
Aryan duduk di sofa ruang tamu kontrakan Miya, dia asik sendiri bermain pazzle yang dia dapat di atas meja. Sedangkan si empu rumah sedang ada di dapur, dia tadi menelfon menanyakan Aryan obat demam, siapa yang menyangka yang datang malah obat beserta dokternya.
"Mi, lo ada game enggak?" tanya Aryan, dia sudah menyelesaikan pazzle di depannya.
Miya berjalan keluar dengan cangkir di tangannya, dia meletakkannya di depan Aryan setelah menggeser pazzle.
"Lo ada mainan apalagi?" tanya Aryan lagi.
"Lego ada, lo mau?"
Btw, Miya penyuka lego, dia juga mengoleksi beberapa lego mahal yang dia beli di luar negeri.
"Boleh deh," Miya langsung berjalan ke arah kamarnya, dia mengeluarkan satu tas lego balok.
Ya lego balok, lego yang sering anak-anak mainkan membuat rumah-rumahan. Awalnya dia membelinya untuk hadiah anak rekan kantornya, tapi karena enggan dia membeli hadiah lain dan menyimpan lego itu.
"Masih baru itu, gue belum pernah mainin!" dia kemudian duduk di samping Aryan, menyandarkan punggungnya di lengan Aryan. "Lo enggak balik?"
"Enggak, lagian pasien se-" Aryan langsung menghentikan ucapannya, dia tidak bisa mengatakan kata kata keramat itu. "Rumah sakit ramai banget."
Miya mengangkat kepalanya, "terus lo ngapain masih di sini? Pasien lo kan banyak."
"Maksud gue itu kebalikannya ege!" Aryan menuangkan lego ke atas meja, "kalimat keramat untuk yang kerja di rumah sakit juga."
"maksud lo se-hmp!" Aryan menutup mulut Miya, ekspresinya tampak stress.
"Jangan, itu kata sakral untuk kami."
Setelah mengatakan hal itu, Aryan kembali fokus ke legonya. Miya makin menyandarkan dirinya, menatap langit langit kosannya. Sepertinya dia kebanyakan begadang akhir akhir ini, makanya dia sampai demam.
"Kalau lo mau tidur, balik kamar sana." Aryan menggerakkan lengannya yang disandari oleh Miya, "lo nimbun dosa ya Mi? Berat banget."
Plak, Aryan langsung mengelus kepalanya yang di tepok Miya.
"Sembarangan banget lo kalau ngomong."
"Sembaranga apa? ini tuh fakta Miya, Fakta!"
Karena kesal, Miya makin menambahkan beban beratnya ke bagian lengan Aryan. Tentunya pria itu tidak terima, dia dengan kesal menjepit hidung Miya.
"Ahlyan!" Miya menepuk nepuk tangan Aryan, pria itu melepasnya. "Lagian lo ngapain sih kemari?"
"Ngapel lah!" jawab Aryan santai.
Miya langsung menegakkan duduknya, dia juga menarik bantal untuk disimpan di atas pahanya. "Ngapel itu bawa martabak kali, Yan. Lah ini, bawa diri!"
Aryan mengubah posisi menghadapnya, dia dengan santai mendorong pelan kepala Miya. "yang cuman bawa diri siapa? Gue bawa sesutu yang bisa di makan, obat! Lebih bikin sehat."
__ADS_1
Miya mencibir sebelum menyandarkan dirinya di sandaran sofa, mungkin karena efek obat dia samar samar merasa mengantuk. Melihat itu Aryan mengambil jaketnya, tidak lupa merapikan lego yang dia berantakin tadi.
"Gue mau balik rumah sakit, lo tidur di kamar gih sono!" ucap Aryan.
"Hn"
Miya ikut berdiri, tidak sopan membiarkan tamu pergi begitu saja tanpa diantar sampai ke pintu. Begitu keluar dia kembali menatap Miya, gadis itu bersandar di kusen pintu.
"Masuk sana, malam nanti gue telfon." suruh Aryan, Miya mencebik dan memintanya untuk Aryan pergi dulu.
"Atau lo mau makan apa? Gue beliin sebelum balik ke Rumah sakit." tanya Aryan lagi, tadi dia melihat Miya tidak banyak makan.
"Siomai mang Juki, enak kali ya." ucap Miya, Aryan sedikit mengkerutkan keningnya mendengar nama itu.
Mang Juki adalah salah satu pedagang di dekat sekolah, mereka sering berisik di lapaknya saat bolos rame-rame dulu.
"Emang masih jualan? Kemaren pas reuni gue gak lihat." ucap Aryan.
"Gue bercanda, sana balik kerja lo, gue mau tidur." dia melambaikan tangannya ke arah Aryan, "Dah..."
*****
Miya terkejut melihat kehadirannya Manaf di depannya, dia baru saja bangun setelah Aryan pulang tadi. Adiknya itu bersedekap dada, menatap kakaknya cukup serius.
