Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 51


__ADS_3

Miya menatap gedung di depannya, kapan terakhir dia datang ke kantor Ayahnya ya? Setahun lalu? Dua tahun lalu? Miya sudah lupa.


"Serius lo mau masuk sendiri?" tanya Aryan, dia memang menyempatkan diri menjemput Miya setelah mengantar Ryan ke sekolah.


"Enggak usah, lo balik ke rumah sakit saja." ucap Miya.


Semalam Aryan bahkan tidak sempat mengantarnya pulang setelah kumpul bersama, dia tiba tiba mendapat telefon darurat dari rumah sakit. Ya resiko bekerja di IGD, harus siap dua puluh empat jam.


Miya yang mengenal Aryan dari lama pun, dia merasa heran kenapa manusia sejenis Aryan mengambil pekerjaan seperti itu.


Aryan melihat ke arah gedung kemudian ke Miya, "kalau ada apa-apa, telfon gue!" Miya hanya bisa menganggukkan kepalanya, "lo ke kantor nanti pakai apaan?"


"Noh banyak taksi!" Miya menunjuk ke arah jalan, "lagian gue bisa pesan ojol entar."


Aryan mengkerutkan keningnya, dia kurang setuju dengan opsi terakhir Miya. "Jangan naik ojol, naik taksi saja!"


"Ya gue lihat suasana dulu, kalau macet gue pakai ojol saja. Udah biasa gue naik ojol." ucap Miya sambil memperbaiki letak tas di pundaknya, "gue masuk duluan, bye..." dia melambaikan tangan ke Aryan dan membalikkan badannya masuk ke dalam gedung.


Aryan menghela nafas, "ojol!" gumamnya.


Jujur saja, dia sendiri pun terakhir kali menggunakan ojek online saat SMA. Setelah lulus dia lebih nyaman ke mana-mana dengan mobil, kalau pun naik motor, dia menggunakan motornya sendiri yang dia beli saat SMA.


Itu pun jarang dia gunakan.


Miya masuk ke dalam gedung, karena dia sudah dikenali jadi tidak ada satupun resepsionis yang menghentikannya. Mereka malah berdiri dan menyambutnya, Miya hanya menyapa sekenanya dan pamit.


Ini juga hal yang tidak dia sukai saat berkunjung ke kantor Papinya, penyambutan yang berlebih. Tapi sebagai putri dari seorang pengusaha kalangan atas, dia diwajibkan terbiasa dengan hal yang seperti ini, dia bahkan tidak perlu menjadi ramah tapi tidak terkesan sombong.


"Papi ada di dalam kan, mbak?" tanyanya pada sekretaris di depan ruangan Papinya.


"Ada Nona, biarkan saya mengantar nona." Miya hanya mengangguk setuju.


Sekretaris itu berdiri dan berjalan ke pintu, mengetuknya untuk memberitahu keberadaanya. "Nona Miya sudah datang."


"Suruh masuk!"


"Baik," sekretaris itu melihatnya. Dia membuka pintu ruangan untuk Miya, "silahkan Nona Muda."


"Terima kasih."

__ADS_1


Dia melangkah masuk dengan anggun, dia melirik ke samping dan dugaannya kemarin benar. Di sofa dia bisa melihat pacar Rika di sana, dia melihat Miya dengan tatapan menyeringai.


"Selamat pagi, Pak!" salamnya.


Ruslan-papi Miya menatap putrinya lekat lekat, dia tidak mengerti kenapa putri sulungnya melakukan itu. "Kamu duduk dulu, ada yang mau saya bicarakan."


Miya menganggukkan kepalanya, dia melangkah menuju sofa dan duduk di depan pria pacar Rika itu. Ruslan meninggalkan tempat duduknya, dia juga berjalan ke arah sofa.


"Jadi pak, seperti yang saya katakan sebelumnya, karena perlakuan karyawan bapak ini kurang sopan jadi saya ingin dia di pecat."


Ruslan kembali melihat ke arah Miya, dia menunggu jawaban dari Miya. Anaknya itu terbilang pintar, jadi tidak perlu dijelaskan pasti dia sudah paham permasalahannya.


"Saya ingin mendengar dari sisi Miya." ucap Ruslan.


Miya menatap pria di depannya yang lagi lagi menyeringai, dia sepertinya berfikir kalau Miya tidak akan berani bicara. Miya memutar bola mata malas, dia kemudian menatap Papinya.


"Orang ini," Miya menunjukkan tangannya ke pacar Rika, "dia mau kurang ajar ke Miya, Pi. Dia juga menghina pekerjaan Aryan, mengatakan kalau pacar Miya gajinya sedikit."


Ruslan mengkerutkan keningnya, "kurang ajar?"


Miya menganggukkan kepalanya, "kemarin dia pegang tangan Miya, juga yang mau nampar Miya dulu itu pacarnya dia. Papi sendirikan yang bilang, Miya jangan mau ditindas siapapun!"


