Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 7


__ADS_3

"Dia teman SMA dokter?" Camelia yang berjalan beriringan dengan Aryan bertanya, dia sesekali melirik ke belakang dimana Miya menghilang.


"Ya."


"Kalian terlihat dekat." Camelia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, melihat keakraban Aryan dan perempuan lain membuatnya tidak nyaman.


Biar bagaimana pun Aryan adalah orang yang dia sukai, Aryan yang dingin dengan orang lain tapi beda saat bersama gadis tadi membuatnya iri. Dari sekali pandang pun bisa dilihat betapa cantiknya perempuan itu, tapi dia tidak akan menyerah.


Dia adalah orang yang penuh semangat tinggi.


"Iya," jawab Aryan lagi.


"Cantik." ucap Camelia, dia melirik Aryan yang diam sambil melihat jam. Tak lama dokter pria itu menoleh.


"Siapa?"


"Teman Dokter tadi, dia cantik."


"Iya, Sayang sekali dia berisik." Dia berkata sambil tersenyum dan berlalu mendahului Camelia.


Camelia menatap getir punggung Aryan, dia menarik nafas dan berjalan mengikutinya. Mereka akan menuju ke pasien yang semalam mereka operasi, mengecek keaadannya.


Saat masuk mereka beberapa pembesuk, mereka semua langsung menyambut. Aryan tidak banyak basa basi, dia melihat keadaan pasien yang masih belum sadarkan diri.


"Jadi adik saya kapan bisa bangunnya, Dok?" tanya wanita yang sepertinya saudara pasien.


"Soal itu kami tidak bisa memastikan," Camelia yang menjawabnya "Karena benturan yang keras jadi ada beberapa saraf yang bermasalah, kemungkinan saat terbangun pun dia akan kesulitan bicara untuk sementara waktu."


Wajah orang orang di sana langsung sedih, Aryan menatap remaja laki laki yang tak sadarkan diri itu. Menatapnya lamat lamat sambil mengkerutkan keningnya, dia merasa sangat familiar dengannya.


Dia membuka catatannya dan melihat nama pasiennya, Tanubrata? Dia kembali melihat wajah pasiennya, benar saja tidak asing untuknya.


"Ada apa dok?" kali ini Camelia yang bertanya.


Aryan beralih ke perempuan itu "Apa kalian kerabatnya Set maksudku Sean?"


"Dokter kenal kakak say-" perempuan itu menatap lamat lamat ke arahnya, tak lama matanya membulat kaget. "Kak Yan kan? Teman sekolahnya kak Sean?"


Aryan hanya tersenyum kecil sebagai konfirmasi, gadis itu hanya balas tersenyum. Tapi tak lama dia kembali menatap Adiknya yang terbaring di kasur.


"Dia tidak apa apa," Aryan bersuara menenangkan keluarga tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, ka-eh Dok!" Aryan hanya mengangguk tak lama dia pamit keluar karena masih ada beberapa pasien yang harus dia periksa.


Memeriksa pasien cukup menyita waktunya, dia melirik jam di tangannya dan sudah waktunya makan siang. Baru akan berjalan ke kantin untuk makan, seorang perawat kembali berlari ke arahnya memberitahu bahwa ada pasien yang baru datang.


"Yang benar saja?" dia menghela nafas panjang dan cepat berlari ke pelataran rumah sakit. Disana sudah ada Lily dan beberapa dokter lainnya.


"Ada apa ini?" tanyanya menarik brankar pasien yang belum ditangani dokter. "Kenapa bisa sampai begini."


"Kecelakaan beruntun, Dok." jawab salah satu pasien.


Dia dengan cepat naik ke brankar dan memberi pertolongan pertama, tidak peduli dengan jasnya yang berlumuran darah. Dia mengarahkan para perawat yang membantunya, sampai mereka tiba di ruangan dimana dia leluasa memeriksa pasien pasien di sana.


Hampir sepuluh jam mereka menangani korban korban kecelakaan, tak satupun dari mereka yang istirahat. Dan sekali lagi mereka melihat banyak kematian hari ini, memang pemandangan yang biasa untuk mereka tapi tetap saja memilukan.


Aryan memijat keningnya, rasa lapar yang tadi dia rasakan hilang entah kemana. Matanya kini tertuju ke keluarga korban yamh nyawanya tidak tertolong, dia pernah ada posisi itu dulu.


Dia melangkah mendekati remaja laki laki yang hanya terdiam, matanya menatap kosong ke jenazah wanita tua di depannya. Dia duduk di sampingnya, ikut menatap ke jenazah yang sama.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang?" pertanyaan remaja itu terdengar di telinganya, suaranya berat seperti menahan tangis.


