
"Baik, saya akan membawakan para gadis muda untuk digunakan sebagai bahan percobaan. Anda tenang saja, saya pasti memenuhi permintaan anda" setelah itu panggilan terputus
Pria itu sangat terkejut ketika membalikkan badan melihat seorang gadis didepannya. Apa jangan-jangan gadis ini mendengar semuanya? Jika benar maka dia harus disingkirkan
Dor
Tembakan meleset dan melubanginya tembok di belakang Putri. Saat ini dirinya benar-benar marah, tangannya mengepal dengan sangat kuat. Perlahan mata kirinya mengeluarkan darah dibalik topengnya
Gerakannya sangat cepat mengambil belati di pinggangnya dan melemparkannya tepat di lengan pria itu
"Sial" umpat pria itu kembali menembakkan peluru
Putri menghindar dengan sangat baik dan bersembunyi di balik sofa. Dan mengambil pistol nya dan terpasang di alat yang menempel di pahanya
Dor
Ia menembak tepat sasaran, tepat di kaki pria itu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia dengan cepat mengunci pergerakan pria itu
"Katakan siapa bos mu?" desis Putri dengan tatapan tajamnya
"Itu tidak ada urusannya dengan mu, aku tidak akan pernah memberitahukannya"
Putri semakin kesal dibuatnya, ia mengambil belatinya yang ia lemparkan tadi dan menyayat tangan pria itu tepat di nadinya
"Inilah akibatnya, jika kau tidak memberi tahuku. Aku pastikan kematian mu akan secara perlahan, tapi jika kau mengaku. Aku akan memberikan kematian yang mudah" ia pun mengikat kedua tangan pria itu menggunakan dasi pria itu sendiri
Lalu beralih pada komputer dan ponsel yang digunakan tadi. Dengan bermodalkan ponsel yang Putri bawa, ia menyalin semua data di komputer dan ponsel. Hanya menyalin, tidak dengan menghapus karena itu akan menimbulkan kecurigaan nantinya oleh bos pria itu
Cukup lama ia berkutat untuk menyalin dokumen karena hanya bermodalkan ponsel saja "Simpan data itu baik-baik Raphael"
[Konfirmasi. Perintah dilaksanakan] suara sistem yang keluar dari ponsel Putri
Brakk
"Sudah selesai?" suara bariton terdengar di telinga Putri
Ia menatap pria yang baru saja masuk dengan wajah datar dan dinginnya "Sudah, anda bisa membawanya"
Dengan santai, Putri berjalan melewati Aidan dan pasukannya. Tapi tangan nya tiba-tiba dicekal "Ada apa?"
"Apa yang anda cari tadi?" sekilas ia melihat gadis didepannya ini berkutat dengan komputer yang ada disana
Sebagai seorang panglima, ia curiga dengan apa yang dilakukan gadis didepannya. Bisa saja kan hal itu adalah hal yang dapat membahayakan negara
Putri menyentak tangannya untuk lepas tapi cekalan itu semakin erat "Itu bukanlah urusan anda"
"Itu akan menjadi urusan saya jika anda melakukan hal yang dapat merugikan negara"
"Kesepakatan antara organisasi dan pemerintahan, kami bisa melakukan apapun selama misi telah selesai. Dan sekarang misi sudah selesai, jadi apapun yang saya lakukan itu tidak ada sangkut pautnya dengan anda"
Mereka berdua terus melemparkan tatapan tajam, dan membuat para bawahan yang ada disana ketakutan karena aura yang dikeluarkan keduanya
'Astaga, mereka seperti dua kulkas yang berjalan' batin para bawahan
Mata tajam Putri melihat siluet pemimpin pemberontak bergerak, dan detik itu juga tembakan meluncur ke arahnya
__ADS_1
Dengan gerakan gesit, ia menghindar tapi tetap saja terkena tembakan. Dan menggores pelipisnya hingga tali topengnya putus, tidak sampai disitu ia juga kehilangan keseimbangan hingga jatuh dan menindih Aidan
Mata mereka saling bertemu, Aidan sangat terkejut melihat wajah gadis di depannya. Mata gadis itu yang berbeda warna, biru dan violet dan sangat mirip dengan... persis
"Nayra" gumamnya
Begitupun Putri yang juga sangat terkejut, tapi dengan cepat ia bangkit dan menutup setengah wajahnya dengan tangan dan hanya menyisakan matanya
Melihat pemimpin itu yang masih hidup, ia mengambil belatinya dan melemparkannya tepat di jantung sehingga pria itu langsung mati
Sebelum benar-benar pergi, ia menatapku Aidan yang masih di posisi sama dengan tajam
"Panglima" panggil salah satu bawahan
Aidan dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dan berdiri seolah tidak terjadi apapun "Bereskan semuanya, dan kirim pemberontak yang masih hidup ke kantor polisi" lalu ia pergi dari sana
Pikirannya saat ini kacau, mengingat wajah pemimpin organisasi Angel Night. Apakah dia adalah Nayra? Gadis yang ia cintai, atau hanya gadis yang kebetulan memiliki wajah yang sama persis. Ia harus menyelidiki hal ini
***
"Kamu kenapa melamun terus Key?" tanya wanita paruh baya yang masih cantik di usianya, ia adalah istri Arka, Mareta Vandyke
"Tidak ada mi, hanya memikirkan kejadian tadi siang" balas Keysa menatap langit malam
Kening Mareta mengenyit dan duduk di samping sang putri "Ada apa hmm?"
