Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 47


__ADS_3

Aryan yang baru saja menyelesaikan pertolongannya, keluar dari ruang UGD dengan sedikit sempoyongan. Dia tau ini sedikit beresiko karena dia semalam begadang, tapi menunggu donor darah itu terlalu lama.


"Dok, dokter tidak apa apa?" perawat yang bersamanya tadi bertanya, Aryan hanya menggelengkan kepalanya. "Saya antar ke ruangan dokter?"


Aryan menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu."


"Kalau begitu, kami akan menyiapkan makan dokter!" perawat itu kembali berkata, biar bagaimana pun Aryan kelihatan pucat sekarang.


Baru membuka pintu, dia sudah di hadang anak buah Bima. Aryan menatap mereka dingin, kalau mereka memukulnya Aryan sama sekali tidak bisa membela dirinya.


"Pasien masih dalam keadaan tidak sadar karena bius, jangan membuat keributan!" ucapnya, dia menoleh ke perawat "Minimal pembesuk dua orang, lebih dari itu jangan biarkan masuk."


"Baik Dokter."


Aryan melewati mereka tanpa mengatakan apa apa, berjalan ke arah kantin karena dia butuh energi tambahan. Setelah ini dia masih ada operasi, jadi dia harus bisa mengembalikan energinya.


Aryan sedikit kaget melihat Miya ada di rumah sakit, "Kenapa lo di sini?" tanya Aryan berjalan ke arahnya.


Miya menghela nafas kesal, "Manaf bohong ke gue, gue pikir nyokap sakit!"


Aryan hanya beroh, dia sepertinya mengerti situasinya. Miya mengkerutkan keningnya menatap Aryan, dia kemudian menangkupka tangannya di wajah Aryan.


"Lo sakit? Muka lo pucat banget." Aryan melepaskan tangan Miya dari wajahnya, "Lo sakitkan?"


"Enggak," Aryan menunjukkan lengan yang ada kapasnya, "gue baru ngedonor."


"Lo sudah makan?"


Aryan menggelengkan kepalanya, "baru mau ke kantin ini."


"Ege!" dia meraih tangan Aryan, tentunya dengan mengomel-ngomeli Aryan.


Begitu sampai di kantin, Miya mendudukkan Aryan sementara dirinya yang memesan makan. Sambil menunggu Miya yang memesan makanan, dia merebahkan kepalanya yang sedikit pusing.


Miya meletakkan semangkuk sup dan nasi di depan Aryan, "Bangun, lo makan dulu!"


Aryan mengangkat kepalanya dan melihat makanan di depannya, "lo tidak makan?" tangannya meraih nasi dan sendok.


Miya menggelengkan kepalanya, "enggak nafsu makan gue."


Aryan yang sendok masih ada di dalam mulutnya menatap Miya, dia mengunyah makanannya lalu menelannya. "Masih mikirin Dimas?"

__ADS_1


Miya mendelik, "Enggaklah, ege lo!" dia menopang dagunya dan memperhatikan Aryan makan. "Capek enggak sih jadi dokter?"


"Menurut lo?"


"Ya elah, Yan! Kan gue cuman nanya doang."


Aryan menyeruput airnya, "Tidur tidak teratur, makan kadang lupa, operasi berjam jam, harus selalu siap meski libur." Aryan mengacungkan jarinya satu persatu, "Gue salah milih profesi kayaknya."


Mendengar itu membuat Miya tertawa, ya orang tipe Aryan memang tidak terlihat sesuai dengan profesinya. Miya langsung menutup mulutnya, semua yang ada di kantin itu soalnya melihat ke arahnya.


"Tapi lo cocok sama jas putih," Miya tidak berbohong.


Mendengar itu Aryan menyeringai, "Memang apa yang tidak cocok sama gue?" ucapnya dengan nada sombong.


Miya tanpa sadar melemparinya dengan tisue, "Anjirrr!"


"tapi Mi," Miya kembali menatap Aryan. "Lo kenapa bisa seenaknya datang tidak datang kantor? Mentang mentang punya bapak sendiri."


"Enggak ya, lo saja yang tidak tahu berapa banyak gaji gue yang harus gue ikhlasin untuk bolos kerja." Miya menopang dagunya. "Gue malah mau cari kerja di tempat lain."


"Kenapa?"


Miya menghela nafas panjang, "posisi gue sekarang termaksud tinggi, kalau ketahuan tempat itu punya orang tua gue, pasti bakal riweh."


Selesai makan energi Aryan benar benar kembali, wajah pucat karena mendonorkan darah juga tidak kelihatan lagi. Dua insan itu berjalan berdampingan, Aryan bersiap kembali kerja pun dengan Miya yang siap kembali ke kantor.


