Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 17


__ADS_3

Seperti yang diharapkan dari kelas IPS 1, reunian kali ini benar benar berisik. Padahal kalau mau ditelisik lagi, tidak ada dari mereka yang anak anak lagi.


Miya menghela nafas panjang, karena selama ini dia sudah membiasakan diri menjadi penyendiri jadinya dia tidak terbiasa. Kepalanya pusing karena suasana yang berisik, haruskah dia membiasakan diri lagi?


Dia menggelengkan kepalanya, yang harus dia lakukan adalah kembali bersosialisasi.


"Mi, lo ngak mau nyanyi?" Sasya mendekat dengan gagang sapu di tangannya.


Ha? Haruskah? Mereka bukan anak anak lagi yang melakukan hal konyol lagi.


Tapi....


Dia melihat Sasya yang memasang wajah serius, akkhhhh..... Tidak ada yang salah dengan menyanyi! Mereka sekarangkan sedang reunian.


"Ok," dia mengambil gagang sapu dari Sasya dan berjalan ke depan kelas. "EKHEEEM! Ada yang mau rikues ngak?" tanyanya.


"Dangdut, Mi. Dangdut!" seru Zain, Miya mendelik


"Dangdut mulu! Dimabok dangdut lo ya?"


"Ya elah, Mi. Di suruh lagu barat juga lo ngak bisa bahasa inggris!" Baim dan Zain langsung tos di belakang mereka ada Aryan yang terkekeh.


Miya menunjuk mereka "Lo bertiga ada masalah apa hah sama gue? Bilang lo pada kalau ada masalah!"


"Terus Mi," Kevin dengan kacamata hitamnya bertepuk tangan senang "gue kangen kegaduhan ini... Hahahahaha...."


Dia langsung terdiam saat mulutnya di pukul oleh Sabrina yang lewat, "Ingat umur!"


"Mantap Mami Sabi!" Sabrina menoleh ke arah Lima sekawan biduan itu, Miya, Sasya, Baim, Aryan dan Zain mengangkat jempol berjamaah.


"Kalian sama saja!" ucap Sabrina membuat mereka mengatupkan bibirnya "Di sini banyak anak kecil, jangan berulah."


Ucapan Sabrina tidak ada salahnya, bukan hanya dari kelas mereka saja yang beberapa dari mereka membawa anak tapi kelas lain juga. Anak anak disana memang tidak memperhatikan, tapi tetap saja kan?


"Sabrina makin tidak asik!" Miya yang sebenarnya bersiap naik ke atas kursi mengurungkan niatnya, dia menyerahkan sapu ke Sasya.


"Maklum sih Ibu Ibu!" Sasya berjalan menyimpan sapu dimana dia mengambilnya tadi.


Miya berjalan mendekati Hanin, dia akan mengambil anak bungsu Hanin tapi anak menepis tangannya. Dan dengan dramatis dia menyentuh dadanya.


"Ma, anak lo nolak gue!" ucapnya.


" Ante apa unda?" Balita yang bergelayut di samping Hanin bertanya sambil menatap Miya.


"Obatnya habis, Kak! Makanya begitu." ucap Hanin mengusap kepala putrinya.


"Sayang!" terdengar suara memperingati dari Afkar, Hanin menoleh sambil tersenyum.

__ADS_1


Melihat itu Miya hanya memutar bola mata malas, pasangan yang biasanya seperti musuh itu sekarang memanggil sayang, Miya dan yang lainnya sama sekali tidak terbiasa.


"Kenapa?" Afkar bertanya saat melihat Miya memasang wajah aneh, gadis itu makin memasang wajah aneh.


"Pa, kami tidak terbiasa dengan romansa!" ucapnya kemudian melambai meninggalkan tempat itu.


Aryan menatap sekeliling dan matanya tertuju ke arah meja pojok, posisi Alvin sama sekali tidak berubah. Pria berbadan kekar berkepala cepak itu sekarang masih di sana, masih dengan posisi favoritnya.


Tidur!


Baru akan menegur, suara cempreng Miya mendahuluinya "KALVINO BRADY! LO NGAK CAPEK APA TIDUR MULU! BANGUN WOIII!"


Pletak!


Miya mengusap kepalanya yang baru saja digetok Aryan, pria berprofesi sebagai dokter itu masih terlihat mengusap telinganya.


"Berisik, toa banget sih lo! Ngak kasihan sama anak kecil yang ada di kelas apa? Kalau mereka jadi budek bagaimana?"


Miya mengibaskan rambutnya, dia menunjuk Aryan "Kan ada lo"


"Gue bukan ahli THT!"


"Tapi pasti ada kenalankan?" ucap Miya menyengir, Aryan mendorong keningnya dengan telunjuk dengan wajah sewot.


"KUA hanya ada dua kilo meter dari sini!" mereka berdua langsung menoleh dan mendapati Alvin sudah bertopang dagu "Kalian sepertinya butuh!"


"GILA!!!" beberapa dari mereka berseru bersamaan ke arah Miya, gadis itu langsung tertawa.


