
"Ya, karena saya butuh jawaban kenapa saya tidak sesuai dengan kriteria tante."
Miya menghela nafas panjang, "Kenapa harus sesuai kriteria Mami? Yang menjalankannya kan aku, bukan Mami."
Aryan menopangkan kedua lengannya di atas paha, menautkan jari jari tangannya. Dia menoleh menatap Miya dengan tatapan tegas, meminta gadis itu untuk diam dulu sebentar.
Berbeda dengan Miya, Aryan selalu memikirkan bagaimana orang lain memandangnya terlebih orang tua. Jujur saja dia merasa kesal sedikit dengan Miya, dia tidak ingin perempuan itu kurang ajar terhadap orang tuanya.
Karena Aryan sangat tahu, hidup tanpa orang tua itu sangat menyakitkan. Dia tidak ingin Miya menyesal ke depannya, sekurang suka apapun Miya terhadap Maminya tetap saja akan menyakitkan kalau sudah tiada.
"Saya tidak sudi anak saya bersama dengan pria yang dulunya preman, kenapa? Karena dia bisa saja bermain tangan."
"Siapa yang preman?" ujar Miya yang sudah berdiri, Aryan menarik tangannya untuk duduk lagi.
Aryan mengerti maksud Maminya Miya, sangat wajar kalau seorang ibu mengkhawatirkan anaknya. Dan mungkin kalau dia di posisi yang sama, mungkin saja dia melakukan hal yang sama.
"Saya mengerti maksud tante, tapi saya akan menjatuhkan tangan saya ke Miya. Tidak, bukan hanya Miya, tapi ke semua perempuan." Aryan berkata sungguh sungguh, tapi matanya langsung meredup "Saya lahir dari seorang perempuan, ibu saya tidak pernah mengajarkan saya menyakiti wanita."
Dia selalu mengingat nasehat ibunya, meski nasehat itu diberikan pada saat dia masih sangat kecil. Dia ingat saat itu dia bertengkar dengan Alisa, karena kesal dia mendorong Alisa sampai jatuh dan menangis.
Saat itulah Ibunya menasehatinya, semarah marahnya pria, tidak dibenarkan menggunakan kekerasan pada wanita. Mulai saat itu pula dia tidak pernah membalas Alisa, juga saat mereka sama sama remaja Alisa jauh lebih ganas.
Bisa dibilang Alisa adalah Afkar versi perempuan, dia tidak pernah memberi ampun pada Aryan saat dia membuat masalah. Dia beberapa kali dibuat babak belur oleh Alisa, utamanya saat dia pulang dalam keadaan tidak sadar alias mabuk.
"Bagaimana kamu bisa menjaminnya? Kamu bahkan membuat Manaf sampai masuk rumah sakit saat itu." Aryan merapatkan mulutnya, ya itu memang ulahnya. "Saya tidak pernah mempermasalahkan anakku bersama siapapun, entah dia jelek atau ganteng, kaya atau miskin, saya hanya tidak bisa menerima pria yang kasar."
Aryan menundukkan kepalanya, dia akui soal itu. Miya menghela nafas panjang, dia melirik Aryan yang kembali diam.
"Aku tidak masalah dengan itu," ucap Miya, dia mengatakannya karena cukup mengenal Aryan.
Maminya melihat ke arahnya, "kamu mengatakan itu karena belum pernah merasakannya. Tante kamu, meninggal karena sering di pukul sama suaminya."
Ahh... Aryan mengerti permasalahannya, Mami Miya mengalami trauma. Dia menahan Miya yang lagi ingin bicara, gadis itu menatapnya protes.
"seseorang tidak akan gampang berubah, preman tidak akan bisa membuang sifat premannya." Maminya Miya berkata dengan tatapan sendu, "Karena itu Mami tidak bisa membiarkan kalian bersama, aku akan mencarikan Miya suami yang tidak akan memukulnya."
"Tapi apa tante bisa menjamin mereka tidak bermain tangan?" Aryan bertanya dengan serius, wanita parubaya itu menatapnya. "Saya berkata seperti ini bukan untuk menjamin diri saya, tapi saya benar benar tidak akan memukul wanita. Dan lagi tidak ada sifat Miya yang membuat seseorang akan memukulnya, ya kecuali suaranya yang cempreng!".
Miya menatapnya dengan marah, disituasi seperti ini bagaimana dia masih bisa bercanda. Aryan menatapnya dengan alis diangkat sebelah, sangat minta di tabok.
Wanita parubaya di depan mereka menghela nafas panjang, dia kemudian berdiri dan meninggalkan mereka. Tapi dia berhenti di depan pintu, menoleh ke arah mereka yang sudah berdiri.
__ADS_1
"Aku akan memikirkannya," dia sekali lagi menatap mereka "Itupun kalau kalian benar benar memiliki hubungan serius." Mami Miya kemudian membuka pintu dan keluar.
Mereka saling menatap menghela nafas bersamaan, Miya kembali duduk sedangkan Aryan berjalan ke arah ponakannya. Aries yang keasikan membaca buku mendongak, headphonenya baru saja di buka oleh omnya.
