
Miya masuk ke dalam kamarnya di rumah orang tuanya, dia baru saja makan malam bersama. Bukan hanya ada dia, Manaf dan istrinya juga datang.
Miya berjalan ke arah balkon, menatap pemandangan malam dari sana. Sebenarnya dia sama sekali belum mengantuk, hanya saja dia malas ditanya ini dan itu yang berujung pertengkaran.
Miya menopang dagunya dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain bermain hp. Dia membuka sosial media yang sempat dia buat, tapi postingan terakhirnya hanya pada saat dia baru bekerja.
"Enaknya posting apa ya?" gumamnya.
Dia melangkah ke arah pintu kamarnya, seseorang baru saja mengetuknya. Saat membukanya, sang Papi berdiri di sana.
"Bisa bicara?" tanya Papinya, Miya menganggukkan kepalanya.
Miya menutup pintu kamarnya, dia mengikuti papinya ke ruang kerjanya. Di dalam sana sudah ada Manaf, dia terkejut melihat kakaknya yang masuk bersama Papinya.
Miya duduk di sofa depan adiknya, duduk dengan kaki saling di tumpukan. Dia tidak tahu kenapa dia dipanggil, tapi yang pasti ini bukan masalah pernikahan.
Ruslan meletakkan berkas di depan putri sulungnya, membuat si sulung menatapnya dengan bingung. "Sudah saatnya kamu mengambil peran direktur," Ruslan duduk di sofa single diantara kedua anaknya. "Dan Manaf, berhentilah main-main dan mulailah sedikit demi sedikit mengambil alih kantor."
"Pi, aku tidak bisa!" Miya yang mengambil berkas itu dan membacanya, dia kembali ke alasan yang sebelum-sebelumnya. "Aku tidak cocok mimpin, Pi."
"Sama!" Manaf mengangkat tangannya, dia memang hanya bekerja sebagai wakil sang ayah.
"Sampai kapan kalian tidak bisa?" dia menatap putra putrinya, "Miya, kamu pemilik saham terbanyak di bank, sudah sepatutnya kamu yang megang."
"Tapi Pi, ak-" Ruslan melihat putrinya yang lagi lagi ingin menyela itu.
"Papi akan lepas tangan dengan Bank, suka tidak suka kamu akan mengambil alih." dia beralih ke arah anak bungsunya, "Sebagai anak laki-laki dan penerus keluarga, sampai kapan kamu mau di ketek orang tua terus?"
Kakak beradik itu menghela nafas bersamaan.
"Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, biarkan Papi menikmati masa tua dengan istirahat." dia menyandarkan punggungnya di sofa, "kalian ambil alih pekerjaan utama, papi akan menjalankan bisnis kecil saja di pasar."
Miya dan Manaf saling melirik, yang benar saja? Mereka tidak mungkin membiarkannya, bukan bagaimana ya, bisnis yang dimaksud Papinya adalah berdagang buah di pasar.
Papi mereka memang sangat suka berkebun, beliau juga senang berbaur. Utamanya dengan orang orang biasa, katanya sesama pebisnis besar itu kebanyakan saling menjatuhkan dan baik di depan saja.
__ADS_1
Ruslan melirik putrinya, "Kalau kamu mau, Papi bisa bujukin Mami kamu buat kasih restu dengan Aryan."
Mata Miya membulat, dia langsung menatap Papinya. Pria paru baya itu tersenyum ke putri sulungnya, berharap bujukannya mempan.
"Setidaknya kamu harus sepadan dengan keluarga Ranggara kan? Biar bagaimana pun Aryan adalah orang penting dalam keluarga itu."
Miya tidak mengatakan apa apa, dia sedikit memikirkannya. Aryan memang loyal pada mereka, tapi apa yang dikatakan Papinya sangat masuk akal.
Manaf yang melihat senyum papinya memutar bola mata jengah, utamanya saat melihat wajah bimbang Miya. Manaf ingin berteriak ke sang kakak, mengatakan kalau jangan sampai termakan bujukan Papinya.
"Dan Manaf," giliran dia melihat ke arah Manaf, "sekarang kamu itu seorang Ayah dan seorang suami, kamu harus mempunyai pegangan hidup. Dengan perusahaan kita, kamu bisa menyekolahkan anak kamu ke tempat bagus."
