
Mabel menarikku keluar dari toko itu sambil menyiramkan air ke seluruh isi toko. Namun, air itu seketika menguap ketika mendekati api itu. Mabel mencoba menarik kakem itu namun api itu membesar dan kami keluar toko.
"Linda cepat panggil pemadam kebakaran!"
"Nggak bisa, baterai HP-ku tiba-tiba habis."
Kakek itu memandangi kami dengan raut muka bahagia.
"Selamat tinggal sahabatku"
"Mabel, lindungi Lindaku"
Kami tekejut dengan perkataan kakek itu. Meskipun terdengar pelan namun, perkataannya benar-benar jelas dan selalu terngiang di kepalaku. Dalam satu kedipan mata toko itu menghilang dan menjadi restoran biasa.
Kami juga tidak berada di pojok pertokoan. Orang-orang melihat heran kearah kami.
"Apa itu tadi?"
"Wajahnya mirip dengan Shina, dan sepertinya dia mengenali kita", jawabku.
"Lebih baik kita tidak menceritakan hal ini pada orang dirumah."
"Aku setuju."
......\=......
Televisi zaman ini merupakan yang terbaik yang pernah kulihat. Dia bisa menampilkan tanyangan televisi bahkan dari zaman lampau. Ketika ingin melihat tayangan lain, hanya cukup berbicara channel apa. Secara otomatis tayangan akan berubah ke zaman itu.
Namun, kelemahan dari siaran TV zaman ini adalah tidak adanya kartun animasi yang berupa gambar. Semuanya dibuat senyata mungkin sehingga membuatku bosan. Bentuk
TV zaman ini hanya berupa kotak kecil yang mampu mengeluarkan gambar hologram berwarna. Ukuran layar juga bisa diubah sesuka kita. Dizaman ini juga tidak ada bioskop. Ya, karena TV bisa memperbesar gambar seukuran bioskop.
AC juga hanya berupa kotak kecil yang dinginnya luar biasa. Sumber tenaganya merupakan baterai yang mampu dicas melalui perputaran mesin. Artinya ketika mesin berputar menghasilkan daya, mesin ini juga memutar dinamo yang mengecas baterai.
Bisa dibilang AC saat ini adalah gratis listrik, kecuali biaya penggantian kerusakan mesin dan baterai. Pokoknya dizaman ini semuanya serba malas.
Tapi resiko terkena penyakit juga lebih tinggi. Kekebalan tubuh orang zaman ini sangat lemah karena jarang berolahraga. Mungkin itulah sebabnya kenapa anak tahun 2000-an yang dipilih tubuhnya untuk imutasikan.
"Ton, nglamun aja", panggil Ramko.
"Ah, Apa?"
"Nggak apa-apa."
Tiba-tiba teleponku berdering sebagai pengingat pesan. Ternyata Dokter Jassen menitipkan pesan kepadaku beberapa jam yang lalu. Isinya menyuruhku untuk mengambil sebuah dokumen dilacinya. Setelah membaca pesan itu, aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju kamar Dokter Jassen.
Kamar Dokter Jassen gelap dan berantakan seperti kapal pecah. Kasur berantakan, kertas berhamburan dan beberapa properti hancur dan pecah. Aku membuka laci dan menemukan dokumen yang dimaksud. Disampingnya terdapat foto kami berdelapan tanpa Dokter Jassen.
Anehnya kami bahkan belum pernah foto bersama sebelumnya. Juga di foto itu banyak sekali pewarna merah yang mencoreti wajah kami. Hanya Donny yang diberi lingkaran hitam tanpa coretan diwajahnya.
__ADS_1
Foto itu diambil didepan rumah kami. Di bawah foto itu terdapat buku yang menjelaskan tentang lubang hitam seribu tahu lalu tepatnya tahun 2573.
"Ton, kamu sudah selesai?", panggil Nadia dari bawah.
"... Ah iya sudah."
Aku kemudian segera keluar sambil membawa dokumen yang diminta.
"Kenapa?"
"Linda sama Mabel udah pulang, makan dulu sana!"
"Hmm", jawabku sambil mengangguk.
"Eh tunggu bukannya kemana dokter?", tanyaku.
"Katanya lagi konfirmasi untuk tugas bagi kalian."
Aku membalasnya hanya menganggukan kepalaku.
......*......
......\=......
Ketika sedang makan malam, pemandangan mengherankan terlihat pada Afton, Linda dan Mabel yang terlihat tidak selera makan.
"Ton, tumben makanmu lama biasanya kamu emosian kalau lagi lapar", tanyaku.
"Kalian yang laki-laki besok berlatihlah bertarung lagi karena minggu depan kalian kuberi misi untuk menghancurkan sumber daya alien Planet Stani", ucap Dokter Jassen.
"Alien Stanni? Jangan-jangan robot yang kemarin menangkap dan mengejar kita?", tanya Ramko.
