Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 21


__ADS_3

Camelia berjalan mengikuti Aryan ke parkiran, pemandangan ini tentunya di tatap iri oleh orang lain. Dokter tampan dan dokter cantik, siapa yang tidak iri coba?


Camelia terkejut saat Aryan masuk begitu saja, dia sama sekali tidak melirik ke belakang. Dengan sedikit ragu dia membuka pintu mobil, dia duduk di kursi samping Aryan.


Aryan meliriknya sekilas, hanya memastikan kalau gadis itu sudah masuk. Aryan menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkiran, dia tidak membuka suara.


Aryan meraih hpnya, dia menekan beberapa nomor untuk dia hubungi.


"Al, bisa tolong bungkusin gue makanan seperti biasa, gue nanti singgah ngambil."


Camelia melirik Aryan, dia penasaran dengan siapa dia bicara. Dokter laki laki itu tampak sangat santai, tidak formal seperti biasa.


"Sudah di jalan ini." Aryan melihat lurus ke jalan dan telinganya masih fokus mendengar suara di seberang. "Iya terserah."


Aryan mengambil jalan memutar, setidaknya itu jalan yang lebih dekat dengan tempat Alga.


"Suruh tuh Hanin diam, cerewet banget." Camelia melirik Aryan begitu mendengar ada nama perempuan dari mulut Aryan, "oke!."


Aryan memutus sambungan telefonnya.


Selang lima belas menit Aryan memarkirkan mobil di depan resto, dia dengan cepat keluar. Camelia dengan cepat menyusulnya, ini pertama kali dia ke tempat ini.


"Dokter sering ke sini?" tanya Camelia.


"Hn" hanya itu tanggapan Aryan sambil membuka pintu. "Mbak, Bos Al di dalam kan?"


"Eh Mas Aryan," wanita berhijab itu terkejut, mereka memang saling kenal. "Iya Mas ada, kebetulan juga Bu Hanin, pak Afkar dan Mas Cakra."


Panggilan Hanin dan Afkar memang sedikit berbeda, entah karena mereka mendengar Alga memanggilnya dengan sebutan 'Papa Mama' atau memang karena diminta. Aryan berhenti sejenak.


"Caka?"


"Iya Mas, Mas Cakra. Tidak mungkin aku salah ngenalin teman Bos Al!" dia melihat ke belakang "Cieee.... Akhirnya bawa cewek juga Masnya."


Aryan melihat ke belakang, "Rekan. Mbak aku ke Alga dulu, buru buru soalnya."


"Siap Mas." wanita berkata sambil hormat, Aryan menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk.


Kayaknya karyawan Alga ketularan penyakit anak kelas bosnya.


Camelia masih terpaku di depannya, entah kenapa rasanya sedikit sakit mendengar ucapan Aryan tadi. Memang sih tidak salah, apa yang dia harapkan?


"Mbak?" Camelia tertegun, dia tersenyum ke wanita tadi dan dengan cepat menyusul Aryan.


Aryan membuka pintu ruangan yang memang disiapkan untuk mereka saat datang, "Ma... Pa... anak sulung kalian datang!" dia berlari kecil mendekati Afika yang makan wortel rebus "Haloo!"


Afkar mendorong kepala Aryan "Jauh jauh lo dari anak gue."

__ADS_1


"Pelit amat, Pa." dia yang tadi hendak memeluk anak imut itu menegakkan duduknya, "Tadi gue denger dari Mbak Wilsa, kang supir datang, mana?"


Di ambang pintu Camelia tertegun, ini benar dokter Aryan? Kulkas 34 pintu yang bekerja di tempat yang sama dengannya? Kenapa jadi begini?


"Permisi Mbak!" Camelia menoleh dan mendapati pria berkulit putih dengan tatapan tajam karena matanya sipit, Camelia dengan cepat menghindar. "Yang ngundang nih tukang suntik siapa?"


"Wih... Kang Supir."


Cakra mendengus "Supir supir begini sekali jalan mahal banget." dia dan Aryan melakukan tos, tak lama dia menunjuk ke belakang "Cewek lo ngak di ajak masuk."


Plak


Aryan memegang kepala yang baru saja kena pukul Hanin "Heh geblek ajak masuk sana." Hanin memelototinya.


"Ngak lama ini, Alga mana?"


"Mau kemana?" Afkar mengambil tisue lalu mengelap mulut Afika. "Sudah makan belum lo?"


"Mau keluar kota," dia berdiri karena sudah melihat Alga dengan paperbag di tangannya. "Tuh baru sampe makanannya."


Hanin dan Afkar menatap temannya itu lekat lekat, Hanin menghela nafas "Makan teratur kali, Yan. Astaga... Kalau lo sakit lo bakal repot sendiri."


Aryan tersenyum "Siap Mama...."


"Jangan siap siap aja lo." omel Hanin.


