Triple N Tuan De Vegas

Triple N Tuan De Vegas
Berkumpul


__ADS_3

Sementara Azka sudah naik pitam karena gadis yang ia sukai pergi bersama pria lain. Ya ia akui dirinya menyukai Sei sejak pertama kali bertemu. Dirinya juga bingung dengan getaran yang ada di jantungnya saat pertama kali melihat senyuman Sei


Dan ia hanya bisa memastikan jika dirinya menyukai Sei


Pundaknya di tepuk oleh seseorang yang ternyata adalah sahabat nya Nathan


"Ada apa? Kenapa lo kayak kesel gitu?"


"Gimana kagak kesel, Sei pergi sama cowok lain" gerutu Azka


"Maksud lo Sei pergi sama cowok lain? Kapan? Dimana?"


"Gue kagak tau, mana tadi juga pakek acara peluk pelukan lagi"


"Gue akan cari identitas cowok itu" sepertinya ia harus meminta bantuan pada kakaknya Elang. Ia tidak akan membiarkan adiknya didekati oleh laki-laki sembarangan


Dirinya memang mengakui jika Sei adalah adiknya juga begitu pun dengan keluarganya. Bahkan Nara juga setuju, bahkan Nara sendiri sangat antusias dengan hal ini


***


~Bandara Soekarno Hatta~


"Kakak Fuji"


Yon yang baru saja turun dari pesawat langsung mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang mirip dengannya


Senyum tipis terbit di bibirnya dan menyambut pelukan sang adik


"Kau juga baru datang"


"Aku tidak menyangka kita akan datang bersamaan. Dan juga aku kangen sama kalian"


Yon mengangguk "Bagaimana pekerjaan mu Furio?"


Laki-laki yang dipanggil Furio menghela nafas "Cukup melelahkan tapi itu tidak apa karena kita akan berkumpul lagi setelah bertahun-tahun"


Kedua pria yang benar-benar mirip itu pergi menggunakan mobil yang sudah menjemput mereka. Mereka memang sangat lah mirip dan yang membedakan hanyalah di penampilan saja


Tidak membutuhkan waktu lama keduanya sudah tiba di masion tempat tinggal Rei dan juga lainnya


"Kak Arta kak Fujitora, adikmu yang paling manis ini datang" seru Furio penuh semangat dan memasuki ruang tamu

__ADS_1


Fuji yang berada di sampingnya langsung menutup telinganya karena suara melengking sang adik


"Astaga, bisakah kau masuk ke rumah dengan baik-baik" tegur Arta dengan wajahnya yang galak


Furio hanya tersenyum tanpa rasa bersalah dan memeluk sang kakak "Aku kangen sama kakak" sungguh saat ini ia seperti anak kucing di mata Arta


Furio adalah adik bungsu dan memiliki sifat yang sangat manja pada kakak perempuannya. Tidak seperti kakak kembarnya yang selalu berwajah datar dan dingin


"Kau tidak kangen denganku Fuji?" tanya Arta menatap Yon yang sedari tadi hanya berdiri


Yon tidak menjawab dan memilih untuk memeluk sang kakak "Bagaimana kabarmu kak?"


"Baik"


"Kak Fujitora" seru Furio yang langsung memeluk San


"Perhatikan sikapmu, berikan salam untuk master" ujar San tegas


Perhatian Furio beralih pada Rei yang duduk tenang di sofa single "Maafkan kelancangan saya master" ucapnya membungkukkan badannya


Rei mengibas-ngibaskan tangannya "Tidak perlu terlalu formal, kalian lanjut kan saja. Aku akan kembali ke ruang kerjaku"


"Sekali lagi maafkan sikap Furio master" ujar San membungkukkan badannya


"Terimakasih master"


"Ouchhh, kenapa kakak menyentil dahi ku yang mulus ini" protes Furio sembari memegang dahinya yang sedikit memerah karena di sentil oleh kakaknya


San menghela nafas lalu memeluk sang adik "Kedepannya jagalah sikap di depan master"


Furio menundukkan kepalanya merasa bersalah "Maafkan aku kak, aku hanya terlalu senang bisa berkumpul lagi setelah bertahun-tahun"


Kini keluarga Kobayashi sudah lengkap dan duduk di sofa yang berada di ruang keluarga


"Kakak tau, wajah ku menjadi kusam karena harus menjaga wilayah perbatasan ditambah dengan banyak penyerangan" keluh Furio yang berbaring di sofa dan berbantal kan paha Arta


"Benarkah, sini kakak lihat wajah mu berkurang atau tidak kadar ketampanannya. Jika berkurang kakak prihatin karena nantinya kamu tidak akan mendapatkan gadis manapun" canda Arta mencubit pipi sang adik


"Itu tidak mungkin kak, kakak tau wanita yang menyukai ku jika berbaris bisa sampai menara Eiffel"


Yon yang mendengar tingkat percaya diri adiknya yang diluar nalar hanya bisa memutar bola matanya malas. Begitupun dengan San

__ADS_1


"Kau menjaga wilayah perbatasan hanya beberapa bulan, kenapa sudah mengeluh?" ketus Yon


Furio menatap sang kakak tajam tapi ketika menatap Arta langsung berubah menjadi mata kucing "Kak Arta, lihatlah kakak malah mengejek ku"


Arta tertawa kecil melihat ketidak akuran dua adiknya ini. Yang satu suka mengejek yang satunya suka mengadu


Tapi meskipun seperti itu, keduanya saling menyayangi satu sama lain


"Seandainya saat itu tidak ada master, kita mungkin tidak bisa berkumpul bersama di tempat yang hangat" celetuk San


"Kamu benar, kita berhutang banyak pada master" imbuh Arta


"Uncle Furio" suara cempreng seorang gadis kecil langsung memenuhi ruangan itu


Furio langsung bangkit dari tidurnya dan menyambut Nayra "Keponakan uncle udah besar aja nih, mana pipinya tambah bulat lagi"


Nayra tertawa cukup kencang karena pipinya terus dicium "Udah uncle, Nayra tidak kuat"


"Baiklah" Furio menurunkan Nayra dari gendongan nya dan beralih pada Nathan "Hay jagoan, gimana udah hafal sama jurus-jurus nya?"


Nathan mengacungkan dua jempol nya "Sudah dong uncle, ayo uncle ikut Nathan buat lihat hasilnya" ajaknya langsung menarik tangan Furio


"Oh ya kak, nanti malam ikut aku ya. Kita makan malam diluar" ucap Furio sebelum pergi dari sana


"Kita izin dulu ke master" ujar Arta


"Tidak perlu izin padanya, kalian nikmatilah waktu kalian" celetuk Elena yang datang menghampiri mereka dengan menggendong Narendra


"Nona" seru ketiganya membungkukkan badan mereka


Elena menghela nafas pelan "Jangan terlalu formal, panggil saja dengan kakak" padahal ia sudah meminta mereka untuk memanggil dengan sebutan kakak tapi mereka selalu menolaknya


Ketiganya hanya mengganguk saja dan kembali duduk ditempat mereka, ditambah dengan Elena dan Narendra juga Nayra yang seperti biasa akan sibuk dengan buku gambarnya


"Mamah, kak Narendra kenapa?" tanya Nayra yang baru menyadari ada kompres di dahi sang kakak


"Kak Narendra demam sayang"


"Saya panggil kan dokter nona" usul San


"Tidak perlu, nanti malam demamnya akan turun sendiri. Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu" pamitnya menggendong Narendra

__ADS_1


Saat sakit seperti ini Narendra selalu manja, terutama selalu ingin digendong oleh sang mamah


Bersambung~


__ADS_2