
Miya membuka pintu kamar kosannya yang sudah lama dia tinggalkan, tentunya setelah berhasil membujuk adiknya yang keras kepala melebihi batu kali. Pemandangan yang dia rindukan, beserta kasur yang dia rindukan juga.
Miya meletakkan kopernya asal, melemparkan dirinya di atas kasur. Meski tidak di tempati selama sebulan lebih, tempat itu tetap bersih karena dia menyewa tenaga pembersih yang datang dua kali seminggu.
Setelah melepas kangen dengan kasur, dia buru buru bangun. Karena baru tiba juga, jadi tidak ada makanan di dalam rumah.
Miya bergegas mengambil dompet, dia berencana makan di luar sekaligus membeli beberapa keperluan yang dia butuhkan.
Cklek
Cklek!
Miya terkejut karena pintu yang dia buka bersamaan dengan pintu depan kamarnya.
"oh!" dia berseru pelan, bukan hanya dia tapi wanita di depannya juga tampak terkejut.
Miya tersenyum ke arahnya, pun perempuan itu. Camelia keluar dan mengunci pintunya, yang dari Miya lihat gadis itu tampaknya tidak ingin pergi bekerja.
Miya tidak menyangka mereka akan berada di lingkungan yang sama, Camelia tidak kalah terkejutnya. Ini pertama kali mereka bertemu, mungkin karena kesibukan masing masing jadi tidak mengenal satu sama lain.
"Hm, Hai!" Miya menyapa duluan karena merasa canggung dengan suasana yang terasa berhenti di satu titik.
Camelia menjawa "Hai, apa kamu tinggal di sini juga? Tapi aku tidak pernah melihat."
"Ya, saya di sini semenjak kerja." Miya mengunci pintu di belakangnya, dia melihat pakaian Camelia "Mau olahraga?"
Gadis yang rambutnya diikat bak ekor kuda itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya ingin mencari makan saja."
"Kalau begitu ayo bersama!" Miya mengajaknya, Camelia menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan berdampingan keluar dari kosan mereka, tentu saja dua gadis cantik yang berjalan bersama akan menjadi perhatian. Miya sangat kesal dengan tatapan orang orang, tapi dia sama sekali malas menegur.
"Aku benar benar tidak menyangka kita akan berada di kosan yang sama," Camelia berkata dia melirik Miya dan dia mengakui kecantikan gadis jangkung di sampingnya. "Aku Camelia!"
Miya menghentikan langkahnya, dia baru ingat kalau mereka belum berkenalan dengan benar. Dia mengulurkan tangannya ke arah Camelia, gadis itu menerimanya.
"Miya, Miya Sarina."
__ADS_1
"Camelia Larasati." gadis itu menyebutkan nama lengkapnya juga "Dengan apa aku harus memanggilmu?"
"Sarina, tolong panggil saja dengan itu."
Camelia memiringkan kepalanya, padahal Miya jauh lebih muda disebut. Di tambah tampaknya Aryan dan Kennan memanggilnya dengan nama Miya, dia tidak mengerti.
"Jangan salah paham." ucap miya melihat wajah Camelia yang menatapnya "Aku hanya kurang nyaman saja di panggil Miya saat baru berkenalan."
Mereka berdua memilih warung yang tidak jauh dari kosan, bukan karena murah tapi tempat ini lebih menghemat tenaga. Camelia menatap penuh iri pada Miya, makan sangat banyak tapi tetap ideal, dia juga ingin seperti itu tapi sayang berat badannya mudah bertambah.
"Apa hari ini kamu libur?"
Camelia menggelengkan kepalanya "Tidak, hari ini aku masuknya di malam hari. Aku juga berharap ini libur."
Miya menatapnya lekat lekat, sama dengan Aryan, perempuan itu juga kantung mata yang lumayan kentara.
Miya menyesap mie Ayam di depannya, ah rasa yang tidak berubah. Hehehe... Dia memang sangat menyukai mie Ayam, apalagi diminumkan dengan teh sejuta umat teh orsos!
"Kamu dan Dokter Aryan apa berteman sejak SMA?"
