
Mobil Irvan kini telah sampai di halaman depan rumah Tara pukul 9 malam. Malam itu membuat Kayra sangat mudah sekali mengantuk kemudian tertidur, karena Kayra memang begitu gadis itu bahkan akan mudah tertidur di atas pukul 8 malam.
Tara mengendong tubuh mungil Kayra di gendongannya saat itu pun Irvan dan Gea menawarkan diri untuk mengendong Kayra kekamarnya. Tapi Tara menolak.
''Tidak masalah aku bisa membawa putriku sendiri, oh iya Ge sepertinya sepatu Kayra tertinggal di bangku belakang mobil irvan. Tolong kamu ambilkan yah''. Setelah mengatakan itu Tara pun berlalu masuk kedalam rumah dan di ikutin Keano yang sedari tadi menguap akibat kantuk.
Gea juga sudah mengambil sepatu sebelah Kayra yang tertinggal di bangku belakang mobil Irvan. Kemudian ia dengan cepat melangkah maju berniat masuk ke dalam rumah, karena ia juga tidak ingin berada lama-lama di sini sebab ia masih sangat mengingat bagaimana Irvan memperlakukannya seperti zombie.
Sedari tadi Irvan menatap Gea seperti seokor harimau yang sedang mengawasi mangsanya. Kini Gea pun merasakannya, dia sangat tidak ingin berada di sini. Makanya dia menjauhinnya.
Belum sempat Gea melangkah. Tangan kekar Irvan kini telah mendarat di pergelangan tangan Gea. Setelah itu menarik sosok cantik itu merapat kedalam pelukannya.
"Mau kemana? apa kamu berusahah untuk menghindari ku?''
Scane yang ini sepertinya terasa lebih parah ketimbang kejadian beberapa jam lalu. Terasa begitu gugup di buatnya, bagaimana mungkin bahkan wajah Irvan sangatlah dekat dengan wajah Gea hanya saja hidung keduanya lah yang sebagai pembatas.
Apa lagi dada bidang Irfan tepat sekali begitu menganjal di dada Gea, rasanya sangat sesak, sepertinya Irvan memang sengaja melakukan hal itu.
''T-tuan aku mohon jangan lakukan hal ini, aku takut mbak Tara mengetahuinya_dan." Ucapan Gea terpotong saat Irvan menaru jari telunjuknya di bibir Gea.
''Husst, jika sedang bersamaku berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan, panggil namaku saja Irvan, apa kamu mengerti''
''maaf tuan tapi aku rasa, itu sangatlah tidak pantas. Kamu adalah majikanku"
''Ingat kamu boleh memanggilku Tuan jika di hadapan mereka, tapi ketika kamu sedang bersamaku panggil saja namaku''
''Rasanya terlalu canggung aku tidak bisa, tolong lepaskan aku''
''panggil aku Irvan atau bila tidak maka aku akan menciumu sebanyak 100 kali, cepat tentuhkan pilihanmu?''
''tolong jangan lakukan itu. Aku mohon''
''kalau gitu kamu harus mau memanggilku Irvan''
tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan pria yang ada di hadapannya ini, dari pada di cium 100 kali.
''Ah ok baik. I_Ir _irvan''
''Hmm bagus, kamu cukup pintar''
''Tapi bisakah Tu_ eh maksudnya kamu melepaskan aku, jujur ini sangat sesak''
''Benarkah tapi aku menyukainya, Irvan kembali berbisik mesra tepat di telinga Gea. Apa kamu tidak merasakan nafsu sedikit pun ketika posisi kita sedang seperti ini''
jelaslah pasangan manasih yang tidak terbawa nafsu ketika seorang pria memperlakukannya seperti sekarang. Gea merasa ada sensasi yang berbeda di saat Irvan memperlakukannya seperti ini. tapi Gea mencoba menyembunyikan rasa nafsunya, toh Gea kan gadis polos.
Belum sempat Gea menjawab. Tara berteriak berseruh memanggil nama Gea dari dalam rumah.
''Geaaa… Geaa …, apa kamu masih berada di luar."
sekeras apapun Gea berusaha tetapi Irvan tidak mau melepaskanya nya malah pria itu semakin mempererat pelukanya.
