
Matahari pagi menyeruak masuk begitu saja ke dalam bilik kamar milik Tara. Sebelum membuat sarapan untuk kedua anaknya Tara menyempatkan diri tertawa terbahak-bahak di ranjangnya sebari melihat gambar yang ia hasilkan semalam.
Kheno merasa tidak begitu nyaman saat bangun tidur, entah kenapa seluru tubuhnya terasa kaku, dan ada beberapa saraf tubuhnya yang kesakitan. Beruntung ubin kamar Tara di lapisi dengan ambal berbulu tebal jadi bila terjatuh tidak akan merasakan sakit yang lebih dalam. Mau bergerak saja rasanya tidak bisa.
"Loh kok aku malah tidur di bawah sih bukannya semalam aku tidur di ranjang"tanya Kheno dalam setengah sadar, ia pun berdiri dan duduk di pinggiran ranjang di dekat Tara.
Tara melihat Kheno sembari menutup mulutnya agar tidak tertawa. Bagaimana mungkin gambar yang ada di wajah Kheno masih utuh sepenuhnya. Coba aja jika ada pewarna lain seperti hijau untuk mewarnai pohon, kuning untuk mewarnai matahari,dan biru untuk mewarnai awan mungkin ia akan lebih mahir.
"Kamu sengaja yah dorong aku nyampe jatuh ke lantai!"
"Ia kalau bukan aku siapa lagi! makanya kan aku suruh kamu tidur di sofa terus kamu ngapain juga pakek pindah keranjang dan seenak jidat peluk-peluk aku!"
"Kamu yang gila! bagaimana mungkin kamu biarin aku tidur di sofa sekecil itu! itu sangatlah membuatku tidak merasa nyaman."
"kok kamu nyolot sih! kamu emang gak inget dulu gimana cara kamu nyuruh aku tidur di sofa!"
"Kenapa jadi kaitan nya masalalu! Yang aku bahas masa kini! Tapi setidaknya dulu aku menyuruhmu tidur di sofa yang besarnya melebihi tubuh mu. Dan bukannya kamu merasa nyaman tidur di sofa itu!"
Tara hanya diam dan tidak dapat berbicara, sedari tadi ia menatap wajah Kheno. Walau sebenarnya masih tersirat tawa di bibirnya.
Kheno begitu kesal dengan tingkah Tara."Lihat gara-gara kamu seluruh tubuh ku jadi kesakitan semua!, bagaimana pun aku seorang dokter yang profesional kecil kemungkinan ini akan berakibat fatal untuk dokter tampan seperti ku."
"Lalu apa urusannya dengan ku!"
"Tolong beri aku sedikit ciuman di pagi hari.l aku rasa ketika mendapatkan ciuman dari mu seluru tubuhku akan lekas kembali,"
"Tuh cium aja tuh guling..." Tara melemparkan sebuah guling ke Kheno.
Kheno tersenyum kecut, menaru kembali bantal itu di samping kirinya. Kemudian ia berjalan mengambil handuk untuk mandi.
"Taraa……Apa yang kamu lakukan pada wajah tampanku……"
Tara hanya bisa cekikikan ketika mendengar teriakan Kheno yang Menggema dari dalam kamar mandi.
Pagi ini jam 08.00 WIB. Kheno dan Tara menyempatkan diri untuk datang kesekolahnya Kekay karena mendapatkan undangan pentas yang di adakan dari sekolah nya. Beruntung pagi hari ini Kheno tidak memiliki jadwal dengan pasien, jadi ia bisa leluasa menemani kedua anaknya. Kheno masih menatap Tara dengan aura kesal, bisa-bisanya wanita yang ada di samping nya itu mencoret-coret wajahnya itu dengan Liptick berwarnah maroon. Lihatlah mulai malam ini ia akan memberinya pelajaran di atas ranjang.
"Mami sama papi tungguh di bangku yang di situ aja yah,"Tunjuk kedua anaknya.
Keano dan Kayra menyuruh mami dan papi nya untuK duduk di bangku penonton pentas, di sana sudah banyak sepasang orang tua yang turut serta hadir ke pentas seni sekolah anak-anak mereka.
"loh, jika papi dan mami duduk di bangku itu terus kalian? Bukanya kalian gak ikut pentas, yah udah duduk bareng kita aja tuh di sana juga banyak kan teman-teman kalian yang ikut nonton."
__ADS_1
Seketika Kayra dan Keano saling melempar pandang, mereka terlihat memang sudah merencanakan sesuatu dari awal yang nyatanya rencana ini lah yang akan memberikan sebuah kejutan untuk kedua orang tuanya. Namun sebisa mungkin mereka berdua mencari sebuah akal.
Keano langsung bicara cepat, ketika melihat sorot mata mami nya yang berusaha menyelidiki dirinya.
"Mi... pokokya nanti kita akan duduk sama papi dan mami tapi tungguh sampai urusan kita selesai dulu yah."
