
Miya berlari pelan di koridor rumah sakit, dia baru mendapat pesan dari adiknya tentang Reyna yang melahirkan. Bukan hanya dia yang datang, Andin ada bersamanya.
Dia berani meninggalkan Reyna di rumah karena Due datenya masih seminggu lagi, untung ada Maminya di rumahnya menemani Reyna. Mereka berdua langsung ke ruangan Reyna, disana mereka melihat Reyna yang terbaring menahan sakit sambil memeluk suaminya.
"Belum?" tanyanya pada Maminya, dia mengusap keringat yang mengalir di kening karena berlari ke tempat itu.
"Tidak lama lagi, sudah pembukaan delapan."
Miya menghela nafas lega, tapi tak dipungkiri dia sangat khawatir. Dia mendekati pasangan itu, mengelap keringat Reyna.
Dia terkejut saat tangannya di cengkram Reyna, cengkraman wanita sangat kuat sampai membuatnya meringis.
"Hiks.. Sakit!" tangisnya.
Manaf tidak mengatakan apa apa, adik dari Miya itu hanya terus menerus mencium puncak kepala sang istri. Tangannya mengelus perut Reyna, seolah mengisyaratkan anaknya untuk tenang.
"Sini biar Mami!" wanita parubaya.yamg tidak kalah panik itu mendekati Miya, dia bisa melihat wajah takut putri sulungnya. "Kamu duduk dulu."
"Tap-"
"Duduk! Kamu baru saja lari lari dari luar, tidak baik berada di dekat wanita yang akan melahirkan."
Mendengar itu berlahan mundur, jujur saja dia merasa takut saat ini. Membayangkan dirinya menikah dan akan melahirkan, Miya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Dia tidak boleh menanam trauma ke dirinya sendiri.
Sekitar satu jam kemudian, Reyna dimasukkan ke ruangan bersalin karena sudah waktunya. Miya duduk di kursi tunggu, memegang tangan Maminya yang terlihat sangat gugup.
Miya sesekali melihat ke ruangan yang tertutup, berdoa dalam hati untuk adik iparnya beserta calon ponakannya untuk keselamatan mereka.
"Papi!" Miya berdiri begitu melihat Papinya datang.
"Bagaimana Reyna? Manaf?" pria parubaya itu bertanya panik, Miya melihat ke pintu.
"Masih proses Pi, Manaf ada di dalam juga."
Pria itu dengan nafas terburu duduk di samping istrinya, mengusap punggungnya untuk menenangkannya. Miya berdiri di depan mereka, Andin berdiri di sampingnya dengan muka syok.
Ini pertama kali dia melihat Ayah Miya, saat pernikahan Manaf dulu dia tidak sempat hadir. Dia menelan ludahnya gugup, ini pertama kali dia melihat petinggi dan pendiri tempat di mana dia bekerja.
Dan dia ayah dari Miya? Seberuntung apa gadis ini?
Pantas saja dia tidak terlalu terintimidasi dengan Rika, wong bapaknya orang kaya. Dia melirik Miya lagi, dia baru sadar kalau wanita itu selalu memakai pakaian branded yang di pakai sesederhana mungkin.
__ADS_1
"Miya?"
Miya mengangkat kepalanya mendengar suara tidak asing, Aryan berjalan ke arahnya, kali ini dia tidak memakai seragam dokternya. Aryan mengangkat kepalanya ke arah pintu yang tertutup, dia melihat Miya lagi.
"Istri Manaf?" Miya tidak menjawab tapi hanya mengangguk saja.
"Yaya?"
Aryan terkejut saat mendengar nama kecilnya di sebut, dia langsung menoleh ke belakang. Dia tidak melihat orang tua Miya tadi dan sekarang dia terkejut, Aryan langsung menyalami.
"Sore Om, Tante."
"Kamu disini, siapa yang sakit, Nak?" tanya Papi Miya yang sudah berdiri berhadapan dengan Aryan.
"Kebetulan istri teman saya melahirkan juga di sini Om," Aryan melihat ke arah pintu yang satunya dan beberapa orang juga menunggu di depan pintunya. "Saya juga kerja di sini."
Papi Miya terkejut mendengarnya, tapi setelahnya dia tersenyum. Dia tidak menyangka remaja bermasalah itu sekarang menjadi dokter, padahal dulu dia mengatakan tidak mau.
"Kamu mengikuti jejak pamanmu ternyata."
"Saya belajar banyak dari beliau," ucap Aryan, dia menggosok pelan tengkuknya.
"Lalu bagaimana dengan kakekmu? Bukannya beliau ingin kamu menggantikannya?"
"Ada sepupu saya, bang Devan." pria parubaya itu mengkerutkan keningnya "Anak dari Kakaknya Ayah."
