
Setelah berbicara dengan dokter Tara, Aryan keluar lagi dan kembali ke tempat pasien sebelumnya. Dia meminta maaf karena meninggalkan sebelum menyelesaikan pemeriksaan akhir, untung mereka mengerti karena perawat juga menemani mereka.
"Apa dokter yang akan menangani saya?" nenek Griffin bertanya.
"Benar, mulai dari kemarin saya adalah dokter nenek."
"nama dokter siapa?"
"Aryan, Aryan Galih." jawab Aryan, dia menyebutkan namanya dengan serius.
"nama yang bagus," Aryan hanya bisa tersenyum mendengarnya "Sudah berapa lama kerja disini?"
"Empat tahun, Nek." Aryan memeriksa monitor yang ada di samping nenek, dia baru saja memasang alat soalnya.
Dia kemudian mengambil ponsel dan menelfon rekannya, dia membutuhkan yang lebih ahli di bidang jantung. Tak lama Rehan muncul dengan wajah lemasnya, sepertinya dia baru saja selesai melakukan tindak operasi.
"kenapa?" dia berjalan masuk setelah diizinkan.
Aryan memperlihatkan catatan medisnya, menanyakan beberapa hal yang menurutnya tidak terlalu dia pahami. Dan Rehan yang memang ada di bidang itu menjelaskan dengan baik, dia senang karena Aryan bertanya padanya.
"Tadi ada urusan apa dokter Tara keruangan dokter?" Rehan bertanya saat dia hendak keluar.
"ada beberapa hal yang kutanyakan padanya," jawab Aryan masih serius dengan kerjanya, Rehan mengkerutkan keningnya karena Tara tadi keluar dengan wajah pucat.
Pasti dia dimarahi oleh Aryan, dia sangat yakin dengan itu.
Setelah selesai dengan pemeriksaan, Aryan langsung pamit.
"Apa kamu ada waktu untuk bicara?" Papi Miya bertanya saat dirinya hendak keluar.
Aryan melihat jam di tangannya, "Ada, Om."
"Kalau begi-"
"Permisi!" pintu ruangan terbuka, perawat pria terlihat ngos-ngosan di sana. "Dokter tolong!"
"Ada apa?"
Perawat itu mengatur nafasnya, dia terlihat gemetar. "Itu... Di ruang.. UGD," dia kembali menarik nafas "Ada yang buat ulah."
Aryan memasukkan stetoskop ke saku jasnya, "Siapa?"
"Enggak tahu, mereka datang bergerombol sambil terus meminta dokter terbaik. Tidak ada dokter yang berani mendekat, sepertinya mereka preman."
__ADS_1
"Dokter Libra mana?"
"Seminar di luar," Aryan menepuk keningnya, kenapa dia bisa lupa.
"Dokter Valen?"
"Beliau juga dinas di luar, mereka membawa senjata tajam. Keamanan juga tidak bisa bertindak karena takut mereka melukai orang disana."
Aryan menutup wajahnya dengan telapak tangan, kenapa rumah sakit berasa jadi tempat ajang pamer kekuatan. Aryan melepas kancing teratas kemejanya, rambutnya yang setiap hari rapi dia turunkan menutupi jidat.
Kenapa di saat sekarang mereka harus datang?
"Siapkan alat alat steril, biasanya mereka terluka karena kena tusuk. Beritahu perawat lain untuk menjauhkan pembesuk, utamanya anak-anak."
Dia mengeluarkan kembali stetoskop dari saku jasnya, ganti menaruh di leher. Dia juga melepas ID dan jasnya, memberikannya pada perawat yang menjadi asistennya.
"Bawa ke ruanganku." perawat itu langsung menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya sedikit terpesona dengan penampilan Aryan sekarang. "Maaf om, pembicaraannya saya tunda sebentar."
"Tidak masalah, karena sepertinya situasinya gawat."
Aryan tersenyum untuk pengertiannya, "Ada berapa orang yang terluka?" Aryan kembali bertanya.
"Satu, tapi mereka terlihat heboh."
Dia berjalan keluar menuju UGD, Papi Miya dan Griffin berjalan di belakangnya. Benar saja, di depan UGD berkumpul pria pria dengan jas hitam.
Pandangan Aryan tertuju pada pria yang duduk di kursi tunggu, Aryan mencari lukanya dan menemukan di bagian kanan perutnya. Dia juga melihat sekeliling dimana orang orang tidak berani bergerak, hahhhh.... Aryan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Yo Bima!"
