
"Semuanya baik baik saja," dokter yang baru saja memeriksa Rayna berkata sambil tersenyum "Jangan terlalu tegang."
"Mau bagaimana lagi, dok! Ini pertama kalinya untuk saya." Rayna mengelus perutnya lembut "Tapi saya sudah tidak sabar mau bertemu dengannya."
"Saya juga merasakannya setiap kehamilan." dokter kandungan itu tersenyum, matanya seolah menerawang ke masa yang lalu. "Tapi tidak biasanya suami kamu tidak mengantar, biasanya dia yang ikut dengan sejuta pertanyaan."
Rayna tertawa pelan mendengarnya, Manaf memang selalu ada saja pertanyaannya saat pergi check-up. "Dia kebetulan ada urusan penting, dengan begini bukannya dokter bisa aman dari pertanyaan aneh suami saya."
Miya hanya menatap Dokter dan pasien yang tertawa bersama, dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia mengambil gambar USG milik Rayna dan memperhatikannya, sia masih selalu takjub melihat bayi yang ada di perut adik iparnya itu.
"Menakjubkan bukan?" Miya mengangkat kepalanya menatap Dokter yang baru saja bertanya.
Miya tersenyum "Ya, sangat."
Rayna menatap sahabat sekaligus sahabatnya itu, dia tahu Miya cantik sejak dulu tapi melihatnya tersenyum tulus dengan mata sendu menatap USG jauh lebih cantik. Heran saja kenapa dia tidak memiliki kekasih, dulu pun sama bahkan saat itu sangat banyak yang mengejarnya.
Hah... Dia penasaran setampan apa mantan pacar yang membuat Miya sulit move-on.
"Oh ya dok, apa ada dokter yang jomblo? Kasian Ipar saya yang terus sendirian."
Miya dengan kesal mencubit lengan Rayna, "Apasih Na."
"Ya ngak apa apa juga kali, Sarina. Lo sih di minta cari sendiri ngak mau, nih gue kan lagi bantuin lo."
Miya memutar bola mata jengah, dokter itu tertawa melihat interaksi mereka berdua.
"Sebenarnya di rumah sakit ini ada tiga dokter idaman, tapi hanya satu yang belum menikah. Tapi sepertinya dokter wanita disini juga mengejarnya." jelas dokter obgy itu.
"Jangan hiraukan dia dok, memang kadang obatnya suka ngak mempan tiba-tiba." dengus Miya yang tentunya giliran Rayna yang memutar bola mata jengah.
Setelah berkonsultasi di selingi godaan Rayna pada Miya, akhirnya mereka keluar juga dari ruangan itu. Miya melirik Rayna mengelus-elus perurnya dengan tatapan lembut, sebahagia itu kah?
"Itu...itu... Itu dokter Ar dan dokter Ken,"
"Akhh.... Ganteng banget ngak sih?"
"Iya, kayak cowok cowok di drama korea, tak tergapai."
"yee... siapa bilang tak tergapai? Kita kerja di rumah sakit yang sama, kali aja kannn..."
"Jangan ngarep deh, dokter Ken sudah menikah, kabarnya dokter Ar itu dikejar sama dokter Camelia. Bisa lo saingan sama dokter Camelia."
__ADS_1
"Hahaha...berat sis... Kita mah cuman bisa menikmati ketampanan dari jauh."
Hahahaha....
Hahhhhh.... Miya hanya bisa menghela nafas panjang, dimana mana pasti ada yang seperti ini. Hihihi... Dia tiba tiba mengingat kelakuannya dengan teman-temannya saat SMA dulu, saat kumpul bersama mereka suka melihat dan bergosip tentang cowok tampan yang mereka lihat.
Padahal isi kelas mereka visual semua, Miya tidak menyangkal itu.
"Itu kali ya, Na." Rayna menggoyangkan lengan Miya "Memang ganteng, sih mereka. Coba saja gue belum nikah."
Miya dengan malas melihat ke arah yang dimaksud Rayna, dua pria berjas putih berjalan bersama sambil bercakap. Miya mengucek matanya memastikan, saat membuka matanya masih melihat pemandangan yang sama.
Apa ini? Deja vu?
Rayna terkejut saat Miya memutar badannya menghadap dinding "Lah lo kenapa, Na?"