Ruslan mengkerutkan keningnya, "Pacar?"


"Papi tidak tahu? Orang ini punya pacar di kantor tempat Miya kerja." Ruslan melihat pacar Rika sambil terus mendengar ucapan putrinya, "sebulan lalu, istrinya datang ke kantor buat labrak pacarnya. Karena takut citra tempat kerja tercoreng, aku manahan agar berita agar tidak keluar, tapi mereka makin jadi."


Miya mengatakan yang sebenarnya, setelah mendengar gosip waktu itu dia benar benar menekan beberapa pihak agar beritanya tidak ke mana-mana. Bagaimana pun sebagai pemilik tempat itu, dia bertanggung jawab menjaga citra tempat kerja agar tidak ada masalah.


"Papi bisa memeriksa cctv." kata Miya lagi.


"Kamu!" dia mengacungkan tangannya ke arah Miya.


"Jaga sikap anda," Ruslan menatap pria itu menatapnya tajam. "Jadi katakan apa keputusanmu sekarang, Miya?"


"Pecat saja pacarnya dan mengeluarkan orang ini sebagai nasabah prioritas," ucap Miya, pria itu menatapnya dengan tatapan ganas. "Tenang saja, sebagai kompensasi kami tidak akan menyebarkan kejadian perselingkuhan dan pelabrakan istri anda keluar."


"Seperti yang kamu katakan!" Ruslan berdiri dari tempatnya, kembali ke kursi kebesarannya di depan meja. "Kamu bisa mengurusnya kan?".


Miya tersenyum kemudian mengangguk, "tentu saja bisa, ini bukan hal yang sulit." dia kemudian mengambil tasnya dan bersiap keluar, "kalau begitu Miya kembali ke kantor dulu, selamat pagi."

__ADS_1


Dia melihat pria di depannya penuh kemenangan, dia tidak menjelaskan identitasnya di kantor tapi bukan berarti dia akan bersembunyi sampai akhir. Dia membalikkan badannya menuju pintu, hari ini berjalan lancar.


"Miya?" Ruslan memanggil putrinya yang sudah ada di pintu.


"Ya?"


"Nanti malam, kamu sebaiknya pulang untuk makan malam."


Miya diam sebentar, tapi mengingat kejadian barusan dia mengangguk setuju. "Baik."


Begitu sampai di kantornya, Miya dengan cepat mengurus semuanya. Dia menemui beberapa petinggi tempatnya, dia memberitahukan apa yang dikatakan papinya ke mereka.


Setelah menulis surat pemecatan, Miya sendiri yang akan mengantarnya ke Rika. Miya mengibas-ngibaskan surat itu di depan Andin, membuat gadis itu heboh juga.


Dia dengan cepat menyeret Miya untuk ke ruangan Rika, kedatangan mereka tentunya menimbulkan tanda tanya. Melihat kedatangan Miya, Rika langsung tersenyum ke arahnya.


Pacarnya mengatakan kalau dia akan mengurus semuanya.


Miya meletakkan kado di depan Rika, "ini yang gue janjiin kemarin." Miya tidak akan melupakan kata katanya.


Rika melirik kado kecil itu, dia kemudian kembali menatap Miya "ada lagi?" dia melihat amplop di tangan Miya, dia menyeringai, "Apa itu?"


"Ini?" Miya mengangkat amplop putih di tangannya, "surat pemecatan." jawabnya enteng.


"Ops!" Rika menutup mulutnya seolah menyesali pertanyaanya, tapi matanya penuh penghinaan. Orang di sekitar mereka saling melirik dan mulai penasaran, "sepertinya pacarku berlebihan, tapi gue bisa membantumu."


Miya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "terima kasih, tapi tidak perlu." dia meletakkan surat itu di meja Rika, "karena surat ini untukmu!"


Senyum di wajah Rika menghilang, "Apa?"


"surat ini untukmu," Miya juga menghilangkan senyumnya digantikan wajah serius, "mulai hari ini, kamu tidak perlu ke sini lagi."


Rika langsung berdiri, dia mengambil surat itu dan melemparnya ke Miya. "Kamu pikir kamu siapa? Pacarku adalah nasabah prioritas di sini, kalau dia tahu aku di pec-"


"dua jam dari sekarang, dia tidak akan menjadi nasabah di sini." Miya menopangkan tangannya di meja, memajukan wajahnya untuk berbisik ke telinga Rika, "kamu bertanya siapa gue? Gue pemegang lima puluh satu persen di tempat ini."


Dia memundurkan tubuhnya, dia bisa melihat wajah Rika pucat. Miya memungut amplop tadi, meletakkannya kembali di meja Rika.


"Kemasi barang-barangmu, kami tidak membutuhkan karyawan dan rekan yang bisa merusak citra tempat ini." dia membalikkan badannya, "tenang saja, kasus pelabrakan itu tidak akan keluar. Anggap saja itu kompensasi, jadi keluarlah dengan tenang."

__ADS_1


__ADS_2