
Masih dalam suasan perbincangan sementara Putri berada di tenga kedua orang tua Arga.
"Putri coba kau cerita kan bagaimana awal kisah cinta kamu dan Arga?"
"Uhuk uhuk uhuk,"Arga terbatuk mendengar pertanyaan ibunya untuk Putri, sementara ia belum bilang hal ini kepada Putri.
"Arga, ada apa dengan mu?"Tanya papanya Arga.
"Sudahlah, ayo Putri bilang ke tante kapan kamu dan Arga bertemu bukan kah Arga baru 4 bulan ini berada di indonesia?"
Putri meremas kedua jemarinya pertanda bingung harus menjawab apa, matanya tak pernah berhenti menatap mata Arga yang juga menatap matanya.
"Aku dulunya juga seorang model tante, jadi waktu itu Arga cukup terkenal di kalangan fotografer.."
"Iya Ma,pa aku dulu awalnya hanya iseng meminta nomor putri kepada semua stap lalu hingga sekarang aku dan Putri berniat ke jenjang yang lebih serius."
"Bagaimana kalau untuk membahas pernikahan kalian izinkan kami berdua tante dan om bertemu kedua orang tua kamu?"
"Boleh tante, Ibu dan papa pasti akan senang jika bertemu kalian,"
"Baguslah kita turut senang mendengarnya"
"Yaudah ma,pa berhubung ini sudah malam izinkan Arga untuk mengantar Putri pulang."
"Oh iya, ingat Arga antar Putri dengan selamat sampai tujuan yah, awas jangan sampai leset"ucap papanya Arga.
"Iya, pa."
"Om tante, kalau begitu aku pamit pulang dulu yah"
Putri kembali bersikap sopan kepada kedua orang tua Arga, agar ia mendapatkan kesan terbaik sebagai calon mantu.
__ADS_1
"Iya, Putri hati-hati yah."
......................
Kheno tanpa sengaja menjatuhkan lipstik yang biasa Tara pakai hingga jatuh ke kolong ranjang. Sementara sedang berada di dalam kamar mandi.
Langsung saja Kheno berjongkok untuk mengambil lipstik tersebut dengan merogo-roga tangannya di bawah kolong.
Bukan Lipstik yang sentuh saat ini, melainkan percis sebuah kain dan langsung saja ia menarik tangannya. Matanya membulat sempurna ketika melihat baju dinas malam yang menerawang.
"Khen,,shower air panasnya kok gak nyala sih"
Tara baru saja keluar dari dalam kamar mandi berniat bilang ke Kheno kalau ada masalah dengan air showernya.
Segera Kheno berdiri, dan menunjukan baju dinas malam tersebut kepada Tara.
"Apa ini punya mu"
"Khen, sini kembalikan!" Tara cepat berlari berusaha merebut apa yang tenga di pegang Kheno.
Kheno menampilkan senyum mematikan, dan memposisikan tangannya keatas udara.
"Sudah buat apa, bagaimana kalau kita malam ini melakukannya saja, bukan kah semenjak aku sakit kita sangat jarang bermain, ayo kembali lah ke dalam kamar mandi terus pakai ini untuk ku"
"Tidak aku tidak mau, aku malu Khen."Ucap Tara yang saat ini membuang wajah kearah lain.
Dan langsung saja Kheno manarik kedua bahu Tara menghadapnya.
"Apa yang harus malu, ingat kau itu istri ku lihatlah kau pasti terlihat sangat sexy dan cantik kalau pakai gaun ini."
"Apa selama ini aku gak pernah cantik di mata mu?"
__ADS_1
"Bukan itu maksud ku, kalau pakai ini kau akan terlihat cantik luar dan dalam, ayolah kau harus pakai ini yah, kita main dalam ronde yang panjang malam ini."Kheno berbisik pelan di akhir kalimat sehingga membuat Tara geli-geli sendiri mendengarnya.
"Baiklah,"
Segera Kheno memberikan baju dinas malam itu kepada Tara, "Ganti bajulah di dalam kamar mandi dan aku akan menutup pintu kamar ini agar tidak ada yang ganggu.
...****************...
"Akting mu bagus, aku kira kau akan gugup dan tidak memililik jawaban lain untuk menjawab semua pertanyaan kedua orang tua ku," Arga berucap sambil menyetir mobil pada Putri yang duduk di sampingnya.
"Kedua orang tua mu terlihat baik, entah mengapa aku jadi tidak enak karena membohongi mereka."
"Putri yang ku kenal sebagai wanita durhaka ternyata punya rasa ketidak enakan juga, aku harap kau juga harus bersikap baik kepada ibu mu yah walau dia bukan ibu kandung mu."
Mendengar kata ibu sejenak Putri berpikir jika beberapa hari ini ia selalu bersikap baik kepada ibu kandungnya dan tidak pernah marah-marah seperti sebelumnya, apa karena semenjak kehamilan ini semua seakan-akan berubah.
"Aku mengerti maksud mu, tapi bukan kah semua orang jahat berhak untuk berubah menjadi lebih baik?"
"Iya sih kau benar, kita sudah sampai di depan rumah mu." Mobil Arga berhenti tepat di depan rumah Putri.
"Yah, terimakasih sudah mengantarkan aku pulang."Ucap Putri yang hendak membuka sabuk pengaman pada tubuhnya, namun tidak bisa.
Perlahan Arga lebih mendekati Putri untuk membantunya membuka kan sabuk pengaman.Jantung Putri berdebar-berdebar ketika sedekat ini dengan Arga, sebelumnya dengan pria lain ia tidak pernah merasakan hal ini.
"Sudah selesai,"Ucap Arga yang masih dalam posisi mendekati tubuhnya pada Putri.
"Ah, baiklah terimakasih."
"Wajah mu kok merah?"
"Tidak apa-apa kalau begitu aku masuk ke dalam dulu," Ucap Putri yang menjadi serba salah saat turun dari mobil Arga.
__ADS_1