Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 25


__ADS_3

"Hana-cwaaannnn..." Miya masuk ke kamar Hana sambil berseru dengan nada pelan.


"Miya!" Hana yang tadinya berbaring langsung duduk, begitu Miya di depannya mereka berpelukan.


"Hati hati!" tegur Kennan pada sang istri yang terlihat langsung ingin melompat, Hanna menepis tangannya.


Miya yang melihat itu terkekeh, dia menyerahkan satu bingkisan ke arah Kennan. "Itu buat debaynya dan ini!" Moya menyerahkan bingkisan yang sedikit lebih kecil ke Hanna "Bingkisan untuk ibunya, selamat atas kelahiran anak ketiganya, bu Pres!"


Hanna tertawa "Terima kasih, sudah lama ngak dipanggil itu." dia menyimpan bingkisan itu di nakas, "Dari mana lo tau gue lahiran hari ini. Lo orang kedua yang jenguk setelah Aryan."


"Hehe... Kebetulan adek ipar gue juga lahiran dan ruangannya di sebelah ruangan lo." dia menyampirkan rambutnya "Sebenarnya sudah dari tadi gue pengen dateng, tapi belum beli bingkisan."


"Ih... Padahal ngak ada juga ngak apa apa. Aryan saja ngak bawa bingkisan."


"Tapi ngasih amplop kan?" tebak Miya, Hanna langsung terbahak, ya ampun Miya baru tau kalau ada orang baru lahiran langsung bisa ngakak.


"Na, jahitannya entar lepas."


Hanna mendongak menatap suaminya sambil tersenyum "Gomen!"


"Anak lo mana?" Miya mengamati ruangan tapi tidak melihat si bayi.


"Ada kok, di kamar sebelah."


"Beda kamar sama lo?" Hanna menggelengkan kepalanya, dia melirik ke arah pintu yang ada dalam ruangan itu. Miya langsung berdiri dan membuka pintunya, di sana ada box bayi dan seorang perempuan "Ah Maaf!"


"Tidak, kamu mau lihat bayinya kan?"


Miya melihat Hanna "Na, gue boleh lihat gak?"


"Iya," dengan semangat Miya masuk ke ruangan itu, sedangkan perempuan tadi pamit ke Kennan.


"Kakak pulang, kalian baik baik disini, malam nanti papa sama mama baru datang lagi."


Itu kalimat terakhir yang Miya dengar, sekarang fokusnya ke bayi yang kulitnya masih memerah. Padahal tadi dia juga melihat keponakannya, saat melihat anak Kennan dia masih sangat takjub.


"Cewek?" tanya Miya saat Hanna bersama tiang infusnya masuk ke ruangan itu juga.


Hanna mengangguk senang, tangannya terulur menyentuh pipi putrinya "Akhirnya gue punya sekutu juga, dua kakaknya cowok semua."


Miya ikut tersenyum.


"Jadi sudah ada nama?"


Hanna melihat keluar dimana Kennan duduk sambil sesekali melihat ke arah mereka "Papanya masih bingung, soalnya banyak nama yang dia pikirkan."


"Hm," Miya kembali melihat si Bayi "Kakak kakaknya mana? Gue penasaran soalnya."


"Apa yang dipenasarin? Mukanya duplikat bapaknya semua," Hanna berkata sambil cemberut kesal.

__ADS_1


"Inceran cewek tuh kalau gede, kayak bapaknya." ucap Miya, mereka sudah berjalan keruangan Hanna lagi sambil membawa bayi itu keluar juga.


Miya yang menggendongnya.


"Ponakanmu cewek atau cowok?"


"Cewek juga," dia tersenyum mengingat keponakan yang ada di ruang sebelah.


Mereka berdua keasyikan bercerita, sampai suara mengintrupsi mereka. Alisa masuk dengan dua anaknya, di belakangnya berjalan Ryan.


"Ah... Bu Presiden selamat...." dia berjalan cepat mendekat mereka saling memeluk "Mi, sudah di sini saja lo."


"Iya dong, hai...." dia menyapa anak perempuan yang memegang tangan Ryan yang menyerahkan bingkisan ke Kennan. "Namanya siapa cantik?"


"Lyla!"


"Lyra!" Alisa membetulkan nama putrinya "Kalau abang siapa namanya kak?"


"Alies!" jawab Lyra.


"Anak lo berapa sih?" tanya Miya.


Alisa dengan bangga mengangkat tiga jarinya, "Gue ngak mau kalah dong!"