"Miya!" dua orang yang sedang berbincang terkejut, mereka dihadang Mami Miya tiba tiba. "Mami mau bicara!"


"Kalau Mami mau bahas soal menikah lagi, aku tidak mau dengar." Aryan menunduk menatap lengannya yang dipeluk Miya, tangan gadis itu dingin "Aku tidak berniat menikah dengan pilihan Mami."


"Miya ma-"


"Maaf menyela," Aryan berpindah ke tengah-tengah "Mari bicara di tempat tertutup, di sini banyak yang melihat."


Miya dan Maminya melihat sekitar, Aryan mengatakan hal yang benar. Pembesuk dan staff rumah sakit berlalu lalang di samping mereka, di tambah ada yang melihat penasaran ke arah mereka juga.


Aryan menyarankan untuk bicara di ruanngan, untungnya Maminya setuju dengan usulannya. Aryan selaku pemilik ruangan membimbing jalan, dia juga meminta perawat mengalihkan pasien ke dokter lain untuk sementara.


Aryan terkejut saat membuka pintu ruangannya, bocah kematian yang sudah seminggu lebih tidak dilihatnya sekarang duduk manis di sofa. Aries yang membaca buku mengangkat kepalanya saat merasa ada orang, dia tersenyum lebar melihat Aryan.


"Papa!" serunya melompat dari sofa, dia juga merindukan pamannya.

__ADS_1


"Papa?" Maminya Miya mendelik melihat Miya, dia tidak bisa membiarkan Miya mengasuh dan punya anak tiri.


Aryan menatap keponakannya, "Dengan siapa kamu ke sini?" dia menangkap tubuh bocah yang limbung ke arahnya. "Jangan bilang kamu bolos?"


"Ayolah papa, tidak mungkin aku bolos sementara tahu aku punya mommy yang menyeramkan." Aryan mengkerutkan keningnya mendengar ucapan bocah tua di depannya, "Aku ke sini dengan kakekku."


Aryan mempersilahkan maminya Miya duduk, sementara Aries dia dudukkan di singgah sananya.


"Jangan sentuh apapun," Aryan memperingati keponakannya yang kadang aktif kadang pasif itu.


"Aku tahu, aku bukan anak kecil tiga tahun."


"Bagus, sebagai anak anak dewasa kamu di larang menyela dan bersuara saat Papa sedang bicara dengan tamu. Di laci ada kudapan, makanlah dengan tenang, ini perjanjian."


Bocah itu menghela nafas seolah mengerti semua hal, "Oke, aku tahu."


Aryan kemudian duduk di samping Miya, gadis itu menatapnya seolah bertanya. Siapa bocah itu? Aryan melirik keponakannya yang benar benar diam.


"Anak sulungnya Alisa." Miya menganggukkan kepalanya, pantas saja dia tidak asing dengan wajahnya.


Aryan kembali berdiri menghampirinya, dia mengeluarkan hp dan headpone yang ada di laci. Dia tidak ingin keponakannya mendengar pembicaraannya, karena ini rana orang dewasa.


Jadi dia memasangkan headphone, tentunya dengan suara yang aman untuk telinga anak anak.


Saat duduk dia langsung mendapat pandangan protes dari Maminya Miya, bagaimana bisa orang yang katanya pacar anaknya punya anak duluan. Dia menghela nafas panjang, dia tidak bisa hanya tinggal saja.


"Mami mau kamu menikah dengan Griffin!" nada suaranya tidak terbantahkan.


"Tidak mau," Miya sama kerasnya.


Wanita parubaya itu memijat keningnya, "Kupikir Aryan tau kondisi neneknya yang parah, dia ingin melihat cucunya menikah."


"Tidak ada hubungannya denganku," dia menatap Aryan kemudian ibunya "Apapun alasannya, aku tidak mau."


"Miya, apa kamu tidak punya hati nurani? Neneknya sudah mau meninggal, apa kamu tidak kasihan."


"tidak!" Miya kagat saat tangannya yang ada dibelakangnya di sentuh Aryan, dia merasakan ada teguran dari sana. "Aku tidak mau menikah kemudian bercerai, Mi. Menikah dengan cara seperti itu sama saja memaksa."


"Hhhhh... Kamu kenapa keras kepala sekali?" dia melihat Aryan sekilas dan melihat putrinya. "Mami tidak akan setuju dengan hubungan kalian!"


"Kenapa?" Aryan yang dari tadi diam akhirnya bersuara, dia menggeleng ke arah Miya yang seperti akan menyela omongannya. "Tante tidak menyukai saya dari segi apa?"

__ADS_1


"Kamu sungguh bertanya?"


Aryan mengangukkan kepalanya, "Ya, karena saya butuh jawaban kenapa saya tidak sesuai dengan kriteria tante."


__ADS_2