Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 35


__ADS_3

Tiga remaja dengan pakaian pasien berjalan sambil mengendap endap. Ini jam tidur siang mereka, tapi mereka malah berencana kabur.


"Dimas, liatin siapa tahu ada suster Maya datang!" Miya mengintrupsikan satu satunya anak laki laki di antara mereka bertiga.


"Enggak ada!" dia berkata setelah memastikannya.


Mereka bertiga dengan cepat melarikan diri, karena saat mereka ketahui pasti akan diomeli lagi. Mereka tahu konsekuensi kalau melanggar aturan suster, tapi mereka juga masihlah anak anak yang penuh adrenalin.


Mereka terbahak sambil bertos ria setelah berhasil keluar, ini bukan kali pertama mereka kabur sejak bertemu dengan anak laki laki yang seumuran mereka.


"ARYAN!!!" Dalvina melambaikan tangannya ke arah remaja yang memakai seragam SMP yang sudah menunggu mereka.


"Cieee... Yang mau ketemu sama crush!" Miya meledek Dalvina sambil berjalan ke arah remaja itu, tentunya Miya berbisik agar tidak ketahuan.


"Apaan sih, enggak! Kamu kali yang suka."


Miya terkikik menutup mulutnya "Enggak ah, kamu nanti marah."


"Ihhh... Miya! Enggak! Dimas tuh!" dia menunjuk Dimas.


Tapi remaja itu mendengus, dia meraih tangan Miya "Aku suka perempuan! Kan, Mi?"


Dalvina melotot ke arah mereka berdua, "Kalian jangan bilang..."


Miya dan Dimas saling memandang kemudia tersenyum, Dalvina menahan nafas dan menghembuskannya berlahan.


"Curaanggg..."


"Kenapa lama sekali?" Aryan berkata sambil melihat mereka yang berhenti berjalan.


Dalvina berjalan sambil cemberut, dia menunjuk ke arah Miya dan Dimas yang masih cengengesan. Aryan melirik mereka berdua, terlihat jelas ada bunga bunga di sekitaran mereka.


Miya mengkerutkan keningnya, "Aryan, lo habis berkelahi?" Miya mengangkat tangannya menyentuh keningnya sendiri, "Ada lebam di area ini."


Cowok yang Miya kenal dari beberapa bulan lalu itu menyentuh keningnya, dia tidak merasakan sebelumnya. Miya menghela nafas panjang, cowok itu sepertinya sudah mati rasa.


Dan selama mereka berteman, tak sekalipun mereka melihatnya tertawa ataupun tersenyum.


Mereka berempat kemudian duduk berkeliling di bawah pohon, Aryan mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Mereka sepakat bertemu beberapa kali, hanya sekedar meminta bantuan belajar dari Aryan.

__ADS_1


Selama ini mereka belajar hanya lewat tutor masing masing, mereka tidak pernah merasakan belajar bersama seperti ini. Jadi saat mendengar cerita mereka di awal kenalan, Aryan entah kenapa menawarkan diri untuk belajar bersama.


Dalvina merebahkan dirinya di atas rumput "Akhhh... Aku menyerah, aku tidak cocok sekolah!"


"Itu karena kamu selalu bolos saat waktu belajar," Miya berkata seperti itu karena tahu Dalvina selalu bolos saat jam belajar yang ditentukan orang tuanya.


Dalvina mengubah posisinya menjadi tengkurap, kepalanya dia arahkan ke arah lain dan bergumam "Memang kita bakal sekolah formal?"


Dimas dan Miya langsung menunduk, mereka sangat mengerti perasaan Dalvina. Selama ini mereka tidak pernah melihat pasien kanker sembuh, malahan satu persatu teman mereka pergi untuk selamanya.


Miya jauh lebih paham, dia di sana jauh lebih dulu dari mereka.


"Aku akan jadi dokter," mereka bertiga langsung melihat ke arah Aryan "Aku akan mencari cara menyembuhkan kanker.


Miya menepuk tangan kemudian tersenyum lebar "Hn, Kami akan menunggu. Aryan kan pintar jadi tidak akan lama."


"Benar!" Dimas ikut menimpali "Saat sembuh nanti, aku juga akan sekolah di kedokteran."


"Enaknya," Dalvina langsung duduk "Aku bahkan tidak tahu mau melakukan apa. Bagaimana dengan Miya?"


"Aku akan pergi ke sekolah formal!" itu keinginan Miya dari lama.


