
Pada akhirnya Miya di sini sekarang, di sebuah restourant mewah tempat kencan buta dilakukan. Miya tidak bisa apa apa saat sang Ibu yang turun tangan, Miya yang sangat mencintai uang tidak rela semua asetnya diambil dari tangannya.
Karena tidak mau mendengar ocehan Maminya lama lama, Miya memutuskan untuk pergi lebih awal. Dan sekarang dia menyesali keputusan tersebut, hanya dia yang duduk sendirian sedangkan tamu lainnya bersama pasangan dan keluarga.
Harusnya tadi dia jalan jalan dulu.
"Capek!" dia menopang dagunya sambil memainkan ponselnya, berkirim pesan dengan teman temannya yang sedang menyiapkan diri untuk Reuni mereka.
Sangking asiknya berkirim pesan, dia tidak menyadari seseorang sudah duduk di depannya. Dia memperhatikan Miya yang sedang menahan tawanya, mungkin karena dia tidak mau malu sendiri kalau tiba tiba terbahak.
Pria yang tidak lain adalah pasangan kencan butanya terus menatap Miya, dia tidak pernah melihat Miya seperti ini. Ah... Mereka sebelumnya sering bertemu, hanya saja dia tidak menyangka kalau kencan buta yang disiapkan neneknya adalah Miya orang yang dikenalnya.
"Allahu akbar!" Miya yang menyadari keberadaan seseorang hampir saja jatuh dari kursinya, untung saja dia dengan cepat menyeimbangkan diri meski ponselnya yang jadi korban. "Hapeku!" dia memekik dengan suara yang sangat sangat pelan.
Dia dengan cepat mengambil hpnya yang jatuh, tapi untuk memastikan dia tidak salah lihat dia dengan cepat mengangkat kepalanya. Sial! Dia tidak salah, itu salah satu orang yang tidak ingin dia temuinya, kepala staff di kantornya.
"Ba-bapak kok disini?" Jantung Miya tiba tiba berdegup kencang, mudah mudahan saja firasatnya salah.
Griffin—pria yang menjadi pasangan kencan Miya hari ini menghela nafas "Saya orang yang kencan buta denganmu."
Jderrr...
Miya menggeram dalam hatinya, harusnya dia lebih mendengarkan Ibunya. Setidaknya kalau dia mendengarkan, dia tidak akan seterkejut sekarang.
Miya terdiam sejenak, dia mencoba menjernihkan kepalanya dulu. Dia menatap kepala staff di depannya, tidak ada yang salah dengannya hanya saja mengingat dia di kantor membuat Miya dongkol.
"Saya tidak menyangka kamu putri dari pemilik bank tempat kamu dan saya bekerja," Miya hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya, dia tidak bisa menyembunyikan untuk selamanya kan?
"Tapi saya masuk murni tanpa lewat orang dalam kok pak!" kata Miya saat melihat tatapan meremehkan Griffin.
"Benarkah?" Griffin memberi tanda pada seorang waitress untuk datang ke meja mereka.
Miya memutar bola mata jengah, "Benar, selain Papi dan sekretarisnya... TIdak ada orang yang mengenal saya."
Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan datang, Miya memesan beberapa jenis makanan. Well hampir semua orang tahu menu di restourant itu sedikit, Miya tidak mau keluar dari restourant tapi masih merasa lapar.
Mereka berdua berbincang basa basi sebelum makanan datang, saat makanan di sajikan mereka sama sama diam dan menikmati makan malam mereka. Setelah puas barulah mereka meletakkan sendok, mereka menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Maaf pak, bisakah saya bicara langsung ke intinya?" tanya Miya yang mengelap tangannya dengan serbet.
"Tentu."
"Saya tidak setuju dengan kencan buta ini," Griffin menatapnya "Maksud saya, saya tidak suka sesuatu yang tidak berjalan alami."
"Saya mengerti." Griffin menarik gelas yang berisi wine, Miya tidak minum seperti itu. "Saya sedang diburu waktu, nenek saya sakit dan meminta saya menikah. Intinya, bagaimana kalau kita lanjutkan saja ini meski kamu tidak suka."
Miya menghela nafas panjang, dia menatap pria itu menunggu lanjutan ucapannya.
"Dokter memvonis nenek hidup sekitar enam bulan lagi, setelah menikah ayo bercer-"
Brak!
Griffin terkejut melihat Miya menggebrak meja, tidak kuat tapi dia tidak mengharapkan Miya melakukan itu. Pasalnya Miya yang dia kenal di kantor adalah wanita yang tidak mau pusing, dia mengerjakan sesuai permintaan.
