Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 62


__ADS_3

"Sekarang ada yang bisa jelaskan, kenapa kita semua berkumpul di sini?" tanya Zain yang baru saja tiba, ternyata dia bukan orang pertama.


Baim mengedikkan bahunya, yang lainnya menggelengkan kepalanya bingung. Semalam Miya memberitahi di grup untuk berkumpul bersama, tapi dia sendiri pun belum datang.


Untung mereka ditraktir, jadi tidak masalah kalau menunggu sedikit lebih lama lagi.


"Eh, pacarnya sudah datang tuh!" Budi berseru saat Aryan baru masuk ke ruangan. "Yan, cewek lo mana?"


Aryan mengedikkan bahunya, "gue juga baru dari rumah sakit ini."


Padahal dia tahu kalau Miya sudah ada di jalan, dia tidak berniat mengatakannya. Aryan berjalan ke arah sofa yang memang ada di ruangan itu, mendudukkan dirinya sambil meluruskan kaki yang terasa pegal.


Dia baru saja mengoperasi pasien.


"HOLA EPRIBADEH... APA KALIAN MENUNGGU KEDATANGAN PRINCESS CANTIK ELOK RUPANYA INI!" seru Miya sambil berjalan masuk, dia tentunya sambil melambai.


Afkar yang baru datang dari luar mendorong pelan kepalanya, "bukan cuman ada kita di sini."


Miya mendelik sambil mengelus kepalanya, "Papa mah, ngak asik. Enggak bisa diajak bercanda."


Miya berjalan ke samping Aryan, bukan karena Aryan pacarnya, tapi karena hanya tempat itu yang kosong. Dia melemparkan dirinya, Aryan yang menutup mata langsung terbuka, dia kaget dengan kelakuan Miya.


"Jadi, Miya sayang... Apa tujuan dikau memanggil kami ke sini?" tanya Sasya, tangannya memeluk lengan Ciara.


"Awas saja kalau tidak penting." ancam Hanin.


Miya terkekeh pelan, tangannya terangkat seolah menghalau mereka. "Sabar, tidak usah terburu buru." dia mengambil menu di meja, "kenapa kita tidak makan dulu saja? Hari ini gue traktir deh."


Mereka langsung memicingkan matanya, entah kenapa mereka merasa kalau ada udang di balik batu. Perasaan mereka entah kenapa, tiba tiba menjadi tidak enak.


Miya terlalu mencurigakan saat ini.


Tapi menampik hal tersebut, mereka tetap memesan makanan yang mereka mau.


Miya menopang dagunya, menatap mereka satu persatu. Dalam hati dia sudah menyusun rencana, dia juga sudah tahu reaksi apa yang akan dia dapatkan.


Makanya dia menyiapkan makanan untuk mereka.


Aryan bersandar di lengan Miya, melihat ke arah yang sama juga. "Mereka itu entah polos atau beg*, enggak sadar apa mau diporotin." ucap Aryan tentunya dengan berbisik.


Miya ikut terkekeh kecil, dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. Dia berdiri tiba tiba, membuat Aryan jatuh ke samping.


"Dikira tidak berat apa." dengus Miya.


Aryan tidak mengatakan apa apa, dia hanya menegakkan duduknya. Matanya tertuju ke arah Miya yang berjalan ke arah meja teman temannya, mereka terlihat asik makan.


Miya meletakkan setumpuk undangan di tengah meja makan, mereka memandang Miya dengan tatapan heran. Miya tersenyum ke arah mereka, mempersilahkan mereka mengambil sendiri sendiri.


Dengan sedikit ragu, mereka mengambil undangan masing masing. Sambil bersedekap dada, dia memperhatikan ekspresi mereka.

__ADS_1


Uhuk uhuk!


Beberapa dari mereka tersedak, tampak lucu karena mereka tampak berlomba mengambil air. Beberapa dari mereka tampak membulatkan mata, mereka melihat Miya.


"KALIAN MAU NIKAH?"


Miya terkekeh dan mengangguk, "Makanya gue baik hati mau neraktir kalian."


Sementara di sofa, Aryan tampak menahan tawanya. Ekspresi mereka tampak lucu di matanya, kenapa mereka harua sekaget itu.


"Apa?" tanyanya saat Budi melihat ke arahnya.


Budi dengan entengnya menunjuk Miya, "Bukannya dia bukan tipe lo, Yan? Gue masih inget ya kalau lo pernah bilang seperti itu."


Miya langsung menepis tangan Budi.


Aryan berdiri dari duduknya, mendekati Miya dan merangkulkan tangannya di pundak Miya. "Ya gimana ya, tuhan ngasihnya dia. Kasian, soalnya dia sudah jomblo dari laakh!"


Miya menyikutnya.


"Diem enggak lo!"


