Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 40


__ADS_3

Tawa Aryan meledak seketika melihat tatapan meremehkan Miya, dia harusnya tidak melupakan satu fakta ini. Kalau kamu sombong di depan Miya, dia bisa jauh lebih sombong lagi.


Miya mengibaskan rambutnya kemudian bersedekap, dia tersenyum ke arah Rika "Katakan saja ya kalau uang pacar kamu tidak cukup, aku bisa minjamin."


Aryan meletakkan tas yang dia pegang di meja kasir, "sekalian ya mbak, temen saya yang bayarin." dia menghapus air matanya karena terlalu banyak tertawa, "Oke kan, Mi."


"Suka? Ambil!" dia menyerahkan tas untuk Ryan "Ini bagus kamu pakai untuk jalan sama temen kamu."


"Saya tidak tahu dokter Ranggara punya pacar," pria yang tidak lain adalah pacar Rika berkata.


Miya mengkerutkan keningnya, perkataan pria itu seolah mengatakan kalau Miya tidak dianggap.


Aryan melihatnya kemudian tersenyum "Saya juga tidak tahu kalau bapak melihara perempuan yang bukan istri."


Pfft...


Miya hampir menyemburkan tawanya, sangat jarang orang tau kalau Aryan itu julid. Dia bisa melihat muka Rika dan pacarnya memerah, ah aa sepertinya mereka marah dan malu, siapa coba yang tidak malu kalau dikatai seperti itu di tempat umum.


"tidakkah dokter bertindak terlalu ikut campur?" pria itu mengepalkan tangannya, dia merasa sangat tersinggung terlebih melihat senyum Aryan yang dibuat-buat.


Aryan merangkul Miya dan melihat ke arahnya, "Peliharaan anda yang mulai sok baik ke calon istr-akhh!"


Dia memegang bagian perutnya yang disikut Miya, dia menatap gadis itu tidak percaya. Miya mendengus dan berbalik melangkah ke Ryan, dia menyerahkan paperbag ke arahnya.


"Berhenti berdebat kayak orang bodoh, buruan masih banyak yang harus di beli."


Aryan tidak mengatakan apa apa lagi, lebih baik menurut ketimbang mendapat masalah. Mood Miya sudah sedikit membaik, jadi dia tidak akan menjadi orang bodoh untuk merusaknya lagi.


Dia tidak pandai membujuk soalnya.


Miya mengambil paperbag dari Ryan kemudian menyodorkannya ke Aryan, meraih tangan remaja itu dan menyeretnya ke tempat sepatu. Miya tidak cukup lama untuk membelinya karena tahu mana yang bagus, dia hanya cukup mencocokkan selera Ryan dan ukurannya.


"Mi, anak gue masih di bawah umur!" ucap Aryan yang sudah berdiri di samping Ryan, dia dicueki sejak masuk di sana karena Miya mencari sepatu.

__ADS_1


Miya hanya bisa memutar bola mata jengah di balik kacamatanya, membalas Aryan hanya akan menghabiskan tenaga.


Karena tidak mendapat respon yang di harapkan, Aryan memilih mencari sepatu. Dia sudah lama tidak membeli sepatu, jadi dengan hati hati dia memilih yang tahan lama.


Memilih sepatu cukup lama, Miya mengambil beberapa sepatu yang semuanya untuk Ryan. Dia seolah melampiaskan kekesalannya dengan belanja, menghabiskan uang Aryan untuk Ryan.


Miya tersenyum merasa puas, selesai dari sepatu mereka berpindah dari toko satu ke toko lain. Berbanding terbalik dengan Miya, dua laki laki yang dibelakangnya yang tangannya penuh dengan paperbag berjalan dengan lemas.


"Lebih baik gue operasi pasien lima jam tanpa istirahat," keluh Aryan yang langsung mendapat tatapan Ryan.


"... Kamu ini kenapa boros sekali? Kasihan anak saya cari uang kalau kamu boros begini!"


Miya melihat ke asal suara, dia melihat wanita parubaya menunjuk nunjuk wanita yang memegang mainan dan putrinya. Perlakuan yang tidak pantas dilakukan tempat umum, Miya bisa melihat wanita yang dimarahi itu hanya bisa menunduk dengan wajah merah.