"Nanti kamu budek kalau pakai lama," dia memasukkan kembali ke laci. Aryan menutup buku yang dibaca Aries, dia benar benar bertanya tanya dalam kepalanya.
Aries mirip siapa, anak itu terlalu kutu buku. Tidak mungkin Alisa karena dia tahu Alisa benci belajar, kakak iparnya pun buka tipe yang suka baca buku.
Entah menurun dari siapa.
"Miya."
Miya melihatnya "Apa?"
Aryan menatapnya sebentar dan kembali ke ponakannya, "Menurut gue, lo terlalu keras ke nyokap lo."
"Apa?"
Aryan berjalan ke arahnya, dia duduk di samping Miya. "Lo terlalu keras ke nyokap lo, sepertinya nyokap lo tidak bermaksud buruk."
"Lo enggak tahu saja, nyokap gue itu keras kepala."
"Sama kayak lo" Miya langsung menutup mulutnya, Aryan kembali berkata "Sayangi nyokap lo Mi, mumpung masih ada."
Aryan menatap langit langit ruangannya "Memangnya lo mau nikah sama gue?"
Miya mengatupkan mulutnya, dia tidak pernah memikirkan sejauh ini. Mereka sudah terlalu jauh, tapi status mereka masih sebagai teman biasa saja.
"Kalau boleh jujur, gue belum siap nikah. Entah dengan siapapun itu, gue enggak siap."
Aryan baru akan bicara tapi diintrupsi oleh Aries yang memanggilnya, mau tidak mau dia menghampirinya. Anak itu memberikan hp yang ada di tangannya, Mommynya menelfon.
Alisa hanya memastikan keberadaan Aries, setelah Aryan memberitahunya barulah dia mematika sambungannya.
"Mommy kenapa?" tanya Aries.
"Meski kakek menjemputmu, tetaplah kasih tahu ke Mommymu." dia mengusap kepala ponakannya, "pria dewasa itu tidak akan membuat Mommynya khawatir."
"Okelah!"
"Kalau mengerti pergilah ke tempat kakekmu, Papa ada yang mau dibicarakan dengab aunty."
__ADS_1
Aries menatap Miya, dia memalingkan wajahnya saat Miya tersenyum ke arahnya.
"Aku bisa menggunakan headphone seperti tadi."
"Tidak!" dia dengan tegas menolak, Aryan menopangkan satu tangannya di meja. "Terlalu lama memakai headphone bisa membuat pendengaran terganggu, kamu bisa membacanya di buku."
Aries menghela nafas panjang layaknya orang dewasa, dia turun dari kursi, mengambil tasnya dan berlalu. Tapi saat hendak keluar, dia melihat dua orang itu dengan tatapan memicing kemudian keluar dari ruangan Aryan.
"Dia tidak suka sama gue kayaknya." kata Miya
"Dia hampir tidak menyukai semua orang," Aryan juga tidak mengerti kenapa. "Kecuali keluarga tentunya."
Miya menatap Aryan yang masih melihat ke arah pintu, dia baru menyadarinya akhir akhir ini, sepertinya Aryan menyukai anak anak di sekitarnya. Miya merebahkan punggunya di sofa belakangnya, kepalanya sedikit nyut-nyutan karena masalahnya yang sekarang dipepet menikah.
"Yan!"
"Hm?"
Miya kembali menegakkan duduknya, "sekarang ini hubbungan kita sebenarnya apa?"
Meski Miya yang memulai ini semua, tapi sekarang dia juga bingung dengan hubungan mereka. Mereka teman biasa, tapi teman biasa tidak membicarakan pernikahan antar mereka.
Aryan diam sebentar, berjalan ke kursi kebesarannya. "Lo maunya apa?"
"Enggak tahu, gue benar benar minta maaf karena ngelibatin lo sampai sebegininya." ucap Miya dengan suara pelan tapi mampu didengar, dia bahkan menoleh ke arah lain agar tidak melihat Aryan.
Aryan menutup map di depannya, dia kemudian berdiri berjalan dan menghampiri Miya. Aryan duduk di kursi depannya, tapi gadis itu masih melihat ke arah lain.
"Ya sudah, karena sudah terlalu jauh, kita mulai saja sekarang!" ucap Aryan. Miya langsung menatapnya, "Lo tidak mau?"
"Lo enggak keberatan?" Miya balik bertanya, biar bagaimana pun Aryan tahu kalau hatinya masih pada orang lain.
"Gue?" Aryan mengedikkan bahunya, "gue tidak masalah, toh menikah menurut gue nikah tidak melulu harus dimulai dengan cinta."
Miya menghela nafas, "Lo mau nikah?"
"Sejak awal ini dimulai, semuanya mengarah ke sana." Aryan berjalan ke kursinya lagi. "Jujur saja, lo cewek pertama yang gue ajakin menjalin hubungan, biasanya gue yang diajakin."
"Narsis lo!"
"Gue serius."
__ADS_1
Mata Miya langsung membulat, dia menatap Aryan "Dalvina juga?"
Aryan tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyeringai ke arah Miya.