"Pak, ini dunia nyata. Bukan drama atau novel, pernikahan bukan untuk dipermainkan atau dikontrak kontrakkan seperti itu." Miya menghela nafas, capek juga bicara panjang panjang. "Saya tidak tertarik dengan itu."
"Bahkan jika saya mengatakan tidak akan menyentuhmu selama itu?" Miya mengangguk "Saya akan membayar berap-"
"Kamu sepertinya berniat merampas," Griffin terkekeh "Atau kamu punya kekasih?"
"Saya tidak akan ada di sini kalau saya punya, pak!"
Benar juga.
Griffin menatap Miya yang sekarang, apa kepribadian gadis itu ada dua? Kenapa begitu berbeda dengan saat dia bekerja. Dia kembali menyesap minuman di gelasnya, pikirannya mumet karena banyak hal.
Neneknya benar benar memburunya saat ini.
"Kalau begitu ayo kencan seperti biasa dulu." tawar Griffin "Itu sedikit alami kan?"
"Ku pikir nenek bapak menyiapkan beberapa kencan buta." Miya mengeluarkan permen dari tasnya "Minta saja salah satu dari mereka."
"Ya, tapi melakukannya dengan orang dikenal mungkin jauh lebih baik." dia menatap gelasnya yang hampir kosong, "Saya tidak tertarik dengan wanita."
Pfffftttt... Uhuk uhuk
__ADS_1
Miya hampir saja menelan permen yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya, apa maksudnya itu? Dia menatap pria itu lekat lekat mencari kejanggalannya, tapi dia terlihat normal.
Griffin meletakkan gelasnya "Saya bukan G*y, tapi saat ini tidak tertarik menjalin hubungan dengan perempuan." ucapnya santai "Tapi karena ini keinginan nenek, tidak ada salahnya mencoba."
"Saya tidak tertarik untuk berkencan," dia melihat makanan di meja yang masih tersisa, mengambil sendok untuk disuapkan ke mulutnya "Jadi bapak cari yang lain saja."
"Bukankah orang tua mu ingin kamu menikah?" Miya mengangguk santai "Kalau begitu ke-"
Miya mengangkat tangannya tanda menyuruh Griffin diam "Yang akan menikah itu saya, yang menjalani juga saya, orang tua mempunyai keinginan tapi saat itu tidak membuat saya senang saya tidak akan melakukannya. Terlebih bukankah uang lebih penting?"
Miya tersenyum dan merasa bangga dengan ucapannya, bukankah ini alasan bagus menolak seseorang? Tapi dia tahu ini tidak berlaku pada semua orang, contohnya Zain!
Oke, sekarang dia merasa iri dengan temannya itu. Bagamana bisa dia hidup dengan harta sebanyak itu?
Mata Miya terbuka saat mengingat sesuatu, "Anj*r, utang kasnya masih lima puluh lima ribu."
"Apa?" Griffin bertanya karena dia tidak dengan jelas mengerti gumaman Miya.
"Bukan apa apa," Miya kembali menyesap air putihnya, "Saya benar benar tidak bisa menerima tawaran bapak, ini terlalu berat buat saya."
"Walau hanya kencan biasa?"
Miya menganggukkan kepalanya, "Terlalu melelahkan untuk berkencan, cukup pekerjaan yang membuat lelah." saat Griffin ingin membuka mulutnya, Miya kembali bersuara "Saya juga belum bisa melupakan mantan pacar saya."
Barulah Griffin terdiam, sekarang dia paham alasannya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dia pasti pria yang menyenangkan,"
"Tidak!" Miya menopang dagu dengan tangan kirinya "Sebaliknya, dia menyebalkan! Tapi dia menjagaku dengan baik diantara semua masalah pelik menimpanya."
"Kenapa putus?"
Miya terdiam sesaa, dia menerawang ke masa lalu "Dia dan saya tidak bisa LDR, saya harus ke negara orang pun dia juga sama."
Miya tersenyum miris, meski pada akhirnya dia tidak betah berada di luar negeri dan merengek minta pulang. Karena tidak mau stress berlebih, orang tuanya akhirnya mengizinkannya pulang.
Di situlah dia bertemu Razak dan beberapa mantannya, Miya malas menyebut namanya. Dengan harapan menjalin hubungan baru dia bisa melupakan mantannya saat SMA, tapi pada akhirnya juga tidak berhasil.
__ADS_1