Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 36


__ADS_3

Miya duduk di tempat mereka sering kabur dulu, memang sangat nostalgia rasanya. Dia membaringkan dirinya, matanya menatap ke arah langit yang semakin berubah warna menjadi gelap.


Dia menutup wajahnya dengan lengan, "Coba saja kamu di sini, Vina."


"Dia sudah tenang di sana."


Miya kaget saat ada yang menimpalinya, Aryan dengan jas kebanggaannya berdiri di sampingnya. Sejak kapan dia datang?


Aryan kemudian duduk "Gue lihat mobil lo di parkiran tadi, jadi gue duga lo di sini."


"Oh."


Mereka berdua diam, Miya menatap Aryan yang melihat ke arah langit malam.


"Yan!"


"Hn?" ekpresi diam Aryan sebenarnya hanya kembali ke settingan awal mereka berteman "Apa?"


Miya bangun dan duduk, dia bersandar di pohon besar di belakangnya. "Lo sudah bisa lepasin Vina?"


Aryan diam dan menjawab lirih "Sudah seharusnya kan?" dia melihat ke arah Miya "Gue harus lanjutin hidup, dan sadar atau tidak gue sudah terbiasa ditinggalkan."


Miya menggigit bibir bawahnya, dia mengerti maksudanya. Biar bagaimana pun Aryan ditinggalkan oleh ibunya sejak SMP, dan saat lulus SMA dia di tinggalkan dua orang yang dia sayangi dalam kurun waktu yang tidak berjauhan.


Pacar dan Ayahnya.


"Yan."


"Apa?"


"Gue mau ngomong sesuatu, tapi lo janji jangan marah." Aryan mengkerutkan keningnya dan mengangguk "Janji dulu!"


"Iya janji."


Miya menarik nafas panjang, "Lo tau kan, nyokap gue sering nyuruh gue ikut kencan buta."


"Iya, tapi begituan masih ada?"


"Dengerin dulu!" Miya berucap kesal, Aryan mengagguk lagi.


"Lanjutkan."


"Karena gue ngak mau, jadi gue bilang ke Mami kalau kita pacaran."


Aryan tidak mengatakan apa apa, dia malah menghela nafas panjang. Miya meliriknya memastikan kalau Aryan tidak akan marah, kalau dia marah Miya siap melarikan diri.


"Nyokap lo kan tidak suka sama gue, jadi kenapa mesti gue?"


Eh? Miya maju dan menatap Aryan, jadi cowok itu sadar ya kalau memang Maminya tidak senang sama dia? Aryan mendorong pelan wajah Miya, jaraknya terlalu dekat.


"Gue ngak buta Miya Sarina."

__ADS_1


Miya kembali duduk di posisi semula, "Nama lo yang pertama kali muncul saat itu, dan lagi Mami memang rada ngak suka sama lo karena kejadian dulu."


"Gue ngerti," Miya menggaruk kepalanya, kok rasanya Aryan tidak kesal. "Gue juga kalau punya anak cewek, ngak bakal mau anak gue sama cowok modelan gue."


Plak


Miya memukul kepala Aryan dari belakang "Memang lo kenapa? Selama lo goodlooking anak tunggal kaya raya, semua masalah kelar."


"Cih mandang fisik."


Miya tertawa "Lo salah, gue bukan mandang fisik tapi mandang isi dompet dan rekening!"


"Matre!"


"Memang!" Miya berkata dengan antusias tapi sedetik kemudian dia kembali cemberut "Dimas tega banget sama gue."


"Suruh siapa putus?" Giliran Aryan yang bersandar, dia setengah rebah dan dia melihat Miya yang memeluk lututnya sendiri "LDR cuman alasankan?"


"Tidak tapi bener!" nada suaranya melemah, "Gue takut diselingkuhin sama Dimas, jadi daripada itu mending putus saja dulu."


"Bodoh!"


"Iya gue tau, tapi Dimas kan ganteng, ladykiller pula." kali ini Aryan setuju dengan ucapan Miya.


Memang Dimas tidak setampan kennan dan tidak sepintar dirinya, tapi Dimas punya karismanya sendiri. Dia juga ramah dan tidak membosankan, tentunya selalu di kerubungi wanita.


Dia mewajarkan kekhawatiran Miya.


"Karena gue kesal sama Dimas," Miya memutar duduknya dan menatap Aryan "Gue juga baru ditinggalkan sama Dalvina, entah kenapa gue ikutan jengkel sama lo."


"Otak dangkal!"


Miya mendengus "Iya tahu kok gue. Tapi Yan, kalau lo ketemu keluarga gue, mohon kerjasamanya, ya!"


*****


Miya kembali ke rumah Manaf saat agak lebih malam, sebenarnya dia tidak ingin ke sana tapi ada berkas yang dia tinggalkan kemarin.


