
"loh kok udah pulang?'' tanya Tara kepada Gea dan kedua anaknya yang baru saja tiba di rumah.
Sebelum menjawab Gea langsung menduduki bokongnya di kursi empuk di ekorin oleh Keano dan juga Kayra yang duduk di samping maminya.
"Ini loh mbak. Kayra gak jadi cabut gigi karena katanya sakit giginya udah sembuh."
"Apa! masa sih. Kayra coba jawab pertanyaan mami. Apa benar gigi kamu gak sakit lagi?"
"iya mi, sakit gigi Kayra gak tau kenapa tiba-tiba langsung ilang saat Kayra ketemu sama om-om tampan"
"ha om ganteng? om ganteng siapa? kayra kamu jangan aneh deh, yang mami perduliin sakit gigi kamu tau gak, bukannya malah aneh"
"iya mi kayra gak bohong, gigi Kayra beneran udah sembuh meski tanpa dokter "
"Tapi mi kalau tentang bertemu dengan om-om yang Kayra maksud itu emang bener bahkan Keano juga saat itu sedang bersama Kayra."
"om-om siapa sih, mami kan sudah pernah bilang jangan pernah kalian dekat-dekat sama orang yang gak perna kalian kenal! Ge, saat mereka bertemu orang asing emang kamu gak
Sama mereka?"
"E-iya mbak saat itu aku emang tidak bersama mereka karena Kayra kabur dan Keano langsung mengejar kayra. Yah jadi itu makanya aku kehilangan jejak mereka."
"Tapi mi. om-om yang seperti mami maksud bukanlah orang jahat. melainkan om itu sangat lembut dan baik bahkan wajah nya sangat mirip dengan wajah Keano."
Tara terdiam sesaat. rasanya jantung seakan berdesir, apa lagi jiwanya kini begitu di hujamin ribuan pertanyaan.
"mereka berbicara perihal om-om yang mirip dengan wajah mereka, tapi siapa orang itu?, apa mungkin itu papi mereka? Tapi itu tidak mungkin, tidak mungkin Kheno berada kota ini karena selama bertahun-tahun pria itu sama sekali tidak mencari keberadaanku bahkan aku masih sangat yakin bahwa dia tidak tau jika aku telah memiliki dua buah hati. Pokoknya apapun yang terjadi pria itu tidak boleh bertemu dengan anak ku. Tuhan tolonglah aku, tolong bantu aku untuk melupakan dia, tolong bantu aku agar lelaki itu tidak mengetahui kebaradaan kami." gumam Tara dalam hati.
"Mam! mamii kok diam Mami kanapa sih?" Ujar Kayra memanggil maminya karena terdiam.
"oh tidak, mami baik-baik saja."
"Bener mi, mami baik-baik saja_Keano.
"Iya sayang mami baik-baik saja, oh ia
Ini kan jadwal Kalian tidur siang dan sekarang kalian harus tidur siang dulu yah.''
"Iya mi kalau gitu Keano sama Kayra tidur siang dulu yah."
*
*
*
*
Keano dan Kayra sudah berada di kamar mereka bahkan sebelum tidur siang Keano mengajak adiknya berdiskusi tentang seorang pria yang
Mereka temui beberapa jam yang lalu.
"Kayra sinih deh, kakak mau ngomong penting." Ucap Keano pelan agar percakapannya tidak didengar oleh Maminya.
"Ngomong apa Kak?"
"husstt… ngomongnya pelan-pelan aja
Nanti takutnya mami denger."
"Ehm iya deh ini udah pelan, mau ngomong apa?"
"Apa bener kamu gak sakit gigi lagi?"
"Tidak kak, sudahKu bilang gigi Kayra sembuh karena bertemu om itu."
"Benarkah berarti itu ajaib kamu bisa sembuh setelah bertemu dengan om itu, itu bahkan luar biasa meski tanpa bantuan dokter"
"emangnya kenapa kak?"
Keano langsung duduk di tepi ranjang. "Entah kenapa aku merasa begitu nyaman saat di dekat om itu kay, lalu apa kamu tidak merasakan bahwa wajah om itu sangat mirip dengan kita terlebih lagi wajah nya sangat mirip denganku"
"Iya kak aku juga merasa kan hal yang Sama."
wajah Keano dan Kayra saling memandang. Kemudian mereka berbicara serempak. "Atau jangan-jangan…… om itu… adalah papi!"
"Keano, Kayra apa kalian belum tidur?" Tanya Gea dari luar pintu kamar Keano dan Kayra karena Gea mendengar begitu mendengar keberisikan dari dalam kamar mereka tapi untungnya Gea tidak mendengarkan apa isi percakapan yang mereka bicarakan.
