
Keluarga kecil Elvaro berada di taman yang berada di samping masion. Pemandangan disana sangat lah indah karena langsung menghadap ke arah laut
Angin sepoi-sepoi menghiasi kegiatan mereka. Elvaro mengajak kedua putranya untuk belajar bela diri
Ia terkejut mengetahui jika Nathan sudah mempelajari segala jenis bela diri di usianya yang masih muda "Siapa yang melatih mu?" tanya Elvaro pada sang putra
"Uncle Rei, dia yang melatih dan memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis bela diri" jawab Nathan dengan sangat antusias
Kini Elvaro sangat penasaran dengan sosok Rei, kalau tidak salah saat itu Rei memanggilnya kakak ipar. Apa dia adik angkat sang istri? Mungkin nanti akan ia tanyakan pada Elena
Mereka bertiga pun kembali berlatih. Narendra pun juga ikut, meskipun dirinya sangat menyukai dunia IT. Tapi bela diri juga sangat penting, ia adalah kakak kedua adiknya jadi harus bisa melindungi mereka. Meskipun keahliannya tidak sebaik Nathan, tapi dirinya tetap terus berlatih
Sementara Elena dan Nayra berada di gazebo yang tidak jauh dari sana. Elena sedang melukis pemandangan yang berada di depannya sedangkan Nayra menggambar di buku gambar
Sungguh semua kebutuhannya dan yang lain lengkap berada di masion. Bahkan Rei juga menyiapkan alat lukis dan gambar. Perencanaan yang sangat matang
"Hatcuhh"
"Anda tidak apa-apa master?" tanya Yon
Rei menggelengkan kepalanya "Kau bisa kembali bekerja"
'Siapa yang sedang membicarakan ku' batinnya
***
Tok tok tok
"Masuk" titah Rei yang masih fokus dengan dokumennya
Seorang pria berkacamata memasuki ruangan "Saya ingin melaporkan perkembangan kerja sama kita dengan pemerintahan Indonesia tuan" ucap San yang masih berdiri di depan meja kerja
Rei meletakkan dokumen nya dan menatap serius San "Duduklah"
"Go sudah berhasil menjalin kerja sama dengan pemerintahan Indonesia. Roku dan Shichi sudah menyelesaikan pembangunan markas. Dan perusahaan yang dipegang Ni menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi keluarga Wijaya dibantu oleh Ichi "
Rei mengangguk "Apa William sudah pergi ke Rusia?"
"Sudah master, pagi tadi dia sudah terbang ke Rusia"
__ADS_1
Rei meminta William untuk kembali ke Rusia dan mewakili Elvaro untuk mengurus perusahaan. Meskipun sebelumnya sempat menolak, tapi Rei langsung memberikan pengertian jika sekarang Elvaro sedang memperbaiki hubungannya dengan Elena. Dan tidak bisa diganggu
Akhirnya dengan terpaksa William kembali ke Rusia tanpa Elvaro
"Kau bisa kembali bekerja"
San mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan
Setelah kepergian San, Rei berdiri dari duduknya dan menghadap kaca yang langsung memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit
Tangannya menggenggam kalung dengan liontin matahari di lehernya "Aku akan segera memenuhi janjiku, jadi tunggulah aku disana ayah mamah" gumamnya meneteskan air matanya
Lalu ia merogoh sakunya dan mengambil sebuah kalung salib. Kilatan kebencian terlihat di matanya, bahkan tanpa sadar ia menggenggam erat kalung itu "Tunggulah pembalasan ku Albert" gumamnya
Mata biru yang tadinya mengeluarkan air mata bening berubah menjadi darah. Ia menghela nafas lalu mengambil tissue membersihkan darah itu
***
Elena menikmati angin malam di balkon sembari melihat keindahan air laut yang memancarkan sinar bulan
Ia sedikit terkejut melihat tangan kekar yang melingkar di perutnya. Tidak perlu ditanyakan lagi siapa, siapa lagi jika bukan Elvaro
Elena terkekeh dengan sifat cemburu dari suaminya "Apa kah suami ku ini cemburu dengan sinar bulan hmm" godanya mencubit pipi sang suami
Elvaro tidak menjawab dan semakin mengeratkan pelukan diantara mereka. Seolah baru teringat sesuatu, Elvaro menatap wajah sang istri "Honey, ada yang ingin kutanyakan padamu"
"Apa hmm?"
Ia sedikit ragu untuk menanyakan hal ini, tapi di sisi lain ia juga penasaran "Ini soal Rei, siapa dia?"
Elena terdiam sejenak lalu melepaskan pelukan di antara mereka dan menatap lagi ke arah laut
"Ada apa honey? kau tidak ingin memberitahu ku?"
Elena menghela nafas dan menatap sang suami "Dia adikku"
"Adik angkat?"
Elena menggelengkan kepalanya "Dia adik kandung ku"
__ADS_1
Elvaro terkejut mendengarnya, bukan kah Elena adalah gadis yatim piatu dan tidak memiliki sanak saudara "Bagaimana bisa? bukankah adikmu perempuan tapi sudah tiada karena kecelakaan bersama orang tua mu"
"Itu memang benar"
Elvaro semakin dibuat bingung "Lalu kenapa kamu menyebutnya adik kandung?"
Elena menghela nafas "Maafkan aku, tapi itu bukanlah ranah ku untuk menceritakan hal ini. Suatu saat Rei akan menceritakan nya sendiri"
Melihat raut sedih sang istri, Elvaro langsung memeluk Elena "Tidak apa-apa, sebaiknya kita tidur. Hari sudah malam"
***
Drt drt drt
Elvaro terbangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas
"Halo" sapanya dengan suara serak khas bangun tidur
[Varo kamu dimana?]
Elvaro membuka matanya dan melihat siapa yang meneleponnya, ternyata dari sang mommy
[Halo Varo]
"Iya mom, ada apa?"
[Astaga, kau masih bertanya ada apa? Dimana kamu sekarang. Kata William kau pergi memperbaiki hubungan mu dengan Elena. Tapi sampai sekarang belum ada kabar. Apa kau tau besok adalah sidang perceraian mu]
Elvaro menepuk dahinya, sungguh ia lupa jika masih ada masalah itu. Bahkan ia tidak menyangka jika sudah seminggu dirinya berada di Jepang "Aku akan kembali ke Rusia mom, bersama dengan Elena. Jangan khawatir"
[Kau sudah menyelesaikan salah paham di antara kalian?]
"Sudah mom, aku tutup ya. Aku takut menggangu Elena tidur"
[Baiklah, kabari mommy jika sudah sampai di Rusia]
Setelah itu panggilan terputus, Elvaro menatap wajah sang istri yang sangat nyenyak tidur nya tanpa terganggu
Bersambung~
__ADS_1