The Last Era

The Last Era
Act 32 [Different]


__ADS_3

Aku terbangun di sebuah rumah sakit dengan infus yang tertancap di tubuhku. Tangan kanan dan kedua kakiku diperban. Aku juga tidak mengingat apapun sebelum pergi dari rumah kemarin.


"Fin?", "Fin!", "Akhirnya kamu sadar", kata Donny sambil mengelus dadanya.


"Ken!", "Kau masih hidup".


"Kenapa juga aku harus mati?"


"Ehem, maaf menganggu reuni kalian", "Tapi aku masih ada urusan dengan Ken", seseorang membuka pintu kamar sambil tersenyum lebar.


"Fin, perkenalkan", "Ini adalah Erkan, jenderal Rowl sekaligus temanku sekarang".


"Salam kenal, kak Erkan", sambilku ajak jabat tangan dengan tangan kiriku.


"Maaf, nona saya takut melukai tangan anda", tolaknya sopan.


"Nggak apa-apa", "Lagi pula tangan kiriku hanya diinfus dan tidak patah", balasku.


Tiba-tiba Erkan mendapat panggilan mendadak dan langsung keluar kamar inap.


"Baiklah, aku akan pergi meninggalkan kalian berdua", "Permisi sebentar", kata Erkan sambil keluar dari kamar.


Setelah Erkan keluar kamar, Ken tampak kehabisan ide untuk berbicara. Ia membuka tirai jendela kamar lalu duduk di kursi kamar. Suasana seketika menjadi hening. Kami berdua canggung karena kehabisan ide.


Aku belum pernah melihat Ken sendiam ini. Mungkin dia kelelahan setelah bekerja semalaman. Aku mencoba membawanya ke pembicaraan.


"Apa paman menghubungimu?"


"Ya, dia bilang senang melihat keponakannya sudah pulih".


"Berapa lama aku tidur?"


"Empat hari", "Dan paman meneleponku tiap jam waktu itu".


"Empat hari?!", jawabku terkejut.


"Ya", balasnya santai.


"Bagaimana dengan teman-teman?"


"Aman", "Sekolah juga sudah mengizinkanmu".


"Syukurlah", balasku lega.


"Kenapa aku bisa disini?", tanyaku.


"Kamu tertimpa zirah saat aku membawamu ke pabrik senjata".


"Hah?! Kapan aku kesana?"


"Empat hari lalu".


"Coba saja jika aku mengingatnya".


Beberapa menit kemudian, teman-temanku datang mengunjungiku. Mereka membawa bingkisan dan buah-buahan untukku. Melihat itu, Ken terlihat senang dan izin pamit keluar kamar.


"Fin, itu siapa?", tanya temanku sesaat setelah Ken keluar kamar.


"Teman pamanku", "Ken Wyan".


"Saudaramu?", tanya Resy.


"Bukan", "Cuma nama belakangnya yang mirip".


"Aku nggak mau mikir aneh-aneh", "Tapi wajahnya cukup ganteng", kata Niki.


"Cuma dia pendek", balas Yuu dengan muka sinis.


"Hei, mandang fisik itu tidak boleh!", balas Resy.


"Yah, bagaimanapun dia", "Kita tidak diperbolehkan untuk menikah dengan ras yadewa bukan?", sambung Niki.


"Iya juga", balas kami semua.


"Yah apapun dia", "Asalkan dia baik hati", "Itu tidak masalah", balasku.


......***......


Setelah mengunjungi Fin dirumah sakit. Donny langsung mencari Erkan ke pabrik senjata. Ia berkata, bahwa radar planet menemukan benda yang menerobos masuk atmosfer seminggu yang lalu.


Semua orang di pabrik itu mulai bersifat baik kepadanya sejak ia tampak akrab dengan Erkan. Tentu saja, karena Erkan adalah jenderal di sana.


Setelah melewati banyak ruangan, Donny membuka pintu kantor Erkan dan menemukannya sedang duduk sambil bermain teleponnya.


"Jadi, apa yang kamu temukan?", tanya Donny sambil merapikan kemejanya.


"Lihatlah kemari", ia melambaikan tangan, menyuruh Donny untuk mendekat.


Dalam layar Erkan, ia melihat sebuah kapal besar yang dijaga ketat oleh tentara manusia. Di kamera lain, tampak meneliti puing-puing kota Lubina.

__ADS_1


"Harus ada yang menahan mereka sebelum mencapai Inaba!", kata Donny serius.


"Kau ingat riffle yang pernah kau buat?", tanya Erkan.


"Aku rasa begitu", "Apa kamu akan memberikan itu kepada para tentara yang pergi kesana?"


"Bukan tentara", "Tapi kita sendiri!", balas Erkan.


"Tunggu! Apa?"