"Eh iya ini kita udah mau tidur kok" teriak Keano untuk meyakini Gea.
Sedangkan Kayra memulai percakapan lagi dengan suara pelan. "Sudahlah kak ayo tidur nanti kita bicarakan lagi masalah ini"
"hmm ya deh"
*
*
*
*
*
*
*
''Iya hallo bu.…"
"apa kamu telah sampai Khen, kenapa tidak memberi tahu ibu''
"oh astaga maafkan aku ibu. Aku lupa karena setelah sampai disini aku dilanda kesibukan sehingga aku lupa menghubungin ibu jika aku telah sampai"
"Hmm nampaknya kesibukan mu itu telah membuatmu melupakan ibu mu ini yah?"
"Bagaimana bisa ibu berpikir seperti itu, bahkan aku sangat merindukan mu bu walau aku baru sehari meninggalkan ibu"
"hahaha iya sayang, jangan di masukin dihati yah. Ibu mu hanya becanda kok. Oh yah sampai berapa lama kau berada di luar kota? "
"Sepertinya hanya sekitar 7 hari bu"
__ADS_1
"Hmm baiklah ibu paham tentang pekerjaan mu, kalau gitu kamu juga harus jaga kesehatan yah. Jangan sampai sakit"
"iya bu terimakasih. Ibu juga harus jaga kesehatan yah dan jangan sampai sakit, jika ibu sampai sakit ingat aku sedang berada jauh dari ibu"
"Aissh. Dasar anak nakal, Yasudah ibu matikan telpon nya yah. By putraku tersayang"
"iya by ibu"
lelaki itu terlihat bahagia sehabis menelpon ibunya. Dia adalah Kheno.
Saat ini Khebo tenga berada di sebuah hotel mewah untuk beristirahat. Sehabis pulang dari rumah sakit ia langsung menghubungin ibunya karena dirinya telah sampai.
Kheno berencana untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan malam. Sambil membuka jas Dokternya memory Kheno kembali teringat saat tadi siang tidak sengaja bertemu kedua anak-anak lucu itu. Siapa lagi jika bukan Keano dan Kayra Kayra.
Tidak habis pikir jika dirinya sangat begitu nyaman berada di dekat kedua anak-anak itu serta ada pula perasaan tidak ingin meniggalkan keduanya.
Kheno mengembangkan senyumnya."kenapa kedua anak yang tadi siang yang bertemu dengan ku tidak lepas dari pikiran ku? kenapa aku merasa mereka sangat mirip dengan seseorang, dan lebih anehnya lagi mereka sangat mirip dengan ku, apa mungkin… ah sudahlah itu tidak mungkin, bukankah di dunia ini manusia memiliki 7 Kemiripan" ujar Kheno bergumam.
Malam harinya irvan datang kerumah Tara. Karena sehabis dari mengantar Keano dan Kayra kesekolah, lelaki itu mendapat panggilan mendadak dari luar kota jadi tanpa memberi tahukan mereka semua. Dia terpaksa pergi mendadak tapi kini dia kembali kerumah Tara dengan bermaksud untuk mengajak mereka semua makan malam di restoran mewah.
tok…
tok…
tok…
Bunyi suara ketukan pintu dari luar rumah Tara.
"Siapa sih bertamu malam-malam?'' ucap Tara lalu tak lama ia ingin beranjak dari meja makan.
"Eh mbak tunggu. Biar aku saja yang bukain pintunya"sambar Gea.
''Yauda deh, ge"
Gea membuka pintunya, dan mendadak Gea menjadi tersipu malu ketika melihat siapa yang datang.
''T-tuan Irvan"
''Hai Ge, apakah Tara, Keano, dan Kayra nya ada?"
''ah, ada tuan. Mereka lagi ngumpul di
Meja makan, Kalau gitu silakan masuk tuan''
''baiklah. Terimakasih," ucap Irvan tersenyum lalu berlalu melewatkan Gea yang sedang tersipu.
Gea menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia selalu saja begini, bahkan sudah hampir 6 tahun tapi perasaannya masih sama seperti dulu. Karena ia tidak pernah berhenti untuk menyukai irvan secara-cara diam. Ketika itu pula Gea menyadarin bahwa dirinya hanyalah seorang yang tidak berpendidikan ia hanya mampu menghakhirin pendidikannya di tingkat SMA walau sebenarnya ia ingin sekali berkuliah tapi sebuah keadaan mendesaknya untuk tidak berkuliah.
Irvan juga termaksud Dokter yang Cerdas dan berpendidikan apalagi parasnya yang tampan. "Hooh orang seperti itu mau bersanding dengan wanita jelek sepertiku'' gumam Gea dalam hati.
