Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 32


__ADS_3

Selesai makan bersama, mereka ke swalayan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Camelia ikut karena persediaan di rumahnya menipis, meski jarang di rumah tapi sangat tidak baik meninggalkan rumah dalam keadaan kosong tak ada apa apa.


Miya mengambil semua keperluan, mulai dari camilan, persabunan dan beberapa makanan instan beku yang akan dia simpan di lemari es. Dia bukan tipe cewek yang terlalu peduli dengan makanannya, cukup dulu saja dia harus menahan diri.


"Apalagi ya?" Miya menunduk menatap belanjaannya, "Kayaknya sudah semua."


"Aunty Miya?"


Miya menoleh saat mendengar namanya, di ujung rak dia melihat remaja berdiri dengat tatapan ragu ragu. Ryan sedikit tersenyum karena tidak salah memanggil orang, ternyata memang orang yanh dia kenal.


"Hai," Miya berjalan ke arahnya "Sama siapa kamu di sini?".


"Dokter Aryan."


"Aryan?" Miya mengedarkan pandangannya tapi dia tidak menemukannya, mungkin dia ada di bagian lain. "Kamu cari apa? Biar aunty bantuin."


Miya bertanya karena melihat keranjang anak itu kosong.


Ryan menggaruk pelan leher bagian bawa telinganya "Hanya makanan ringan."


Miya memiringkan kepalanya, "Baiklah, Aunty akan membantumu memilih. Tapi ingat, jangan terlalu sering makan makanan seperti itu."


Ryan masih dalam masa pertumbuhan, makan makanan junkfood akan menghambat pertumbuhannya. Miya berjalan ke arah rak di mana banyak camilan, memilihkan yang menurutnya tidak terlalu mengandung msg tentunya dia menanyakan pendapat Ryan juga.


"Kamu juga sebaiknya minum susu, meski kamu tinggi sekali sekarang." dia melirik bocah itu, Ryan tersenyum tipis "Tapi susu bukan hanya untuk menumbuhkan tinggi, tubuh kamu juga membutuhkan nutrisi lain."


Ryan tidak menjawab ucapan Miya, tapi dia sedikit ngeri melihat belanjaan yang Miya masukkan ke keranjangnya.


"Jangan lihat harga, Ayahmu punya banyak uang!"


Ayah!


Ryan tertegun mendengar itu, sampai saat ini dia tidak berani membayangkan Aryan sebagai orang tuanya. Terlebih sosok Ayah dalam benaknya itu.... Ryan menggelengkan kepalanya.


Toh tidak penting lagi sekarang.


Miya menoleh saat mendapati Ryan tidak mengikutinya "Apa yang kamu lakukan? Kamu masih harus membeli beberapa makanan sehat!"


Ryan mendengarkan dan melangkah mengikuti Miya, dia memandangi Miya yang tampak serius membaca kompisis makanan sebelum memasukkannya ke keranjang Ryan. Miya sebenarnya tidak akan seteliti ini kalau dia yang akan memakannya, tapi saat anak remaja yang baru bertumbuh yang akan memakannya dia akan memperhatikannya dengan seksama.


Miya pernah sakit, jadi dia tidak ingin anak lain mengalaminya juga.

__ADS_1


"Ini sudah sangat banyak." Miya menunduk melihat keranjang, benar saja apa yang dikatakan Ryan, keranjang remaja itu sudah penuh.


"Baiklah, ayo kita bayar." dia mendorong punggung remaja itu menuju arah kasir "Aku tidak tahu kalau memilihkan barang untuk orang lain itu menyenangkan."


Mereka berdua berjalan ke arah kasir, tidak jauh dari sana mereka melihat Camelia dan Aryan sedang berbicara. Miya kaget saat Aryan mengangkat pandangannya, mata mereka bersitatap.


Aryan tidak terkejut karena sudah mendengarnya dari Camelia.


"Sudah selesai?" dia bertanya dan berjalan ke arah mereka, dia menatap ke keranjang Ryan dengan kening mengkerut. "Hanya ini?"


"Ini sudah banyak!" ucap Ryan dengan suara yang kecil. "Aunty membantuku memilih!"


Aryan menoleh ke arah Miya.


"Apa?"


"Thanks, Mi. Kalau dia sendiri pasti lebih sedikit dari ini." dia mengeluarkan domper dan memberi Ryan kartu "Kamu bayar sana!"


Miya menepuk punggung Ryan "Ambil saja! Dia pabrik uang!"


