
"Can i hug you, for the last time?"
Miya langsung menatap Dimas tidak percaya, apa yang baru saja pria itu katakan? Meminta pelukan yang terakhir? Jangan konyol!
Miya melepaskan tangannya dari Dimas, dan dengan sadar dia mundur selangkah. Dimas dengan jelas mengerti itu, Miya menolaknya.
Tangan yang tadi menahan tangan Miya, dia mendurkan mengepalkannya dan memasukkan ke dalam saku celana yang dia pakai.
"Maaf, aku tidak bisa!" Dia tidak mau hatinya goyah, Miya sudah berusaha keras untuk ikhlas. "Kamu sekarang suami orang, aku tidak mau disalah-pahami siapapun."
"Iya,"
Miya mengulurkan tangannya "tapi kupikir salaman tidak masalah."
Dimas menatap tangan ramping itu, tangan yang tadi sempat dicegatnya. Berlahan dia juga mengulurkan tangannya, menjabat tangan yang dulu sering dia gandeng.
"Sekali lagi, selamat ya!" ucap Miya masih mempertahankan senyum cerianya.
"Hn," Dimas menggenggam erat tangan Miya, karena kalau dia melepaskannya nanti dia tidak akan pernah menggenggamnya lagi.
Aryan yang melihat ke arah pelaminan sudah tidak ada siapa siapa, dia memutuskan untuk mencarinya.
"Mau ke mana?" tanya Baim
"Mau gangguin manten baru, enak saja tamu masih banyak sudah mau indehoy!"
Aryan dengan cepat menuju tempat yang Ryan maksud, di sana dia melihat Ryan berdiri di tempat yang sedikit gelap. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, dia juga melihat wanita dengan gaun pengantin yang berdiri tidak jauh dari sana.
Aryan berjalan mendekati wanita itu, tentu saja setelah meminta Ryan untuk kembali ke dalam.
"Halo!" sapanya dengan nada suara kecil, tidak berniat mengganggu pertemuan kecil dua orang di pinggir kolam.
Agatha melihat Aryan sejenak, "Ah! Pacar Dimas!"
Aryan meringis mendengar itu, panggilan itu juga yang disematkan oleh saudara saudara Dimas padanya. Aryan berdiri di samping Agatha melihat ke arah Dimas dan Miya, dia melirik Agatha sejenak tapi perempuan itu sama sekali tidak berekspresi.
"Mereka terlalu canggung untuk sebuah hubungan pacaran." Agatha mengomentari interaksi mereka.
Sebenarnya dia sudah di sana sejak awal, dia yang melihat Dimas keluar dengan cepat menyusul untuk menghindari gosip yang tidak tidak. Jadi dia di sana memperhatikan semua sikap dan bagaimana ekpresi Dimas, dalam hati merasa kasihan dengan orang yang berstatus suami itu.
__ADS_1
Dia menghela nafas panjang, padahal dia mengharapkan tontonan yang menarik.
"Miya dan Dimas sudah lama putus, jadi tidak akan ada adegan tampar menampar!"
Agatha tersentak dan langsung melihat Aryan, apa pria di sampingnya bisa membaca pikiran?
"Aku tidak bisa membaca pikiran jadi tenang saja," Agatha makin membulatkan matanya "Wajahmu mudah dibaca."
Gadis itu terdiam, dia kembali menatap ke arah kolam. Dia merasa suntuk apalagi sekarang yang terlihat hanya orang yang bersalaman, ini sangat membosankan.
"Harusnya dia memeluk perempuan itu, biar lebih dramatis."
Aryan menatap Agatha dalam diam, sepertinya otak dari istri Dimas ini sedikit bergeser. Apa ada wanita yang mengharapkan adegan mesra suami ke mantan pacar? Jelas hanya orang yang sedikit tidak waras yang mengharapkan itu.
Aryan menghela nafas panjang, sebenarnya apa yang dilakukan manusia gamon itu. Dia berdecak dan melangkah mendekat, namun dia dengan cepat dicegah Agatha.
"Apa yang kamu lakukan? Biarkan mereka!" Agatha berkata serius tapi meski begitu suaranya tetap kecil.