Melihat adiknya memakai seragam sekolah membuatnya iri, dia juga mau sekolah mau mencari teman. Melihat bagaimana orang tuanya membanggakan adiknya membuatnya iri juga, apakah saat sekolah dia bisa seperti itu juga?


Dalvina tiba tiba berdiri "Tahun depan, ayo masuk di SMA yang sama."


"Hn!" Miya mengangguk antusias.


"Aku mau cari pacar! Biar kayak di tv tv!" dia kembali berseru.


Miya memiringkan kepalanya, ada senyum jahat terukir di bibirnya "Tapi kamu kan suka sama..."


"Akhhh..." Dalvina menutup mulut Miya, mereka berdua terguling dan tertawa bersama.


"Cewek cewek memang aneh!" Aryan mengangguk menyetujui ucapan Dimas, "Tapi kamu berkelahi dengan siapa?"


Aryan menyentih pelipisnya "Anak SMA!"


Dia bisa melihat binar di mata Dimas, "Keren! Aku juga mau belajar berkelahi, puak! " dia mengangkat kepalannya dan meninju udara.

__ADS_1


"Kamu bisa ikut bela diri," Aryan menyilangkan kakinya, dia melihat Dimas serius "Aku akan membantumu mencari tempat yang bagus."


"Benarkah?"


"Ya!"


Saat dua remaja laki laki itu bercerita dengan semangat, dua remaja itu juga langsung nimbrung merecoki mereka. Mereka tertawa bersama (kecuali Aryan), bercanda (Aryan pengecualian) dan belajar bersama yang tentunya dibarengi dengan keluhan Dalvina.


Mereka terus bertemu meski selalu kena omel sama suster Maya saat pulang, mereka menikmatinya. Meski sesekali mereka tidak bisa bersama karena mereka drop dan tidak bisa bergerak, tapi semuanya tidak seberat sebelumnya.


Aryan juga secara bertahap sudah tertawa, meski setiap datang pasti selalu ada luka di wajah dan tubuhnya. Tapi mereka tidak mempermasalhkan karena Aryan tidak mengganggu mereka, juga mereka mengerti tindakan Aryan berkelahi untuk mencari tahu siapa pelaku penembakan ibunya.


Ya, meski berlahan tapi Aryan terbuka pada mereka akhirnya.


Meski Miya divonis sembuh paling akhir, dia tetap tidak merasa kesepian. Mereka rajin menemui dan menemaninya, utamanya Dimas yang memang notabenya adalah pacar Miya.


Dan saat dia divonis sehat, mereka sangat bahagia untuknya. Mereka berusaha mati-matian untuk masuk di sekolah SMA yang sama sesuai janji mereka.


Meski beda kelas.


Pada hari pertama masuk sekolah, Miya terus saja menggoda Dalvina. Pada saat ke sekolah Miya mendapati dirinya dan Aryan bergandengan tangan, Miya yang notabenya pendukung keras mereka sangat bahagia.


Tentunya kebahagiaannya dia aplikan ke menggoda mereka.


"Akhh... Dimas! Pacar kamu nih, jauhin." Dalvina terus merengek.


Meski ikut menggoda mereka, tapi Dimas tetap meraih Miya agar tidak terlalu iseng.


"Sekolah ini banyak cowok ganteng," ucap Miya yang diangguki oleh Dalvina. "Dipacarin bisa kali, ya!" mereka berdua kembali cekikikan.


Aryan menyikut pelan Dimas, "Jauhin pacarmu dari pacarku, otaknya bisa terkontaminasi."


"AKU DENGER!" Miya mendelik, Aryan menatapnya tidak takut.


"Baguslah."


Setelah ada pengumuman, mereka berempat berpencar ke kelas masing masing. Karena sekolah adalah lingkungan baru, mereka bertiga agak sulit beradaptasi.


"Kalian akan terbiasa," Aryan menerima ice cream dari Dalvina. "Terima kasih"

__ADS_1


"Ya, tapi tidak ada yang mengajakku bicara!" Miya menunduk, ini tidak seperti yang dia bayangkan "Oh iya, Yan. Aku dengar anak anak di sekolah ini ngomong 'lo-gue', memang tidak apa? Mami bilang tidak sopan."


"Ya, tidak masalah." Aryan mengedikkan bahunya, bagaimana pun mereka bicara Aryan bisa menyesuaikan diri.


__ADS_2