Miya mengambil berkas itu, "akan Miya pikirkan. Jadi bisakah Miya kembali ke kamar?" tanyanya
"Satu lagi, Kak." Ruslan menahan putrinya, "Ranggara punya pengawalkan?"
Miya mengedikkan bahunya, "tidak tahu! Akan aku tanyakan ke Aryan, tapi kenapa?"
"Tidak perlu, Papi hanya bertanya. Kamu bisa kembali ke kamar!"
Miya langsung berdiri dan pamit ke kamarnya, menatap berkas di tangannya kemudian menghela nafas. Miya meletakkan berkas itu di meja begitu sampai di kamar, dia mengambil ponselnya yang sempat dia anggurkan di atas kasur saat dia bicara dengan Papinya.
Miya : Di rumah Mami
Aryan : Urusan sama Papi lo gimana? Enggak ada masalahkan**?
Miya melangkah ke arah meja riasnya, dia berniat menghapus make-upnya. Tapi sebelum itu dia membalas chat Aryan lebih dulu.
Miya : Enggak ada, sudah beres. Lo masih di rumah sakit? Jadwal malam?
Miya kaget saat hpnya berdering, nama Aryan tertera di sana. Dia mengangkatnya setelah deringan kedua, ya lebih mudah kalau menelfon saja.
"Gue di kantin rumah sakit, bentar lagi pulang."
Miya mengambil kapas dan mengambil cairan pembersih wajah, meneteskannya ke kapas dan mengaplikasikannya ke wajahnya. "Jadi lo shift pagi?"
__ADS_1
"Siang, mau gue anter?"
"Tidak usah, gue berangkat bareng Papi atau enggak Manaf," Miya melirik berkas yang diberikan padanya. "Gue juga kebetulan ada yang mau diurus di tempat Papi."
"Urusan nasabah lo itu?"
Miya menggelengkan kepalanya, tapi kemudian merasa bodoh karena Aryan tidak melihatnya. "Bukan, urusan itu selesai pagi tadi." Miya menggigit bibir bawahnya, "Papi minta gue buat ambil alih Bank." cicit Miya.
Miya mendengar pesanan Aryan dari seberang, setelah orang yang memberinya pesanan pergi barulah Aryan kembali bersuara. "Gue pikir itu bukan ide yang buruk, cepat atau lambat lo tetap akan mengambil alih."
"Tapi lo taukan, gue gak ada bakat mimpin." Miya berdiri menuju lemari, mengambil handuk kecil di dalamnya. "Gue enggak bisa."
"Bisa Mi, kalau belajar pasti bisa." Miya yang berniat ke kamar mandi mengurungkan niatnya, dia memilih duduk di kasur.
"Sekalipun gue belum pernah mimpin, Yan!" dia menghela nafas "Kalau nagih hutang mah, mungkin gue tidak masalah."
Dari seberang dia bisa mendengar tawa Aryan, pria itu pasti merasa puas menertawainya.
"Puas lo tertawanya?" tanya Miya sedikit kesal setelah Aryan meredakan suaranya. "Lagi pula gue enggak pernah mikir mau masuk dunia bisnis begini."
"Cobalah dulu kali, Mi. Kalau memang tidak bisa, lo bisa minta bantuan bokap lo untuk cari orang terpercaya buat megang bank punya lo."
Miya menghela nafas panjang, "Gue bakal coba." dia berbaring di kasurnya, "lo kenapa enggak di Ranggara?"
"Karena memang dari awal gue tidak tertarik, sekarang sudah di pegang sama sepupu gue."
"Alisa?"
"Bukan!"
Miya memiringkan kepalanya, bukannya Aryan punya satu sepupu? Dia juga pernah bilang tidak ada sepupu dari pihak ibu, karena ibunya adalah anak tunggal.
"Tapi bukannya lo cuma punya Alisa?"
"Gue belum bilang ya? Papa punya saudara lagi selain Papanya Alisa." Miya menganggukkan kepalanya, dia baru tahu.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian barulah mereka menyelesaikan panggilan, barulah saat itu Miya ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia menumpukan tangannya di pinggiran washtafel, menatap wajahnya yang sudah bersih.
"Cantik banget sih gue!"