Aryan berusaha melepaskan diri tapi siapa yang menyangka gadis itu cukup kuat, jadinya mereka berdua saling menarik narik.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
Miya menatap Aryan tajam, pria itu hanya tersenyum dan melangkah mendekat "Gue dari tadi.nyariin lo, anak anak juga sudah nanyain lo di mana."
"Gue cari udara." jawab Miya, Aryan menatapnya dengan kepala miring
"Hmmm..." Miya mengkerutkan keningnya ingin menabok Aryan, pria itu melirik Dimas "Dim dim, mending kamu balik deh, kasian tamu kebingungan pengantinnya hilang."
Dimas melirik Miya sejenak, tak lama dia melangkah maju dan menepuk pundak Aryan. Mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aryan, dia berbisik
"Miya, aku serahin ke kamu, tolong jaga dia baik-baik."
Aryan menatap lurus ke Miya, dia membalas dengan suara yang tidak kalah kecilnya. "Dia bukan anak kecil."
Dimas tersenyum kecil, sekali lagi dia menepuk pundak Aryan. Dia meraih tangan Agatha dan melangkah masuk lebih dulu, Miya dan Aryan hanya bisa melihat punggung mereka yang semakin menjauh.
Barulah setelah itu Miya luruh, dia sudah menahan diri tadi. Wajah cerianya berubah menjadi air mata, padahal dia pikir dia tidak akan menangis lagi.
Aryan menarik tangannya berlahan untuk berdiri, memeluk gadis itu dan menepuk nepuk punggungnya.
__ADS_1
"Lo hebat, Mi." dia mengatakannya dengan sangat tulus, dia tahu kalau gadis itu sudah sangat berusaha keras menahan diri.
Miya menenggelamkan diri di dada Aryan, dia menangis tanpa berkata apapun dan tanpa bersuara. Aryan juga sudah tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya terus menepuk pundak gadis itu.
Setelah puas menangis, dia menjauhkan dirinya dari Aryan. Merogoh sesuatu di dalam tasnya, dia mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya.
Pfftt....
Aryan hampir saja menyemburkan tawanya, dia menepuk pelan kepala Miya.
Miya menepis tangan Aryan "jangan sentuh kepala gue, nanti tatanannya rusak."
"Iya iya, mau masuk sekarang?" tanyanya pada Miya, dia memang sudah terlalu lama di luar.
"Mata gue bengkak!"
"Suruh siapa lo nangis?" Aryan membalikkan badannya siap berjalan masuk, Miya menahannya lagi "Apalagi Miya Sarina?"
"Bisa ngak, gue ngak usah masuk aja." Dia memelas menatap Aryan, pria itu kemudian berdiri tegap di depannya sambil memasukkan tangan ke saku.
"Bisa, tapi di sini banyak mba kunti, berani lo?" dia mengangkat sebelah alisnya "Soalnya gue mau masuk."
Miya memasang wajah ogah ogahan, dia kemudian kembali berjongkok. Aryan menarik nafas panjang, sekali lagi dia membantu Miya berdiri.
"Jangan begini Miya, Dimas menikah ngak bakal bikin lo mati seketika."
Aryan kembali mengulurkan tangannya, dia menghapus air mata Miya yang kembali jatuh. Dia mengeluarkan ponselnya dan meminta Baim menjaga Ryan, karena mungkin dia masih butuh beberapa waktu menemani Miya di sini.
Dan benar saja, butuh setengah jam lagi sampai Miya tenang lagi. Mereka kemudian bersiap masuk sampai ponsel Miya berdering, Manaf yang menelfonnya.
"Kenapa?" Miya bertanya ketus, dia dan Aryan saling menatap.
"lo di mana?" Miya mengkerutkan keningnya mendengar suara panik Manaf "Kenapa lo ngak ada di kosan?"
"Gue di luar, ada undangan. Kenapa memang?" dia memegang keningnya yang tiba tiba pusing, mungkin karena kebanyakan menangis.
"Mami nyariin kamu, katanya dia udah nemuin calon buat kam-"
"Kalau Mami mau lihat gue kawin lari sama Aryan, suruh aja Mami lanjutin." Miya langsung mematikan telfonnya.
__ADS_1