Erkan tidak mempedulikan pertanyaan Donny dan mengubah gambar layarnya menjadi telepon. Ia langsung saja menelepon walikota atau setingkat presiden di Aquopora.


"Halo master", "Laporan radar hari ini, kami menemukan pesawat manusia yang mendarat dekat dengan kota Inaba", "Apa yang harus kita lakukan?"


"Sepertinya mereka mau memulai lagi",


"Kalau begitu, aku minta unit ruang angkasa untuk mengirimkan personil kesana",


"Giring mereka ke pusat pertahanan kota Inaba", "Kita perlu tahu apa maksud mereka kemari", perintah walikota tegas.


"Baik master, saya segera menghubungi unit ruang angkasa".


"Bekali juga mereka dengan senjata", "Kita tidak tahu apakah mereka akan menyerang atau tidak", tambah walikota.


"Ken Wyan? Apa kau disitu", tanya presiden kepada Donny.


"Iya master", jawabnya.


"Aku ingin kau buatkan senjata rangkaian yang pernah meledak beberapa hari lalu sama senjata yang pernah fenomenal waktu itu".


"Tapi master, itu sangat berbahaya", Donny mengingatkan walikota.


"Tak apa", "Regu pembuat senjata C sudah menemukan anti ledaknya".


"Baik master, akan saya buatkan sekarang".


"Bagus segera lakukan!"


Setelah itu, walikota menutup telepon dan langsung mengabari yang lain untuk bersiaga.


"Aku pergi dulu ke gudang senjata".


"Cepat lakukan!"


Donny segera meminta anak buahnya untuk membuat senjata yang pernah meledak dulu. Puluhan puing-puing senjata disiapkan dan dirangkai di pabrik.


Senjata-senjata itu kemudian diserahkan ke pada regu pembuat senjata C untuk disempurnakan. Sementara Erkan segera menghubungi ruang angkasa untuk mengirimkan personil kesana.


......\=......


"Fin", "Hari ini kamu harus tinggal dulu disekolah", "Ada banyak tugas yang harus kamu selesaikan", kata gurunya.


"Baik pak".


Sepulang sekolah ia merasa lemas setelah mengerjakan beberapa aktifitas dalam satu hari. Toko Paman Wyan lebih ramai dari pada sebelumnya karena nama Donny atau Ken sebagai mekanik persenjataan sedang naik daun.


"Aku pulang", ucap Fin loyo.


"Ya Fin, bagaimana sekolahmu?", tanya Paman Wyan sambil memegang cangkir tehnya.


"Lemes", "Nanti dulu paman", jawabnya sambil terus berjalan menuju kamarnya.


Paman Wyan menggelengkan kepalanya dan meneguk tehnya sambil mengawasi pegawainya. Fin melempar ranselnya dan langsung melompat ke kasur. Tanpa sadar ia sudah tertidur beberapa menit kemudian.


Diwaktu yang sama, di kantor Erkan, pabrik senjata Kota Rowl. Donny dan Erkan sedang berbincang-bincang tentang masalah yang barusan terjadi.


Mereka mendapat rekaman darurat berisi permintaan bantuan secepatnya oleh personil angkasa beberapa jam lalu. Setelah rekaman suara itu tersampaikan, sinyal mereka menghilang tanpa jejak.


Kabar itu segera Erkan sampaikan kepada walikota Rowl dan Inaba. Erkan juga menghubungi kota Inaba sebab kapal atau pesawat besar itu dekat sekali dengan kota Inaba.


Erkan segera mematikan lampu dan membuka hologram untuk berbicara dengan kedua orang besar itu. Walikota Inaba didampingi oleh tiga orang jenderal dan dua orang mekanik pabrik yang jauh lebih tua dari Donny.


Sementara dari Kota Rowl, hanya ada Donny sebagai mekanik dan dua orang jendral termasuk Erkan. Setelah semua tersambung, Erkan langsung menjelaskan semua yang ada dalam rekaman itu.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Walikota Inaba?", "Mengingat kota Inaba adalah yang terdekat", tanya Erkan.


"Bagaimana para jenderal Kota Inaba?", tanya Walikota Rowl.


"Belum lama ini, kami juga sedang di tekan di perbatasan oleh mereka", "Jumlah tentara cyborg dan robot kami juga mulai menipis hanya untuk perbatasan", jawab salah seorang jenderal Kota Inaba.


"Kami belum tahu tentang itu".


"Bagaiamana dengan jumlah gabungan tentara?", "Termasuk angkasa dan padang salju?"


"Tidak mencukupi, banyak dari mereka sudah tewas, terutama yang di Kota Lubina", jawab yang lain.


"Padang salju?", tanya Donny.


"Markas selain yang di ruang angkasa", "Berfungsi untuk transit senjata dan tentara dari Inaba ke Lubina", jelas Erkan.

__ADS_1


"Sial, bagaimana jika kita menyerang dengan semua tentara kita?", tanya walikota Rowl sambil memukul meja karena frustasi.