Ryan mengambilnya dengan sedikit enggan, kemudian berjalan ke arah kasir. Miya menepung pundak Aryan, dia berbicara dengan sangat pelan.


"Anak lo kenapa ngak enakan banget sih? Beda sama bapaknya" Miya menatap Aryan dari atas ke bawah "Seenaknya!"


"Whatever!" dia mengibaskan rambutnya dan berjalan menyusul Ryan, dia juga ingin membayar belanjaannya.


"Mau sekalian, Mi?" tanya Aryan yang juga berjalan di belakangnya.


"Thanks, tapi gue bayar sendiri saja," Meski suka malakin orang, tapi Miya cukup tau diri orangnya meski terkadang tak tahu diri. "Oh ya Yan, lo tinggal sekitaran sini juga?"


"Tidak,"


Miya mengeluarkan kartunya saat gilirannya tiba, tidak banyak pengunjung di sana.


"Lah, terus kenapa bisa belanjanya jauh banget?"


"Tuh!" dia menunjuk Ryan dengan dagunya "Ada kerja kelompok dia, sekalian saja mampir di sini."


Camelia yang berdiri tidak jauh hanya bisa menatap, dia juga ingin berbicara santi dengan dokter yang di sukainya itu. Tapi Aryan jelas jelas membangun tembok dengan siapapun di rumah sakit kecuali beberapa orang, menguncinya rapat rapat agar orang lain tidak gampang masuk.


Kalau saja boleh jujur, awal dia menyukai Aryan semuanya karena wajahnya dan dia tidak akan mengelak. Tapi semakin hari dan semakin dia mengenalnya, Camelia jatuh hati karena sifatnya.

__ADS_1


Meski dia terlihat seperti gunung everest dari luar, namun dalam dirinya sangat hangat. Aryan akan tersenyum (meski hanya senyum profesional), dan terlihat semakin lembut saat berhadapan dengan anak anak.


"Rumah teman kamu di sekitaran sini, Ray?" tanya Miya


"Ray?" Aryan bertanya bersamaan dengan Ryan yang berguman.


Miya menunjuk Ryan "Gue manggil dia, habisnya nama kalian hampir mirip jadi gue buat panggilan baru saja." dia tersenyum bangga. "Rumah teman kamu dekat sini? Tapi sekitaran sini hanya kosan, emang boleh anak SMP ngekos sendirian?"


"Boleh lah, selama dia sanggup dan orang tuanya ngizinin. Aneh lu!"


Miya mendelik sedikit jengkel karena di katai aneh. "Ya namanya juga nanya, tapi kalau itu anak gue, gak bakal gue izinin."


"dih, suami aja lo kagak ada."


Miya menarik nafas dan menghembuskannya berlahan, mengelus dadanya sendiri "Sabar Miya, orang waras enggak ngeladenin orang gila."


Miya langsung membayar saat belanjaanya selesai di hitung, dia bersiap untuk pulang. Dia melangkah ke arah Camelia, tidak enak juga meninggalkan dia sendirian.


"Terima kasih sudah menunggu!"


"Tidak masalah."


Miya melihat sekitarnya dan dua pria berjalan di belakang mereka, Miya yang tidak bisa menyinyiakan kesempatan memberi kantong belanjaannya ke mereka.


"Kamu masih ada tempat yang mau di kunjungi?" tanya Miya, Camelia menggelengkan kepalanya. "Yan, lo ngak kerja? Atau dokter juga libur kalau akhir pekan?"


"Enggak, gue masuk siangan lagi." dia memberi kantong belanjaan Miya kembali karena sudah sampai di depan mobilnya "Gue mau pulang, lo bawa barang lo sendiri."


"Thanks!" melihat Aryan menyerahkan kantong belanjaan di tangannya, Ryan mengikuti menyerahkan kantong belanjaan Miya "Terima kasih, Ray!"


"Sama sama."


Miya mengangguk saat mereka pamit, dia tidak bisa melambai karena tangannya yang full sama kantong belanja. Karena tadi dia menggunakan troli, jadi dia tidak tahu kalau itu akan seberat ini.


"Mi!"


"Hm?" dia mengangkat kepalanya karena di panggil, "Apa?"


"Dia nelfon lo ngak?"


"Dia?" Miya memiringkan kepalanya bingung, tapi tak lama dia mengerti 'DIA' siapa yang dimaksud Aryan. "Tidak, kenapa?"

__ADS_1


Aryan menatap Miya sebentar, tapi tak lama dia menggelengkan kepalanya. Aryan sekali lagi pamit sebelum melajukan mobilnya.


__ADS_2