
Renita membulatkan tanggal 22 november pada kalerder di kamarnya ia sering melakukan ini jika menjelang pergantian tahun.
'Semoga di tahun ini ibu bisa menemukan mu nak?'
Putri lagi-lagi tidak dapat memuntahkan seluruh makanan di dalam perutnya, kehamilan ini benar-benar membuat ia merasa kewalahan.
"Putri..ayo kita sarapan dulu..."Renita mengetuk pintu kamar putri, seolah tak ada jawaban dari dalam kamar Renita memberanikan diri untuk masuk ke dalam."Putri..apa kau di kamar mandi?"
Tanpa sengaja Renita melihat sebuah benda pipih yang tipis yang ia ketahui itu adalah alat tes kehamilan. Tidak ingin menunda waktu lama segera Renita melihat alat tes kehamilan tersebut.'Ha, dua garis biru, apa jangan-jangan Putri...?"
Belum selesai Renita melanjutkan pemikirannya kini Putri telah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat.
"Mama.."Kedua mata Putri membulat di saat melihat ibu sambungnya memegang alat tes tersebut."Ma..apa yang mama lakukan!"Putri dengan cepat merebut alat itu dari tangan ibu sambungnya, wajah Putri murung seperti menyimpan banyak kesedihan.
"Kamu..ham...
"Ma..!!cukup jangan di lanjutkan aku takut papa akan mendengar..hiks hiks..aku harap mama tidak banyak bicara kepada papa.."
"Katakan kepada mama, pria mana yang telah menghamilin mu Put? Apa Arga pria kemarin yang waktu itu datang menjemput mu ke rumah."Ucap Renita yang saat ini tenga mengecilkan suaranya.
__ADS_1
Putri menunduk sedih, berharap mama sambungnya ini bisa mengerti dengan kondisinya saat ini.
"Ayo duduklah, mama sangat mengerti apa yang kamu khawatirkan mama berjanji tidak akan memberi tahu hal ini kepada papa mu, asal dalam waktu dekat ini pria itu mau tangung jawab dan mau menikahi mu."
Putri duduk di pinggiran ranjang bersam mama sambungnya, dan ia sangat legah karena mamanya ini bisa mengerti kondisinya.
"Kira-kira berapa usia kandungan mu?"
"3 bulan ma. Dan mama tenang saja Arga akan segera tangung jawab mungkin dalam waktu dekat ini Arga bersama kedua orang tuanya akan datang kemari untuk membicara kan perihal pernikahan ini."
"Syukurlah mama cukup tenang mendengarnya, lalu apa yang sekarang kau rasakan, apa kau menginginkan sesuatu?"Renita bertanya lembut di sertai nada keperdulian.
"Jangan membedakan seperti itu Put, meski kau bukan anak kandung mama tapi mama sudah menyayangin mu seperti layaknya anak."
"Makasih yah, Ma, aku janji aku gak akan pernah jahat lagi sama mama."Putri memeluk Renita dengan sayang. Begitu pun Renita yang membalas pelukan Putri.
...****************...
Pada pagi harinya Irvan mengajak Gea ke sebuah Butik besar untuk membelanjakan Gea pakaian dan juga make up.
__ADS_1
"Silakan pilih baju mana yang kau suka?"
Gea memang tertarik melihat semua baju-baju yang tergantung di mana-mana ini, tapi ia tidak berkeinginan untuk membeli salah satu dari deretan baju tersebut di karenakan tarifnya yang mahal.
"Kita ke tempat baju-baju murah aja yuk, di sini sangat mahal."
Irvan tersenyum getie melihat tingkah Gea, apa dia pikir Irvan tak memiliki banyak uang untuk memborong ini semua. Pada akhirnya Irvan memanggil salah satu karyawati untuk membantu Gea memilih baju yang pantas untuknya.
"Tolong carikan baju yang cocok untuk calon istri saya bila perlu make over calon istri saya sampai saya tidak berhasil mengenalinnya"
"Baik pak, saya mengerti. Mari mbak ikut saya ke dalam.."
1 jam 2 menit lamanya Irvan menunggu Gea di make over, kini mereka telah membawa Gea kepadanya.
Gea menunduk malu saat Irvan lebih dalam menatap dirinya dengan penampilan baru.
"Dongakkan wajah mu Ge, tidak perlu menunduk kau sangat cantik sekarang ini."
Gea jadi tersipu malu ketika Irvan memuji penampilannya.
__ADS_1