"Nih!" Alga memberikan paperbag ke arah Aryan yang langsung di terima Aryan.


"Ote!" anak itu mengacungkan jempolnya tanpa melihat Aryan.


"Beneran anak Hanin nih anak." ucapnya terkekeh. "Gue duluan ya. Ka, kapan kapan mabak yok."


"Persis lo ada waktu." cibir Cakra.


"Lo yang sok sibuk nyetir tuh capung besi." balas Aryan.


"Yan!" panggil Afkar, Aryan menoleh "Lo ngak usah bayar, gue bayarin!"


Senyum Aryan langsung mengembang "Love you Pa..."


"Suami gue, Yan. Ngak usah genit lo." ucap Hanin, Afkar mengelus kepalanya. Spontan mereka yang di sana memasang wajah mau muntah "Apa lo pada?"


Aryan dengan cepat meninggalkan tempat itu, berlama lama di sana pasti makin sulit untuk pulang.


"Lah... Cepet amat Mas? Tumben ngak berisik dulu!" tegur Wilsa yang melihatnya sudah keluar.


"Kangen ya mbak sama suara bisingnya?" Aryan menaik turunkan alisnya, wanita memasang wajah sewot.

__ADS_1


"yang ada saya trauma, Mas." dia melihat ke Camelia kasihan "Mbak sebagai rekan sabar ya Mbak sama kerandoman beliau."


Camelia hanya bisa tersenyum kaku, dia masih saja syok dengan apa yang terjadi. Dia merasa sedang berhalusinasi, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar.


Camelia makin merasa apa yang dia lihat itu tidak nyata, karena begitu keluar Aryan kembali ke mode es batu. Dia melangkah tanpa mengatakan apa, dia malah terlihat terburu buru.


Langkah Aryan terhenti melihat siapa yang turun dari mobil yang baru berhenti, orang baru turun juga terlihat sedikit kaget melihatnya. Aryan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku karena tangan lainnya memegang paper bag.


"Loh Yan, lo baru dari dalam?" Miya berjalan ke arahnya, dia tidak sendiri karena ada Griffin di belakangnya.


"En." dia mengangkat paperbag di tangannya seolah menjelaskan kedatangannya. "Di dalam ada Mama, Papa sama Caka."


Mata Miya langsung berbinar "Serius ada Caka?"


"Seneng banget Mi kayaknya," cibir Aryan, Miya mengedipkan sebelah matanya "Mata lo picek."


"Ngak asik lo," dia cemberut. "Ada Caka berarti ada mangsa buat di mintai traktiran, jarang jarang kan... Pas kemarin gue ngak sempat minta traktiran karena makanannya keburu datang. Bukan hanya dia, ada Alvin, Kevin Fadly.. Hmmm... ATM gue banyak juga. "


"Istigfar Miya Sarina, tapi kalo kebanyakan gue siap nampung." tanpa aba aba mereka langsung bersalaman, seolah kesepakatan baru saja dilakukan kesepakatan.


"Selama mereka belum nikah, berarti masih ada peluang buat makan gratis."


"Kang palak emanh" Aryan hanya tertawa kecil, dia menepuk pelan kening Miya dengan telapak tangannya, "Gue duluan!"


"Awas saja lo minta, gue ngak bakal bagi." seru Miya dia masih memegang dahinya, Aryan menoleh ke arahnya


"Warisan bapak gue banyak!"


Miya mencibir tapi tidak membalas lagi, terlebih melihat wajah Camelia yang mendung. Dia juga tidak bisa membiarkan atasannya lama lama di sana, dia segera menghadap atasannya.


"Terima kasih sudah mengantar saya, Pak!" ucapnya mencoba tersenyum.


Aryan menghela nafas dan masuk ke dalam mobil, menjalankan mobil dan melajukannya. Camelia masih diam, pikirannya sudah kemana mana.


Apa Aryan berkepribadian ganda? Wajah pria itu sekarang kembali ke mode serius, dia benar benar tidak memahaminya.


"Apa itu tadi teman teman dokter?" Camelia berbicara memecah keheningan, mereka sudah lumayan lama di mobil tapi sangat hening.


Ngeri juga.


"Ya." jawab Aryan, dia menumpukan tangan kanannya ke jendela mobil untuk menahan kepalanya, sedangkan tangan kirinya memegang setir mobil.


Camelia memegang sabuk pengaman sedikit erat, Aryan baru saja menambahkan laju mobilnya.


"Dokter, tolong jangan terlalu melaju." cicitnya, dia tidak tahu kenapa, tapi mood Aryan tampak tidak bagus.


Segitu tidak suka kah pria itu mengantarnya.

__ADS_1


"Dokter!" pekiknya.


"ah, maaf!" barulah dia memelankan laju mobilnya, tapi setelah itu dia kembali ke pose malas.


__ADS_2