
Keluarga kecil Elvaro berkumpul di taman yang berada di belakang masion. Taman yang dipenuhi dengan bunga yang di tanam oleh Caroline
Triple twins bermain bersama di gazebo yang berada di sana bersama Elena. Sementara Elvaro dan Aidan mengobrol di bangku dekat taman
"Ada apa? Kenapa kau sedari tadi menatap istri ku?" tanya Elvaro dengan datar dan dingin
Aidan menatap Elvaro dengan wajah datarnya juga, memang ia akui jika sedari tadi ia mencuri pandang dengan kakak iparnya. Ya benar kakak ipar karena usia mereka juga terpaut 2 tahun. Ia menghela nafas pelan
Elvaro yang melihat gelagat Aidan yang seperti memikirkannya sesuatu langsung mengerti "Kau masih belum melupakannya?"
Meskipun mereka terpisahkan jarak yang jauh, tapi komunikasi diantara mereka sama sekali tidak terputus
Terlihat Aidan tersenyum kecut "Kau benar kak, memang aku belum bisa melupakannya. Dan sekarang kau tau, kakak ipar sedikit memiliki kemiripan wajah 'dengannya' dan putri mu memiliki nama yang sama 'dengannya' "keluhnya mengusap wajahnya kasar
"Tunggu, apa maksudnya? Apa dia juga memiliki nama yang sama dengan putri ku?"
Aidan mengangguk "Hanya nama panggilan saja"
Elvaro berfikir sejenak, nama yang sama dengan putri nya. Apakah adik ipar?
Ia segera menggelengkan kepalanya, itu tidak mungkin. Tapi kenapa firasatnya memang benar, entahlah. Tapi di dunia yang luas ini tidak hanya adik iparnya yang memiliki nama itu bukan, yah benar itu tidak mungkin orang yang sama
"Hari ini adalah hari peringatan nya?" tanya Elvaro memastikan, ia tau kebiasaan Aidan beberapa tahun ini yang selalu berkunjung di tanggal yang sama setiap tahunnya
Aidan mengangguk, sorot mata yang selama ini tegas sekarang menjadi sendu "Aku tidak sanggup untuk datang ke acara peringatan nya kak"
Elvaro mengganguk dan memberikan tepukan di pundak Aidan "Terus lah bersemangat, kau adalah tentara dan juga penjinak bom terbaik"
Karir Aidan berada di tentara dan juga penjinak bom terbaik. Ada alasan tertentu kenapa ia memilih menjadi penjinak bom yang pasti selalu berhadapan dengan yang namanya kematian
Setelah cukup lama mereka berbincang, Aidan memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya pulang ke negara yang selama ini ia tinggali
Saat akan keluar dari gerbang masion, pandangannya tertuju pada mobil yang baru aja masuk. Hal itu ia acuhkan karena mungkin itu adalah tamu kakak sepupunya
***
"Elvaro bangsat, dimana kau" teriak seorang gadis yang menggelegar di masion
__ADS_1
Uhuk uhuk
Elvaro langsung tersedak oleh minuman yang baru saja masuk ke kerongkongan nya
Seorang pria yang seorang bodyguard menghampiri Elvaro "Maafkan saya tidak bisa menghalangi gadis yang menerobos masuk tuan" sesalnya
Bahkan ia malu disebut bodyguard karena tidak bisa mengalahkan gadis yang tubuhnya lebih kecil darinya
Elvaro mengibas-ngibaskan tangannya "Tidak apa-apa, dia adik istriku. Biarkan saja masuk"
Bodyguard itu mengangguk lalu pergi dari sana. Tidak lama kemudian, gadis yang berteriak langsung mencengkeram kerah baju Elvaro
"Kak, apa yang kau lakukan. Lepaskan" pinta Al yang tidak ingin terjadi apa-apa diantara mereka
Ia bisa memastikan akan terjadi suatu hal seperti perkelahian, karena saat ini sang kakak sedang mencari pelampiasan keram di perutnya
"Ada apa ini?" suara lembut Elena langsung membuat cengkraman tangan Putri mengendur
Ia segera menghampiri sang kakak dan membolak-balikkan tubuhnya "Kau tak apa kak"
"Aku mendapatkan kabar jika kakak terlihat kelelahan"
"Dari siapa?"