"Malam semuanya…''
''loh van, kamu udah pulang yah"Tanya Tara heran.
''Ia Ra. Untunglah aku di luar kota hanya sebentar, soalnya aku tidak bisa berlama-lama untuk tidak bertemu dengan kedua jagoan kecilku''
''Ia tadi pagi om langsung berangkat ke luar kota setelah mengantarkan kalian ke sekolah, tapi om sekarang ada bersama kalian''
''om dari Luar kota yah, kalau gitu pasti bawa oleh-oleh?''_Kayra.
Irvan tertawa kecil melihat tingkah Kayra, maksudnya kecil-kecil udah ngerti oleh-oleh.
''Tadi om denger dari Mami, katanya gigi Kayra sakit yah?"
bukanya Kayra yang menjawab melainkan Keano, Yang menjawab pertanyaan Irvan seperti menyerumput minuman.
''Iya om Kayra emang bandel, orang di
Suruh jangan makan lolipop tapi dia
Gak mau denger, jadi makanya kena karma''
#tugg#
Kayra berdacak kesal dengan tingkah Kakaknya yang super nyebelin. Pada akhirnya Kayra memukul kepala Keano dengan sendok sehingga membuat sang empunya kesakitan tapi tidak menangis.
''Apaan sih, liat nih mi masak kepalanya Keano di pukul pakai sendok kan sakit mi!''
''hooh sukurin makanya jangan iseng_Kayra''
''Keano harus berapa kali mami bilang jangan pernah kamu menjailin
Adik mu_Tara.
''Tuh dengerin tuh apa kata mami, Keano gak boleh iseng lagi'' Sanggah Irvan.
''hehehe iya deh Mi. Om''
''Tapi apa sekarang gigi Kayra gak sakit lagi?''Irvan bertanya memastikan.
''tidak om, gigi Kayra udah sembuh kok''_Kayra.
''Oh syukur deh kalau gitu"
''van, ayo duduk makan bareng sama kita"
''Tapi sebenarnya niat kedatangan ku kemari ingin mengajak kalian semua makan malam di restoran.''
''Wuah… Restoran om, Yauda mi ayo kita makan di restoran saja''_Keano
''tapi van aku sudah masak banyak, jadi mana mungkin makan di restoran''
''ayolah sekali ini saja, kapan lagi bukankah kita tidak perna bersama di
Sebuah resto''
''mami gampang, seluru masakan ini kita masukin aja kedalam kulkas''_Keano.
''Tuh kan mereka saja mau Ra''
__ADS_1
''Ehm yauda deh, kalau gitu kita ganti baju dulu yah''
Belum di intrupsi untuk segera ganti baju Keano dan Kayra langsung berlari masuk ke kamar mereka di ikutin dengan Maminya.
Mereka semua masuk kamar. Tanpa terkecuali Gea yang masih berdiri manis di dekat meja makan.
''Ge kenapa kamu tidak ganti baju juga?"Tanya Irvan tiba-tiba.
''ah_t-tidak tuan, aku rasa. A-ku akan berjaga dirumah saja." Ucap Gea dengan gugup sambil membereskan beberapa makanan di atas meja untuk di masukan kedalam kulkas.
Suatu hal yang tidak perna terbayangkan sebelumnya. Saat Gea sedang sibuk membereskan meja makan.kedua Tangan irvan tiba-tiba melingkarin pinggang Gea dari belakang, yah seperti memeluk.
Jangan tanyakan lagi, rasanya seperti tersengat aluran listrik. Apakah ini adalah mimpi.
''T-tuan A-apa y-yang tuan lakukan. Sementara itu pelukan irvan semakin merapat. Irvan memajukan bibirnya menyentuh telinga Gea, dia berbisik mesra.
''kamu tau alasanku cepat pulang adalah dirimu, aku tidak bisa jauh darimu, rasanya diri ini begitu hampa bila sehari tidak melihat wajah cantikmu''
tidak terhitung beberapa kali Gea bersusah payah menelan ludanya sendiri, kali ini perasaannya benar-benar luar biasa, di satu sisi ia sangat senang irvan menyukainya, tapi untuk di perlakukan seperti ini ia sungguh tidak bisa.
"Maaf, tuan sebaiknya jangan perlakukan aku seperti ini. Aku takut mbak Tara dan kedua anaknya tau"
''kalau begitu kamu juga harus ikut ke restoran bersama kita, atau bila tidak jangan salahkan aku jika aku memperkosa mu di atas meja ini bagaimana kamu pilih yang mana?"
''ah ok baik. Aku akan ikut kalian, tapi lepaskan aku!''