"Nabila?" Miya mendongak saat mendengar gumaman Aryan.


"Lo kenal, Yan?"


"Hn." Miya mengangguk angguk mengerti.


"Oh... Karena uang yang kamu hasilkan sendiri jadi kamu tidak menghargai anakku?" wanita itu ngos-ngosan.


"Bukan gitu Ma... Tapi ak-"


"NGAK USAH BANYAK ALASAN! HARUSNYA BUKAN KAMU YANG JADI MENA-"


"Maaf menyela," Miya yang tidak bisa menahan diri mendekat, dia tidak bisa melihat orang di permalukan depan umum. "Bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian di rumah saja? Kalian mengganggu pengunjung yang lain."


Memang yang dikatakan Miya tidak salah, mereka memang sudah menjadi pusat perhatian. Mata Nabila menangkap sosok Aryan diantara para pengunjung, betapa malunya dia karena orang yang dia kenal melihatnya seperti ini.


Sebenarnya Miya tidak terlalu memperdulikan masalah mereka, dia maju karena melihat anak perempuan Nabila memeluknya dalam ketakutan. Mereka tidak harusnya membiarkan anak anak melihat itu, terlebih anak kecil memiliki ingatan jangka panjang.


Dia bisa terluka meninggalkan trauma, bahkan bisa menyisakan rasa benci dan rasa bersalah pada dirinya. Miya jongkok di depannya, memberinya permen yang memang selalu dia bawah.

__ADS_1


"Jangan takut, nenek dan ibumu hanya bercanda." ucap Miya, dia benar benar tidak sanggup melihat anak kecil ketakutan.


Anak itu mendongak menatap ibunya, saat melihat ibunya mengangguk baru dia mengambil permen di tangan Miya. Miya tersenyum dan berdiri, melihat kedua wanita itu bergantian.


"Tolong banget, jangan berdebat di depan anak-anak."


"Mi, masih lama?" tanya Aryan yang mendekat, dia menganggukkan kepalanya ke arah Nabila.


"Ini sudah, ayo!" dia berjalan lebih dulu, "Sebelum pulang ayo makan dulu, kali ini gue traktir."


"Bil, duluan ya." ucap Aryan pada Nabila dan berjalan di belakang Miya."Ray!"


Ryan dengan cepat melangkah mendekat mereka, dia sudah terbiasa di panggil Ray setelah seharian nama itu terus yang mereka gunakan padanya.


"Ray, kamu suka makan cake?" tanya Miya saat mereka masuk ke sebuah restourant. "Mau cheescake atau ice cream?"


"Apa saja." jawab Ryan.


"Gue mau kue matcha!" Aryan meletakkan paper bag yang dibawanya, dia juga mengambil yang ada di tangan Ryan.


Miya mengangguk dan langsung menuju tempat antrian, sebenarnya Aryan ingin menawarkan diri tapi karena lelah mengikuti Miya jadi dia menyerah.


Miya kembali dengan beberapa jenis cake di nampannya, semuanya bikin dia ngiler dan ingin memakannya. Dia meletakkannya di depan dua laki laki itu dengan gembira, memberikan cake matcha ke Aryan dan Cheescake serta ice cream ke Ryan.


Dia sendiri memilih makan strowberry cake dan ada brownies juga.


"Makan-makan!" dia mengambil sendok dan memasukkan potongan kue strowberry ke mulutnya "Oh ya Yan, serius lo kenal orang tadi? Teman lo?"


"Satu kampus." jawab Aryan, dia sedikit teringat Nabila tadi. "Kenapa?"


"Enggak, hanya saja gue sedikit merasa jengkel dengan perlakuan perempuan tua tadi." dia mendengus sebal "Kayaknya dia marah deh temen lo belanja di mall beliin anaknya mainan, itu hak dia."


Aryan tersenyum kecil, "Benar, tapi tidak perlu terlalu dipikiran urusan orang."

__ADS_1


Aryan kembali memakan kuenya, dia sedikit heran dengan Nabila yang hanya diam saja. Meski hanya berhubungan dalam waktu singkat, tapi dia yakin Nabila tidak selembek itu.


Mungkin seseorang memang berubah saat menikah, Aryan hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.


__ADS_2