
puskesmas hari ini begitu ramai oleh parah penduduk yang ingin berobat secara gratis hingga Gea bersama ibunya yang masih berdiri di parkiran puskesmas pun rasanya enggan untuk masuk ke dalam karena terlalu ramai.
"Rame banget yah Ge, nyampe segitunya penduduk kampung kalau ada yang gratisan berobat pasti cepet banget" uhuk uhuk uhukUcap Bu Marni selaku ibu Gea yang bicara sambil terbatuk-batuk.
"Bu, kalau begitu gimana kalau lain kali aja kita berobatnya soalnya aku prihatin dengan kondisi ibu nanti ibu capek."
"Tanggung Ge, udah lah gak apa-apa tunggu aja"
Dua ibu-ibu yang sudah berobat bersama masing-masing anaknya telah keluar dari puskesmas. Mereka terlihat senang sambil memperhatikan hp mereka.
"Dokternya ganteng banget yah bu, gak bosen saya mandangin nya."
"Iya bu, katanya dokternya masih singgel belum ada yang punya."
"saya aja berhasil foto sama dokter ganteng."
Gea tanpa ragu memanggil ibu-ibu itu.
"Ibu,tunggu."
"Iya neng ada apa?"
"Kalau berobatnya apa harus ambil nomor antrian dulu?"
"Oh iya neng, harus ambil nomor antrian dulu tapi walau ambil antrian pasti nanti lama banget ini baru nomor antrian 9 belum yang 50 lainya."
__ADS_1
Gea termangu tak menyangkah, astaga sebanyak itu.jelas saja sebagian dari mereka satu keluarga yang ikut berobat.
"Oh kalau begitu terimakasih yah bu, atas informasinya."
"iya neng sama-sama."
Jumblah pasien terbakyak bagi Irvan adalah hari ini sampai-sampai ia kepalahan beruntung ada 3 asisten yang membantunya. Namun terlihat Irvan sedang mencari sesuatu di antara semua pasien yang ada di luar ini sudah ke 27 antrian, tapi ia tidak melihat Gea. apa gea tidak ingin berobat sama sekali.
"Dokter Irvan!"
"ah ia!"Irvan di tegur asistennya kerena melamun.
"Dokter kenapa, kalau dokter capek gak apa-apa bisa istirahat dulu sebentar maklum yah dok di kampung ini jarang-jarang ada berobat gratisan."ujar asisten Irvan menjelaskan.
Irvan berniat menanyakan sesuatu pada asistenya ini siapa tau ia kenal Gea secara ia juga asli kampung sini.
"tanya apa dok?"
"Apa kau kenal Gea?"
Asisten hanya garuk kepala,ia bingung."Enggak kenal dok, emangnya kenapa dok?"
Irvan sedikit kecewa dengan jawaban asistenya."ah sudahlah tidak usah di bahas,ya sudah panggilkan pasien berikutnya."
Gea memegang nomor antrian ke 68 ini hampir 70. "Ibu besok aja yah gimana ini lama banget bu.ibu pasti capek nanti."
__ADS_1
bu marni menghelah nafas berat kemudian ia tersenyum."Yauda Ge kita berobatnya lain kali aja mungkin ibu belum jodoh berobat yang gratisan."
"Yauda bu kalau gitu kita pulang sekarang yah."
Saat di jalan Gea dan ibunya berpapasan dengan Juragan Bani yang sedang mengendari mobil pick up yang berisi sayur-sayuran. Mobil itu perlahan berhentih.
Kemudian juragan Bani pun turun."Ini Ibu Marni sama Gea mau kemana?"
Gea memasang muka masam saat bertemu bandot tua ini lagi.
"Kita mau pulang ke rumah juragan." Bukan Gea yang menjawab tapi bu Marni.
"lo pulang emangnya ibu sama Gea gak ikutan berobat gratis di puskesmas sana."
"Enggak juragan, ngantrinya lama mending pulang dulu aja siapa tau belum rezeki."
"Bu, Marni ini gimana sih gak perlu berobat gratis kan saya ada bisa bantuin ibu buat berobat pakek uang."
"gak usah juragan sedangkan hutang saya kemarin saja belum resmi di bayar."
"Maaf juragan ibu saya sedang tidak enak badan kalau begitu saya permisi pulang dulu bersama ibu saya."
Gea terpaksa menarik tangan ibunya agar menjauh dari bandot tua itu.
"Suruh Gea menikah dengan saya bu, jika ingin hutang ibu lunas hehehe."Kata Juragan Bani mengembulkan asap rokok dari mulutnya ke udara
__ADS_1
"Jangan harap juragan!"Jawab Gea dengan rasa ketidak sukaan.
Berobat hari ini terpaksa di batasin sampai 40 saja selebihnya bisa besok lagi. Irvan merenungkan diri di kontrakannya ia kecewa karena tidak bertemu Gea hari ini.