"Melanjutkan hidup." hanya itu jawaban Aryan, dia bukan tipe orang yang menghibur dengan kata-kata.


Remaja itu menatapnya, matanya memerah terlihat jelas kalau dia ingin menangis tapi dia tahan. "Bukannya anda dokter? Lantas kenapa anda tidak bisa menolong nenek saya?"


Remaja itu hanya tertunduk, tangannya tertaur rapat. Aryan menepuk pundaknya tanpa suara, sampai akhirnya dia mendengar isakan pilu dari remaja tersebut.


"Siapa yang bisa kami hubungi untuk mempersiapkan pemakaman?" tanya Aryan setelah anak itu reda.


"Kami hanya tinggal berdua?" jawab Remaja itu. Aryan mengangguk paham, dia kemudian berdiri.


"kami yang akan mempersiapkan pemakamannya," ucap Aryan, remaja itu mendongak menatapnya "Tapi itu hanya tempat pemakaman umum biasa, apa tidak masalah?"


Remaja itu menggelengka kepalanya "Bagaimana dengan biayanya?"


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, cukup menyelesaikan beberapa prosedur saja." kata Aryan "Namamu?"


"Ryan."


Aryan terdiam sebentar, tak lama dia mengangguk dan berlalu. Apa apaan nama itu? Bagaimana itu bisa hampir mirip dengan namanya.


Aryan berjalan sedikit lambat, terutama saat melihat kerumunan di depan ICU.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Aryan yang masuk ke kerumunan.


"Dokter, ada orang yang marah marah karena lukanya tidak diperban dengan benar."


Aryan memegang tengkuknya yang terasa tegang, dia sudah sangat lelah hari ini. Dia melihat orang yang mengamuk itu membawa pisau, Aryan memperhatikannya dari atas ke bawah dan tidak ada yang parah.


"KALAU KALIAN TIDAK MEMBERI KOMPENSASI AKAN KU SEBARKAN KALAU RUMAH SAKIT PENANGANANNYA BURUK. LUKA SAYA BISA KENA INFEKSI." Dia mengulurkan pisaunya "AKU MAU UANGKU DI GANTI RUGI SEKA-"


"Berisik!" Aryan menggeser orang di depannya.


"Dokter..." cicit mereka sedikit panik, biar bagaimana pun orang itu membawa pisau.


"HAH, AKHIRNYA MUNCUL JUGA DOKTER TIDAK BECUS." dia mendekati Aryan "Berikan uang kompensasi atas malpraktek yang dilakukan dokter di sini?" dia menunjukkan tangannya yang di perban asal asalan.


Aryan melirik tangan itu dan melirik orang yang sedari tadi berkoar koar.


"Oke," beberapa perawat berseru tidak terima.


"Dari tadi kek, mana uang-arrghhHHHH!" dia memekik saat tangannya di tangkap Aryan dan memelintirinya, dia bahkan tidak segan melemparnya ke arah dinding.


Aryan mendekat dan berbisik padanya "Kompensasi tidak bisa diberikan pada orang yang tidak terluka." dia kemudian melihat ke arah perawat yang menatapnya kaget "Urus dia."


"Ba..baik, Dok!"


Dia berdiri sambil menyugar rambutnya, dia bukan orang yang lembut pada semua orang. Dia menatap tajam ke arah perusuh tadi, membuat pria itu ketakutan.


Sebenarnya dia pertama kali diperlakukan seperti ini.


Aryan kembali melanjutkan langkahnya, tapi mengingat sesuatu dia berbalik. Para perawat memberinya jalan mendekat, Aryan menunduk mengambil pisau pria tadi dan berjalan kembali ke tempat dimana dia akan istirahat.


Tapi mengingat remaja tadi, dia langsung ke tempat administrasi dan kebetulan remaja itu ada disana.


"Dokter?" ucap Ryan terkejut saat Aryan berdiri di sampingnya.


Aryan hanya menganggukkan kepalanya, dia meminta kertas yang ada di tangan remaja itu. "Dimana direktur?" tanya Aryan.


"Itu Dok, direktur tadi keluar karena ada urusan." jawab salah satu pegawai di sana.


Aryan mengangguk mengerti dia kembali menunduk menatap lembaran di tangannya. "Kamu masih tiga belas tahun?"


Aryan cukup terkejut karena anak itu lumayan tinggi "Iya."

__ADS_1


"Kamu bisa menjaga nenekmu, disini biar aku yang mengurus."


Anak itu lantas menatapnya, mengucapkan terima kasih dan dengan cepat berjalan di mana neneknya berada. Dia menatap punggung remaja anak itu, ah... Dia melihat dirinya yang dulu saat dia kehilangan, bedanya dia dulu ada paman dan Alisa di sisinya.


__ADS_2