Kesya menghela nafas pelan dan menatap sang mami "Aku bertemu dengan orang yang mengajak kerja sama papi"
"Lalu?"
Kini Keysa menatap mata sang mami dengan tatapan sendu "Mami tau, orang itu memiliki kemiripan dengan Nayra" air matanya kembali luruh
"Besok kita akan mengunjungi Nayra, kamu jangan sedih lagi okey"
Keysa mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang mami
***
"Panglima, saya ingin melapor penyelidikan" ucap seorang pria yang berpakaian militer menghadap sang panglima
"Lanjut kan" jawab singkat sang panglima menatap asistennya dengan datar
"Kami kesulitan untuk mencari informasi tentang pemimpin Angel Night karena organisasi itu memiliki sistem yang sangat kuat. Maafkan ketidaksanggupan saya" ucap sang asisten menundukkan kepalanya
Sang asisten memberikan sebuah kantong yang berisi belati di meja Aidan
"Kau bisa pergi"
Sang asisten mengangguk dan keluar dari ruangan
Setelah kepergian sang asisten, Aidan menatap belati yang terlihat sangat cantik namun juga tajam dengan gagang berwarna biru terang dan mengkilap
Lalu ia beralih mengambil foto yang selama ini selalu dipajang di meja kerjanya
Tatapannya yang sebelumnya tegas dan dingin langsung berubah menjadi sendu, penuh kerinduan
__ADS_1
"Apa yang kulihat itu adalah dirimu Nay? Apa benar kau masih hidup? Tapi waktu itu aku melihat sendiri kamu dikebumikan. Bolehkah aku egois jika itu adalah dirimu, atau hanya orang yang sekilas mirip dengan mu"
***
"Permisi tuan, didepan ada tamu yang ingin menemui anda"
Arka yang sedang sarapan bersama keluarganya mengenyitkan dahinya. Siapa yang bertamu "Siapa yang bertamu?" tanyanya pada pelayan tersebut
"Katanya nona Elena tuan"
"Baiklah, aku akan segera kesana"
Pelayan tersebut mengangguk dan pergi dari ruang makan itu
"Siapa mas?" tanya Mareta
"Dia adalah orang yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan"
"Tapi ada urusan apa, nona Elena datang?" tanya Keysa
"Papi juga tidak tau, lebih baik kita menemuinya"
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka pergi ke ruang tamu. Tempat dimana Elena sedang menunggu sang pemilik rumah
"Selamat pagi tuan Arka" sapa Elena
"Selamat pagi nona Elena" balas Arka menjabat tangan Elena lalu beralih pada Elvaro
Begitupun dengan Mareta dan Keysa
"Maaf saya menggangu anda pagi-pagi sekali" ucap Elena memulai percakapan
"Tidak apa-apa nona Elena, jika boleh saya tau apa tujuan anda kesini?"
Elena tersenyum tidak menjawab dan beralih menatap Nayra yang duduk di pangkuan nya
Nayra yang mengerti apa maksud sang mamah, turun dari pangkuan "Maafkanlah Nayra kemarin aunty yang membuat aunty menangis" ucapnya menundukkan kepalanya
"Aku juga aunty, maaf kemarin sudah menanyakan hal yang membuat aunty menangis" tambah Nathan yang juga menundukkan kepalanya
Narendra pun juga ikut berdiri di samping dua kembarannya dan menatap wajah Keysa "Maafkan kedua adikku aunty"
Keysa sendiri dibuat terkejut, tapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya dan kini berdiri didepan triple twins menyamakan tinggi badannya "Tidak apa-apa sayang, aunty memaafkan kalian. Sudah ya jangan bersedih dan merasa bersalah"
Nathan dan Nayra tersenyum cerah "Terimakasih aunty" ucap keduanya langsung memeluk Keysa sementara Narendra hanya diam dan tersenyum tipis
Elena sendiri tersenyum melihat triple twins yang mau mengakui kesalahan mereka. Lalu ia beralih menatap sang suami
Keningnya berkerut melihat tatapan sang suami yang ke arah lain dan mengikuti arah tatapan sang suami yang ternyata pada sebuah foto dengan bingkai yang cukup besar terpajang di ruang tamu
Raut terkejut tercetak di wajah Elena melihat foto seorang gadis yang tersenyum lebar bersama dengan keluarganya
"Permisi, jika boleh saya tau siapa gadis yang duduk di foto itu?" tanya Elena
Mareta yang melihat arah keduanya melihat tersenyum dengan tatapan sendu "Dia adalah putri kedua saya"
__ADS_1
Elvaro dan Elena saling pandang sejenak berbicara melalui isyarat mata
Bersambung~