Aryan menarik kursi di depan Alvin dan duduk, dia juga sebenarnya sangat ingin tidur tapi apalah daya suara bising di sekitarnya sangatlah mengganggu. Dan lagi tidak mungkin di suasana saat ini dia haris tidur, dia ingin menikmati suasana yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Liatin aja terus Yan," Aryan menoleh dan mendapati seringaian Alvin "Lambat dikit dia bakal sama orang lain."


"Berisik lo!" ucapnya kesal yang Alvin balas dengan menguap lebar. "Lo kerja di tugas di perbatasan gue dengar dengar."


"Ya!" Alvin mengusap air mata yang jauh karena terus menguap "Sekarang tidak lagi."


Keduanya langsung kaget mendengar kehebohan, diambang pintu Alga berjalan masuk dengan beberapa orang di belakangnya yang membawa kotak.


Ah.... Pantas saja, pawang cewek cewek sudah datang.


"Yang artis disini gue padahal, tapi yang malah di kerubungi si Alga." Kevin berseru tapi dia juga tidak mau ketinggalan berjalan ke arah Alga untuk mengambil makanan. "Permisi! Artis mau lewat!"


"Algaaaa sayaaaaaang!" Miya berlari ke arahnya tapi Alga menahan wajahnya agar tidak terlalu dekat. "Apasih, Ga! Lo ngak sayang lagi sama gue, hmmp!"


"Bodo ah, Mi. Gue ngak peduli." Alga memberi instruksi pada karyawannya agar menaruh makanan di atas meja yang mereka atur membentuk meja prasmanana. "Lagian sayang lo palsu."


"Ngakkk... Sayang gue tulus sama lo!" ucap Miya

__ADS_1


Sasya langsung merangkul Miya "Gue juga sayang sama lo Al!"


"Heh, ini kalian tidak ada yang berubah ya?" Ciara berjalan masuk dengan pakaian anggunya. "HAIII PONAKAN PONAKAN AUNTY!" dia berlari ke arah dimana anak anak bermain.


"Boncel sayang!!" Zain membuka lebar lebar tangannya berjalan ke arah Ciara.


"Lo dekat dekat sama gue, gue rontokin rambut lo!" Ciara menunjuk Zain yang membuat langkah pria jangkung itu terhenti. "Bisa bisanya lo ngak jemput gue!"


"Kan buru buru, Cel."


"Buru buru kepala bapak lo!" Ciara mendelik kesal.


"Mamp*s lo!" ledek mereka.


"Heh mulut!" tegur Afkar "Banyak anak kecil di sini."


"Tau nih, padahal udah pada tua juga." Timpal Hanin.


Aryan yang masih duduk di tempat semula hanya bisa tertawa saja, untung ada Afkar disini. Kalau dia tidak ada bersama merek, bisa di tebak sebar-bar apa omongan mereka.


Terima kasih untuk kehadiran para bocil.


"Benar benar sesuatu dah nih kelas," Aryan menggelengkan kepalanya.


Tapi karena beberapa yang membawa anak, jadi pertemuan mereka tidak sampai malam. Aryan dan lainnya pun punya pekerjaan masing masing, utamanya Aryan yang harus kembali ke rumah sakit.


Dia tiba tiba menepuk dahinya.


"Kenapa Yan?" Zain bertanya.


Aryan buru buru mengeluarkan ponselnya "Gue ninggalin anak gue di bawah."


"Anak?" mereka saling pandang mendengar ucapan Aryan, sejak kapan pria itu punya anak?


"Kenapa lo ngak bawa masuk, sinting!" omel Hanin, "Buru lo jemput dia di bawah, laper pasti itu. Bapak apaan dah lo?"


"Eh?" Aryan malah kebingungan saat badannya di dorong dorong Hanin, dia belum sempat mengatakan situasinya.


Aryan memang tidak sempat mengatakan apa apa, tapi dia tetap menurut. Dia turun dan memanggil Ryan yang ternyata menunggunya di samping mobil, dia dengan cepat membawanya naik ke atas.


Dia bisa melihat keterkejutan mereka, tapi dia tidak akan menjelaskan saat anak itu di sana. Miya menghela nafas dan menarik tangan Ryan menuju prasmanan, dia membiarkan Aryan diintrogasi.


"Bukan anak kandung." cetuk Ryan saat hanya ada dia dan Miya. "Dr. Aryan banyak membantu saya."


"Iya tau kok. Kamu mau makan apa?" Miya memberinya piring tapi anak itu tidak bergeming, Miya menghela nafas "Saya kenal Aryan dari lama, dia bukan remaja bodoh yang akan memiliki anak di umur lima belas tahun, jadi aku percaya omonganmu."


Setelah mengatakan itu Ryan baru menerima piring dari Miya, remaja itu mengedarkan pandangannya di sekitar. Miya bisa melihat anak itu sedikit terkejut, wajar saja sih.

__ADS_1


"Tempat ini memang selalu berisik saat kami berkumpul, kamu makan saja dulu. Makanan ini enak enak loh." dia mencomot kerupuk "nikmati saja makananmu dan abaikan penghuni kebun binatang ini."


__ADS_2