
"Pacarnya ya?"
Aryan yang baru saja mematikan sambungan telfon, dia menatap rekan kerjanya sambil tersenyum. Dua rekannya hanya bisa menatapnya takjub, mereka bisa melihat beberapa ekspresi Aryan tadi.
"Apa itu perempuan yang menjadi gosip di rumah sakit belakangan ini?" tanya salah satu rekannya, Aryan tidak menjawab tapi siapapun yang melihat akan tahu kalau tebakan mereka benar. "Wah... Benar benar! Akhirnya ada yang bisa mecahin raja kutub utara-selatan kita."
Ah, kedua dokter itu adalah temannya saat kuliah dulu. Mereka berdua baru di rumah sakit itu, baru ada waktu untuk makan bertiga setelah jadwal yang padat.
"Tapi kalian sudah dengar kabar soal Nabila?" tanya Lukman. Aryan dan Taqy menggelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Taqy, Aryan tidak bertanya karena kembali makan sudah dari tadi dia mendiamkan makanannya.
"Katanya dia menggugat Seto, kasus KDRT. Katanya dia di KDRT dari semenjak anaknya lahir."
"Jangan bercanda lo! Gue ketemu mereka beberapa bulan lalu, mereka masih romantis."
Aryan yang mendengarnya tidak menanggapi, bukan karena tidak peduli tapi dia hanya merasa bukan ranahnya dia. Mereka menoleh menatap Aryan yang masih lahap, mereka benar benar berpikir Aryan sangat dingin.
"Apa?" tanyanya saat dia merasa jengah dengan tatapan mereka.
Taqy menghela nafas, "Menurut lo bagaimana? Sebagai mantan pacar apa tanggapan lo?"
"Langkahnya tepat," jawab Aryan singkat.
Mereka menatapnya dengan tatapan sewot, Aryan tidak tahu di mana letak kesalahannya.
Lukman memijat keningnya, "setidaknya lo merasa prihatin."
"Gue merasa prihatin," mereka lagi-lagi menatapnya tidak percaya. Aryan meletakkan sendoknya, "tapi memang apa yang bisa gue lakuin? Itu urusan rumah tangga orang."
Mereka saling menatap, memang apa yang dikatakan Aryan memang benar adanya. Mereka mengambil sendok mereka, lebih baik melanjutkan makan mereka.
"Pacar lo, memang kenal di mana?" Taqy bertanya karena sedikit penasaran.
Aryan mengambil ponselnya, membuka galery dan memperihatkan sebuah foto. Mereka berdua melotot, bukan karena foto pacar Aryan tapi ekspresi tengil pria itu.
Mereka melihat foto dan Aryan bergantian, sama sekali seperti orang yang berbeda. Foto yang Aryan perlihatkan adalah foto Aryan dan Miya saat di acara pensi sekolah, Aryan yang menyengir ke kamera sedangkan Miya cemberut karena baru saja dijahili trio rusuh.
FYI, foto itu diabadikan oleh Sasha.
"Eh?" Lukman menyipitkan matanya "Ini foto pas lo SMA? Berarti cewek lo kenal di SMA?"
__ADS_1
Aryan mengangguk.
"Jangan bilang cewek lo pas SMA."
Aryan menjauhkan kembali ponselnya, menyimpannya dalam saku. "Bukan."
"Tapi cewek lo pas SMA mana?"
Aryan tidak mengatakan apa apa, dia malah berdiri meninggalkan meja menuju kulkas. Dia tidak ingin membahas soal Dalvina, hanya saja dia sudah ingin memulai cerita lain.
Dalvina tetap ada di bagian hatinya, dia tidak mungkin melupakannya. Sama halnya Dimas di hati Miya, tapi mereka tetap harus move-on dan memulai cerita mereka yang baru.
"Baru maka?"
Aryan menoleh saat mendengar suara yang akrab, dia melihat Kennan yang baru masuk kantin. Pria putih jangkung itu terlihat sangat lemas, Aryan yakin ada pasiennya yang kambuh.
"Ya." Aryan menjawab singkat, Kennan berjalan ke arahnya dan mengambil kaleng soda yang dibuka Aryan lalu menyesapnya. "Woi!"
"orang kikir kuburannya sempit." ucap Kennan yang hanya di balas decihan sama Aryan.
"Kayaknya hari lo berat!" ucap Aryan melihat Kennan menghela nafas panjang.