"Tenang dulu pak", "Itu mustahil, pertahanan kita bisa hancur semuanya", kami semua mencoba menengangkannya.


"Lalu? Apa kita mau tetap diam disini dan menunggu mereka menjarah kita?",


"Ingat jumlah populasi di Aquopora sama dengan empat kalinya populasi kita".


Seketika ruangan hening ranpa suara. Mereka semua kehabisan ide untuk pertahanan. Mereka semua sadar kalau kedua kota ini sudah kehabisan tentara untuk berperang.


"Sepertinya tidak ada cara lain".


"Ken, Erkan", "Aku ingin kalian berdua saja yang menyerang mereka kesana", "Besak itu, apakah kalian sanggup?"


"Bagaimana mungkin pak?", "Kami hanyalah ras yahma biasa", jawab Donny.


"Kami sudah tahu, Ken", "Kalian berdua adalah manusia mutan", sambung walikota.


"Walaupun kamu sudah merusak markas di padang salju", "Tapi kami pikir kamu akan berguna", sambung jenderal Inaba lainnya.


"Jika kita membawa tentara lagi", "Maka bila tiba-tiba kita berperang dengan manusia, kita tidak akan kehabisan personil", sambung walikota Rowl.


"Baik master, kami berdua akan menyerang tunggal ke sana", jawab Erkan.


Donny seketika menjadi gusar dan membuang mukanya tahu karena identitas aslinya terungkap. Walikota Rowl yang melihat Donny sedang gusar dan mencoba menutupi identitasnya mencoba menenangkannya.


"Tenanglah, identitasmu sudah dilindungi oleh kedua kota",


"Baiklah, dengan ini maka Erkan dan Ken akan menjadi penyerang tunggal ke pesawat itu".


"Ingatlah, jangan gunakan kekerasan di awal", "Kita tidak boleh memicu apa yang namanya perang", "Bawa mereka kemari dan tanyai apa mau mereka".


Mendengar itu, Donny menjadi lebih tenang dan semakin senang di sana.


"Apa kalian berdua siap?"


"Siap master!", jawab mereka berdua.


Telepon ditutup dan lampu kembali dinyalakan. Erkan dan Donny saling berpandangan.


"Jadi, apa rencanamu?", tanya Donny.


"Pertama kamu harus memakai baju perangku dulu", "Syalmu itu, kamu pindahkan saja ke leher lagi",


"Untuk berjaga-jaga bawa riffle ringan dan kanon kecil".


"Aku sudah punya kanon sendiri", jawab Donny sambil membentuk kanon pada tangan kanannya.


"Bagus", "Apa tangan robotmu tidak bermasalah?"


"Tidak", "Ngomong-ngomong terima kasih sudah memotong tanganku", jawab Donny sambil menatap Erkan tajam.


"Salahmu juga menghantam tanah sekeras itu", "Tulangmu saat itu hancur lebur dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya".


"Yasudahlah", "Bagaimana dengan tanganmu itu?", tanya Donny sambil menunjuk ke arah tangan robot milik Erkan.


"Palsu", "Sudah lakukan saja apa perintahku",


"Tidurlah yang pulas malam ini", "Besok malam kita ada urusan penting".


"Siap Erkan", Donny langsung lari keluar ruangan.


"Satu lagi", "Jangan bunuh seorangpun manusia sampai kita mendapat ijin",


"Aku membangkitkan kebencianmu hanya untuk mempermudahku dalam mengajakmu bekerja sama", Erkan berbicara serius.


"Iya iya", jawab Donny.


......*......


......\=......


Besoknya ditengah malam, aku dijemput Erkan ke gudang senjata. Disana sangat sepi dan hanya ada beberapa orang.


Erkan membuka loker zirahnya dan menampakkan tiga zirah kotak besi yang berwarna hitam legam. Erkan menekan tombol dayanya dan mekarik kepalan tangan diatasnya. Seketika tumpukan logam-logam mekanik menempel dan menjalar keseluruh tubuhnya.


Suara benturan besinya sangat kedap dan terkesan elegan. Seluruh tubuhnya tertutupi robot hitam termasuk kepalanya.


"Keren".


"Cepat pakailah", bentak Erkan pelan.


Aku mengambil kotak besi itu dari tempatnya. Ternyata kotak itu sangat berat, dan memaksaku menggunakan syal untuk membantuku mengangkatnya. Aku kemudian mempraktekan cara yang dilakukan Erkan sebelumnya.


"Keren juga ya", "Kuat lagi", ucapku sambil mengetuk-ngetukkan kedua lenganku.


"Diamlah", "Kita tidak boleh membuat bising sampai membangunkan warga",


"Ini adalah rahasia kedua kota", kata Erkan.

__ADS_1


"Baiklah", balasku.


__ADS_2