"Sama siapa pulangnya?" Manaf yang kebetulan membuka pintu bertanya, dia tidak melihat mobil Miya soalnya.


"Aryan," dia berjalan masuk melewati Manaf.


Dia memang kembali diantar oleh Aryan, pria itu sedikit memaksa karena takut dia membawa mobil dalam keadaan berantakan.


Manaf mengikuti kakaknya menuju kamar, dia melihat kalau Miya sedang aneh sekarang. Dia juga tidak biasanya pulang semalam ini saat tidak ada urusan, mana pulang pulang make kacamata hitam pula.


"Dari mana?" Manaf bertanya dengan nada pelan, takut Maminya akan bangun.


Miya menoleh, masih belum membuka kacamatanya "Pacaran," jawabnya asal.


Manaf menghela nafas "Kamu beneran pacaran sama Aryan?"

__ADS_1


Miya melipat kedua tangannya dan menatap lurus adiknya, "Iya, memang ada yang salah sama Aryan? Dia ganteng banyak duit, kami juga sudah kenal lama."


"Bagaimana dengan Mas Dimas?" Manaf bertanya karena tahu kakaknya belum bisa lupa "Kakak bukannya suka Mas Dimas."


Miya menelan salivanya, tapi karena memakai kacamata hitam jadi Manaf tidak melihat matanya yang bergetar.


"Gue sama Dimas sudah selesai, jadi jangan diungkit lagi. Sekarang gue sama Aryan, lo suka atau tidak itu kenyataannya."


"Lo suka sama Aryan?" tanya Manaf, dia tidak mau kakaknya sakit hati. "Lo jangan maksain perasaan lo!"


"Enggak!" lagi pula dia tidak bisa berharap apapun dari laki laki yang akan menjadi suami orang, "Gue ngantuk! Balik kamar lo noh, kali aja Rayna butuh bantuan."


"Nayna tidur." ucap Manaf, dia memang baru menidurkannya sesaat sebelum kedatangan Miya. "Kam-"


Blam!


Miya dengan seenak jidat membanting pintu di depan Manaf, dia tidak bisa bertahan lama lama di depan adiknya tanpa menangis. Miya membuka kacamatanya dan meletakkannya di meja, melemparkan dirinya di atas kasur.


Dia membuka galeri ponselnya, mencari foto foto dirinya dan Dimas semasa pacaran. Dia benar benar merasa bodoh, kenapa juga dia masih menyimpannya.


Dia menandai foto foto itu, tapi saat ada peringatan penghapusan, Miya melempar ponselnya ke kasur setelah menekan tombol batal.


"Sial."


Menghapus kenangan tidaklah semudah itu, dia menelungkupkan wajahnya ke bantal. Air matanya kembali berjatuhan tidak tertahankan, dia tidak pernah sepatah hati ini.


Miya sama sekali tidak bisa tidur, dia bangun mengambil kacamata hitam dan keluar kamar. Dia berjalan ke arah dapur, berharap ada es krim di dalam lemari pendingin.


Matanya berbinar melihat apa yang dia cari ada di sana, dengan cepat dia meraihnya. Dengan antusias dia membuka kotak ice cream itu, namun dia harus kembali kecewa karena isinya adalah sambel.


Kelakuan emak siapa sih ini?


Dia mendorong sambel itu kembali, menutup kulkas sedikit kasar. Dia mendengus dan berdiri, tapi terkejut saat Rayna berdiri di depannya yang sama terkejutnya.


"Astagfirullah, Sarina!" dia mengelus dadanya "Kamu gila ya pakai kacamata hitam malam malam? Mana lampu dimatikan lagi."


Miya tidak mengatakan apa apa, dia berjalan kembali ke kamarnya tapi dia tidak sengaja menabrak ujung meja.


"Ini siapa sih yang naro di sini?" dengan kesal dia memukul meja.


Rayna menggelengkan kepalanya "Lo yang harusnya buka kacamata pea! Segala meja yang sedari awal disitu lo salahin."


Miya hanya mendengus, dia memukul meja sekali lagi dan berlalu. Dia masuk ke kamar tanpa membawa apa apa, apa dia keluar saja cari?


Tapi mobilnya masih di rumah sakit.


Melirik ponsel diatas kasur, Miya mengambilnya dan mencari ojol di pesankan ice cream seember. Beruntungnya masih ada yang mau menerima pesanan konyolnya di tengah malam, dia langsung turun ke bawah lagi membuka pintu dan menunggu di teras.


"Kakak kamu kenapa, Yang?" tanya Rayna pada Manaf yang juga sudah berdiri di sampingnya menatap punggung Miya. "Kayak orang patah hati."


"Mungkin, ayo masuk jangan digubris. Miya bisa jadi macan betina kalau kesal" Manaf memutar badan istrinya untuk kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2