"Hah? Oh itu? Gue tiba tiba merasa pusing tiba tiba." dia memegang kepalanya, Rayna menatapnya dengan mata menyipit curiga. "Sudah ah, kita balik."
Miya dengan cepat menarik tangan Rayna, dia masih malu dengan apa yang dia lakukan semalam. Tapi langkahnya terhenti tiba tiba saat namanya di panggil.
"Miya!"
Memejamkan matanya erat lalu membukanya, Miya membalikkan badannya sambil tersenyum seolah apa yang dia lakukan kemarin bukan hal yang memalukan.
"Yo Aryan! Kennan!" sapanya, tapi sekarang ada dokter perempuan di samping Aryan.
"Ibu bendahara IPS," Kennan berkata "Lama tidak ketemu."
"Ya, dan stop panggil gue bu bendahara karena gue bukan lagi, tapi meski begitu gue ngak lupa kok kalo Aryan masih ada tunggakan tiga puluh ribu ke gue." ucap Miya mengangkat senyum ke arah Kennan, tapi dia mendengus ke arah Aryan.
"Nanti gue beliin mie Ayam sama es teh." ucap Aryan pada akhirnya.
"What? Pelit amat sih Say-eh Yan, malu kali sama jas putih lo. Masa iya gue cuman di traktir mie Ayam doang?" serbu Miya, Rayna yang di sampingnya syok.
Ini kakak iparnya?
"Hutang gue cuman tiga puluh ribu." Miya mendengus mendengar ucapan Aryan, "Lo ke sini ngapain?"
Camelia yang berdiri di sampingnya tersentak, dokter Aryan tidak pernah bertanya basa basi apa apa pada siapapun kecuali pasiennya tapi ini? Dia melihat Miya dari atas ke bawah, tentunya Miya merasakan.
"Ke Dokter kandungan."
__ADS_1
"Lo hamil?" Aryan bertanya spontan dan spontan Miya memukulnya membuat yang ada di sana kaget.
"Hamil sama siapa gue? Ngak usah ngadi-ngadi! Mantan pacar gue yang terakhir baru nikah kemarin," Miya menarik Rayna mendekat. "Nih yang hamil."
Aryan hanya meliriknya, Rayna tidak tahu harus apa.
"Dia Rayna istrinya Manaf, adik ipar gue." jelas Miya "Na, ini Aryan dan Kennan teman SMA gue."
Barulah Rayna berseru dan sadar, pantas saja Miya tiba-tiba akrab. Apa ini kesempatan dia bertanya, dia menatap Kennan dan Aryan bergantian.
"Apa kalian tahu siapa mantan Sarina saat SMA? Saya penasaran karena Sarina susah sekali mo-vmppph" Miya langsung menutup mulutnya, melotot ke arah adik iparnya itu.
"Sarina?" Aryan berkata bingung, tak lama dia baru ngeh "Miya!"
"Menurut lo? Sudah tidak usah di jawab, lagian dia cuman bertanya asal." ucap Miya dia melihat Kennan "Hanna apa kabar?"
Kennan tersenyum mendengar pertanyaan Miya, mengingat semalam dia kena omel Hanna membuatnya geli. "Hanna sehat alhamdulillah, tapi agak mabok."
"Hah? Mabok?"
"Hamil anak ketiga dia" Aryan yang menjawab, Mata Miya membulat dan menatap Aryan.
"Lo kapan Yan?" tanyanya spontan
Pletak!
Miya meringas karena mendapat sentilan di dahi, hahahaha.... Dia tau itu pertanyaan sensitif untuk orang yang belum menikah seperti mereka.
"Kalian akan datang ke reunian?" Miya mengusap dahinya yang masih nyeri "Kalian datang kan?"
"Kalau Hanna tidak mabok," ucap Kennan, Miya mengalihkan atensinya ke arah Aryan.
Aryan menghela nafas "Ya."
Mendengar jawaban pendek Aryan, Miya hanya bisa mencibir kesal. "Sok keren banget sih." dia mencibir dengan sangat pelan.
Setelah basa basi sedikit lagi, Miya akhirnya pamit pulang dan kebetulan Aryan dan Kennan juga harus kembali kerja.
"Aryan!" Dokter pria itu menoleh dan melihat ke arah Miya "Gue bakal tagih mie Ayamnya, awas saja lo bohong gue hantuin lo seumur hidup."
"Berisik toa." ucapnya
__ADS_1