"Lo curhat, Nan?" Kennan memutar bola mata jengah melihat tampang menyebalkan Kennan.
"Enggak, lagi story telling gue." jawab Kennan sedikit kesal. Dia melirik Aryan yang menatap kaleng baru di tangannya, "gosip belakangan ini seru ya."
Aryan langsung melihatnya, wajahnya sedikit memerah. Melihat itu jiwa jahil Kennan sedikit timbul, tapi dia enggan menggoda Aryan.
Tapi pada akhirnya dia hanya bisa menarik nafas panjang, "jangan bilang ke Miya kalau dia jadi pembicaraan satu rumah sakit."
"Hmm..." Kennan bergumam dengan nada mengejek.
"gue juga bisa bilang ke Hanna, kemarin suaminya dapat pernyataan cinta lagi."
"Sial!" kennan menendang kaki Aryan.
Selesai bercanda dia baru kembali, dia hampir lupa kalau ada Taqy dan Lukman bersamanya. Dua pria yang menatap Aryan dari jauh, lagi lagi mereka terkejut melihatnya.
Aryan tidak pernah bercanda dengan siapa pun saat kuliah dulu.
***
__ADS_1
Usai makan malam dia langsung ke ruangannya, banyak catatan pasien yang harus dia lihat. Dia akan mengerjakan beberapa, setelahnya dia akan pulang ke rumah untuk tidur.
Aryan sampai di rumah setengah sebelas malam, tidak seperti yang sudah sudah, rumahnya sekarang terlihat lumayan rapi. Dia berjalan ke arah kamarnya, melempar jas kerjanya sembarangan dan langsung masuk kamar mandi.
Setelah mandi dan berganti baju, dia berjalan ke arah dapur karena air yang sudah dia siapkan habis. Tapi begitu melewati kamar Ryan dia menghentikan langkahnya, remaja itu sepertinya belum tidur.
Aryan mengetuk pintu kamar Ryan, tidak butuh waktu lama untuk pintu terbuka. Ryan berdiri di depannya sudah lengkap dengan piyama yang Alisa belikan, tapi tangannya memegang gunting.
"Kenapa belum tidur?" Aryan sedikit mengkerutkan keningnya, "kamu besok sekolah kan?"
"Ada tugas," Ryan membuka lebar pintunya, barulah Aryan melihat kamar anak yang biasanya rapi sekarang berantakan.
Dia berjalan masuk untuk melihat lihat, lem, kardus, kertas semua berserakan di lantai. "Tugas apa?"
"Prakarya," Ryan berjalan masuk mengikuti Aryan yang seenaknya masuk di kamarnya, dokter itu sudah jongkok di depan prakarya Ryan. "Setengahnya lagi selesai."
"Memang kamu disuruh buat miniatur apa?" Aryan mengambil pekerjaan Ryan untuk dia lihat. Itu sebuah bangunan yang dia tidak tahu apa, tapi yang pasti itu bangunan sekolah.
"Sekolah kami."
"Kapan dikumpulkannya?"
"Besok," jawab Ryan.
Aryan mengkerutkan keningnya, "kapan tugas ini diberikan guru?"
"Tadi!"
Gila! Kenapa mepet sekali? Aryan menatap Ryan yang wajahnya kacau, dia tampak mengantuk sekali. Wajar sih, karena anak itu remaja yang dalam masa pertumbuhan.
"Kamu tidur saja, biar aku yang menyelesaikannya."
"Tapi it-" Aryan menatapnya tegas, Ryan hanya bosa menghela nafas dan menurut meski khawatir dengan tugasnya. "Selamat malam."
"Selamat malam!" balas Aryan.
Dia kemudian duduk bersila, matanya tertuju ke foto gedung yang gambarnya di ambil dari jauh. Dia bisa meyakini kalau gambar itu adalah referensinya, jadi dia mengambil dan menempelnya di dinding agar lebih mudah dilihatnya.
Saat dia melihat ke kasur, anak itu sudah tidur padahal belum beberapa menit dia berbaring. Aryan berdiri dan memungut semua alat dan bahan kerajinan, lebih baik mengerjakannya di luar kamar karena dia akan mematikan lampu kamar Ryan.
"Haah... Guru memang kadang menyebalkan kalau ngasih tugas." gumam Aryan sambil meletakkan barang barang di lantai ruang keluarga.
__ADS_1