
"Cerita gue sudah selesai, Yan!"
Aryan mendongak dan dengan kesadaran penuh, mengangkat tangannya dan menjitak kening Miya.
"Akh..." Miya meringis dan makin mengenjangkan suaranya, "Kenapa hiks... Kenapa lo jitak gue?"
Aryan memegang keningnya, kepalanya tiba tiba pusing, "Mi, suara lo bisa sampai luar loh. Ntar orang malah mikir gue apa apain lo."
"Biar!!"
Miya kembali melanjutkan tangisnya, dan seperti biasa Aryan hanya bisa pasrah sampai gadis itu redah dengan sendirinya. Dia berdiri dari depan Miya, berjalan ke arahnya dan mengambil tisu.
Barulah setelah Miya mereda dia kembali mendekat, memberikan tisu ke Miya yang langsung diterima gadis itu. Miya melirik Aryan yang sudah duduk di sampingnya, masih dengan nada sesenggukan dia bertanya
"Lo tau kan?" Aryan menganggukkan kepalanya, tangannya saling bertaut "Kenapa tidak ngasih tau gue?"
"Karena gue tau dia pasti kasih tau juga ke lo, gue juga tidak sempat ngasih tau ke l-"
"Bohong! Kemarin lo punya kesempatan ngasih tau gue." lirih Miya, dia menunduk menatap tangannya sendiri "Gue jadi kayak orang bodoh nangis begini."
"Memang!" Miya langsung mendelik mendengar jawaban cepat Aryan. "Kisah lo belum selesai, Mi. Malah sekarang kisah lo baru di mulai. Tidak ada kisah seseorang selesai selama masih hidup, kecuali lo dalam tanah."
Bukh!
Aryan mengelus lengannya yang kena pukul Miya, "Lo nyumpahin gue? Tega lo!"
"Astagfirullah Miya!" dia dengan cepat menahan tangan Miya yang mau memukulnya. "Sakit, lo itu walau kurus tapi pukulan lo sakit."
"Gue mesti gimana?" Miya kembali menangis, dia menundukkan kepalanya dan bertumpu di lengan Aryan "Hiks, tanpa sadar gue nungguin dia balik! Hek... Gue bodoh banget!"
Aryan menghela nafas panjang, dia tau rasanya patah hati saat ditinggalkan. Dia mengangkat tangannya dan mengelus pelan kepala Miya, dia kembali membiarkan gadis itu kembali menangis bahkan memberinya tisu.
Miya kembali redah, mengambil tisu dari Aryan da mengeluarkan ingusnya. Aryan mengambil tempat sampah yang kebetulan ada tidak jauh dari tempat dia duduk, dia menempatkannya di depan Miya.
Aryan tidak mau mengambil resiko akan membuang tisu bekas Miya.
"Lo mau datang?"
"Hm?"
Miya mengangkat wajah sembabnya, menatap Aryan "Lo mau datang enggak?" dia mengulang pertanyaannya.
Aryan menganggukkan kepalanya, "Datanglah, bagaimana pun dia kan teman gue, Mi." Aryan melirik jam di tangannya "Lo ngak mau datang?"
__ADS_1
"Lo mau pergi sama siapa?"
"Anak gue lah," Miya mencibir mendengar jawaban Aryan. "Dia harus terbiasa dengan kehidupan barunya."
Miya merebahkan dirinya di sofa, tangannya terulur mengambil bantalan sofa dan memeluknya. Perasaannya campur aduk saat ini, dia bahkan tidak yakin kalau akan menghadiri acara itu.
"Lo enggak mau pulang, Mi?" Miya menggelengkan kepalanya "Gue ada operasi, lo enggak apa sendirian?"
"Iya."
Aryan kemudian berdiri dan berjalan melepas jas putihnya, dia mengambil baju ganti di rak kecil di sudut ruangan dan masuk ke kamar mandi. Saat keluar dia mendapati Miya sudah menutup matanya, berfikir bahwa gadis itu pasti lelah setelah menangis lama.
Dia berjalan keluar menghampiri suster yang kebetulan berjaga di samping ruangannya, "Kalau ada yang mau masuk di ruanga saya, tolong dilarang."
"Iya, Dok. Tapi kenapa?"
"Teman saya ada di dalam." hanya itu yang dia katakan kemudian berlalu.
Dua suster yang berjaga hanya saling memandang, mereka berdua melihat dengan jelas siapa yang masuk bersama Aryan tadi. Mereka juga melihat kalau cewek yang dibawa Aryan itu menangis, bahkan setelah masuk suaranya sempat terdengar.
Dokter Aryan yang terkenal dingin terhadap perempuan itu membawa perempuan ke ruangannya, tentunya akan menjadi gosip diantara pekerja seperti mereka.
"Kayaknya cewek itu deh yang dibawa dokter Aryan ke ruang istirahat subuh subuh." cetuk salah satu dari mereka.
