
"Lo apain lagi anak orang, Yan?" tanya Afkar sambil meletakkan gelas kopi di depan Aryan.
Mereka sedang berada di meja makan, tapi mereka masih bisa melihat ke arah ruang tamu. Di sofa ruang tamu, ada Miya yang berbaring tanpa melepas kacamatanya.
"Lo iseng lagi kan?" Hanin memukul punggung Aryan.
"Kenapa jadi gue?" ucap Aryan mencoba menggosok punggung yang kena tempeleng Hanin, rasanya pedih.
Meski perempuan itu dikenal sebagai makhluk lemah, tapi tamparan mereka itu nyata perihnya.
Hanin dan Afkar kaget dengan kehadiran mereka yang tergolong pagi, Afkar saja belum berangkat kerja soalnya. Yang membuat mereka kaget adalah Miya tiba tiba memeluk Hanin dan menangis, tanpa penjelasan apapun dia sudah tidur di sofa.
"Kenapa sih tuh anak?" giliran Hanin yang bertanya, "Apa soal nikahan mantannya?"
Aryan mengedikkan bahunya, dia tahu Miya sedih soal itu tapi entah kenapa dia merasa marah marahnya dia tadi bukan soal itu. Dia pernah melihat Miya uring uringan seperti ini, tapi itu sudah lama sekali, saat itu dia mau operasi yang terakhir kalinya.
Dia ingat waktu itu, dia sangat menunggu orang tuanya tapi mereka tidak datang. Miya sampai meraung tidak mau di operasi, beruntungnya dokter berhasil membujuknya.
Aryan satu satunya yang hadir, karena Dimas dan Dalvina juga lagi dirawat intens, membantu Dokter membujuknya. Mungkin sejak itu pula dia merasa kalau dia harus melindungi gadis itu, benar benar konyol.
Aryan menghela nafas "Lo tidak ke kantor Pa?"
Afkar yang menyesap kopinya melihat Aryan, "Sedikit lagi," dia melihat jam di dinding "Lo?"
"Gue cuti hari ini," dia melihat ke arah sofa lagi, Miya sudah bangun dan terlihat mengobrol dengan Afikah.
Miya terbangun karena merasa ada tangan kecil berusaha membuka kacamatanya, dia buru buru membuka matanya dan melihat Afikah berdiri di sampingnya.
"Bobo, ini" dia menunjuk kacamata hitam Miya "No no no, anti atah!"
"Kan Pika bisa beliin!" ucap Miya, mata gadis itu membulat "Mau beliin aunty ngak?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, "Pika uit na di abung! Aunty beyi endili. Ta ma Ayah uit na."
Miya memegang dagunya pura pura berfikir, "Memang banyak ya duitnya?"
"Banyaaaak!!" gadis kecil itu melebarkan tangannya seolah mendeskripsikan kata banyak.
Miya tertawa gemas, dia dengan cepat meraih Afika ke dalam gendongannya. Awalnya gadis kecil itu memberontak tidak mau, tapi saat tahu akan ke dapur dia diam.
"Papa! Kata Pika, gue boleh minta duit sama lo!" serunya begitu tiba di dapur.
Afkar mendelik ke arahnya saat mendengar itu, "Enggak ada!"
"Dih, kata Pika banyak. Iya kan Pika? Papa banyak duitnya?"
Anak itu menganggukkan kepalanya, "Iya! Tapi Papa no no no, Ayah!"
__ADS_1
Hanin mengambil alih putri sulungnya, dia berniat memandikan anak itu. "Oh ya Mi, lo datangkan ke acara Dimas?"
Miya menundukkan kepalanya, dia masih tidak tahu. Dia tidak ingin datang karena hatinya tidak siap, tapi dia di undang dan akan tidak sopannya kalau sampai dia tidak hadir.
"Kalau lo, Yan?" Miya menunduk menatap Aryan, pria itu mendongak dan menyengir
"Tentu datang! Dia kan bestai gue!"
"Itu dresscodenya, pink pastel kan?"
"Pakai Dresscode?" Miya dan Aryan berseru bersamaan, mereka tidak tahu.
"Iya, kan tertera di undangan Bambang, Munaroh!"
Miya dan Aryan saling menatap, mereka tidak memperhatikan itu. Aryan pun saat menelfon Dimas untuk memastikan keaslian undangan, dia tidak mendengar pembahasan baju apa yang harus dipakai.
"Gue tidak ada baju, Pink. Ryan juga." Aryan menepuk keningnya "Si Dimas gaya banget dah pake dresscode dresscode segala."
Afkar yang mendengar ucapan Aryan menoleh, "Lo mau bawa Ryan?"
"Iya, dia harus dikenalin sama lingkungan yang akan dia hadapi kelak."
"Lo serius mau ngadop dia?" Aryan mengangguk "Lo sudah ngurus?"
"Bang Ezra katanya mau bantuin, dia lebih paham hukum soalnya."
*****
Aryan dan Miya meninggalkan rumah Hanin setelah siang, dia akan meminta Miya membantunya mencari baju karena dia tidak nyaman membeli pakaian dengan warna feminim. Miya meski sedikit kurang bersemangat tetap ikut, dia masih tau rasa terima kasih.
Mobil Aryan berhenti di depan gerbang sekolah, ini alasan mereka pulang lebih siang dari rumah Hanin. Aryan dan Miya sama sama keluar dari mobil, mereka melihat anak smp itu berbondong bondong keluar.