Miya langsung menoleh menatap Camelia, dia bisa melihat wajah memerah gadis itu. Merasa di perhatikan Camelia menunduk melahap makanannya, dia malu!
"Eh itu... Ti-"
Miya terkekeh pelan "Tidak masalah, sejah dulu Aryan memang banyak yang suka."
"Bagaimana dengan Sarina?" Tanya Camelia ragu ragu, Miya memasang wajah aneh.
"Tidak! Tentu saja tidak!" giliran wajah Camelia yang aneh.
Bagaimana mungkin? Dia tidak buta, dia bisa melihat kedekatan mereka berdua. Aryan yang tampak begitu peduli pada Miya, dan Miya yang terlihat penurut pada Aryan.
"Aku dan Aryan itu teman lama, sangat lama!" Miya mengulurkan tangannya ke dalam kaleng kerupuk "Dia banyak membantuku bahkan sejak aku masih di rumah sakit."
"Tapi kalian..."
Miya tertawa "Memang banyak yang suka salah paham soal kami, bahkan pacarnya juga."
__ADS_1
"Eh?"
Miya tersenyum dia memandang langit yang memang terpampang nyata di depan mereka.
"Aryan dan pacarku saat itu adalah teman dekat, pun pacar Aryan juga temanku. Kami berempat ketemu di rumah sakit."
"Rumah Sakit?"
Miya mengangguk, entah kenapa dia merasa leluasa bercerita pada Camelia. Pandangan Miya tak lama meredup, ada senyum kesedihan di wajahnya.
"Singkatnya... Pacar Aryan meninggal saat kami baru lulus SMA." Camelia tertegun, dia bisa melihat wajah sedih Miya "Aku juga putus dengan pacarku saat itu, karena dia harus terbang keluar negeri untuk berobat. Ah, pacarku juga sekolah di tempat yang sama denganku juga pacarnya Aryan, mereka semua OSIS kecuali aku."
"Kenapa?"
Miya menoleh dengan wajah ogah "Siapa yang mau jadi babu sekolah? Ah... OSIS itu merepotkan. Tapi karena aku dan Aryan sekelas, pacarnya suka cemburu padaku."
"Tapi kamu kan punya pacar juga."
Miya menjentikkan jarinya "Kannnn... Aku juga heran, tapi itu tidak pernah mempermasalahkannya. Sebagai perempuan itu hal yang wajar saat pacarmu dekat teman perempuannya. Aku juga sama soalnya."
"Benar, tapi apa sekarang dia dekat dengan orang lain?"
Miya kaget "Lah bukannya kamu dekat dengan Aryan?"
"Heh? tidak! Dokter Aryan terlalu dingin, sulit mendekatinya."
Aryan dingin? Membayangkannya saja membuat Miya bergidik, dia merasa itu tidak mungkin mengingat kelakuannya dulu. Dia selalu sulit menerima saat seseorang mengatakan itu, apa itu sama dengannya?
Dia di tuduh memiliki dua kepribadian!
"Kalau kamu dekat dengannya, kamu akan menemukan kalau dia orang yang hangat." Miya mengumpulkan mangkuk dan piringnya mengelap meja, "kamu akan menemukan dia dengan jati diri yang berbeda."
"Kamu sangat mengenalnya."
"Mungkin karena kami berteman cukup lama, dia adalah keluarga yang tidak ku miliki."
Miya mengatakan yang sebenarnya, mereka berempat adalah teman juga keluarga yang saling melengkapi satu sama lain. Tiga orang dengan penyakit yang sama dan hanya Aryan seorang yang sehat, tapi mentalnya tidak.
__ADS_1
Dia terlihat kuat di luar, tapi hanya Alisa dan mereka yang tahu betapa rapuhnya dia. Di tinggal meninggal Ibunya, setelahnya dia harus melihat Ayahnya yang tidak sadarkan diri selama bertahun tahun sampai akhirnya Miya mendengar kabar dukanya.
Ayah Aryan meninggal tanpa sekalipun sadar dari komanya, tidak ada pesan terakhir dan ucapan selamat tinggal untuk Aryan. Tapi sebelum itu, dia harus kehilangan kekasih dan sahabatnya juga pergi jauh termaksud Miya.