"Ck, secantik apa sih?" dia memang tidak melihat dengan jelas wajah Miya, "Cantikan mana dari Dokter Camelia?"
"Kayaknya Dokter Camelia deh." mereka berdua langsung tertawa.
"Kenapa? Kenapa?" seorang perawat lain menghampiri mereka "Ada gosip baru?"
"Enggak, kita cuman membahas cewek yang rumornya pacaran sama dokter Aryan itu," perawat yang baru datang mengangguk "Bandingin kecantikannya dengan dokter Camelia, kayaknya masih cantikan dokter Camelia."
Perawat yang baru datang itu menggelengkan kepalanya, "Gue sudah lihat langsung, pacar dokter Aryan memang cakep banget." dia menepuk nepuk dagunya dengan telunjuk, "Dokter Camelia memang cantik, tapi cantiknya itu ya cewek cantik pada umumnya. Sedangkan pacarnya Dokter Aryan itu, cantiknya berkelas kelihatan banget kalau dia orang kaya."
Miya membuka matanya begitu Aryan keluar, sebenarnya setelah merasa tenang dia jadi malu sendiri. Miya meraih tasnya dan mengambil cermin, benar saja wajahnya bengkak karena menangis.
Tapi saat menggeledah isi tasnya, dia sama sekali tidak menemukan kacamata. Lalu bagaimana dia keluar? Tidak mungkinkan dia keluar dengan wajah sembab dan bengkak.
Miya melirik ke atas meja Aryan, dia menemukan undangan yang dia bawa sudah kusut. Tapi bukan itu yang jadi perhatiannya, melainkan kacamata hitam, sepertinya sangat tahu kalau dia sangat membutuhkannya.
"Pinjam ya, Yan!" dia meraih kacamata itu dan memakainya.
Dia juga mengambil pos it dari tasnya, dia harus meninggalkan memo kecil sebelum pergi. Setelah menulis memo, dia mengambil make-up untuk merapikan wajahnya.
__ADS_1
Saat keluar dia berjalan dengan tegap dan percaya diri, dia tahu beberapa melihat ke arahnya jadi dia hanya perlu pura pura tidak tahu.
Miya yang tidak langsung pulang, dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan parkiran. Miya melangkah ke gedung di mana anak anak yang menderita kanker dirawat, dia sudah berjanji pada anak anak itu kan.
Ini kali pertama dia menginjakkan kakinya sejak dia divonis sembuh seratus persen, ada perasaan campur aduk saat dia masuk di sana. Biar bagaimana pun, Miya sudah di sana sejak usia empat tahun dan keluar saat empat belas tahun.
Ya sebelum dia masuk di bangku SMA.
Matanya terus menyusuri isi gedung itu, tidak banyak yang berubah dan hanya penambahan banyak fasilitas.
"Maaf Mbak, waktu besuk sudah selesai." salah satu perawat mendatanginya.
Miya tersenyum kecil, "Iya sus, tapi saya bolehkan melihat lihat?"
"Itu..." perawat itu tampak bingung, dia tidak mengenal Miya dan terlebih banyak krimimal yang melibatkan anak anak.
"Loh, Miya kan?"
Miya dan suster itu menoleh, seorang suster yang sudah berumur melihat Miya lamat lamat.
"Suster Maya, lama tidak bertemu." Miya tersenyum, suster itu menutup mulutnya tidak percaya.
"Ya ampun, aku pikir salah lihat." dia mengusap air matanya "Lihat anak ini, sekarang dia tumbuh dengan baik."
"Suster ketua kenal?" tanya perawat yang sempat ragu pada Miya tadi.
Maya berjalan mendekat dan memeluk Miya, dia kemudian melihat ke arah juniornya "Iya, beberapa tahun lalu dia pasien di sini." dia Miya lagi, ada rasa bahagia melihat pasiennya yang sembuh berkunjung "Ada apa, Nak? tidak biasanya kamu ke sini."
"Hanya ingin melihat lihat saja," dia mengusap tengkuknya "Tidak masalahkan?"
Maya menggelengkan kepalanya, meski tempat ini tempat yang menurut orang mimpi buruk, tapi pasien seperti Miya pasti memiliki momen yang berharga di sini.
Maya juga tahu kalau salah satu sahabat dekat Miya meninggal, dia percaya kalau dia ingin mengenang teman teman yang berjuang bersamanya.
Aryan yang baru keluar dari ruang operasi, buru buru kembali ke ruangannya. Namun dia tidak mendapati Miya di sana, bahkan undangan yang dia lempar asal di meja sudah tidak ada.
Aryan mengambil kertas pos it yang menempel di mejanya.
Kacamata lo gue balikin kalau gue datang lagi.
Miya_cantik!
Aryan menggaruk keningnya saat tahu kacamata yang Miya maksud.
__ADS_1
"Padahal belum pernah di pake"