FYI, pada akhirnya Miya tidak masuk kerja.
"RYAN!"
Ryan menoleh ke belakang, beberapa siswa berlari ke arahnya. Semenjak pindah sekolah di sini, dia sudah mulai mendapatkan teman.
"Mau main footsal? Kita ke kurangan orang di Tim."
Ryan sedikit memikirkannya, tapi saat akan menjawab ekor matanya menangkan dua orang yang di kenalnya. Dia spontan menoleh dan benar saja dia tidak salah lihat, Miya yang masih pakai kacamata hitam melambai ke arahnya.
"Tidak, saya sudah dijemput." jawab Ryan, teman temannya melihat ke arah pandangan Ryan.
Di depan gerbang berdiri pasangan yang pria dan wanita yang cantik, mereka hanya tidak menyangka orang tua Ryan sangat muda. Atau mereka awet muda? Mereka menoleh ke arah Ryan, tidak heran kalau Ryan goodlooking wong orang tuanya goodlooking.
"Duluan ya!"
__ADS_1
Ryan dengan cepat melangkah ke arah mereka, tidak menyangka kalau Aryan akan menjemputnya. Tidak cukupkah supir yang siap sedia kemana pun dia pergi? Terus kenapa dia masih menjemputnya?
"Kamu tidak ada kegiatan eks-school kan?" tanya Aryan, Ryan menggelengkan kepalanya. "Bagus, kalau begitu kamu ikut."
Miya tertawa melihat wajah bingung Ryan, Miya dengan pelan mendorong pelan punggung Ryan. "Kami mau culik kamu hari ini, jadi silahkan masuk ke mobil dulu."
Meski kebingungan dengan apa yang terjadi, Ryan tetap menurut dan duduk di kursi penumpang karena bangku depan sudah diisi oleh Miya. Dia dengan sangat pelan mengangkat pandangannya ke depan, beginikah rasanya di jemput orang tua?
Dia tidak pernah merasakannya.
"Ah Yan!" Miya yang sedang chat dengan Andin melihat ke Aryan, "Singgah ke rumah makan dulu."
"Kenapa?" Miya tidak mengatakan apa apa, matanya hanya melirik ke belakang saat Aryan melihatnya "Um, oke."
Mereka masuk ke sebuah restourant keluarga, sebagai perempuan satu satunya Miya di beri kesempatan memesan lebih dulu. Aryan yang mengenal Miya dari jaman purba sedikit mengkerutkan keningnya, Miya hanya memesan satu jenis makan.
"Pesan lagi Mi, gue yang bayarin ini." Biasanya gadis itu akan bersemangat saat mendengar kata 'dibayarin'.
"Ngak nafsu makan gue." dia menopang dagunya "Ray, kamu jangan makan sedikit karena kamu masih masa pertumbuhan."
"Iya." Ryan menjawab seadanya, dia hanya sedikit aneh dengan Miya yang masih memakai kacamata meski sudah di dalam ruangan.
"Jangan pedulikan dia," kata Aryan karena melihat Ryan menatap Miya dengan kening dikerutkan. "Bagaimana dengan sekolah mu? Apa masih seperti sebelumnya?"
Ryan menggelengkan kepalanya "Tidak." sekolahnya kali ini sangat bagus, selain karena fasilitas lengkap, dia tidak diganggu lagi seperti sebelumnya.
Ya mungkin karena fasilitas yang Aryan berikan untuknya, ya dokter itu membuat Ryan tidak terlihat remeh. Belum lagi Alisa akan mengomel akan dia terlihat lusuh, wanita itu rajin membelikannya pakaian (pakai duit Aryan) yang sama sekali tidak murah.
"Oh ya, beberapa hari lagi kamu ikut aku!" ucap Aryan dan memanggil waitress untuk memberi tahu pesana mereka, setelahnya dia kembali menoleh ke Ryan "Kita akan menghadiri pesta teman aku dan Aunty Miya."
"Tapi..." Ryan sedikit ragu, dia yakin kalau pesta ini bukan seperti pesta di kampung. "Bisa saya tidak pergi?"
"Tidak! Kamu harus pergi." dia berhenti bicara saat waitress meletakkan pesanan mereka, dia kembali bicara setelah pergi "Ini lingkungan yang akan kamu hadapi di masa depan, jadi kamu harus membiasan diri."
"Keluarga Ranggara memang ribet!" Miya membuka kerang dan menyimpannya di piring Ryan "Tapi ini kenyataan dunia sosial sekelas mereka, kamu bagian dari Ranggara jadi mau tidak mau kamu harus ikut serta."
"Bagaimana kalau saya membuat kesalahan?" tanya Ryan.
Aryan menjulurkan tangannya mengambil kerang juga, "Siapa yang tidak pernah membuat kesalahan? Jangan memikirkan hal terlalu jauh."
"Kalau begitu kamu jangan jauh jauh dari kami." ucap Miya yang membuat Aryan spontan melihatnya "Apa?"
"Lo mau pergi?"
Miya menganggukkan kepalanya, dia melihat ke arah luar restourant "Toh gue juga dapat undangan. Nah anak anak silahkan makan, setelah ini kalian harus ikut ke mana pun kakiku melangkah."
Entah kenapa dua pria itu merasa ngeri, mereka merasa kalau penderitaan akan bertambah.
__ADS_1
Ya, Perempuan + Belanja \= Penderitaan Pria yang mengantar.