''Lepas! aku takut mbak Tara melihat semua ini''
''biar saja. Aku tidak perduli nanti juga dia bakalan tau jika kita saling menyukai"
Gea sungguh putus asa dengan lelaki mesum ini. Karena teriakan Tara semakin menjadi-jadi, dengan terpaksa Gea menendang kuat junior Irvan.
Irvan yang sangat merasakan sakit di jiniornya kemudian berhenti memeluk Gea, dia memegangin juniornya.
''Ahk sakit!! kenapa kamu menendang barang beharga milikku bodoh. Ini sangatlah sakit.'' Beberapa kali Irban mengumpat tetapi Gea telah hilang dari tempat kejadian .
__ADS_1
Kheno berkali-kali mengumpat kesal ia sangat meyakinin bahwa wanita yang di lihatnya saat di restoran itu adalah Tara. Dirinya kembali di hantui rasa bersalah, Kheno mengacak rambutnya sebal. Lalu kemudian tangannya beralih mengambil satu foto di dalam koper. Foto itu berisi satu moment penting yang di ambil saat acara pernikahan mereka berlangsung. Saat itu Tara sedang tersenyum dan Kheno juga ikut tersenyum namun bisa rasakan bahwa senyuman mereka merupakan senyuman paksa agar semua yang menyaksikan pernikahan mereka ikut merasakan senang jika kedua pasangan menikah karena saling mencintai padahal kebalikannya.
Berkali-kali Kheno tersenyum ketika membelai foto Tara. ''Aku bodoh karena waktu dulu aku tidak menyadarin bahwa aku memiliki bidari cantik, dan aku juga bodoh karena tidak menyadarin bahwa bidadariku tidak bersalah''
Saat membelai foto itu Kheno kembali
Teringat dengan kedua anak yang di
Temuinya dirumah sakit dan ia kembali teringat dengan kedua yang sedang bersama Tara mereka merupakan orang yang sama.
''Apa mereka berdua darah dagingku, sebab wajah mereka sangat mirip dengan ku terutama wajah Tara?''
tidak ingin menunda waktu lama Kheno langsung menelpon anak buahnya untuk menyelidikin data pribadi kedua anak itu.
Siang harinya terlihat sedan bewarna hitam pekat terparkir tepat di halaman sekolah Keano dan Kayra, di bagian belakang penumpang ada seorang pria yang sedari tadi mengamati gerak-gerik sekolah pastinya kalian samua sudah tau pria itu adalah Khano. Karena sebelumnya Kheno telah mendapatkan sebuah informasi dari anak buahnya bahwa Kedua anak itu bersekolah di sekolahan ini jadi ia harus segera menyelidikinya.
*Flashback*
'' apa yang telah kamu dapatkan dari informasi kedua anak itu "
'' ia tuan menurut penyelidikan saya kedua anak itu bernama Keano dan Kayra mereka berdua merupakan anak kembar dari seorang wanita yang bernama Tara Viola ''
''apa Tara Viola!"Kheno mendengarnya seakan terkejut jadi dugaan nya ternyata benar mereka adalah anak Tara dan kemungkinan besar mereka juga darah daging Kheno.
'' ada tuan! ''
"Sejak kapan aku mengetahui jika Tara hamil, bahkan waktu itu Tara tidak memberi tahu aku."
"tuan...tuan, kenapa tuan, kenapa tuan jadi diam"
''ah tidak ada, selain informasi itu apa kamu tau mereka tinggal di mana?''
''maaf tuan untuk hal saya tidak tau mereka tinggal di mana, tetapi menurut informasi kedua anak itu bersekolah Tunas Marga''
''baik tuan''
*flashback end*
Kheno membuka kaca jendela mobil sedikit setelah melihat kedua anak yang di carinya telah tiba di luar gerbang. Sepertinya mereka mereka menunggu jemputan.
Ini kesempatan Kheno untuk menghampiri kedua anak itu berhubung tidak ada siapa pun Yah termaksud Tara, karena yang Kheno tau tidak mungkin bertemu dengan Tara untuk saat ini karena dirinya sangat yakin Tara masih sangat marah padanya apa lagi jadi Kheno ingin melakukan hal yang terbaik yaitu mendekatin anak-anaknya terlebih dahulu.
Kelang beberapa detik Kheno langsung turun dari mobil dengan membawa 2 tas bingkisan berisi mobil-mobilan dan boneka barbie.
Kheno telah sampai menghampiri Keano dan Kayra.