"Bisa enggak sih, kalau mau datang kasih tau dulu?" Miya melewati adiknya, "bikin kaget tau."
"Lo yang kalau sakit kenapa suka tidak bilang?" tanya Manaf dan mengikutinya, "setidaknya lo nelfon, biar gue bisa jemput lo untuk ke rumah."
Manaf tidak mengatakan apa apa lagi, dia tidak bisa membantah soal itu. Dia menarik kursi, duduk dan menatap kakaknya itu.
"Lo sudah minum obat? Mau gue beliin?"
"Tidak usah!" dia memutar menuju wastafel dan mencuci gelasnya, "Aryan sudah kasih gue obat."
"Dia ke sini?"
"Hn." Miya menaruh gelas di tempatnya, giliran dia membuka lemari di atas kompornya. "Lo sudah makan?"
"Belum."
Miya langsung mengambil dua mie instan di rak, dia juga mengambil sosis dan sayur di dalam kulkas. Tadi pagi dia sempat memasak nasi di rice cooker, jadi tinggal membuat lauk saja.
Dia cukup pintar memasak!
"Tidak baik makan nasi dan mie instan." ucap Manaf, dia berdiri dan membuka kulkas kakaknya, mengeluarkan teh dalam botol. "Penyakit Miya, lo juga bisa gemuk."
"Minggir," dia menendang pelan kaki adiknya, "kalau mau numpang makan di rumah orang, ngak usah protes."
__ADS_1
Manaf mencibir sambil kembali ke kursinya tadi, "lo serius sama Aryan?"
Miya menghela nafas panjang, "harus berapa kali gue bilang sama lo, gue serius!"
"Se-serius apa?" tanya Manaf lagi.
"Cukup serius untuk melangkah lebih jauh," Miya mengambil pisau, dia baru saja mencuci sayuranya.
"Bagaimana dengan Dimas? Bukannya lo masih gamon sama dia?"
Miya menghentikan ayunan pisaunya, dia diam sebelum menjawab. "Gue tidak bisa terus menerus mikirin suami orang!"
Brufttt
Manaf tersedak soda yang diminumnya, hidungnya terasa pedih karena efek soda yang terasa seperti masuk ke hidungnya.
"Ih... Jorok banget sih? Bersihin!"
Manaf buru buru mengambil tisue, mengelap bekas soda yang sempat dia semburkan. "Jangan bercanda! Masa dia sudah menikah."
Miya memasukkan tumisan ke wajan, tidak lupa dia mengambil spatula. "Undangan yang Mami kasih ke gue waktu itu, itu undangan Dimas. Lagi juga gue sama Aryan."
Manaf terdiam menatapi punggung kecil kakaknya, dia cukup tahu perasaan kakaknya ke cinta pertamanya itu. Miya sangat menyukai Dimas bahkan dari lama, karena itu saat mengatakan dia bersama Aryan, Manaf tidak terlalu percaya.
Miya menyanyikan masakannya di atas meja, aroma mie instan yang di campur sayuran langsung tercium. Manaf tidak langsung mengambil sendok, dia masih menatap kakaknya.
"Kapan rencana pernikahan kalian," Miya menghentikan tangannya yang mengambil nasi, "lo bilang cukup serius sama Aryan kan?"
Miya menghela nafas, dia menarik tangannya dan berkata dengan lemas. "Mami saja belum setuju, jadi kami belum membicarakan apa pun."
Tentu saja mereka tidak membahasnya, karena awalnya memang mereka hanya pura pura.
Manaf menggelengkan kepalanya, "bicarakan baik-baik Mi, soalnya karakter lo sama Mami itu sama. Sama-sama kepala batu!"
Miya tidak akan menyangkal itu, sifatnya memang lebih banyak menurun dari ibunya.
"Menurut lo Aryan bagaimana?" tanya Miya, mereka belum pernah benar-benar membahas ini.
Manaf mengambil mie sayur ke piringnya, "menurut gue dia cukup baik, bertanggung jawab juga sepertinya. Lo lebih kenal dia Mi, gue sama Papi tidak masalah dengan pilihan lo."
Miya tersenyum karena cukup tahu adiknya, mereka memang sering bertengkar tapi sejujurnya di keluarganya Miya paling sayang pada Manaf. Sayangnya adiknya itu sudah menikah bahkan seorang Ayah sekarang, jadi dia tidak bisa memonopolinya lama-lama.
"Lo benar."
"Kasih tau saja kalau dia nyakitin lo," Manaf berkata serius. Miya terkekeh mendengarnya, "Apa? apa yang lucu?"
Miya mengambil air dan meminumnya, setelahnya dia kembali menatap adiknya. "Memang lo mau apa? Memang bisa berantem dengan Aryan?"
__ADS_1
"Ya enggak sih." Manaf mengedikkan bahunya, "tapi gue cukup bisa melapor ke polisi."
"Sin*ting!"