Aryan langsung mengatupkan mulutnya, perutnya sakit karena sikutan Miya. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dia kemudian meletakkan di depan Zain.


Kartu ucapan selamat yang sudah dia laminating.


"Gue mau nagih janji lo!"


"Memangnya apa sih?" Ciara mengambil kartu ucapan itu dari tangan Zain, membacanya kemudian tertawa. "Mi, minta yang paling MAHAL!" ucapnya penuh penekanan.


"Lo di pihak siapa?" gerutunya pada Ciara.


"Miya lah." jawabnya enteng.


"Tapi," ucap Aryan yang tiba tiba bersuara, tapi itu menarik perhatian mereka. Perasaan mereka sama sekali tidak benar, "enggak adil rasanya kalau cuma Zain, jadi kalian juga harus kasih kami hadiah!"


Sial! Harusnya mereka sudah curiga!


Hanin berdiri dan mendekati Miya, menyampirkan rambutnya. "Jadi anak Mama ini mau apa? Katakan saja."


"Beneran ini, Ma?" tanya Miya.


Hanin menganggukkan kepalanya, dia melirik Afkar yang tampak pias. Miya menyikut pelan Aryan, pria itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Gini Ma," Miya menggerakkan tangannya, "Kami kan baru beli rumah baru, rencananya rumahnya bakal di tempati setelah nikah."


"Lalu?"


Miya langsung tersenyum, "Kamar Ryan kan masih kosong melompong, isiin dong, Ma." dia mengerjapkan matanya "Ya! Hadiah pernikahan."

__ADS_1


"Hanya itu kan?"


Miya menganggukkan kepalanya "Iya, tapi yang paling mahal ya Ma. Ryan kan masih bertumbuh, jadi biar awet."


Miya langsung berbalik ke arah Zain, "karena lo sudah janji, gue mau punya kulkas paling mahal, yang touchscreen gitu."


"Weii... Kulkas gue saja tidak seperti itu." serunya, tapi lagi lagi Ciara memukulnya. "Apa sih, Cel?"


"Pelit banget, kulkas doang kok."


"Tau tuh, cuman sekitar seratus empat puluh satu juta doang. Mahalan sepatu lo kali."


Zain langsung terduduk, dia memijit keningnya, "Oh oke."


Miya dan Aryan langsung tos.


Miya langsung melihat Caka, pria yang dilihat langsung meletakkan gelasnya dan bertanya. "Lo berdua mau bulan madu ke mana? Gue bayarin tiketnya PP."


"kalau tempatnya sudah tahu, kasih tahu ke gue," ucap Baim "Gue bayarin hotelnya."


"Gue tanggung catering nikahan lo deh." ucap Alga, pada akhirnya mereka semua akan dipalakin jadi dia menawarkan diri lebih dulu.


"Gue yang bakal jadi MC acara lo," ucap Kevin "Lo perdana deh gue MC-in, tenang aja gratis."


"Gue butuhnya barang!" ucap Miya. "Lo beliin gue mesin Cuci yang paling mahal di negara ini."


Sasya langsung terbahak, "Mi, kalau gue bakal tanggung semua biaya makan, minum, tranaportasi selama lo di tempat bulan madu. Jadi lo hanya perlu keluarin duit buat oleh oleh doang. Mantep gak?"


Miya mengacungkan jempolnya langsung setuju.


"Gue beliin deh, kasur sultan." ucap Budi.


"Meja makan lo sudah ada belom?" tanya Fadly, Miya menggelengkan kepalanya "Gue beliin, paling bagusnya."


"Lo mau tv ngak?" tanya Sabrina, Miya mengangguk antusias, dia melupakan elektronik satu itu. "Tv-nya biar gue yang beliin."


"Gue kasih apa dong?" tanya Ciara, karena sepertinya hanya dia yang belum menawarkan apapun. "Gue kasih lo pakaian dari Victoria secret aja ye? Modal malam pertama."


"Apa sih!" Miya melemparnya dengan kacang membuat Ciara terbahak.


"Habisnya gue tidak tau mau kasih apa." ucapnya "si Alvin lo mintain apa?"


Miya dan Aryan saling menatap, memang Alvin sekarang tidak datang tapi Miya sudah lebih dulu menodongnya.


"Hehe... Sofa yang mahal, yang bisa alih fungsi jadi kasur itu loh." jawabnya enteng.


"Karena kulkas sudah, tv sudah mesin cuci sudah... Gue bagian microwafe sama oven ngak apa apa kan? Entar gue cariin yang paling mahal deh."


"sip!" Miya mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ini mah, yang beli rumah siapa yag ngisi siapa." gerutu Zain.


Miya bersedekap dada, "ini tuh manfaat punya teman tajir!"


__ADS_2