''Hay anak manis, rupanya kita bertemu lagi''
Keano dan Kayra masih diam memandangin pria yang nampak tidak asing bagi mereka.
''Om siapa yah? tanya Keano.
''apa om mengenal kami?'' tanya Kayra juga.
Kheno berjongkok menyamai posisi kedua anak itu. Tangannya usil mengelus rambut Keano dan mencubit pelan wajah Kayra.
''Bagaimana kalian bisa melupakan om, bukankah kita perna bertemu di rumah sakit saat itu?''
''ooh jadi om yang tempo hari bertemu kami di rumah sakit_Kayra.
''Benar. Bagaimana mungkin kalian bisa melupakan wajah om yang tampan ini''
__ADS_1
''maaf om, soalnya kita benar-benar tidak tau_Keano.
Kayra terdiam mengamati seluru permukaan wajah Kheno.
''Berkat bertemu dengan om gigi aku tidak sakit lagi loh. Malah sudah sembuh_Kayra.
''Astaga benarkah, kamu bisa sembuh setelah bertemu dengan om?''
''iya om. jadi saat itu aku tidak butuh.dokter lagi''
''oh tuhan apa ini adalah feeling bahwa mereka benar-benar anakku jujur aku tidak dapat meragukan lagi aku yakin mereka anakku'' gumam Kheno dalam hati.
''Bagus kalau begitu om senang mendengarnya. Oh iya ini om punya hadiah untuk kalian berdua.''
mereka berdua telah menerimanya.
Mobil-mobilan dan boneka barbie.
''Bagaimana apa kalian suka,?''
''Kami sangat menyukainya, makasih yah om''
''iya sama-sama. Apa kalian sedang menunggu jemputan?''
''Iya om. Kita lagi nungguin mami buat jemput kita''_Keano.
"Nah itu mami udah datang bawa motor buat jemput kami."Ucap Kayra yang menunjuk satu fokus seorang wanita yang dengan santainya mengendarai motor metic.
Melihat hal itu Kheno langsung bersembunyi di balik pohon untuk mengamati target.
Tara telah sampai tepat di depan Keano dan Kayra dan segera turun dan membuka helmnya.
''Maaf mami telat jemput kalian soalnya tadi jalanan sempat macet''
"ia mi gak apa-apa kok''_Keano.
''Loh itu yang ada di tangan kalian berdua itu bingkisan siapa?''
''Ini hadiah dari om___ loh di mana om-om tadi yah''_Kayra.
''Oh iya yah tadi om nya kan di sini kok tiba-tiba ngilang?''_Keeno.
''Aduh kalian ini yah aneh-aneh aja, mami kan sudah bilang jangan menerima barang apapun dari orang asing''
''tidak mi. Om itu bukan orang asing om itu adalah om-om yang tempoh hari bertemu kita di rumah sakit''_Kayra.
''percaya deh mi, om nya sangat baik, buktinya dia beliin Keano mobil-mobilan dan juga mememberikan Kayra boneka barbie''_Keano.
''Aduh iya deh terserah kalian, jadi capek mami ngomonginya. ayo buruan kita pulang dan membahas lagi masalah ini di rumah.''
''Iya mi''_Keano dan Kayra.
motor Tara telah melajuh jauh Kheno pun langsung keluar dari balik pohon.
Rupanya setelah 6 tahun wanita itu masih sama tetap tidak berubah. Masih saja cerewet tapi di balik itu semua Jujur dirinya sangatlah merindukan wanitanya. Punya keinginan saat ini untuk memeluknya di dalam dekapan hangat.
Memilih menghampirinya lalu kemudian memeluk nya itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri.
Tidak terbayangkan bagaimana marahnya Tara saat Kheno tiba-tiba datang setelah sekian lama.
Kheno membuka telapak tangan kanannya dan di situlah ia mendapatkan alamat rumah Tara yang sedari tadi ia dapat dari Keano.
__ADS_1
''aku tau terlalu berat bagimu ketika melewati hari-hari yang melelahkan itu, kamu berjuang menghidupkan anak-anakku sendirian tanpa adanya aku, aku benar-benar bodoh karena telah membiarkan mu bergitu tersiksa dan lihat saja nanti aku pasti bisa membawa mu kembali pulang bersama anak-anak kita dan kita akan membuat keluarga kecil yang berbahagia, aku yakin itu''