"Apa sih Mi?"
"Itu Keana kan? Saudaranya Kennan?"
"Iya."
Miya langsung mendongak menatap Aryan "Siapa yang di dalam sana? Jangan bilang Hanna?"
"Iya."
"Wow!" mata Miya berbinar "Bisa barengan gitu ya? Jangan jangan anak mereka nant-"
"Ngak usah mikir kejauhan lo, mereka saja baru mau lahir." Miya langsung menyengir, tapi hanya sebentar karena dia masih gugup melihat pintu persalinan yang belum terbuka.
"Terus untuk apa lo disana?" tanya Miya tidak mengerti, dan sejak kapan pertemanan Aryan dan Kennan sedekat itu?
Miya memicingkan matanya, lalu membuang muka saat Aryan menatapnya dengan kening diangkat. Dia merasa dikhianati, dulu dia sangat mengidolakan Kennan tapi cowok di depannya malah acuh.
__ADS_1
"Apa sih, Mi?"
"ApasihMi?" Miya mencibir mengikuti pertanyaan Aryan di akhiri dengan decihan. Tak lama dia mengomel ngomel tidak jelas "Gue, Sabrina, Mama, Cia sama Sasya dilarang dekat dekat Kennan. Sekarang? Cih! Malah lo keknya yang nempel banget ke dia."
Aryan diam, bagaimana dia harus menanggapi ucapan Miya.
"Karena dulu lo kan punya pac-hmp!" Miya langsung menutup Aryan, dia menggelengkan kepalanya. Dia melirik ke arah orang tuanya, Miya tersenyum.
Dia dulu dilarang pacaran.
Tak lama dia mendorong punggung Aryan, dari pada dia membongkar kelakuan nakalnya saat SMA lebih baik pria itu pergi. Aryan yang mengerti kelakuan Miya hanya mengikut saja, dia sudah terbiasa di perintah gadis gadis di kelasnya.
Nasib paling bungsu di kelas!
Ya, Aryan yang paling bungsu di kelas. Tapi karena dia tidak suka posisinya itu, dia membiarkan Ciara dan Baim bertingkah sebagai si bungsu.
"Ngak usah dorong-dorong bisakan?"
"Ngak bisa!" Miya melototinya "Sana ah, jauh jauh mulut lo rombeng soalnya."
"Itu elo kali." cibir Aryan.
"Kapan? Ngak ya! Elo tuh kalau sudah bareng Zain ma Baim, ngalahin cewek berisiknya." dia memukul pelan punggu Aryan supaya cepat pergi.
"Itu kan karena suara lo sama Sasya nutupin suara orang sekelas."
Miya mengatupkan mulutnya, yang dikatakan Aryan tidaklah salah. Apalagi saat pelajaran kosong, saat itulah dia dan Sasya bernyanyi keras sampai sering kena tegur guru yang mengajar di kelas sebelah.
Sementara mereka berdebat, Papi Miya memperhatikan mereka berdua. Dia merasa anak anak itu berubah sama sekali, dari dulu juga mereka suka memperdebatkan banyak hal kecil.
Dia melihat Aryan yang tampak tidak mau kalah dari Miya, meski anak perempuannya itu terus membantahnya. Anak yang dulu punya tatapan tajam itu, kini tatapannya berubah menjadi lebih lembut.
Wajah Aryan dulu selalu penuh dengan lebam, terlebih saat awal awal dia kehilangan ibunya. Anak yang awalnya penurut dan baik berubah menjadi berandalan yang suka berkelahi sana sini, sekarang kembali berubah menjadi dirinya yang awal.
Beda dengan Papinya, Andin justru menatapnya aneh. Miya selalu mengatakan kalau dia dan dokter itu tidak terlalu akrab, tapi lihatlah sekarang, mereka tampak sangat dekat sekali.
Dia bahkan bisa melihat berbagai ekpresi wajah Miya, apa benar mereka hanya berteman biasa? Juga dokter itu aneh, jelas jelas saat pesta pernikahan Zara, teman temannya mengatakan kalau dokter itu kutub utara selatan tapi lihat sekarang?
Andin benar benar tidak mengerti.
Ting!
Mereka semua menoleh ke arah pintu yang terbuka, seorang dokter keluar dengan wajah cerah. Di belakangnya ada Manaf bersama gumpalan di tangannya, mereka langsung mendekatinya.
__ADS_1
"Selamat pak, bu, cucu kalian lahir dengan selamat dan anggota tubuh lengkap." ucap dokter yang menangani Reyna.
Miya menatap bayi yang digendong oleh Ayahnya itu tanpa sadar meneteskan air mata, bayi yang kemarin masih dalam kandungan sang ibu, sekarang dia bisa melihatnya langsung.