Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 13


__ADS_3

"Gue jadi lo, bakal gue jadiin pacar." ucap Andin yang masih membahas Aryan, padahal mereka sudah berada di tempat makan.


Miya menghela nafas, "Menurut lo, apa tampang Aryan tampang orang tidak punya pacar saat itu?"


"Eh? Bener juga ya."


"Gue juga punya pacar waktu SMA." lirih Miya. Andin menyipitkan matanya


"Pacar yang hanya dalam sejarah,"


Miya tersenyum ke arahnya, dia berucap membuat Andin dan Griffin kaget. "Anying lo!"


Pasalnya Miya dikenal dengan kepribadian diam, dia juga selalu bicara sopan kepada orang lain. Andin melotot ke arahnya seperti menegur balita yang berbicara kasar, tapi Miya dengan santai menyesap es tehnya.


"Kamu kelihatan dekat dengan dokter tadi," Griffin bertanya dengan nada tenang, dia itu laki laki tentunya dia bisa menyadari sesuatu.


Miya menganggukkan kepalanya "Kami sekelas pak," Miya menopang dagunya malas "Saya selalu minta contekan sama dia."


"Dan lo ngak baper?" timpal Andin, Miya menghela nafas panjang


Orang ini kenapa sih?


"Oke oke, gue bercanda!" dia mencondongkan badannya ke arah Miya "Lo masih punya teman ganteng, gak? Masa cuman satu orang doang!"


Miya meraih ponselnya, setelah menemukan apa yang dia cari Miya langsung meletakkan hpnya di atas meja. Dia memperlihatkan foto dirinya bersama dengan teman satu kelasnya, Andin buru buru mengambilnya.


Andin melihat hp Miya kemudian menatap Miya "Na, lo sekolah di sekolah model? Bagaiamana bisa sekelas cakep semua? Astagaaa... Ada yang bule bule juga!" dia kembali menunduk "tapi ini seriusan lo Na?"


Andin memperbesar gambar di layar, "Kenapa?"


"Lo kenapa sekarang jadi suram?" ucap Andin, Miya tidak menyaut sama sekali "Yang di samping lo ini, dokter itu kan? Astagaa... Dia juga bisa ketawa lebar!"


Miya menyesap es tehnya lagi, dia menatap keluar kedai. Matanya tertuju ke sekumpulan remaja yang tengah bercanda satu sama lain, dia merindukan masa masa itu. Masa masa di mana dia kebanyakan bermain, berkumpul dan membuat masalah bersama.


Griffin tanpa di ketahui dua gadis itu melirik Miya, dia bisa dengan jelas melihat senyum kecil gadis itu. Dia langsung mengambil kopinya untuk menyesapnya, dia tidak tahu kenapa sejak semalam dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


Dia menatap ke arah yang dilihat Miya, hanya sekumpulan remaja yang terlihat bertingkah konyol. Dia tidak terlalu tertarik dengan remaja remaja itu, sejak awal dia malah ingin melupakan masa remajanya.

__ADS_1


"WAHHH!!!" Miya dan Griffin spontan menoleh ke arah Andin.


"Berisik, Din-"


"INI KEVIN KAN!!" Miya memundurkan wajahnya karena ponsel di sodorkan di depan wajahnya, "Lo satu sekolah sama Kevin? Gilaaa.... Lo sekelas sama Artis dulu!"


"Memang kenapa?" tanya Miya, dia mengambil hapenya sebelum Andin melihat lebih jauh, untung dia tidak menscroll foto foto dan hanya satu foto saja.


"Memangnya kenapa? Astaga Miyaaa.. Lo sadar ngak sih kalau lo itu sempat satu sekolah sama cowok yang sekarang jadi incaran satu negara?" Andin menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ekpresi penuh drama, tak lama dia mengebrak meja "Waktu SMA Kevin bagaimana? apa dia punya pacar?"


Miya mengatupkan mulutnya rapat-rapat, tidak mungkin dia mengatakannya kan? Kevin saat remaja di itu tidak ada bedanya dengan temannya yang lain, dia punya beberapa mantan ya dia dikenal playboy. Dia tidak akan mengatakan aib teman temannya, never!