Pria yang terluka mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat Aryan berjalan ke arahnya. Bukan hanya Bima yang terkejut, tapi orang orang yang di sana sama terkejutnya.
Siapa yang menyangka mereka saling kenal.
Aryan menyeringai sambil berjalan ke arah Bima, "Lo masih bermain seperti bocah kayaknya."
"Siapa lo?" dua pria besar menghalangi Aryan, tapi dokter itu hanya menatapnya dengan tatapan mereka adalah orang bodoh.
"Bos lo bisa tidak tertolong kalau kalian menghalangi seperti ini, " dia memegang stetoskop yang dia lingkarkan di lehernya.
Aryan mendorong salah satu dari mereka agar bisa lewat, tapi sepertinya mereka berkeras. Aryan menangkap kepalan tangan yang di arahkan padanya, Aryan menatapnya kemudian menendang salah satu kakinya membuatnya terpanting.
Aryan berdiri di depan Bima, "Suruh anak buah lo keluar, ini bukan tempat untuk melihat pertunjukan."
__ADS_1
Bima mendengus, dia berdiri meski meringis. "Aryan, Tunas Bangsa!"
"Oh, lama tidak bertemu." dia menekan pundak Bima untuk kembali duduk, Bima menatapnya tajam hendak kembali berdiri. "Sebaiknya lo diam, luka lo lebih parah dari kelihatannya."
Dia memberi isyarat untuk memberi alat yang tadi dia minta persiapkan, karena melihat ketakutan perawat mau tidak mau dia melepaskan pakaian Bima sendiri.
Lukanya cukup parah, tapi menurut keterangan perawat, pasien tidak mau masuk ke dalam ruangan. Aryan merasakan ada pisau di arahkan ke kepalanya, orang orang di sana histeris takut.
Aryan mengambil kaos tangan, "Sebaiknya minta anak buah lo engga berulah." Aryan menatap Bima serius "Lo kenal gue lebih baik."
"memang dokter seperti lo bisa apa?" Bima bertanya dengan nada meremehkan, Aryan terkekeh kecil. "Mereka tidak akan tinggal diam saja dengan kesalahan yang dia buat."
Aryan yang tadi duduk memeriksa Bima kembali berdiri, tanpa aba aba dan dengan gerakan cepat dia membanting pria yang menodong pisau.
"Coba saja!" ucapnya sambil memunguti pisau di lantai, orang orang di sana hanya bisa menahan nafas melihatnya memainkan pisau.
"siapa lo?" beberapa orang mendekat, Aryan menghela nafas panjang dengan kebodohan mereka.
"Kalian serius mau melakukan ini? Bos kalian bisa sekarat!" Aryan menyugar rambutnya dan menoleh ke Bima, "Kalau lo mau unjuk kekuasaan, di arena sana! Kalian bawa pasien ke dalam ruangan."
Para perawat saling menatap, mereka sama sekali tidak berani.
"dia tidak sekuat itu sampai kalian harus takut!" ucap Aryan melihat yang saling menatap, "Tekan saja lukanya kalau dia macam-macam."
Para perawat menghela nafas dan mendekat, mereka kembali mundur saat mendapat tatapan tajam dari Bima. Aryan mendekat menatap Bima, dengan tidak berperasaan dia memukul tengkuknya hingga pingsan.
"Dokter!" seru mereka kaget.
"Bawa ke dalam dan periksa golongan darahnya, dia butuh donor darah." ucapnya santai "Dia terlalu mengganggu!"
Preman preman yang tidak terima bos mereka di pukul, mendekat untuk membalas Aryan. Aryan sudah mendunga ini, dia dengan tidak berperasaan membanting mereka ke lantai, ada beberapa yang dia buat tidak sadar.
"Berisik!" gumamnya, dia menegakkan berdirinya diantar preman preman yang terkapar. Matanya dengan dingin menatap beberapa preman yang terdiam melihat rekan mereka, "Apa masih mau main?"
Mereka yang tadi sudah bersiap menyerang, memutuskan untuk diam saja. Tak lama seorang perawat keluar, dia terkejut melihat para preman terkapar tapi hanya sebentar.
"Dok, pasien memiliki golongan darah A, tapi bank darah kehabisan darah A."
Aryan mengangguk, dia menoleh "diantara kalian ada yang punya golongan darah A?" mereka menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk, golongan darahku A."
"tapi dok-" Aryan menatapnya "Baik, kami akan pakai darah dokter."
"Suruh keamanan mengurus mereka yang pingsan di sana."
__ADS_1
"Baik!"