"Narendra"
Narendra hanya menampilkan wajah santai nya dan menatap sang mamah "Aunty meminta ku memberi kabar jika mamah sakit"
"Tenanglah, kakak kelelahan biasa" ujar Elena menenangkan sang adik yang sudah seperti api, hanya diberi percikan minyak sudah meledak-ledak
"Apa yang terjadi? Kenapa kakak bisa kelelahan? Apa bajingan itu membuat mu kelelahan? Akan ku beri pelajaran dia" cecar Putri yang langsung kembali mencengkeram kerah baju Elvaro dan memberikan pukulan di wajahnya
Tapi sebelum pukulan itu mendarat di pipi Elvaro, ia langsung menahan pukulan dari adik iparnya "Hey tenanglah"
"Kak El, tolong tenangkan dia. Sekarang pasti dia sedang ingin melampiaskan semuanya pada kakak ipar" keluh Al yang terlihat frustasi dengan perkelahian di depannya
"Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan" hanya satu kemungkinan adiknya bisa seperti ini
__ADS_1
"Benar kak, dia sedang mencari pelampiasan untuk keram di perutnya"
Elena dibuat panik dengan sikap agresif Putri, ia mengetahui kebiasaan Putri yang akan mencari pelampiasan saat perutnya keram karena datang bulan
"Woww, ayo aunty pukul lagi" sorak Nathan yang malah terlihat antusias melihat pertarungan didepannya
Elena hanya bisa menghela nafas melihat sang putra yang bukannya melerai malah memberikan semangat. Ia mengerti jika Nathan sangat menyukai yang namanya bela diri, apalagi saat ini didepannya ada Putri yang sedang mengeluarkan kemampuan bela dirinya
Kembali ke sisi Elvaro, ia terus menangkis serangan adik iparnya tanpa berbalik menyerang. Ia tidak ingin diamuk sang istri jika mengetahui adiknya terluka nantinya
"Putri stop" teriak Elena cukup keras membuat Putri tidak jadi melayangkan pukulannya
Tiba-tiba rasa sakit pada perutnya kembali bergejolak hingga membuat Elena menjadi panik
"Al, buatkan teh hangat" titahnya sembari memapah sang adik untuk duduk di gazebo
"Aunty tidak apa-apa?" tanya Nayra yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Putri
Putri menggeleng lemah, disaat saat seperti ini sifat childish nya akan keluar. Karena itulah ia memilih untuk berbaring dengan kepala berada di paha sang kakak
Jika dilihat dari luar dirinya, Putri adalah pribadi yang dingin tapi saat bersama keluarganya terutama sang kakak, sifat manjanya akan keluar. Dalam lubuk hatinya terdalam, Putri merasakan sosok kehadiran sang mamah karena Elena memiliki wajah yang mirip dengan sang mamah
Elvaro sendiri merasa kesal dengan tingkah adik iparnya yang memonopoli istrinya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, jika ia protes bisa-bisa dirinya akan kembali bertarung
Ia akui untuk ukuran gadis, adik iparnya sangat unggul dalam bertarung bahkan membuatnya hampir kewalahan
Tanpa mereka ketahui, Putri terus menahan rasa sakit di tubuhnya. Bukan karena keram melainkan rasa sakit yang menjalar 'Sial, kenapa harus seperti ini. Kakak tidak boleh tau tentang kondisi kesehatan ku' batinnya memeluk Elena dengan erat
Sementara di sisi Al, ia terus mencari keberadaan dapur. Untung saja ada pelayan yang lewat dan ia bisa langsung menanyakannya
Sembari membuatkan teh, ia terus menghela nafas lega. Bagaimana tidak lega karena kali ini dirinya tidak dijadikan samsak tinju oleh sang kakak untuk melampiaskan semua keram di perutnya
Selama ini, saat sang kakak mendapatkan tamu bulanannya pasti akan meminta bertarung bersama nya
Untuk apa? Yang ia tau untuk melampiaskan keram di perutnya. Sudahlah, lebih baik ia segera membawa kan teh untuk sang kakak
Bersambung~
__ADS_1