Miya terkekeh dia kemudian melihat anak yang di pangkuan Alisa, "Nah, kalau yang anteng ini siapa namanya."


"Adek pius!" Lyra kembali menjawab.


"Scorpius!" Hanna yang menjawab, "Heran gue, hobi bener ngasih nama anak nama rasi bintang!"


"Bapaknya yang kasih nama, aneh memang." ucap Alisa. "Tapi Na, selamat ya. Jadi namanya siapa?"


"Belum ada."


"Mau gue bantuin cari nama?"


"Ngak!" Kennan lebih dulu menjawab pertanyaan Alisa, "Tapi dimana Aries?"


"Sama Papa Ar nya."


*****


Setelah berbincang cukup lama, Miya akhirnya keluar juga. Dia bersiap ke kantin karena sudah kelaparan, tadi dia tidak sempat makan karena buru buru cari kado buat anak Hanna-Kennan.


Tapi saat tiba di kantin, dia sedikit risih dengan tatapan beberapa perawat. Meski tidak terang terangan, tapi Miya merasa kalau di perhatikan.


"Kak Miya?"


Miya menoleh dan mendapati Lily bersama rekan kerjanya, dia tampaknya baru akan makan juga. Wanita itu menghampirinya sambil tersenyu, tentunya Miya membalas dengan senyum lebih lebar.

__ADS_1


Dia tidak akan merasa sendiri.


Miya melihat Lily yang sepertinya pamit ke rekannya, setelahnya berjalan menghampiri Miya. Mereka berjalan berdampingan untuk memesan makanan mereka.


"Siapa yang sakit kak?"


"Ponakanku lahir hari ini?" Miya menjawab sambil tersenyum, dia turut bahagia. "Kamu baru mau makan?"


"Iya."


"Lambat banget."


"Mau gimana lagi kak, sibuk banget." dia melihat Miya "Kak Aryan saja kayaknya dari pagi belum makan."


"Eh?" dia terkejut karena nama Aryan dibawa bawa. "Sesibuk itu?"


Setelah menerima makanan mereka, mereka berjalan mencari meja "Ini tidak seberapa, kalau memang lagi banyak pasien, jangankan makan kak tidur saja bisa hanya bisa setengah jam saja."


Miya melongo, sesibuk itu. Dia menatap Lily serius "Kalian bisa mati tau."


Lily terkekeh, tidak ada yang salah dengan ucapan Miya "Resiko pekerjaan, jadi harus di jalani. Anak-anakku juga kadang suka protes."


Anak?


Ah... Bagaimana dia bisa lupa kalau adik kelasnnya itu menikah di umur yang muda, dia sepertinya mengerti kenapa ibunya ngotot memintanya menikah.


"Memang rumah sakit ini sering banget banyak pasien?" tanya Miya dia menggulung Mie di depannya dengan garpu sebelum memasukkan ke mulutnya.


"Iya, terkadang kami kewalahan dan memanggil dokter dari luar." bisa Miya lihat wajah lelah Lily "Terlebih kalau ada kecelakaan lalu lintas dengan kendaraan yang mengangkut banyak orang."


Miya mangguk mangguk "Padahal dulu Aryan ngincernya specialis Cancer, tidak sangka saja dia dibedah umum."


Lily mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tertarik ke atas "Mungkin karena sudah tidak ada pasien yang mau dia rawat, seperti tujuannya."


"Maksudnya?"


"maksudnya, alasan dia mau jadi dokter Cancer sudah sehat. Jadi dia ambil specialis lain."


Miya mengaduk makanan di piringnya, dia menghela nafas panjang. Dulu memang Aryan pernah mengatakan itu, tapi dia juga mengatakan tidak ingin menjadi dokter lagi.


Tapi apa alasan dia memutuskan jadi dokter lagi?


"Kakak tidak mau bicara lagi sama senior Ar?"


"Soal apa?" Lily mengedikkan bahunya.


"Kakak yang paling tahu apa maksudku." dia mengambil minum dan meneguknya. "Kak Miya sekarang sibuk apa?"


"Kerja, apa lagi?" dia memikirkan pekerjaan di kantornya, "Hah... Pengen balik SMA saja mah kalau begini."

__ADS_1


Dia meninggalkan pekerjaan begitu saja, bisa dijamin besok dia akan lembur. Di tambah dia sudah harus berkemas, ponakannya sudah lahir yang bertarti dia sudah bisa balik ke kosannya.


__ADS_2