"kalau begitu, balikan badanmu dihadapanku'' pinta Irvan yang masih dalam kondisi memeluk.
Gea terpaksa membalikan badanya menghadap Irfan. Deg..Gea menunduk.
Irvan menarik kedua sudut bibirnya, lalu tangan kekarnya berpindah membelai wajah lembut Gea dan menegakan wajah cantik itu agar menatap wajahnya.
''Tatap aku, kenapa kamu harus menunduk. Apa kamu sedang mencari seseatu di bawah sana?"
Gea menggeleng. "Tidak" .
"Aku minta coba kamu tatap mataku ini dalam-dalam''
Seketika Gea langsung menatap mata itu. Dan bertapa terkejutnya dia di saat Irvan mencium bibirnya singkat.
*Cupp*
Ini benar-benar di luar dugaan, kali ini Gea benar-benar bisa menjadi gila.
"Sebenarnya aku ingin mencium bibir
Manismu lebih lama, tapi waktunya tidak tepat, hey kenapa kamu malah berdiam diri. Cepat ganti bajumu, atau bila perlu aku yang menggantikannya hmm bagaimana?''
"Tidak! aku bisa sendiri! Permisi"
"astaga apa yang barusan aku lakukan, apa aku saja menggodanya, dan aku mencium bibirnya. Dan hey itu bahkan ciuman pertamaku. Tapi aku sangat menyukainya, apa Gea juga menyukaiya" ujar Irvan bergumam.
Di sisi lain Kheno juga berada di restoran mewah yang sama yang saat ini di tempati oleh geng Irfan. Pria itu hanya seorang diri di dalam restoran mewah itu, ia hanya memesan coffe latte sebagai minuman dan beef steak sebagai makanan kesukaanya.
"van kita cari tempat makan lain aja yah, aku rasa ini terlalu mewah"Kata Tara memelas.
"Santai saja Ra, jangan Khawatir. Aku masih mampu membayar ini semua dan kalian cukup menikmati makanannya saja"
''Dasar keras kepala___ loh kamu kenapa Ge, kamu sakit yah?"tanya Tara tiba-tiba karena sedari tadi Gea hanya terdiam dan wajahnya masih terlihat merah padam.
Irvan segera memalingkan wajahnya ke Gea, sambil memainkan sebelah matanya.
Melihat hal itu wajah Gea semakin merah padam. Jadi hal baik yang harus Gea lakukan adalah tenang yah walaupun kejadian tadi masih terniang di pikiran.
"Tidak mbak! aku baik-baik saja"
''Baik-baik saja tapi melamun"ketus Tara.
"iya, mbak aku baik-baik saja''
"Yasudah kita pesan makanan nya sekarang yah". Irvan mengangkat satu tangannya untuk memanggil pelayan.
"Iya pak, mau pesan apa?"
"saya ingin memesan makanan dan minuman yang paling terbaik di restoran ini"
"baik pak, pesananya telah saya catat,kalau begitu silakan di tunggu"
begitu telah selesai makan mereka semuapun segera pulang.
Bertepatan itu juga di saat Kheno juga
Selesai makan dan ingin pulang. Mereka semua sedang berada sebuah parkiran.
''om ternyata makanan yang ada di restoran tadi enak-enak yah_Kayra.
''Ia om setiap hari juga pun tidak masalah kok kita makan disana_Keano.
"Eh sudah-sudah jangan terus-terusan
Kalian semua menggoda om Irvan"
Saat ingin memasuki mobilnya Kheno berhentih sesaat di saat dia mendengar suara yang tidak asing, ia Segera melihat ke arah samping.
Dan benar saja yang Kheno lihat adalah kedua anak yang tadi siang bertemu dengannya, tapi sepertinya Kheno melihat sosok salah satu diantara dua wanita yang berdiri di sana. Kheno sangatlah penasaran dengan wajah wanita itu, semakin rasa penasaran itu semakin besar maka semakin besar pula tingkat jantungnya berdegub kencang. Seperti ada ikatan, lalu di saat wanita itu menoleh dan bertapa terkejutnya Kheno ketika mengetahui jika wanita itu adalah Istrinya Tara.
Kheno ingin menghampirin Tara.. tapi seseorang memanggilnya.
"Maaf pak, ini handphonenya ketinggalan"
''oh astaga aku hampir lupa, kalau gitu terimakasih"
"sama-sama pak''
Ketika ia melihat ke sampingnya lagi ternyata keberadaan Tara telah tidak ada lagi.
"Ah sial!, aku kehilangan jejaknya. Di mana wanita itu, aku sangat yakin dia Tara"
__ADS_1