"Urusan apa?" tanya sang papi yang juga terlihat penasaran.
"Aduuhh Mami! Papi! Pokoknya kita bakalan kembali setelah urusan kita selesai yah. Pokonya mami sama papi duduk aja dulu di kursi paling depan sebelum tempat itu ramai. Dah mami dah papi." Ucap Kayra tegas sebari menarik tangan Keano menuju ruang tempat pentas.
"Sebenarnya mereka punya urusan apa? Hahaha lihat lah mereka sama percis seperti ku yang mempunyai banyak urusan." Ujar Kheno berbicara sambil melirik Tara yang masih berdiri di sampingnya.
Tara membuang nafas kasar, sebari tangannya ia lipatkan di depan dada. Tara menatap Kheno sinis.
"Yah aku hanya bisa berdoa agar kedua anakku tidak memiliki sifat yang sama seperti mu!" Kata Tara, setelah mengatakan itu ia pun segerah melangkahkan kakinya menuju kursi paling depan.
"hei tunggu…Ada apa dengan sikap mu?...''
"diamlah, aku tidak ingin semua orang tau tentang perdebatan kita"
''Oh ok baiklah Aku akan diam," Kata Kheno terlihat pasrah.
Gea begitu bersyukur karena semua pekerjaan dalam membersihkan bagian dalam tokoh kue telah selesai. dan tiba lah saatnya ia membuat beberapa kue kering.
Baru saja saja ia memasukan 5 butir telur dan gula kedalam wadah seketika Gea langsung berhenti melakukan semua aktivitas itu. Gea melihat ada sebuah mobil
Berhenti tepat di depan tokoh kue, yang ia sudah ketahui itu adalah mobil milik Irvan.
Deg! Lagi-lagi perasaan nya campur aduk antara mau melanjutkan membuat kue dan mengabaikan kehadiran Irvan. Irvan mulai masuk dalam tokoh kue, karena pintu tokoh memang tidak terkunci.
Ingin membuka suara saja rasanya terlihat berat. Namun pada akhirnya sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangan Gea.
"Kamu harus ikut aku sekarang juga!'' Kata irvan tegas.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa menarik tangan ku seperti ini!"
''Aku mohon jangan menolak karena ada sesuatu yang penting yang harus aku tunjukan pada mu"
"Maaf aku tidak bisa, aku juga memiliki pekerjaan yang harus aku selesai kan, aku harus membuat kue-kue dulu sebelum memutuskan untuk pergi bersama mu." kata Gea sedikit melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam tokoh.
Rupanya wanita ini juga terlihat keras kepala, Irvan pun dengan sigap mengendong tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa harus mengendongku, lepaskan aku! hei kamu tidak bisa membawa ku begitu saja!"
"Jangan khawatir aku sudah menggantikan posisi mu dalam membuat beberapa kue yang enak, dia adalah seorang chef yang handal dan juga beberapa kue yang dia buat jauh lebih berkelas!"
Gea menatap Irvan tak percaya bisa-bisa nya ia menyamakan dirinya dengan seorang chef yang berkelas di banding dirinya.
"Apa! Hei kamu tidak bisa melakukan semua itu dengan seenak jidat bagaimana pun itu adalah pekerjaan ku!"
''Hei kenapa kamu menjadi seberani ini dengan ku, bukanya kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya ehmm maksud ku entah kenapa kamu menjadi sedikit agresif.''
Gea menjadi bingung harus menjawab seperti apa lagi. Pada akhirnya ia pun pasrah, Gea menjatuhkan punggungnya di punggung kursi belakang mobil. Toh ia pun baru sadar bahwa Irvan membawa seorang sopir.
"Kenapa hanya diam Apakah kamu telah kehabisan kata-kata?"
tidak ada jawaban sama sekali dari mulut Gea, Irvan pun bingung harus berbuat apa lagi. Seketika Irvan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Gea.
Gea yang merasa terkejut berusaha menyingkirkan kepala Irvan dari pangkuannya.
"Tolong biarkan seperti ini, biarkan aku tertidur nyaman di atas pangkuan mu taukah kamu aku sangat kelelahan..." Lirih Irvan pelan setelah itu ia langsung memejam kan mata.
Gea pun seketika luluh dengan berhenti untuk menyuruh Irvan agar tidak tertidur di atas pangkuannya. Gea pun Reflek memberikan sentuhan lembut tanganya untuk membelai kepala Irvan.
Sang supir yang ada di depan hanya bisa menahan senyum melihat keromantisan yang jarang terjadi seperti ini.
(Pas kalian baca adegan waktu Irvan tidur Di atas pangkuan Gea, saran Gue kalian sebaiknya ngedenger lagu india yang judul
Nya Kaun tujhe 📀.)hehehe romantis nya dapet oof jadi gak tega ngebuat Irvan mati di di Ending story 😌. Tapi entahlah lihat saja nanti.
Yok ah lanjut besok yah.,
__ADS_1