"Na, cerita dong! Sama gue ini!"


Miya mendengus dan memakan kerupuk di depannya, dia tidak akan mengatakan apa apa tanpa izin Kevin sendiri.


"Lo punya nomornya ngak? Kasih dong!"


"Tidak!" ucap Miya, meski dia punya dia tidak akan membeberkannya.


"Oke!" Miya mengambil hapenya dari Andin, dia suka negosiasi yang menguntungkan.


Well... Miya tidak mau rugi.


Dia dengan cepat menghubungi nomor Kevin, telfonnya tidak langsung dijawab hingga deringan ke dua. Miya meloudspeaker agar Andin bisa mendengar, suara serak laki laki terdengar dari seberang.


"Halo, Kepin kan?"


"Bukan, ini dengan orang ganteng!"


"Preeetttt!" Miya spontan mengucapkan kalimat itu. "Pin, gue gak ganggu waktu lo kan? Kali aja lo sibuk."


"Sebenarnya gue lagi sedang di lokasi, tapi untuk Ibu bendahara tersayang, apa sih yang enggak!"


Miya melihat Andin yang sudah menganga, dia pasti tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Hahaha.... Rasanya Miya ingin meledakkan tawanya, dia pun sudah biasa dengan sifat slengean Kevin.


"Kenapa sayang? Tumben banget lo nelfon!"

__ADS_1


"Sayang kepala bapak lo peyang!" suara ledak tawa Kevin terdengar dari sana. "Sebenarnya ngak ada apa apa sih, temen gue kebetulan fans lo, cuman mau bilang itu."


"Oh, reunian nanti mau gue titipin tanda tangan ngak?" Miya melihat Andin, gadis itu mengangguk antusias.


"Sok ngartis banget lo," cibir Miya "Tapi gratiskan? Males banget gue kalo bayar."


"Ya allah Miya Sarina, toa kesayangan mantannya, biduan kelas bu bendahara, iya gratis!" Kevin terdengar menggerutu "Perasaan lo anak orang tajir, Mi. Demen banget sama gratisan."


"Gue ketularan jiwa miskin anak di kelas." ucap Miya santai, terdengar dengusan Kevin.


"Anak kelas kita ngak ada yang melarat ye, ngak tau saja darimana jiwa jiwa miskin kalian. Gue tiba tiba kasian sama Alga."


Miya meledakkan tawanya, Andin dan Griffin saling menatap kaget. Miya menghela nafas panjang meredakan tawanya, dia kembali menatap keluar lagi.


"Pin, udah dulu ya, gue kayaknya ganggu kerjaan lo. See you di TuBas besok lusa."


"See ya"


Miya langsung mematikan sambungan telfonnya, dia melihat Andin yang menatapnya dengan mata menyipit. Andin tidak habis pikir, Miya terlihat sangat ramah pada teman lamanya tapi terlihat acuh tak acuh sekarang.


"Na, lo aslinya ada dua orang ya?" Miya mengangkat alisnya sebelah "Lo sama orang haha hihi, sama gue dan Rayna lo lempeng banget."


Miya tidak menjawabnya, bukan tidak mau dia hanya tidak tau apa jawabannya. Dia juga terkadang heran sendiri, dia yang dulu sangat sangat SKSD alias sok kenal sok dekat juga berisik sana sini, tapi sekarang dia lebih suka diam.


Apa tenaganya terkuras semua saat SMA ya?


"Tidak juga," dia menopang dagunya dengan tangan kiri, tapi sepertinya dia tidak bisa membuat alasan "Aku hanya makin tua saja."


Pluk


Miya menatap jijik ke arah tisue bekas ngelap mulut Andin, Andin menedengus.


"Hellooo... Lo masih dua delapan kali, Na. Kalau lo merasa tua apalagi gue yang dua tahun lebih tua dari lo!"


Miya menyeringai "Buruan cari pasangan sana!"


Andin memutar bola mata jengah "Nih ada kaca di tas gue, kali aja lo ngak punya."

__ADS_1


__ADS_2