
Dari tanganku terlihat api yang masih menyala dengan sesekali muncul kilatan listrik.
"Apa ini?",
"Bukannya ini milik Shina dan Ramko?",
"Apa seperti ini rasanya punya elemen?",
"Dari mana kekuatan ini?", gumamku terus.
"Syalku?!", panik karena takut syalku hancur.
__ADS_1
"Masih utuh", "Baiklah, kanon petir!", ucapku sambil mengarahkan kepalanku kelangit.
Terbentuklah kanon dengan listrik merah disekelilingnya. Laluku tembakkan kelangit dan meledak membentuk kembang api.