"Betul, disana sangat berbahaya", "Tapi bila tidak dihancurkan, maka dia bisa menghancurkan Aquopora kapan saja", "Dan semoga saja kalian bisa pulang dengan sehat", kata dokter serius dan kami melanjutkan makan dengan suasana tegang.
......*......
Besoknya para laki-laki berganti pakaian dan bersiap untuk latihan. Sebelum pergi kami diajak foto sebagai dokumenter. Afton terlihat tidak bersemangat, ia seperti memiliki firasat buruk yang menghantuinya sejak kemarin.
"Berlatihlah dengan serius karena ini untuk seluruh umat manusia", kata Linda kepada kami.
"Tentu saja", balas Ramko dengan semangat. Sementara Mabel hanya diam seribu bahasa. Arina hanya bersikap cuek saat melihatku. Aku paham mungkin dia dendam kepadaku.
...*...
Ketika sampai di tempat berlatih, kami terheran-heran dengan ruangan latihan yang sangat luas. Kami disuruh untuk mengeluarkan kekuatan kami sepenuhnya. Shina mampu membuat lingkaran api dengan lebar semaunya dan senjata baru yaitu trisula yang terbakar.
Warna apinya berubah menjadi biru terang, dari yang sebelumnya merah dan kuning. Selayaknya bintang, bila semakin panas suhunya maka warnanya juga akan berubah.
Ramko mengaktifkan kekuatannya, kilatan kecil berwarna ungu mengelilingi tubuhnya. Kecepatannya juga berubah menyamai kecepatan kilat sebenarnya. Kekuatan listriknya juga menyamai petir di angkasa.
__ADS_1
Afton tidak mengalami perubahan pada zirah batunya. Hanya saja duri batuan yang muncul lebih keras dan kuat dari sebelumnya. Monster batunya sekarang juga bisa bergerak sendiri.
Aku dikhusukan untuk pindah tempat ke tanah lapang yang luas. Sebab, kekuatanku merupakan ledakan. Aku mencoba menggunakan mode merah kepala naga. ledakannya lebih kuat dari yang hanya mode merah. Terus berlanjut sampai ke mode kuning kepala naga yang ledakannya menghasilkan kawah besar.
"Lagi!", teriak Ramko kesenangan.
"Sudah, kalian mau merusak ekosistem?", tanya Shina.
"Nggaklah", jawabku.
Aku tiba-tiba teringat saat menggunakan mode biru dalam lorong yang hampir saja membunuhku. Aku mencobanya lagi, denyut jantungku meningkat tubuhku rasanya seperti menjerit. Teman-temanku menyorakiku, namun aku dipukul oleh Dokter Jassen.
"Kau mau mati konyol hah?"
"Nggak, dok."
"Bukannya kelemahanmu sudah kuberitahu?"
"Sudah, dok."
"Lebih baik kamu berlatih akurasi tembakan dan tusukanmu."
"Baik, dok", jawabku sambil tertunduk malu.
"Sekarang kalian berlatih berkerja-sama dalam pertarungan", jawabnya sambil menekan sebuah tombol.
Sebuah robot tiba-tiba saja datang ke arah kami dan langsung menghantamkan tangannya ke tanah. Dengan respon cepat kami menghindar. Sementara Dokter Jassen pergi menonton dari atas. Robot itu berbentuk beruang dengan tinggi 60m.
Dari dalamnya keluar 10 robot seukuran manusia normal. Kecepatan mereka dibekali tembakan peledak yang setara dengan mode oranye milikku. Sementara robot yang besar memiliki pelindung baja keras yang dialiri listrik tegangan listrik.
Kami benar-benar kewalahan dengan hari pertama latihan. Belum lagi robot-robot ini memiliki tembakan dan kecepatan yang setara dengan kami. Sampai kami menyadari bahwa setiap robot kecil hancur maka akan keluar robot yang baru dari robot yang besar.
Artinya robot besar itu harus dimusnahkan terlebih dahulu. Selayaknya burung hantu, Shina selalu pintar dalam hal mengamati dan menyusun startegi penyerangan.
"Ramko bawa kita ke robot itu dengan kecepatan kilatmu!"
"Lanjut!"
"Afton buat tameng berlapis dari batuan dan tanah lancip di depannya!"
"Ok."
"Donny angkat kita dengan roketmu untuk memperingan beban Ramko berlari."
"Baiklah."
"Serahkan sisanya padaku", "Sekarang semuanya berkumpul."
Kami melakukan arahan yang diberikan Shina. Ketika sudah dekat dengan robot itu, Shina dilemparkan dengan syalku dan langsung masuk ke dalam robot besar itu. Ia kemudian membakar bagian dalam robot itu.
__ADS_1
Robot besar yang terbakar itu menjatuhkan tubuhnya ke arah kami. Dengan sigap Afton membentuk monster batu dan dan menahan tubuh robot itu. Sementara aku membawa Afton dan Ramko menjauh. Setelah robot itu tumbang, Shina keluar dengan menghancurkan punggung robot itu. Dengan begitu latihan selesai dan kami pulang ke rumah.